TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 44 - Andai


__ADS_3

"Aku di sini saja, aku tak mau membuat, Mamimu sedih!"


"Jangan begitu, dia justru akan senang akan semua hadiah ini. Ayolah ikut!" Paksa Rei yang membuat Devga akhirnya bersedia untuk ikut pulang dengannya.


Rei membereskan kue ulang tahun yang dibawa Devga, dan membawanya ke mobilnya. Devga pun mengikuti mobil Rei dari belakang.


Setiba di rumah keluarga Ramon, Rei membuka pintu dan mempersilahkan Devga masuk ke rumahnya sedang dia berjalan pelan karena membawa kotak kue besar pemberian Devga.


Devga?" Seru Adelia saat melihat orang dari masa lalu Tyra berkunjung ke rumahnya.


"Mami, maaf aku baru bisa datang. Maafkan aku, Mami!" Sesal Devga menundukkan wajahnya.


"Apa yang membuatmu kemari, Nak!" Ucap Adelia mempersilahkan Devga masuk.


Rei menunjukkan kotak kue pemberian Devga kepada Adelia, dia juga bercerita mengapa Devga datang ke cafenya siang ini.


"Sungguh kamu masih ingat akan ulang tahun, putriku?" Tanya Adelia haru dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu saja Mami. Tyra adalah sosok penting dalam hidupku. Jadi jangan, Mami berpikir hatiku sudah melupakan, Tyra!"


Perkataan Devga itu ternyata di dengar oleh Ramon yang sejak tadi duduk di dapur dan memperhatikan dari jauh.


"Terima kasih, Nak. Papi yakin hari ini Tyra sangat senang karena kamu masih mengingatnya di hatimu!" Ucap Ramon sambil menghampiri Devga.


Mereka pun melalui siang itu dengan duka akan kepergian Tyra yang terbilang sangat cepat, mungkin jika Tyra tak terhasut oleh apa yang dikatakan Albert, saat ini dia masih di sini untuk merayakan hari ulang tahunnya yang ke 19 tahun.


Adelia yang tak mau larut dalam kesedihan memanggil Bi Emi untuk membuatkan Devga secangkir kopi dan camilan.


Bi Emi bergegas pergi ke dapur dan mengikuti perintah sang majikan, sedangkan Devga melanjutkan acara ulang tahun Tyra dengan pemotongan kue ulang tahun yang di bawanya.


"Aku mau potongan pertamanya untuk Papi." Ucap Devga tersenyum memberikan potongan kue pertamanya.


Ramon sangat terharu, baru kali ini dia merasakan hari ulang tahun Tyra sangat berkesan setelah puluhan tahun melakukan perayaan.


"Terima kasih, kamu juga harus makan. Ayo, meski Tyra tak ada kita harus terus merayakan ulang tahunnya sebagai bukti kita sangat sayang kepadanya!" Ucap Ramon dengan berlinang air mata.


Devga senang merayakan hari ulang tahun Tyra hingga malam hari, Rei yang telah lama tak bertemu dengannya tak lupa memperkenalkan Devga kepada Zenira istrinya.


"Kamu beruntung mendapatkan, Zenira. Dia wanita yang baik." Ucap Devga menyalami tangan Zenira yang nampak masih sangat lemas karena sakit perutnya.


"Sudah malam. Aku pulang dulu ya!" Pamit Devga saat jam yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul 9 malam.


"Lain kali mainlah kemari!" Pinta Adelia saat Devga bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan mereka semua di ruang tamu.

__ADS_1


Devga melambaikan tangan sebelum masuk ke mobilnya dan berlalu.


"Zenira kamu sudah baikan?" Tanya Adelia mertuanya saat melihat wajah Zenira masih sangat pucat dan belum bisa tersenyum.


"Sudah baik, Mami. Aku sudah minum obat jadi jangan khawatir lagi ya!"


Perkataan Zenira ini membuat kembali Adelia tersenyum, Zenira memang wanita yang kuat dan tak pernah putus asa meski masalah silih berganti menghampirinya.


"Terima kasih kamu mau kuat untuk Rei!" Bisik Adelia yang membuat Zenira nampak salah tingkah.


"Kenapa Mami, bilang begitu?" Tanya Rei yang tak mengerti maksud perkataan Maminya itu kepada Zenira.


"Dia istri yang sangat kuat. dia bahkan bisa merubahmu menjadi lebih baik itu hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang kuat seperti, Zenira." Jawab Adelia sambil mengelus rambut Rei yang terlihat berantakan.


"Tentu ini karena Rei juga. Jika bukan dia yang mau berubah, aku bisa apa Mami." Ucap Zenira berusaha membuat Rei tersanjung.


"Tuh, berkat aku juga!" Puji Rei pada dirinya sendiri.


Mami tak mau apa jadinya jika Zenira tak bertemu putranya pada malam itu dan apa jadinya jika mereka tak segera menikah bisa-bisa Zenira cuma di jadikan pelampiasan sesaat Rei saja seperti wanita-wanita yang pernah hadir di hati Rei.



Drett drettt



Rei tak mengucapkan apa-apa dia hanya mengangguk beberapa kali dan menutup panggilan teleponnya itu.


"Siapa yang meneleponmu malam-malam begini, Rei?" Tanya Zenira dengan wajah sedikit bingung.


Karyawan cafe, dia menanyakan kepadaku tentang bon, perasaan aku sudah meletakkannya di meja kerjaku tapi katanya tidak ada." Ucap Rei dengan bingung.


"Memangnya bonnya kamu simpan di mana?" Tanya Zenira lagi.


"Nggak tau, lupa!" Seru Rei dengan gampangnya.


"Rei, jangan begitu semua pencatatan butuh bon itu, kamu ini." Tegur Zenira dengan wajah tak senang.


"Iya ini lagi di cari. Coba kamu tak sakit pasti aku tak akan lupa di mana meletakkan bon-bon itu kan?" Ujar Rei yang menyalahkan Zenira yang sakit.


"Ih, kamu ini gimana sih, jadi nyalahin aku." Geram Zenira sambil mencubit suaminya itu dengan gemas.


Adelia dan Ramon tertawa melihat sikap Rei dan Zenira yang saling menyalahkan itu.

__ADS_1


"Ya sudah, besok kamu cari bonnya. Jadi tak usah ribut di rumah seperti ini!" Ujar Adelia mencoba melerai.



\*\*\*\*\*



Keesokan harinya.



Zenira dan Rei datang sebelum cafe di buka untuk mencari di mana bon yang lupa di simpan oleh Rei kemarin.


Setelah berkeliling cafe beberapa kali akhirnya Rei menemukan jika dia meletakkan bon pembelian barang itu di sebuah laci dekat dengan lemari uangnya.


"Nah, di sini!" Seru Rei sembari membuka pintu laci kecil itu.


"Kamu ini, kalau kamu simpan di sini mana ada yang tau!" Ujar Zenira gemas.


"Iya, maaf. Tapi ketemu kan!" Ujar Rei tertawa lega.


Akhirnya cafe di buka jam 10 pagi, para karyawan berdatangan satu persatu dan seperti biasa sebelum pembeli mulai berdatangan Zenira dan Rei memimpin doa agar hari ini mereka bisa bekerja dengan baik tanpa ada kendala sedikitpun.


"Semangat ya semua!" Seru Zenira kepada lima karyawannya yang masih bekerja.


"Nah, kalau kamu datang dan mengawasi seperti ini kan pekerjaanku jadi lebih ringan!" Ucap Rei dengan wajah senang.


Happy reading.



Bersambung dulu ya guys. Terima kasih atas dukungannya.



Jangan lupa like, vote komen dan subscribe ya🌹



Sambil menunggu author Up, siapa tau mau mampir ke novel author yang lain.


__ADS_1


Dengan judul: PENJARA HATI SANG CEO



__ADS_2