
"Jadi sekarang secara hukum hak waris Pak Ramon akan diberikan kepada Zenira dan bukan pada Rei!" ucap Adrian mengulang isi dari surat wasiat itu.
Zenira yang tidak paham akan perpindahan warisan itu hanya terdiam lalu tersenyum ke arah Rei.
"Kenapa kamu tersenyum padaku, jadi ini yang kamu inginkan. HAH!" teriak Rei yang membuat seisi ruangan sangat kaget.
"Rei, ini\_" kalimat Zenira menggantung karena dipotong oleh Papinya Rei.
"Ini salahmu, Rei!" potong Ramon dengan sangat marah.
"Kalau saja kamu bisa jadi laki-laki yang baik, tentu harta ini bukan untuk Zenira." ucap Ramon tegas sambil berkacak pinggang.
Rei yang tidak terima dengan perkataan, Papinya berjalan keluar meninggalkan ruang keluarga.
Braak...
Rei membanting pintu ruang utama rumah, kediaman orang tuanya dan pergi entah kemana.
"Rei!" teriak Zenira mencoba mengejar suaminya.
"Zenira, sudah biarkan saja ia pergi!" cegah Ramon sambil mencegat Zenira.
"Papi, aku tidak mau ada apa-apa pada, Rei! Tolong Papi ia sekarang suamiku!" ucap Zenira meminta dengan sangat memelas.
"Kenapa kamu harus mengejarnya?" tanya Ramon menyelidik.
"Papi, di rahimku kini ada anak Rei, aku harus mencegahnya pergi." ucap Zenira tidak menghiraukan perkataan Ramon.
Mendengar perkataan Zenira, sontak Ramon menjadi kaget.
"Sudahlah, Zenira. Rei akan pulang, tidak mungkin ia akan pergi jauh. kamu tidak perlu khawatir." ucap Ramon menenangkan Zenira.
Adelia menghela napas panjang, ia menyuruh Zenira untuk bergegas menuju ke meja makan karena makan siang sudah siap.
"Zenira, ayo kita masuk ke dalam. kamu pasti sudah lapar, Mami sudah menyiapkan makan siang buat kamu." ucap Adelia meminta.
"Baik, Mami." jawab Zenira bersemangat jika di ajak makan oleh mertuanya.
__ADS_1
Setiba di ruang makan, Zenira segera menyantap semua sajian yang tersedia. Dia sesekali diam memandang piringnya sambil mengingat bahwa, Rei belum makan dari kemarin.
"Rei pasti sangat lapar, semoga saja ia segera pulang." batin Zenira dalam hati.
Benar saja, saat Zenira sedang menikmati piring keduanya. terdengar suara pintu utama terbuka.
Ceklek!
"Mami." teriak Rei membuka pintu utama.
Dia pulang karena kelaparan di luar, memang Rei sudah tidak punya uang untuk membeli makanan. Entah mengapa Rei sekarang mirip dengan Zenira, ia pasti pulang jika perutnya lapar.
"Rei, cepat sini." panggil Zenira yang senang melihat suaminya pulang.
"Aku tidak mencarimu, aku mau makan." jawab Rei ketus.
Zenira, yang sangat paham mengajak suaminya menuju ruang makan. karena pelayan sudah menyiapkan banyak makanan untuk mereka.
"Tapi jangan bilang, Mami kalau aku datang." bisik Rei pelan di telinga Zenira sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Baiklah, Kamu tenang saja, Rei. aku tidak akan bilang, Mami." jawab Zenira menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Ramon dan Adelia melihat Rei sudah pulang, mereka mengamati dari jauh dan berharap Rei yang keras kepala tidak pergi lagi dari rumah.
"Kenapa Mami, diam di sini?" tanya Ramon berbisik pada Adelia istrinya.
"Rei sudah pulang. Sudahlah, Rei pasti mau menurut pada, Zenira." jawab Adelia berbisik mengintip dari balik pintu.
Adelia sangat tahu jika putranya tidak sejahat yang mereka kira, hanya saja gengsinya terlalu besar sehingga tidak mau di atur oleh siapapun.
Ramon mengangguk meninggalkan Adelia, yang masih betah mengintip Rei dan Zenira berdua di ruang makan berdua.
"Kamu sudah kenyang, Rei?" tanya Zenira menatap polos suaminya.
"perutku sudah tidak muat lagi, jika harus menghabiskan makanan sebanyak ini." jawab Rei mengangguk, lalu ia membereskan sendok dan garpu yang ada di depannya.
"Aku mau pulang saja, aku tidak nyaman di rumah orang tuaku." ucap Rei mengajak.
"Baiklah! tapi bolehkan, aku mau merapikan peralatan dulu." ucap Zenira bangkit berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Hei, kamu mau kemana?" tanya Rei ikut berdiri dari duduknya.
"Kamu tadi bilang mau pulang bukan? makanya aku berdiri." jawab Zenira terkekeh.
"Baiklah, aku tunggu di sini saja." ucap Rei mengangguk mengeryitkan keningnya.
"Tapi tidak usah pamit ya, aku tidak mau kalau, Mami tahu aku ada di sini." ucap Rei yang tidak tahu jika sejak tadi Maminya sudah memperhatikannya dari balik pintu.
"Ya sudah, ayo kita pulang." ucap Zenira membereskan piring makannya.
Zenira dan Rei melangkah meninggalkan halaman rumah kediaman orang tua Rei tanpa berpamitan. Rei baru teringat ia kemarin tidak membawa mobilnya.
"Aku lupa tidak membawa mobil, bagaimana ini?" tanya Rei mengerutkan kening.
"Kamu nggak usah cemas, aku akan memesan taksi online." ucap Zenira mengambil ponsel genggamannya di saku celananya.
"Pintar juga kamu sekarang." ucap Rei mengacak puncak kepala Zenira.
Zenira tersenyum dan merasa yakin Rei juga pasti akan berubah, meski memang sulit menjauhkannya dari teman-temannya yang terlihat selalu mengincar uang yang di miliki Rei.
Zenira membuang napas panjangnya, menatap penuh harap suaminya untuk berubah. Sedang Rei memandang Zenira yang dulu di anggapnya sebagai gadis lugu kini adalah sumber harta baginya.
Saat sedang berpandangan, taksi online yang Zenira pesan akhirnya tiba. Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah.
Selama perjalanan pulang, Zenira dan Rei hanya saling diam tanpa kata, entahlah mereka sibuk pada pikirannya masing-masing.
"Mas Rei dan kak Zenira sudah pulang." sapa Bi Emi yang melihat mereka masuk ke rumah tanpa saling sapa.
"Bi Emi." panggil Rei dari dalam ruang tengah.
"Iya, mas Rei." jawab Bi Emi bergegas menghampiri Rei yang asik memainkan ponselnya.
"Siapkan air mandi untuk, Zenira. Dia pasti sangat lelah." perintah Rei pada, Bi Emi lalu ia mematikan ponselnya.
"Iya, Bi Emi. Aku memang belum mandi." ucap Zenira menambahkan, mengira-ngira apa yang di maksud suaminya itu.
"Nanti kita bicara lagi." ucap Rei bangkit berdiri dari duduknya berjalan menuju halaman belakang rumahnya.
"Air hangat atau air dingin?" tanya Bi Emi memastikan perintah Rei pada Zenira.
"Air dingin saja, Bi Emi. Biar aku mandi lebih cepat dan juga segar." ucap Zenira mengangguk, tersenyum senang.
__ADS_1
Zenira berjalan menuju kamarnya, setelah menunggu sebentar air mandi sudah selesai di siapkan Bi Emi. Ia berjalan melangkah menuju kamar mandi dan berendam dalam bathtub yang berisikan air aromaterapi, baginya ini merupakan hal mahal setelah pernikahannya dengan Rei.