TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 14 - Mengenang Masa Lalu


__ADS_3

Saat berendam ia kembali mengingat semua yang ia alami sejak bertemu dengan, Rei hingga hari ini. sungguh semua itu hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Selama ini, ia merasakan hidup adalah hal yang mudah dan tidak akan serumit ini. tapi sampai ia menikah meskipun dengan suami yang tampan dan kaya raya hidupnya tetaplah rumit.


Ceklek...


Rei membuka pintu kamarnya, ia kemudian mendekati Zenira yang masih berendam dalam bathtub.


"Aku boleh masuk?" tanya Rei sambil membuka pintu kamar mandi.


"Ada apa, Rei?" tanya Zenira yang tetap tidak bangkit dari bathtub.


"Zenira, ada yang ingin aku tanyakan. Apakah benar kamu sedang mengandung?" tanya Rei menghampiri Zenira, menjatuhkan bokongnya duduk di samping bathtub.


"Iya, Rei. Aku sedang mengandung, tapi belum ke dokter untuk memeriksakan kehamilanku." jawab Zenira tersenyum memandang Rei dengan sangat lembut.


"Aku harusnya yang jadi pewaris Papiku, bukan kamu!" ucap Rei masih tidak terima dengan keputusan Papinya.


"Kamu ini kenapa sih, Rei. Uangku akan tetap menjadi uangmu Rei." ucap Zenira menjelaskan.


Meski terus di jelaskan, Rei masih belum terima dengan keputusan Papinya.


"Tapi itu berarti aku harus terus minta uang padamu?" tanya Rei mengusap wajahnya dengan kasar.


Zenira menggelengkan kepalanya tidak mengerti lagi bagaimana cara membuat suaminya mengerti.


"Aku akan memberimu uang yang kamu perlukan, asal kamu mau mengikuti persyaratan, yang sudah diberikan oleh kedua orang tuamu." ucap Zenira bangkit berdiri berjalan mengambil kimono handuk yang tidak jauh dari bathtub.


Zenira melangkah keluar, ia meninggalkan Rei sendirian yang masih duduk di ujung bathtub. Ia bergegas mengambil tas dan membawanya lalu mengambil beberapa tumpukan uang yang diberikan oleh Ramon, mertuanya.


"Ini uang, kamu mau ini bukan?" tanya Zenira sambil memberikan tumpukan uang berwarna merah pada Rei.


Tentu ini yang diinginkan, Rei sejak awal. Mata Rei berbinar senang melihat tumpukan uang itu, Zenira menariknya lagi uang yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menariknya lagi, uang itu bukannya milikku?" tanya Rei yang merasa di bohongi.


"Aku akan memberimu sebanyak yang kamu mau, tapi tentu saja ada syaratnya." ucap Zenira tersenyum tipis.


"Syarat apa?" tanya Rei penasaran.


"Kamu boleh pakai uang ini, tapi tidak untuk game online." ucap Zenira yang mengira suaminya bisa berubah semudah itu.


Rei tersenyum, ia menyanggupi persyaratan yang diberikan istrinya.


"Baiklah, aku janji." jawab Rei dengan sorot mata berbinar senang mengambil tumpukan uang lembaran seratus ribuan dari tangan Zenira.


"Jika kamu mengingkari janjimu, jangan harap aku mau memberikanmu uang sebanyak ini lagi padamu." ucap Zenira mengancam.


Mendengar ancaman dari Zenira. Rei jadi kembali berpikir, tentu istrinya ini sudah tidak selugu yang dulu lagi. Bisa jadi ketika ia pulang ke rumah orang tuanya, mereka sudah memberitahu cara yang efektif untuk merubah dirinya.


Rei terdiam dan tidak berani menyentuh uang itu, ia hanya mengambil beberapa lembar uang saja dari tumpukan uang yang diberikan.


"Aku tidak mau membohongimu lagi. aku sudah berubah, sayang." ucap Rei meyakinkan Zenira.


Zenira tersenyum dan merasa menang, ia yakin kini suaminya itu sudah tidak sama dengan yang awal mereka kenal.


"Terus uang itu, untuk mau kamu pakai apa?" tanya Zenira sambil memeluk Rei.


"Hanya untuk kebutuhan seperluku saja." jawab Rei memeluk erat tubuh Zenira.


Zenira memasukkan kembali tumpukan uang ke dalam tas kecilnya, dan diletakkannya di atas tempat tidur. ia ingin melihat apakah Rei sudah benar-benar berubah atau masih saja seperti dulu.


Zenira sengaja tidak memindahkan tas kecilnya, dan sengaja memilih untuk pergi meninggalkannya di sana.


Rei yang tahu itu jebakan bergegas mandi dan membiarkan tas itu tetap di atas tempat tidur.


Saat Rei mandi, Zenira yang paham dengan kebiasaan Rei lalu mengeluarkan beberapa tumpukan uang dari dalam tasnya dan memasukkannya ke dalam brankas.

__ADS_1


"Hemm... Rei pasti tergiur melihat uang ini." gumam Zenira membereskan uang yang tersisa di tas kecilnya.


Zenira tergesa berjalan pergi meninggalkan kamar tidurnya, dari jauh ia terus mengawasi tas perangkapnya. Jika sampai Rei mengambilnya ia ingin segera menyergap suaminya itu.


Selepas mandi Rei tidak berani memikirkan tumpukan uang di tas istrinya itu, ia tahu rencana Zenira dan jika sampai ia tergoda lagi tentu itu akan menjadi masalah baginya.


"Kenapa rasanya sulit sekali, membuang kebiasaanku ini? Aku harus mencari pekerjaan agar bisa melupakan hobiku dari game online." gumam Rei menggerutu kesal.


"Bagaimana, Rei? Kamu mau aku tambahkan lagi jumlah uangnya?" tanya Zenira yang dari tadi mengawasi Rei.


"Tidak mau! Aku tahu, tidak mudah meyakinkanmu karena aku pernah berbuat salah." ucap Rei menggelengkan kepalanya.


"Aku punya ide, Rei! Bagaimana kalau kamu membuka usaha bisnis saja, agar kamu punya pekerjaan." ucap Zenira mengelus bahu Rei pelan agar tidak patah semangat.


"Bisnis apa?" tanya Rei tidak yakin dengan ide yang diberikan oleh istrinya.


"Kenapa kita tidak berbisnis jasa foto produk saja, kamukan tampan cocok menjadi model baju pria." jawab Zenira tersenyum lebar.


"Maksudmu?" tanya Rei yang belum mencerna perkataan Zenira.


"Ini lihatlah, temanku membuka usaha jasa foto produk. Bayarannya pun juga lumayan, kamu sangat cocok menjadi model di bisnis usaha barunya." ucap Zenira menjelaskan sambil menunjukkan media sosial milik temannya.


"Tidak mau, nanti foto wajahku akan tampil dimana-mana." ucap Rei menggelengkan kepalanya, menolak halus.


Zenira terdiam, ia sedang berpikir bisnis apa yang bisa di jalankan suaminya itu. Memang mereka punya banyak uang jika tidak di kelola dengan baik uang sebanyak apapun pasti akan habis juga, pikir Zenira.


"Sebenarnya aku pernah punya bisnis kopi kekinian, tapi aku tidak yakin masih bisa menjalankannya atau tidak." ucap Rei membuka suaranya kembali.


"Ya sudah itu saja, aku yakin kamu pasti bisa, Rei. Kamu suka game online hanya karena, salah bergaul aja kok!" ucap Zenira mencoba memberi semangat pada suaminya.


Rei terdiam, ia mencoba mengingat-ingat masa kejayaan kedai kopinya dulu. Meski hasilnya belum banyak tapi mantan kekasihnya dulu selalu menyemangatinya untuk terus berusaha membesarkan bisnis kedai kopinya.


Namun, sayang semua hancur karena game online yang habis menggerogoti tubuh dan hartanya. Secara perlahan, Rei membuang napas panjangnya dan berusaha melupakan kejadian menyedihkan itu.

__ADS_1


__ADS_2