TAKDIR CINTA SANG PEWARIS

TAKDIR CINTA SANG PEWARIS
BAB 42 - Rujak Oh Rujak


__ADS_3

"Untuk harga aku memang sangat hati-hati ya, tapi aku bisa jamin kamu tak akan kecewa dengan harga penawaran dari kami." Lanjut Alex membuat Rei semakin senang.


"Bagaimana kamu setuju?" Tanya Bima berusaha menyakinkan Rei.


Rei setuju dan menyakinkan kedua temannya itu kalau dia akan mencari semua kopi yang mereka pesan.


Setelah perbincangan yang panjang itu dan di dapatkan kesepakatan bisnis, Rei akhirnya pamit untuk pulang karena hari sudah mulai malam.


Tempat itu nampak sangat ramai pengunjung di malam hari dan semakin banyak saja teman Rei yang datang, tapi karena Rei harus menjaga kesehatan dan tak boleh terlalu lelah dia memilih untuk pulang ke rumah.


Bima dan Alex mempersilahkan temannya itu pulang, mereka tau saat ini Rei tak cukup sehat untuk begadang bersama mereka seperti dulu lagi.


Rei mengambil ponselnya dan memesan taksi online untuk pulang ke rumah dan sebelum makan malam Rei tiba di rumah kediaman orang tuanya.


"Kamu sudah pulang lagi?" Sapa Adelia yang melihat Rei baru saja masuk rumah.


"Iya, Mami!" Jawab Rei menghampiri Adelia mencium punggung tangannya.


Mami yang melihat Rei menyalaminya hanya terlihat heran, entah siapa yang mengajarkannya untuk mencium tangannya sebelum masuk rumah seperti hari ini.


"Tumben!" Goda Mami yang di jawab Rei dengan pelukan hangat.


"Ada apa ini?" Tanya Ramon saat melihat Rei memeluk Maminya.


"Ah, pokoknya ada deh!" Ucap Rei berjalan melangkah menuju ruang makan.


"Cerita ke Mami, Rei." Mami nampak penasaran dengan alasan putranya itu begitu manis hari ini.


Rei memasuki ruang makan dan meminta Bi Emi, pelayannya menyajikan makan malam untuknya karena dia sudah sangat kelaparan setelah bertemu Bima yang kini menjadi rekan bisnisnya.


"Bima? Sepertinya Mami kenal nama itu?" Ucap Adelia mengingat-ingat sosok Bima yang sedang di ceritakan putranya itu.


"Iya, Bima. Putra Pak Wiyata. Teman Papi." Rei mencoba mengingatkan kedua orang tuanya.


"Oh, iya. Mami ingat. Jadi yang tadi ke cafe. Baguslah kalau kalian berbisnis lagi." Mami nampak bersemangat.


"Iya, doakan saja. Aku senang sekali akhirnya bisa bertemu mereka lagi." Ucap Rei dan mulai menyantap makan malamnya yang di sajikan Bi Emi untuknya.


Melihat Rei sangat kelaparan, Adelia dan Ramon membiarkan Rei untuk menyantap dulu makan malamnya sebelum melanjutkan perbincangan mereka malam itu.


"Zenira sudah makan, Mami?" Tanya Rei yang sibuk merapikan sendok garpu di depannya.


Mami mengangguk dan mengatakan jika Zenira nampak sudah kelelahan sehingga memutuskan makan malam lebih dahulu dan bergegas tidur.

__ADS_1


Kamu jangan ganggu dia ya, kalau ada apa-apa minta saja sama Tora atau Bi Emi." Pinta Mami yang membuat Rei mengangguk yakin.


"Jadi kapan kalian akan mulai berbisnis?" Tanya Ramon lagi saat melihat Rei sudah selesai makan malam.


"Aku harap minggu ini juga, Pi! Rencananya Bima yang akan mengecek dulu kualitas kopinya sebelum mereka membawa kebutuhan kopi mereka." Ucap Rei yakin.


Melihat keyakinan di wajah putranya, Ramon nampak sangat yakin jika kali ini putranya akan benar-benar sukses dengan bisnisnya.


Mami dan Papi akan mendoakanmu selalu, Nak!" Seru Ramon sambil mendekati putranya yang nampak belum bisa beranjak dari kursi makannya karena terlihat kekeyangan itu.


Adelia tersenyum dan meminta Rei bergegas tidur karena pasti besok cafenya akan sangat membutuhkan kehadirannya.


Rei berjalan melangkah pelan memasuki kamarnya agar tak mengganggu Zenira yang sedang tidur.


Saat Rei baru saja masuk kamar tiba-tiba...


"Rei, perutku sakit." Bisik Zenira yang membuat Rei cemas.


Rei menyalakan lampu kamarnya dan mencoba memastikan keadaan istrinya itu.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Rei sambil memegang dahi Zenira yang nampak berkeringat.


"Sepertinya aku salah makan deh, tadi aku makan rujak banyak sekali!" Bisik Zenira yang meringis menahan sakit perutnya.


"Ada apa?" Tanya Adelia yang melihat putranya sangat cemas.


"Zenira sakit perut, Mami. Dia bilang dia makan rujak terlalu banyak tadi!" Seru Rei sembari berjalan cepat menuju kamarnya.


Adelia menghampiri Zenira dan membantunya meminumkan obat yang di bawanya oleh Rei.


"Kamu tak apa kan?" Tanya Adelia yang cemas ketika melihat Zenira berkeringat dingin.


"Tak apa, Mami. Setelah minum obat pasti sakitnya reda!" Jawab Zenira segera meminum obat yang di berikan Rei kepadanya.


Rei membuang napasnya, dia tak menyangka Zenira begitu teledor memakan rujak sebanyak itu hingga perutnya jadi sakit.


"Baiknya kamu bergegas tidur, Zenira. Besok kamu pasti lebih baik." Ucap Adelia sambil berjalan keluar menuju pintu kamar Rei.


Rei mengompres perut Zenira dan tak lama kemudian Zenira nampak mulai mengantuk dan mulai terlelap.


"Biarku ambil kompresannya, setelah itu tidurlah lagi!


Rei mengangkat kain kompresan dari perut Zenira dan berjalan menuju kamar mandi untuk meletakkan sisa air hangat yang tadi di bawakan Bi Emi untuk mengurangi rasa sakit di perut Zenira.

__ADS_1


Karena hari sudah larut dan Zenira pun sudah tertidur, Rei menarik selimutnya dan mulai tertidur.


****


Keesokan harinya.


Seperti biasa Rei bangun jam tujuh pagi dan bergegas sarapan, saat dia meninggalkan kamar Zenira masih tertidur pulas dan Rei berjalan pelan meninggalkan Zenira agar tak mengganggu.


Setiba di meja makan, sepiring nasi goreng hangat sudah menantinya, makan ini selalu di minta Rei sebagai menu sarapannya khusus hari Senin, entah dari mana awalnya sampai kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang.


Setelah sepiring nasi goreng habis di lahapnya, Bi Emi bergegas mengantarkan teh hangat kesukaan Rei untuk mengakhiri sarapan paginya.


"Terima kasih Bi Emi." Ucap Rei begitu sopan dan membuat Bi Emi kagum pada majikan muda keluarga Ramon ini.


Sejak beberapa hari ini Rei memang sering sekali membuat kagum orang rumah karena sikapnya yang baru, Adelia dan Ramon sampai memuji Zenira, istri yang kemungkinan besar adalah orang di balik berubahnya Rei menjadi seperti hari-hari belakangan ini.


Setelah selesai sarapan Rei berpamitan kepada Adelia dan Ramon untuk bergegas menuju cafenya, tentu sebelum pergi Adelia dan Ramon memberikan doa terbaik untuk Rei agar harinya berjalan lancar.


Rei pergi dengan mobil sedan milik Papinya, sayang memang jika mobil sedan ini hanya jadi pajangan di garasi rumahnya karena kini Papinya sudah jarang memakainya.


Setibanya di cafe, Rei tak lupa memulai harinya dengan menyapa satu persatu karyawannya dan memberi semangat kepada mereka yang datang pagi ini.


"Pak Rei." Teriak Cleo, salah satu karyawan di cafe kopi milik, Rei.


"Ada apa?" Tanya Rei dengan sangat panik.


"Salah satu mobil pengantar kopi di tahan petugas, Pak. Katanya muatannya berlebih." Lapor Cleo kepada Rei.


Rei segera menghubungi pak Suryo, polisi kenalannya. Setelah berbincang cukup lama akhirnya mobil yang membawa kopi pesanan Rei itu di bebaskan dengan syarat tidak membawa muatan berlebih lagi.


Sopir sepakat dan melanjutkan perjalanan menuju toko kopi tempat Rei berjualan.


"Maaf, Pak. Tadi saya tidak cek dulu muatan saya!" Ucap sopir dengan sangat menyesal.


Rei kemudian meminta sopir agar lebih hati-hati membawa muatannya karena kalau ada masalah bisa-bisa pesanan Rei itu bisa di tahan pihak berwajib.


Happy Reading😘😘


Jangan lupa dukungannya Like, Vote, Komen and Subscribe sebanyak-banyaknya😅😅


Mampir juga ke karya novel author yang lainnya sambil nunggu Up selanjutnya. Yang berjudul SUAMIKU CEO AROGAN🥰


__ADS_1


__ADS_2