TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 69 - Kebutuhan Biologis


__ADS_3

"Iya, Tuan putri. Aku nggak akan pulang telat!" Canda Rei kepada istrinya yang masih saja nampak sangat marah kepadanya.


Zenira akhirnya pulang bersama Tora dengan mobil antiknya, sesampainya di rumah Adelia dan Ramon sudah menunggu mereka berdua pulang dengan wajah cemas.


"Kalian dari mana saja, Mami kira kalian lupa pulang!" Canda Adelia yang melihat Tora dan Adelia berhasil memarkirkan mobil di tempat yang sama.


"Tadi dari cafe, tapi Rei ada tamu. Jadi aku langsung pulang saja!" Ujar Zenira dengan masih sedikit kesal kepada Rei menerima tamu wanita.


"Temannya kali!" Goda Ramon mencoba menghilangkan cemburu di hati menantunya itu.


"Suruhannya pak Kenzo, katanya?" Lanjut Tora mencoba menjelaskan.


Zenira masih saja memasang wajah kesal baginya, siapa pun wanita yang dekat dengan Rei tetap saja berbahaya untuknya.


"Jangan begitu, Rei anak yang baik kok!" Bela Ramon agar Zenira tak lagi marah.


Melihat semua mendukung Rei, Zenira jadi sedikit lega.


"Semoga saja dia sudah tidak nakal lagi, ya!" Gumam Zenira dan bergegas menuju ke kamarnya untuk mandi sore.


Tora kemudian mengatakan apa yang di rasakan Zenira ini kepada Rei agar dia tidak kaget saat pulang nanti.


Setiba di rumah karena sudah di beritahu Tora, Rei langsung naik untuk bertemu Zenira.


"Kenapa?" Tanya Rei mesra menghampiri istrinya yang sejak tadi memasang wajah masam.


Zenira nampak masih marah akan apa yang tadi dia lihat.


Rei tersenyum dan memeluk istrinya dengan lembut.


"Sudah jangan marah terus!" Goda Rei sambil mengulum mesra telinga Zenira.


"Udah ah, geli!" Bisik Zenira manja berusaha melepaskan pelukan dari suaminya itu.


"Tadi itu cuma orang suruhan saja, masa aku aneh-aneh!" Kata Rei lagi.


Zenira tidak mau menjawab, dia hanya membiarkan suaminya itu menggigiti daun telinganya.


"Masa masih marah!" Ujar Rei lagi.


Zenira kemudian memeluk suaminya itu dengan lembut dan meminta Rei tidak nakal lagi seperti dulu.


Rei yang paham Zenira tidak nyaman dengan pertemuannya dengan orang suruhan Kenzo itu meminta agar Zenira tak terlalu cemburu pada siapapun yang dia temui di kantor.


"Aku cuma punya kamu!" Ujar Rei membuat Zenira tersenyum kembali.


"Iya, udah. Mandi sana!" Bisik Zenira.


Rei menarik tangan istrinya untuk ikut masuk ke dalam kamar mandi, Zenira tak menolak saat Rei perlahan membuatnya basah dengan air shower yang perlahan membasahi tubuhnya.


Rei memeluk Zenira yang membuat Zenira tak bisa bergerak dalam pelukannya itu.


"Buka, ya!" Bisik Rei lembut sambil membuka sehelai demi sehelai benang di tubuh Zenira.


Mereka terus berpelukan hingga Rei mendudukkan istrinya itu di wastafel kamar mandi dan segera saja Rei bergerak bebas membuat Zenira tak tahan lagi.


Zenira hanya bisa mendesah tak berdaya, sesekali dia menggenggam tangan Rei yang tak jauh dari wastafel.


"Lagi!" Desah Zenira membiarkan Rei bebas bergerak.

__ADS_1


Mendengar ******* Zenira tentu Rei makin bersemangat dia terus saja bergerak tanpa lelah.


"Mmm!!!" Desah Rei menunggu puncak kepuasannya tiba.


Dia mempercepat gerakannya dan akhirnya Zenira dan Rei sama-sama menuju puncak kenikmatan.


"AAHH!" Ujar Rei sambil menarik pedang panjangnya, dia sebenarnya masih ingin membuat istrinya berteriak seperti tadi, tapi Mami dan Papinya sudah menunggunya di bawah.


"Nanti lagi ya!" Bisik Rei bergegas membersihkan tubuhnya.


Zenira masih di atas wastafel dengan napas terengah-engah setelah puncak kenikmatan yang luar biasa di berikan Rei tadi.


Setelah Rei selesai mandi, barulah Zenira turun dari wastafel dan mulai membersihkan tubuhnya.


"Enak banget!" Bisik Rei saat melihat Zenira yang masih mandi dengan tubuh yang basah.


"Nanti lagi, ya!" Ujar Rei mengulang ajakannya.


Zenira tertawa menyuruh Rei turun sebelum Mami dan Papinya lelah menunggu mereka berdua di lantai bawah rumahnya.


Setelah turun mereka bergegas menemui Mami dan Papinya di meja makan. Makan malam mereka berakhir Rei dan Zenira bergegas kembali menuju kamarnya karena Rei nampak tak betah lama-lama jauh dari Zenira.


Begitu sampai ke kamar Rei langsung membaringkan Zenira di kasurnya dan perlahan melepas kain yang menutupi tubuh Zenira.


"Pelan-pelan!" Pinta Zenira saat tangan Rei mulai membuka semua helai kain di tubuhnya.


Zenira meminta Rei melakukan lagi di kamar mandi, sepertinya dia mulai suka posisi yang diberikan oleh Rei kepadanya.


Tentu Rei sangat senang karena istrinya mulai tau posisi yang paling dia suka.


Zenira naik ke wastafel dan setengah berbaring agar Rei bisa leluasa menaikkannya ke puncak.


Zenira tak melawan saat dengan cepat Rei memasukkan pedangnya itu, Zenira justru meminta Rei untuk segera memulai malam indah mereka.


Gunung indah milik Zenira yang begitu indah membuat Rei semakin bersemangat, tak sedikitpun Rei lelah dengan service yang diberikannya kepada istrinya itu.


"Yuk, sayang!" Ujar Zenira dari bawah Rei yang meminta kepada Rei tak ragu dalam bergerak.


Rei nampak sesekali menghela napas dan nampak keringatnya mengalir deras di tubuhnya.


"Lagi, ku mohon!" Teriak Zenira sambil terus mendesah.


Tak lama berselang Rei mulai mempercepat gerakannya dan akhirnya sampai di puncak yang mereka inginkan.


Zenira nampak kelelahan saat Rei memasukkan kembali pedangnya, dia tak mau memaksa karena khawatir jika kelelahan Zenira justru sakit karenanya.


Setelah puas, Rei kembali membersihkan diri dengan air shower dan bergegas untuk tidur.


Zenira menyusul setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian.


Mereka berdua mulai tertidur karena kelelahan.


\*\*\*\*\*



Keesokan harinya.


__ADS_1


Paha Zenira masih terasa pegal saat pagi-pagi buta Rei membangunkannya dan meminta melayaninya sekali lagi, Zenira nampak tak menolak saat Rei menariknya ke ujung ranjang dan mulai membuatnya terengah-engah.


Rasa ngantuk Zenira langsung hilang saat Rei semakin mempercepat gerakannya itu.


"Lagi, enak!" Rintih Zenira kemudian mulai meremas lengan Rei yang kekar.


"Wah, suguhan pagi begini ternyata lebih enak!" Desah Rei sambil terus menikmati sungguhan nikmat dari Zenira ini.


"Oh!" Desah Zenira semakin kencang.


Rei mempercepat gerakannya karena sadar hari mulai terang dan dia harus bergegas menuju cafenya.


"Aku cepetin ya, sakit sedikit tahan!" Perintah Rei pada Zenira yang berada tepat di bawahnya.


"Oh, Oh! Ahh!" Rintih Rei yang akhirnya mencapai puncak kenikmatannya pagi itu.


Zenira tak langsung bangun dia hanya memegangi bagian bawah perutnya itu sambil berpikir betapa nikmatnya buru-buru.


Rei yang sudah selesai mandi kemudian bergegas mengenakan pakaian kerjanya dan pergi meninggalkan Zenira yang masih nampak terbaring di atas kasur king zisenya.


Zenira kembali melanjutkan tidurnya setelah serangan fajar dari suaminya ini rasanya tak ada alasan untuk buru-buru bangun apalagi untuk mandi.



\*\*\*\*\*\*



Siang menjelang dan Zenira masih asyik tidur, tadinya Adelia ingin menengok Zenira di kamarnya namun karena Ramon melarang akhirnya Adelia lebih memilih memasak di dapur dan membiarkan Zenira tidur hingga siang hari.



Kriiing..



Rei menelepon istrinya dia ingin memastikan Zenira baik-baik saja saat ini.


Zenira bergegas mengangkat panggilan teleponnya dari Rei itu.


"Ada apa?" Tanya Zenira.


"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Rei khawatir.


Zenira tertawa kecil, dia tak tau harus berkata apa setelah serangan fajar suaminya tadi.



18\+



Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜



TbcπŸ“™πŸ“—


__ADS_1


DON'T FORGET FOR LIKE, VOTE AND COMMENT πŸŒŸπŸ€— THANK YOU β€οΈπŸ–€


__ADS_2