TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 08 - Sebuah Pesan


__ADS_3

Terlalu mahal baginya bisa sampai meminta maaf kepada siapapun termasuk kedua orang tuanya, tapi demi Zenira ia tetap mau hidup dalam pernikahan palsu ini. Dia rela mengucapkannya dan tentu saja dia berharap ini yang terakhir.


"makan siangmu sudah selesai, Zen? mau ikut denganku di pantai bermain pasir dan ombak?" tanya Rei mengajak menatap, Zenira yang memegangi perutnya karena kekenyangan.


"Sudah, Rei! Aku ikut denganmu, ke pantai bermain pasir dan ombak." jawab Zenira menganggukkan kepalanya, sambil menghabiskan segelas juice nanas yang ia pegang di tangannya hingga tandas.


Rei segera menggunakan sun block di oleskan ke seluruh tubuhnya, ia juga memberikannya pada Zenira agar kulit mereka tidak terbakar matahari.


Zenira membuka pintu kaca villa yang berhadapan langsung dengan pantai, dan bergegas berlari menuju tepi pantai. Mereka kemudian bermain pasir dan air laut di siang hari ini.


Deburan ombak membuat hari mereka terasa sangat indah, tidak terasa sore menjelang malam. Mereka pun mengakhiri kegiatannya di pantai bergegas masuk ke dalam villa.


"Bagaimana, Rei kamu senang bukan? seharian ini kita sudah menghabiskan waktu pertama honeymoon kita di pantai ini." tanya Zenira antusias, memegang gagang pintu dan membukanya masuk ke dalam villa.


"Hemm... aku senang sekali, sayang. Besok kita pikirkan lagi, untuk acara honeymoon kita." jawab Rei tersenyum melangkahkan kakinya masuk ke dalam villa.


"Aku mau mandi dulu, lihatlah badanku penuh dengan pasir." pamit Zenira bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Ya sudah, kamu mandi duluan saja." perintah Rei dengan wajah datar, meminta pada Zenira. Ia ingin secepatnya menghubungi Tyra adiknya untuk mengabarkan acara honeymoonnya bersama Zenira.


"Halo, Tyra!" sapa Rei, lewat sambungan telpon genggamnya.


"Hai, Rei. Bagaimana honeymoonmu?" tanya Tyra sangat senang, akhirnya Rei menghubunginya.


Rei menceritakan semua kejadian yang terjadi mulai dari ia berangkat ke Bandara hingga tiba di villa ini. Tyra sangat bersyukur semua rencana kakaknya itu bisa berjalan dengan baik.


Tyra juga menceritakan jika Papinya sudah mempersiapkan pengacara untuk mencatatkan nama Rei pada daftar penerima harta warisannya.


"Papi kemarin bertemu dengan pengacaranya, aku mendengar ia mendaftarkan namamu untuk menerima warisannya." balas Tyra dari seberang telpon genggamnya.


"Baguslah, begitu warisan itu aku dapatkan. aku bisa segera membuang Zenira dari hidupku!" kata Rei dengan suara lirih, agar tidak sampai di dengar Zenira.


"Apa kamu bilang tadi, kamu mau aku apa?" tanya Zenira yang ternyata sudah berada di dekat Rei.

__ADS_1


Rei kaget dan baru menyadari, jika Zenira sejak tadi mendengarkan perbincangannya dengan Tyra.


"Kamu bilang apa tadi? Mau membuangku?" tanya Zenira lagi dengan tatapan menghunus tajam.


Rei yang menyadari Zenira mendengar perbincangannya dengan Tyra bergegas mematikan sambungan telponnya sepihak.


Zenira sangat marah, ia berlari masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras.


Braaak...


"Brengsek kamu, Rei! Kamu memang laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Kalau saja aku tidak bodoh, aku tidak akan mau menerima tawaran menikah denganmu." teriak Zenira mengacak rambutnya, ia menjatuhkan bokongnya di sofa kamar. dan terdiam tidak menyangka, suaminya akan membuangnya secepatnya ini.


Pernikahan mereka saja baru berlangsung bahkan belum sebulan, pikir Zenira.


Rei yang mendengar perkataan, Zenira tentu tidak mau kehilangan Zenira secepat ini, ia terus mengetuk pintu kamar dan meminta Zenira mendengarkan penjelasan palsunya dulu.


"Zenira, kamu salah dengar! Biarkan aku masuk. buka pintunya, Zen!" teriak Rei dari luar pintu kamar, meminta dengan memelas.


Namun karena perutnya terasa lapar, ia tidak mau sampai melewatkan makan malamnya. Akhirnya ia bersedia membukakan pintu untuk Rei.


Rei yang tidak habis akal dan mengatakan pada, Zenira yang ia bicarakan dengan Tyra tadi bukan membuang Zenira. melainkan membuang baju-baju lama Zenira yang masih ada di rumahnya.


"Bukankah lebih bagus, kalau kita ganti semua baju lamamu dengan baju yang baru dan lebih mahal." ucap Rei menjelaskan dengan cerdik.


Zenira yang tadinya terlihat kesal kembali tersenyum ke arah Rei.


"Benarkah, kapan kita pergi ke mall? membeli baju baru untukku? Kita akan mencari di pusat perbelanjaan di dekat villa ini saja." tanya Zenira senang membulatkan matanya lebar.


Rei membuang napas panjangnya, melihat Zenira sudah kembali tersenyum dan berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih hati-hati jika akan berbicara dengan siapapun.


Zenira yang mulai merasa lapar, ia sangat terlihat cemas karena sudah lama berbincang dengan Rei. Makan malam yang ia nantikan belum juga datang, ketika kecemasannya semakin memuncak tiba-tiba.


Tok... tok... tok...

__ADS_1


Terdengar suara pintu diketuk dari luar kamar. Seorang pelayan villa datang dan ini adalah yang sangat di tunggu-tunggu oleh Zenira.


"Permisi, Pak dan ibu! Saya pelayan villa mau mengantarkan makan malam." sapa pelayan villa yang sudah berada di depan pintu.


Zenira sangat girang, kebetulan sekali ia sekarang memang sudah sangat lapar. Ia bangkit dari duduknya bergegas membukakan pintu villanya agar makan malam bisa segera tersaji.


Setelah semua makanan di sajikan, tertata rapi di meja makan. Zenira bergegas mengambil piring dan tidak lama kemudian ia sibuk mengunyah semua makanan itu.


"Makanlah yang banyak, biar kamu tidak sakit. Honeymoon kita di sini akan berlangsung cukup lama, aku nggak mau melihat istriku sakit." ucap Rei melihat, Zenira yang sudah sangat kelaparan menyantap lahap makanannya, dan tersenyum tipis menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Makanan ini lezat dan enak. kalau setiap hari aku makan seperti ini, berat badanku bisa naik." ucap Zenira senang memasukkan makanan ke dalam mulutnya, yang masih penuh dan melahapnya hingga tandas.


Melihat Zenira yang sibuk dengan makan malamnya, Rei mengirim pesan singkat pada Tyra. Dan meminta, Tyra tidak menghubunginya dulu. Karena khawatir, Zenira kembali mendengar perbincangan mereka.


"Rei, ayo makan!" ucap Zenira mengajak sambil menyantap makan malam mereka dengan nasi sop buntut goreng kuah hangat lengkap dengan keripik kentang dan es lemon tea yang segar.


"Sepertinya wanita ini akan mudah ditaklukkan oleh makanan." gumam Rei melangkah menghampiri Zenira.


"Hemm...sedap sekali rasa dari aroma kuah sop buntut goreng ini, aku jadi ikut lapar." ucap Rei mengambil piring makan dan menaruh di atasnya nasi lengkap dengan sop buntut goreng, di tambah keripik kentang favoritnya.


Selesai makan malam bersama Zenira. Rei mengecek ponselnya, dilayar ponsel terlihat notifikasi di kotak pesan masuk dari Tyra.


[Papi bilang, kamu hanya bisa masuk daftar waris jika sudah memiliki keturunan dari Zenira] Tyra.


"What!!!" teriak Rei kesal membaca isi pesan WA yang dikirim adiknya.


"Kamu kenapa lagi, Rei?" tanya Zenira dengan mulut penuh makanan yang mendengar suara bariton Rei.


"Tidak apa-apa, habiskan saja makanmu." jawab Rei kesal menatap tajam Zenira.


Rei tidak pernah berpikir harus melakukan hubungan ini dengan Zenira. Tapi dengan terpaksa ia akhirnya harus melakukannya juga, demi harta warisan yang menggiurkan dari Papinya.


Malam semakin larut, dengan sentuhan lembut yang begitu manis akhirnya, Rei berhasil melakukan ritual honeymoonnya. Ia tidak menyangka akan masuk permainan jebakan perangkap kedua orang tuanya, lagi-lagi semua ini ia lakukan demi mendapatkan harta warisan dari Papinya.

__ADS_1


__ADS_2