
Setiba di rumah sakit, Rei segera menemui Tora yang ternyata sudah mendapatkan perawatan dengan baik, tangan kanannya lecet setelah di serempet oleh sebuah mobil yang melintas dengan cepat dari arah kiri motornya.
Sebenarnya kondisi Tora baik-baik saja, namun karena benturan yang cukup keras dia sempat mimisan sehingga di rujuk ke rumah sakit.
Tora menyambut Rei dengan senyuman dan berterima kasih karena tuan mudanya itu mau menjemputnya.
"Kamu ini bicara apa, tentu saja aku mau menjemputmu!" Bentak Rei mendengar perkataan Tora itu.
"Aku sudah bisa pulang kan, suster?" Tanya Tora.
"Sudah, silahkan!" Ujar suster yang berada di ruang UGD.
Rei membantu Tora untuk turun dari tempat tidurnya dan mengantarkannya masuk ke mobil, tak mau berlama-lama Rei langsung saja mengantarkan Tora menuju rumah ibunya.
"Tora kamu kenapa?" Teriak Adelia yang kaget melihat asisten kepercayaannya ini turun dari mobil Rei.
"Keserempet mobil, Nyonya." Jelas Tora sambil menunjukkan luka di kaki dan tangannya.
"Ya ampun, hati-hati!" Kata Adelia dan membimbing Tora masuk ke dalam rumahnya.
Tora bergegas masuk rumah diikuti oleh Rei di sampingnya.
"Kamu sudah makan Rei? Kalau belum makan sana Mami baru saja masak capcay kesukaanmu!"
Rei yang baru selesai makan memilih untuk duduk saja di sana menunggu anaknya turun.
Tak lama Ramon turun dan mulai berbincang dengan Rei.
"Kamu sudah dari tadi?" Tanya Ramon yang tak tau Tora baru saja mengalami kecelakaan.
"Baru datang, ini menyusul Tora!" Ujar Rei sambil menunjuk Tora yang berjalan tertatih.
"Kenapa lagi dia?" Tanya Ramon bingung.
"Kecelakaan Papi, keserempet mobil!"
Ramon menggelengkan kepalanya dia tak menyangka Tora yang nampak begitu mahir menyetir motor bisa juga mengalami kecelakaan lalu lintas.
"Sudah Tora kamu masuk kamar saja, kamu pasti tidak enak badan!" Perintah Adelia saat melihat Tora berjalan menuju dapur untuk kembali bekerja.
Rei tertawa melihat tingkah Tora, dia memang senang sekali bekerja meski dalam keadaan yang sedang sakit.
"Tidur sana!" Goda Rei kepada Tora yang berjalan menuju kamarnya.
"Eh, Rei bagaimana kabar istrimu sudah hamil belum!" Bisik Ramon mencoba mengorek informasi dari putranya.
__ADS_1
"Belum, Papi!" Jawab Rei dengan senyum.
"Sering-sering saja, biar cepat jadi!" Ujar Ramon yang nampak sudah tak sabar mendengar suara tangis bayi di rumahnya itu.
"Iya, kalau perlu tiap hari!" Ujar Adelia mencoba menyemangati Rei.
Rei tertawa geli, baru semalam dua kali saja tubuhnya sudah sakit semua sampai berhari-hari kok minta tiap malam, pikir Rei.
"Ganti gaya, kalau bisa coba semua gaya!" Lanjut Ramon membuat Rei kembali tertawa.
"Iya gaya dada, gaya punggung, gaya batu. Semua akan ku coba tenang saja!" Canda Rei yang membuat Adelia dan Ramon tertawa bersama.
Mendengar ide dari Papi dan Maminya ini ternyata membuat Rei kembali bersemangat, dia kemudian ijin pamit pulang kepada kedua orang tuanya karena Tora kini sudah tiba di rumah.
Rei bergegas pulang dan menemui Zenira yang kebetulan sekali baru selesai mandi.
"Zenira, dingin!" Tanya Rei menggoda Zenira.
Zenira tak menjawab, dia tau Rei sedang merayunya tapi dia sudah sangat lelah jadi tak sanggup lagi untuk melayani suaminya itu.
"Kok nggak di jawab?" Tanya Rei.
"Aku masih lelah, besok lagi ya!" Pinta Zenira bergegas berpakaian.
Rei mengerti, Zenira belum terbiasa dengan dirinya yang pasti minta lagi dan lagi tapi ya sudahlah lama-lama dia pasti terbiasa, pikir Rei.
Zenira menurut saja, dia menuju kursi taman yang terbuat dari kayu, setelah duduk dengan nyaman dia meminta Sopiah menyuguhkan teh dan camilan untuk mereka berdua.
Tak lama teh tersaji dan Rei menyandarkan kepala Zenira di dadanya.
"Kamu suka?" Tanya Rei sambil mengelus lembut rambut istrinya.
Zenira mengangguk menikmati hari itu bersama suaminya.
"Aku suka sekali hari ini, tapi lebih suka kejadian malam kemarin!" Bisik Rei menggoda Zenira.
Zenira tidak menjawab dia tau Rei sedang mencari cara agar dia mau melayaninya malam ini.
"Ya sudah, kalau kamu tak mau bagaimana kalau kita jalan-jalan ke tempatku dulu nongkrong dengan teman-temanku saja, aku malas makan masakan rumah hari ini.
Zenira mengangguk dia juga memang tak ingin di rumah, dia ingin jalan-jalan terus kalau bisa ke semua tempat indah di kota Jakarta.
Rei meminta Zenira bersiap, tak membutuhkan waktu lama mereka sudah bersiap untuk jalan-jalan hari ini. Tempat yang di tuju Rei adalah sebuah pusat jajanan tradisional, di tempat ini banyak sekali pedagang menjajakan dagangannya khususnya makanan yang sangat ramai dan banyak sekali makanan enak di sini tentunya dengan harga yang cukup murah.
Rei memesan steak kesukaannya begitu pula dengan Zenira, tak lupa mereka memesan dua gelas kopi untuk teman ngobrol mereka hari ini.
__ADS_1
"Makannya pelan-pelan saja ya, aku ingin ngobrol denganmu!" Ujar Rei saat pesanan mereka sudah tiba.
"Oh iya, ku lihat di rumah ada mobil terparkir, punya siapa?" Tanya Zenira yang belum di beritahu Rei soal pembayaran hutang budi dari Bram.
"Itu dari Bram, buat ucapan terima kasih. Katanya begitu!"
"Wah, ternyata dia kaya raya sekali." Ujar Zenira sambil menyuap daging yang sudah dia potong.
"Iya, aku sangat sungkan karenanya. Padahal kemarin saja di cafe aku memberinya kamar kecil yang jauh dari layak untuknya!" Tutur Rei dengan lirih.
"Ya, mau bagaimana lagi memang kita hanya punya itu, tapi syukurlah dia mau menerima bantuan kita yang tak seberapa!"
"Iya, dia juga cerita jika hubungan dengan anak-anaknya sudah baik!"
Zenira tersenyum selalu ada hikmah dari semua masalah yang mereka dapat dan Zenira bersyukur mereka selalu saja bisa menjadi lebih baik setelah mendapatkan masalah yang bertubi-tubi.
\*\*\*\*\*
Keesokan harinya.
Zenira mengajak Rei untuk mencoba mobil baru pemberian Bram, mobil baru dengan jok yang masih di bungkus plastik serta aroma parfum yang segar masih membuat mereka betah di dalam mobil.
"Kita kemana?" Tanya Rei sambil menutup pintu mobilnya.
"Keliling saja, biar nggak bosen di rumah," ujar Zenira sambil menarik sabuk pengaman di samping kursinya.
Rei akhirnya mulai menjalankan mobilnya dan mulai melaju tanpa arah membelah jalanan Jakarta, Rei melintasi jalan M.H Thamrin tempat kemarin mereka jalan-jalan di sini.
Jalan M.H Thamrin sedang sepi, memang tempat ini sangat ramai di malam hari terutama malam minggu.
Rei kemudian melajukan mobilnya menuju jalan merdeka dan melintasi beberapa gedung dan bangunan bersejarah di sana.
Zenira nampak senang dan sesekali memegangi dashboard mobil yang nampak masih mengkilap, dia juga menyalakan radio mobil jadi lebih ramai.
Happy Reading π
TBC π
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote dan Komen π₯° thank you β€οΈπ€