
Karena tak punya uang untuk pulang pria bernama Bram itu menawarkan jam yang di pakainya untuk di beli oleh Rei.
Tapi saat itu Rei lebih berpikir memberikan uang saja untuk ongkos Bram ketimbang membeli jam tangan yang kini masih saja di pakai oleh Bram.
"Kamu sudah keren lagi sekarang!" Kenang Bram.
"Ya, ini karena istriku, kalau aku tak menikah dengannya entah jadi apa aku sekarang!" Tutur Rei dengan ketawa kecil.
Bram berkata kepada Rei bahwa dia sangat beruntung bisa bertemu istrinya sekarang jika tidak dia akan bernasib sama dengan dirinya yang kini jadi gelandangan di jalanan Jakarta.
"Kenapa kamu tak pulang, bukankah kamu kaya raya?" Tanya Rei.
Bram tertawa, dia yang dulu bukanlah dia yang sekarang. Hartanya habis karena judi dan tinggal sesal saja di hatinya kini.
Rei menawarkan pekerjaan kepada Bram, kebetulan cafe tempatnya bekerja ini belum memiliki petugas keamanan, jika Bram mau ada kamar kosong di belakang dan tentunya itu cukup untuknya sekedar tinggal.
Dengan senang hati Bram menerima tawaran pekerjaan yang di berikan oleh Rei, dia berharap kebaikan Rei ini akan di balas Tuhan berlipat ganda.
Rei kemudian mengajak Bram melihat ruangan tempatnya tinggal.
"Ini kamarmu, lihatlah semoga kamu suka!" Ujar Rei yang nampak begitu berbeda untuk Bram.
"Baiklah, kamu tidak perlu khawatir. Aku sangat senang bisa membantumu!" Mata Bram nampak berkaca-kaca.
"Tak cuma memberikan sebuah kamar tidur di dalam cafenya, Rei juga memberikan baju ganti untuk Bram, entah sudah berapa lama mantan orang kaya ini tidak ganti baju.
"Cepatlah mandi, setelah ini biarku belikan kamu makan!" Lanjut Rei sambil menutup pintu kamar Bram.
"Dia siapa, Pak?" Tanya Cleo yang sejak tadi mengawasi Rei.
"Dia temanku namanya, Bram. Tenanglah di cafe ini akan aman bersamanya!" Ujar Rei yakin.
Meski Rei sangat yakin tidak demikian dengan Cleo, dia terus mengawasi Bram meski pria paruh baya itu telah berganti baju.
"Ayo kita makan!" Ajak Rei kepada Bram sambil melangkahkan kaki menuju sebuah warung makan tak jauh dari cafenya.
"Kamu sangat baik Rei. Aku senang sekali atas kebaikanmu ini!" Ujar Bram sambil terus berterima kasih kepada Rei.
Sebenarnya dulu Bram juga pernah membantu Rei saat dia terlilit hutang dengan Albert, namun belum sempat Rei membayar kebaikan Bram, pria ini keburu pergi dan seakan lenyap di telan bumi.
"Silahkan mau makan apa, pilihlah!" Ujar Rei yang telah lebih dulu memesan menu makan siangnya berupa ayam goreng dan nasi kuning.
__ADS_1
"Makanmu banyak juga?" Canda Bram saat melihat piring makan siang Rei yang menggunung.
"Kamu harus makan banyak, hidup ini keras kalau kamu tak punya tenaga dunia akan menginjak-injakmu!" Kata Rei berlagak bijak.
Bram tertawa terbahak-bahak dan memesan menu yang sama dengan Rei.
"Hei, kamu kan?" Teriak seseorang yang kebetulan ada di warung makan yang sama dengan Rei.
"Siapa yang kamu maksud?" Tanya Rei sambil menatap ke arah pria itu.
Pria itu ternyata bernama Koko yang merupakan teman masa lalu Bram, setelah saling sapa akhirnya mereka makan bersama di warung itu.
Koko mengaku sudah lama mencari Bram tapi tak juga bertemu, dia kaget akan kondisi Bram sekarang.
"Hidupku kini sudah hancur, istriku saja sudah tak peduli kepadaku!" Kenang Bram dengan begitu sedih.
"Kemana istrimu sekarang?" Tanya Koko kepada Bram.
"Sudah tak usah di bahas, Rei mau membantuku saja, aku sudah senang!" Ucap Bram sambil melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan siangnya, Rei mengajak Koko mampir ke cafenya siapa tau besok atau lusa dia ada waktu untuk bertemu dan berbincang dengan Bram.
Koko mengikuti langkah Rei untuk memastikan dimana Bram kini tinggal.
Koko memang mengenal anak-anak Bram tapi tentu dengan pesan dari Bram ini dia tak akan membocorkan di mana ayah mereka tinggal.
"Bram, aku pulang dulu ya. Semua lemari dan pintu sudah aku kunci. Jadi aku harap kamu bisa dengan tenang tinggal di cafeku!" Pamit Rei meninggalkan Bram di cafe itu.
Bram mengangguk dan berterima kasih atas kebaikan Rei ini.
Cafe akhirnya di tinggalkan Rei karena waktu menunjukkan pukul 3 sore dan itu waktunya bagi staff shift 1 untuk pulang bersamaan dengan dirinya untuk kembali pulang ke rumah.
Malam ini Bram bisa tidur dengan nyenyak dengan kasur, sebelumnya dia tidur di emperan toko sepanjang jalan Jakarta, tak sedikit yang jijik kepadanya dan tak banyak juga orang yang mau membantunya.
Tentu dia akan sedih mengingat masa-masa itu, berbeda dengan hari ini di mana dia sudah punya tempat untuk menghilangkan lelahnya meski tak senyaman kasurnya yang dulu.
"Klotrak"
Terdengar seseorang seperti memaksa membuka pintu cafe, Bram bergegas bangkit dari tempatnya berbaring dan berjalan menuju pintu, tiba-tiba seseorang nampak membuka pintu dan melihat ke arah Bram.
__ADS_1
"Siapa kamu!" Teriak Bram membuat pria yang membuka pintu itu lari terbirit-birit.
Bram tak mengejar pria itu, dia lebih memilih menghubungi Rei dan memberitahu apa yang baru saja terjadi di cafenya.
Rei bergegas menuju cafenya untuk melihat keadaan.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Rei kepada Bram saat baru saja tiba.
"Kamu lihat dulu di CCTV, siapa tau kamu kenal dengan pria yang baru masuk tadi!" Usul Bram agar Rei melihat kejadian yang baru saja terjadi.
Rei berjalan ke ruang CCTV dan mencoba melihat siapa yang masuk ke cafenya malam-malam begini.
"Tak apa, aku tak kenal. Sudah yang penting kamu baik-baik saja, untung kamu jaga cafeku!" Ujar Rei yang berusaha membuat Bram tenang.
Bram kemudian mengantar Rei hingga ke dalam mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Rei sebelum akhirnya Rei menghilang di gelapnya malam.
"Semoga saja tak ada orang jahat lagi!" Gumam Bram sambil masuk ke kamarnya lagi.
Malam itu akhirnya dapat di lalui oleh Bram dengan tanpa masalah, namun meski begitu Bram berharap Rei lebih berhati-hati lagi.
"Sebaiknya kamu menambahkan kunci atau gembok untuk lemari-lemari yang belum kamu kunci. Untuk antisipasi saja!" Saran Bram dan segera di terima oleh Rei.
Dia memerintahkan karyawan tokonya membeli gembok untuk beberapa lemari yang memang tak ada kuncinya. Setelah semua terlihat terkunci rapat Rei berkata kepada semua karyawannya untuk tetap hati-hati meski gembok sudah terpasang.
Semua mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Rei hari ini.
"Cleo kenapa kamu masih saja menatapnya begitu tajam?" Tanya Rei ke arah Cleo yang nampak tak senang dengan kehadiran Bram.
"Tak apa, aku hanya belum mengenalnya saja, makanya aku begitu tak suka dia di sini!" Tutur Cleo dengan gamblang.
Hari semakin malam dan semua karyawan cafe mulai pulang, Cleo masih saja di cafe karena dia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan.
Bram yang tahu Cleo tak suka kepadanya hanya memandang wanita muda itu dari kejauhan, tak lama kemudian seseorang masuk ke dalam cafe dan merampas tas yang di letakkan Cleo tepat di sampingnya.
Happy Reading
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa beri Like, Vote dan Komen biar author tambah semangat love you all❤️🖤