TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 47 - Kacau


__ADS_3

"Zenira, panggilkan polisi. Kita telah menemukan pelakunya!" Seru Rei membuat Zenira kaget dan bergegas menghubungi Pak Suryo.


Bi Emi nampak tak berkutik dan hanya bisa terdiam hingga Pak Suryo dan tim kepolisian tiba di rumah Rei yang mewah itu.


"Ini pelakunya, Pak!" Seru Pak Suryo sambil menarik tangan Bi Emi yang tertangkap basah itu.


"Iya amankan dia dan bebaskan, Pak Ridho!" Ucap Rei.


Zenira yang tidak percaya hanya bisa melihat Bi Emi pelayan Rei itu di giring ke kantor polisi dengan tangan terikat borgol.


"Rei apa benar, dia pelakunya!" Seru Tora yang mendapat kabar dari Zenira tentang penangkapan Bi Emi.


Rei mengangguk dan tak mau lagi menjelaskan apa-apa kepada siapapun di ruangan itu. Dia terlampau kecewa dengan Bi Emi yang terlalu di percaya olehnya.


"Pantas saja, dia begitu senang ketika di pinta mas Rei menuju rumah Tuan Ramon ternyata dia menunggu kesempatan itu untuk mengambil uang, mas Rei!" Ujar Tora mencoba mencari alasan di balik semua ini.


"Iya, syukur dia cepat mengaku. Kasian juga pak Ridho, sampai di tuduh dua orang sekaligus." Jawab Zenira yang tiba-tiba kehilangan rasa kantuknya.


"Benar, kak Zenira. Kalau begitu saya tidur di rumah ini dulu. Mana tau ada yang berniat jahat setelah penangkapan, Bi Emi!" Pinta Tora yang di jawab Zenira dengan senyuman.


Zenira kembali ke kamarnya dan saat dia membuka pintu kamar Rei nampak masih saja terdiam di kursi dekat jendela dengan wajah yang sangat sedih.


"Ayo tidur, ini sudah malam!" Ajak Zenira sambil menarik selimutnya.


"Kenapa selalu saja orang yang aku percaya selalu melakukan ini kepadaku?" Gumam Rei lirih.


Tidak, tidak semua. Ini hanya untuk orang yang berkhianat saja. Mami, Papi, Tora dan aku adalah orang yang akan dapat kamu percaya hingga akhir hayatmu, percayalah!" Zenira mencoba membuat rasa sedih Rei menghilang.


"Apa kamu janji?" Tanya Rei dengan wajah sangat sedih.


"Sudah, tidurlah. Kamu mau aku tepok-tepok agar kamu bisa tidur dengan pulas?" Tanya Zenira mengalihkan pembicaraan Rei.


Suaminya itu tersenyum dan tau tuduhannya itu kepada istrinya yang cantik ini sungguh tak pantas.


Rei kemudian bergegas tidur dan berharap esok hari semua masalahnya akan hilang seperti mimpi di malam harinya.



\*\*\*\*\*



Keesokan harinya.

__ADS_1



Rei bangun di pagi hari dengan hati yang lebih tenang, dia memeriksa telepon genggamnya siapa tau ada yang mengirimkan pesan singkat.


Ternyata benar saja, Adelia mengirim pesan dan mengabarkan bahwa Ramon terlihat lebih sehat setelah beberapa hari ini mengkonsumsi obat herbal dari saudaranya.


"Akhirnya ada kabar baik untukku." Gumam Rei sambil menutup telepon genggamnya.


"Pesan dari siapa?" Tanya Zenira yang baru saja selesai mandi.


"Mami dia bilang Papi jauh lebih sehat sekarang!" Ucap Rei dengan bahagia.


Kebahagiaan ini terasa sangat berarti mengingat beberapa hari ini Rei sering sekali mendapatkan kabar buruk baik soal bisnis hingga masalah pencurian di rumahnya.


"Karena kabar baik ini, akhirnya Rei, Zenira, dan Tora memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya untuk menjenguk Papinya.


Tak membutuhkan waktu lama hanya sekitar lima belas menit, mereka tiba. Adelia mulai bertanya tentang Bi Emi yang tertangkap sedang berbincang tentang pencurian di rumah Rei.


"Sungguh aku tak percaya dia bisa seperti ini kepadaku!" Ucap Rei sedih.


Adelia berusaha menghibur Rei dengan kabar-kabar baik yang selalu dia dapatkan setelah kabar kurang menyenangkan.


"Kamu masih bisa bersyukur masih punya, Zenira dan anggota keluarga yang lain yang selalu mendukungmu meskipun saat itu kamu juga harus menerima kabar buruk." Hibur Adelia kepada Rei.


"Iya, nanti aku coba minta tolong, Tora. Tak mudah mencari asisten yang betah bekerja apalagi yang ditinggal di rumah!" Ucap Rei memberi Zenira pengertian.


Zenira mengangguk dan menurut saja dengan keputusan Rei itu, dia tak mau berkomentar sebab dia tau hati Rei masih sangat kacau.


Tora, siapkan cemilan buat Rei!" Perintah Adelia kepada Tora.


"Buatkan aku kopi juga ya!" Ucap Rei kepada Tora yang nampak bergegas menuju dapur.


Pemuda itu nampak bersemangat, dia memang lebih suka Rei tinggal di rumah majikannya yang terasa sangat sepi.


"Kenapa kamu tampak bersemangat jika bekerja di sini?" Tanya Rei pada Tora yang datang bergegas menuju tempatnya duduk.


"Rumah, mas Rei sepi. Enak di sini." Jawab Tora sambil tersenyum.


"Kalau begitu doakan semoga Zenira dapat momongan. Rumah Rei butuh kehadiran bayi mungil sekarang!" Sahut Adelia sambil membuka toples berisi camilan yang dibawakan Tora untuknya.


Rei tertawa terbahak, memang sudah lama dia ingin punya anak tapi entahlah, Zenira istrinya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mengandung lagi.


"Iya, tunggu saja. Kita juga kan usaha terus." Ucap Zenira mencoba membela diri.

__ADS_1


Adelia tertawa lepas, dia sangat senang melihat Rei dan istrinya yang kini tampak sangat kompak, berbeda dengan Rei yang dulu.


Kini setiap hari dia selalu tersenyum dan membuat Mami Papinya menjadi bahagia dibuatnya.



\*\*\*\*



Keesokan harinya.



Tora mencarikan asisten rumah tangga yang baru untuk Rei dan hari ini asisten itu akan datang dan mulai bekerja.


Zenira nampak senang dan akhirnya rumah besar ini akan mulai di bersihkan dari debu yang beberapa hari ini tak sanggup dia bereskan.


Nama asisten baru mereka adalah Sopiah, seorang gadis desa yang di kenal Tora dari tetangganya di kampung.


Meski terbilang masih muda, Sopiah kabarnya sangat cekatan dalam hal membersih rumah dan taman, namun tentunya untuk dapat memberikan penilaian itu Zenira butuh beberapa waktu untuk pengujian.


Sopiah datang di antar motor Tora dan bergegas masuk, Zenira mempersilahkan Sopiah menuju kamarnya untuk meletakkan semua barang bawaannya.


Selama proses uji coba kerja ini, Tora akan menginap di rumah Rei agar ketika Sopiah merasa tak betah Tora akan segera mengantarnya pulang.


"Hari ini Tora, akan membimbingmu. Jika kamu sudah yakin akan pekerjaan barumu dia akan meninggalkanmu di sini, kamu siap?" Tanya Zenira dengan tegas.


Sopiah mengangguk dan memulai kerjanya hari ini, rumah Rei penuh dengan barang elektronik berharga mahal sehingga Tora selalu meminta Sopiah untuk hati-hati saat bekerja.


~To be continued..



Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya guys😘



Berikan bintang 5 untuk mendukung novel ini🌟



Terima kasih untuk semuanya🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2