TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 16 - Hari Bahagia Untuk Rei


__ADS_3

Adelia memandang Zenira dengan penuh rasa sedih, ia tahu tidak mudah di posisi Zenira saat ini.


Namun, ia pun sudah tidak paham lagi bagaimana cara membuat putra kesayangannya itu menjauh dari teman-temannya, yang membuat Rei bersikap di luar batas.


"Hemm... semoga kamu bisa kuat mengatasi kenakalan suamimu ini, Zenira." bisik Adelia dengan hati yang masih sangat marah.


Sebenarnya Adelia sangat takut hal ini terulang, dulu saja saat Rei masih bersama mantan kekasihnya. yang hampir melangkah ke jenjang pernikahan. Mereka jadi sering bertengkar bukan karena masalah mereka sendiri, tapi lebih karena orang-orang luar yang selalu menghasut, Rei.


"Zenira, jika suatu saat nanti, Rei. Kembali ke game onlinelagi, laporkan pada Mami. kamu tidak perlu menutupinya." ucap Adelia berpesan pada menantunya.


"Semoga ia tidak kembali ke permainan game online itu ya, Mi." ucap Zenira berdoa penuh harap.


Lelah dengan masalah yang tidak kunjung usai. Adelia mempersilahkan, Zenira membuka semua kado pernikahan yang di bawanya. Lima dus besar itu berisi semua peralatan dapur yang sangat mahal. sengaja di siapkan Adelia, dan tentu membuat Zenira sangat senang.


Satu persatu kado di buka. dan Zenira mulai memasukkan kado itu ke dalam lemari, yang ada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Zenira tidak lupa mengucapkan terima kasih pada mertuanya itu. Rasanya kasih sayang Adelia tidak berbeda dengan kasih sayang pada anak kandungnya.


"Aku tahu kamu sangat suka sekali makan, karena itu kamu harus punya piring yang bagus. Agar nafsu makanmu semakin lahap. Karena setelah ini kamu harus menjaga kondisimu dan calon cucuku." ucap Adelia membuat Zenira semakin bahagia.


"Iya, Mami! Jangan khawatir dengan kondisi kehamilan, Zenira." ucap Zenira menyakinkan dengan senyum manis.


Meski Zenira memang sering lupa, jika di rahimnya kini ada calon buah hatinya dengan, Rei. yang siap mengisi hari-harinya, dan membuat rumah mewah dan megah itu semakin berwarna.


Rei yang baru saja terbangun dari tidur siangnya, bergegas mengambil ponselnya yang ia taruh di atas nakas. Ia kemudian mengecek pesan satu persatu yang mungkin masuk ke dalam ponselnya.


Rei tersadar jika ponselnya, baru saja di buka oleh Zenira. Terlihat beberapa pesan di kotak masuknya dihapus oleh Zenira.


Awalnya Rei sangat kesal, ia tidak pernah mengijinkan siapapun untuk membuka ponselnya. Namun, saat ia tahu nama-nama temannya yang di blokir oleh istrinya adalah teman-teman game online, ia kemudian tersenyum.


"Ya, Zenira memang sangat mengerti apa yang seharusnya aku lakukan. dan aku harusnya senang dengan semua ini." gumam Rei sambil menutup kembali ponselnya.

__ADS_1


Meski, Rei berbicara pada dirinya. tetap masih bisa di dengar oleh Tyra. yang kebetulan mendengar apa yang dikatakan kakaknya itu, ia masuk ke dalam kamar dan mulai memanasi Rei.


"Kak, Rei. Kenapa sekarang kamu seperti itu?" tanya Tyra memajukan bibirnya dengan manja.


"Memangnya aku seperti apa?" tanya Rei balik, sambil menyimpan ponselnya.


"Kamu sekarang adalah suami takut istri!" teriak Tyra yang membuat, Rei kembali kesal.


"Apa maksudmu?" teriak Rei tidak terima dengan perkataan Tyra.


"Kalau kamu tidak takut, Zenira. Kamu pasti marah pada istrimu itu, yang sengaja membuka ponselmu. tapi mana, kamu malah diam saja." ucap Tyra yang artinya semakin harga diri, Rei diinjak-injak Zenira.


"Dasar kamu laki-laki pengecut, takut sama istri." ucap Tyra menambahkan. setelah mengatakan itu, Tyra bergegas keluar dari kamar Rei.


Rei bangkit berdiri dari duduknya, ia pikir Tyra betul juga soal Zenira. dan apa yang diperbuat, Zenira tidak bisa di biarkan.


"Zenira!" teriak Rei yang membuat Zenira terkejut sangat ketakutan.


Saat membuka pintu dapur betapa kagetnya, Rei. melihat Maminya ada di sana.


"Baru saja, Mami puji-puji Kamu, malah kumat lagi teriak-teriak ke Zenira." ucap Adelia menegur putra kesayangannya itu.


Rei terdiam dan tampak kikuk, ia mencoba berbicara pelan pada Zenira meski sebenarnya ia sangat ingin marah.


"Tidak, Mami. Aku hanya ingin bilang pada, Zenira. Jangan buka ponsel tanpa izin dariku, begitu!" ucap Rei beralasan, menurunkan nada bicaranya.


Zenira yang melihat Rei sangat kikuk lalu meminta maaf dan menjelaskan kenapa ia membuka ponsel suaminya itu.


"maafkan aku, Rei. Tadi itu ponselmu terus berbunyi, dan tidak sengaja ada pesan yang terhapus." ucap Zenira menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Setelah selesai perbincangannya dengan Zenira, dan akan tahu ia tidak akan menang melawan Maminya, Rei kembali ke kamarnya dan duduk di samping, Tyra.


"Kamu kenapa? katanya mau marah sama Zenira!" tanya Tyra mencibir.


"Bagaimana aku bisa marah. Zenira, sedang di dapur bersama dengan Mami." jawab Rei membela diri kesal.


"Oh ya, Rei. Tadi aku lupa memberitahumu. Mami datang membawa banyak kado pernikahan untuk kalian." ucap Tyra menepuk jidatnya karena lupa.


"Percuma! kamu telat ngasih tahu aku. Mami sudah ada di sini." protes Rei, membuang napas panjangnya dengan kasar. sambil merebahkan tubuhnya di sofa kamarnya.


"Sudahlah, aku jadi suami takut istri saja. Yang penting aku, tetap dapat warisan Papi." ucap Rei cuek mengedipkan matanya ke arah Tyra.


Tyra yang kesal mendengar jawaban Rei, memilih pergi meninggalkan Rei sendirian di kamarnya. Baginya Rei kini tidak seasyik dahulu.


Hari peresmian kedai kopi, Rei pun tiba. Hari ini Rei dan Zenira akan meresmikan bisnis mereka, Adelia dan Ramon sudah siap membantu acara penting mereka.


Rei terlihat sangat sumringah, dengan jas mahal yang ia pakai menambah ketampanannya.


Zenira mengaitkan tangannya menggandeng mesra tangan, Rei membuatnya semakin terlihat perkasa.


"Aku harap hari ini semuanya berjalan lancar." bisik Rei di telinga Zenira lembut, ia terus menatap mata istrinya yang perutnya sudah terlihat semakin besar.


Zenira tidak banyak berkata-kata. baginya kini melihat Rei bisa berbuat baik saja, sudah suatu anugerah yang sangat besar. Ia pun tidak lupa bersyukur.


Tepat jam sepuluh pagi peresmian kedai kopi, Rei berjalan lancar. Di mulai dengan pemotongan pita, dan diakhiri dengan makan-makan sederhana. Tentu saja dengan menu yang sudah di siapkan oleh BI Emi.


"Selamat, Rei." teriak semua tamu undangan selama acara berlangsung dengan meriah.


Semua sangat bergembira kecuali Tyra. Adik Rei itu, seperti menunggu bom waktu meledak di tengah-tengah acara. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2