
Rei yang mendengar tawa kecil Zenira itu meminta Zenira untuk menjaga kesehatannya agar rencana mereka untuk memiliki anak akan segera terjadi tahun ini juga.
Zenira menyetujui apa yang dikatakan Rei, tapi karena tubuhnya masih sakit dia kemudian tidur kembali.
Siang menjelang dan Zenira turun dari kamarnya, Adelia nampak cemas akan keadaannya tapi Zenira memastikan kondisinya sangat baik.
"Sebaiknya kamu beristirahat saja, Nak!" Pinta Adelia yang cemas pada Zenira.
Zenira hanya tertawa dan melangkah menuju meja makan dan mulai memakan apapun yang dilihatnya di sana.
Adelia sangat senang melihat Zenira yang mempunyai nafsu makan yang tinggi, ini sangat penting baginya apalagi saat program hamil seperti ini.
"Kalau kamu perlu apa-apa katakan saja kepada Mami!" Ujar Adelia perhatian yang membuat Zenira senang.
Melihat Zenira yang bosan di rumah Adelia dan Ramon mengajak Zenira berjalan-jalan ke sebuah taman tak jauh dari kompleks perumahannya, di sana banyak sekali jajanan murah seperti yang bisa di beli Zenira.
Adelia kemudian memberitahu beberapa jajanan yang rasanya enak namun jarang sekali mereka temui.
Setelah setuju dengan wisata kuliner kali ini, Zenira menuju taman yang di ceritakan Mami tadi.
Tempatnya sangat asri dan tak jauh dari sebuah masjid raya yang akhirnya digunakan Ramon untuk parkir mobil.
"Wah pedagang jajanannya banyak sekali!" Seru Zenira saat tiba di tempat itu.
Banyak sekali pedagang makanan di sana mulai yang berkuah, bersantan sampai goreng-gorengan yang Zenira sudah pernah beli hingga makanan yang jarang di temuinya tersedia semua di tempat itu.
Semua makanan itu nampak menggoda, Zenira tidak mau menunggu lama kali ini, dia langsung membeli dan menikmati beberapa kuliner yang dia lihat.
Tora yang ikut mengantarkan majikannya berjalan menuju penjual buah potong yang berada tak jauh dari tempat parkir, sedang Zenira lebih memilih kue cubit, pancong hingga gorengan yang selalu saja menggodanya.
Setelah puas berkeliling, Zenira kembali ke mobil untuk mulai mencicipi semua makanan yang di belinya, ada yang asin, manis, asam hingga gurih semua di borong Zenira.
__ADS_1
Ramon dan Adelia yang melihat tas belanjaan Zenira begitu kagum dengan Zenira yang mau mencicipi semua makanan yang menurutnya menarik.
"Kalau kamu suka kita bisa sering ke sini, selain tempat ini tak terlalu ramai.Tempat ini juga cukup dekat dari rumah kita!" Tutur Ramon sambil melangkah menuju tukang minuman dingin tak jauh dari tempatnya berdiri.
Zenira mencicipi kue tradisional gemblong yang selalu ada di jual di tempat ini, kue ini terbuat dari tepung ketan yang di campur santan dan kelapa parut lalu di goreng kemudian di lumuri gula merah cair yang membuat rasanya manis dan gurih.
"Kamu belum pernah mencicipi kue ini?" Tanya Adelia kepada Zenira.
Zenira menggeleng, Adelia bercerita jika makanan ini adalah makanan tempo dulu yang sering sekali dia beli, sayang meski nikmat makanan ini sangat sulit di temukan.
Saat Zenira sedang asyik makan, Ramon melihat ada tukang cakwe yang berjualan di seberang jalan, Ramon bergegas menghampiri tukang jualan itu dan membelinya untuk Rei.
Rei memang suka sekali dengan cakwe yang seperti roti goreng tapi memiliki rasa gurih, setelah membeli Ramon bergegas menyebrangi jalan dan kembali ke mobil.
Belum puas dengan jajanan yang di belinya, Zenira kembali berjalan-jalan menuju taman untuk melihat apa lagi yang bisa dia beli.
Tora mengajak Zenira berjalan menuju jalan menurun yang mengarah ke taman kompleks yang lebih besar, di sana ada penjual kue pukis yang rasanya lebih nikmat.
"Udah ah, kenyang!" Ujar Zenira kemudian kembali menuju mobil.
Ramon dan Adelia yang melihat Zenira sudah kembali lalu mengajak Zenira jalan-jalan keliling Jakarta, Ramon ingin sekali memperlihatkan kepada Zenira tempat-tempat masa kecil Rei.
Zenira nampak senang dan menyetujui ajakan Papi mertuanya ini.
Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah sekolah masa kecil Rei yang berada di dekat cafe Rei, tempat sekolah Rei ini ternyata tak jauh dari rumah makan tempat Rei mengajak Zenira.
"Ow, ya. Kemarin kami memang makan di sini!" Ujar Zenira sambil menunjuk ke arah warung makan Bu Marni tempat dia dan Rei membeli ayam bakar yang enak.
Mendengar perkataan Zenira ini, Adelia mengajak Ramon makan siang di warung makan Bu Marni, memang Adelia dan Ramon dulu sering makan di sini tapi saat mereka belum seperti sekarang.
"Iya, kemarin Rei juga sempat bercerita tentang itu kepadaku!" Ujar Zenira turun dari mobil yang sudah di parkir oleh Tora.
__ADS_1
Begitu turun, Zenira langsung menghubungi Rei agar suaminya mau makan siang bersamanya di warung makan sederhana itu.
Tak membutuhkan waktu lama Rei datang dengan sangat senang.
"Aku mau pepes ikan dan babat!" Ujar Rei sambil menunjuk ke arah daging babat sapi dan bungkusan daun pisang berisi ikan teri basah yang sudah di beri bumbu.
Jika Rei lebih memilih babat maka Zenira lebih memilih usus sapi yang sudah di goreng garing dan sangat nikmat jika di makan bersama nasi putih hangat, sambal dan lalapan.
Melihat Zenira dan Rei memesan jeroan sapi, Ramon jadi tergiur untuk mencobanya. Adelia sempat khawatir akhirnya mengijinkan juga agar suaminya menikmati makanan ini sekali-sekali.
Setelah semua pesanan tiba, Rei langsung melahap makanan kesukaannya ini.
"Pelan-pelan!" Bisik Zenira yang khawatir dengan cara makan Rei yang terburu-buru itu.
Setelah makannya habis Rei meminta tambahan nasi putih dan babat karena rasanya yang enak sekali.
"Rei jangan kebanyakan makan jeroan!" Bisik Adelia yang khawatir dengan porsi makan Rei yang besar hari ini.
Zenira hanya tertawa melihat Rei makan sangat lahap, dia memang tak pernah mau memasak jeroan di rumah sehingga setiap ada jeroan sapi, Rei pasti langsung meminta porsi dobel untuk dia santap.
Ramon kemudian ikut meminta tambahan nasi namun dengan lauk tempe tahu pepes, Ramon berkata jika dulu makanan ini yang paling dia sering beli di rumah makan ini.
Adelia serasa sedang bernostalgia bersama Ramon, dulu mereka memang belum kaya seperti sekarang dan sempat hidup susah sehingga hanya kuat dengan makan tempe tahu pepes di rumah makan ini.
"Sudah Mami, aku jadi sedih jika mengingat semua itu!" Bisik Rei meminta Adelia tak lagi mengingat masa lalunya.
Dulu memang Ramon hanya pedagang kecil dan sempat hidup susah namun kini Ramon sangat berharap Rei mau menjadi anak yang penurut dan mau menjaga kelangsungan bisnisnya itu hingga akhir hayatnya.
Happy Reading 😘🥰
TBC📘 ✳️
__ADS_1
Don't forget for like, vote, comment and subscribe 🌟 Thank You ❤️🖤 Thank You ❤️🖤