
"Ada apa, Rei?" Tanya Mami yang masih asik memakan sup sajian hotel pagi ini.
"Outlet kopiku kemalingan, Mami! Ini sedang di usut pelakunya!" Ucap Rei dengan sangat marah.
"Ada-ada aja ya!" Ucap Zenira dengan wajah tertunduk.
Tak lama kemudian seorang karyawan toko kopi Rei kembali menghubungi Rei dan mengatakan brankas yang diambil ternyata di letakkan tak jauh dari tempat kejadian, uang yang berada di dalam brankas masih dalam kondisi utuh tanpa di ambil satu sen pun seakan di tinggalkan begitu saja.
Laporan dari karyawan outlet kopi ini kembali mengingatkan Rei kepada ancaman Albert beberapa hari yang lalu, apa mungkin perampokan ini hanya untuk menakut-nakuti saja sebab jika ini perampokan murni untuk apa brankas di tinggal begitu saja di jalan, Rei mulai berandai-andai.
"Kamu sedang berpikir apa?" Tanya Zenira saat melihat suaminya itu tak bergeming dari duduknya.
"Sepertinya ini masih ulah, Albert!" Bisik Rei dengan sangat kesal.
"Wah kalau ini ulah dia, berarti ini di lakukan oleh suruhannya lagi!" Zenira mencoba menyimpulkan.
"Ya siapa lagi, pasti dia menyuruh orang dari luar penjara!" Lanjut Rei dengan sangat geram.
Entah sampai kapan musuh bebuyutannya itu akan terus membayangkannya tapi ya susah memang kalau dia belum memaafkan semua yang sudah terjadi selama ini, pikir Rei.
"Jadi hari ini rencananya kita akan kemana? Apa kita pulang saja!" Mami mencoba memberikan saran.
Rei mengangguk, meskipun dia bertahan di Lembang hatinya tak akan pernah tenang. Dia akan terus mengingat semua kejadian tak menyenangkan ini dan akan menjadikan liburan ini jadi tidak menyenangkan.
Zenira yang mendengar alasan dari Rei meminta Tora untuk mempersiapkan kepulangan mereka ke Jakarta, semua harus sudah beres sebelum jam dua siang agar mereka tidak kemalaman tiba di Jakarta.
Tora mengangguk dan berjalan menuju kamar hotel untuk segera berkemas.
Rei masih saja di tempat makan hotel tanpa berekspresi sedikitpun, dia sebenarnya lelah harus bagaimana mengahadapi Albert tapi dia juga takut jika musuhnya itu malah kembali membahayakan anggota keluarganya yang lain.
"Sudah jangan kamu pikirkan terus, kita pulang saja ke Jakarta. Sudah itu kita usahakan untuk mencari pelaku yang di suruh Albert itu lewat Tatang." Ucap Zenira memberi ide membuat Rei akhirnya tersenyum.
"Bener banget, duh aku kok nggak mikir sampai ke situ ya. Benar nanti kita hubungi Tatang. Semoga saja dia mau membantu kita untuk paling tidak membuat hatiku lebih tenang!" Seru Rei dengan sedikit merasa lega.
Zenira lalu berdiri dari duduknya mengantar Ramon naik ke kamarnya dan segera berkemas untuk kepulangan mereka.
Setelah semua siap perjalanan pulang di mulai, selama perjalanan Tora terus saja memperhatikan siapa tahu ada yang membuntuti mobil yang di kendarai Rei itu.
Karena yakin perjalanan mereka aman, Tora mengangkat jempolnya tanda semua aman hingga tiba di rumah Ramon.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Papinya, Rei bergegas menjalankan misinya untuk menanyakan perihal perampokan di outlet kopi Rei kepada Tatang.
Mendengar Rei memanggilnya, Tatang bergegas pergi menuju rumah kediaman keluarga Ramon seperti yang di minta majikan mudanya dari keluarga Ramon itu.
"Hai, Tatang. Mari masuk!" Sapa Zenira saat pemuda ini memasuki halaman rumah.
"Siang, nyonya. Tuan Rei, minta saya datang." Jawab Tatang melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Iya, sebentar ya saya panggilkan!" Ucap Zenira berjalan menuju taman belakang tempat Rei sedang duduk-duduk bersama Tora.
Rei mempersilahkan Tatang bergabung dengannya di taman belakang sambil berbincang tentang Albert yang masih bisa leluasa membuatnya tak nyaman.
"Benar, mas Rei. Sepertinya itu memang suruhan Albert. Habisnya aneh banget ya, brankas di ambil dan di tinggalkan begitu saja!" Ucap Tatang sambil menyalakan sebatang rokok di sela jarinya.
"Apa kamu yakin dengan semua ini, aku kira dia sudah tak bisa lagi menerorku?" Tatang mengangguk.
Dia berkata sempat mendengar perbincangan Albert dengan pengawalnya yang lain bernama Rafa yang di minta tetap menghantui Rei kapanpun dan di manapun dia di tahan kelak.
"Rafa? Bukannya dia sudah pernah di tahan polisi?" Tanya Rei mencoba menyakinkan.
"Benar, Rafa yang itu." Ucap Tatang mengangguk.
Saat Rei sedang sibuk membahas tentang Albert, tiba-tiba seseorang terdengar memaksa masuk.
"Tunggu! Nanti kalau Tuan bilang bisa masuk. Saya persilahkan masuk!" Teriak penjaga gerbang rumah kediaman keluarga Ramon.
Rei yang melihat kegaduhan di depan pagar berjalan menghampiri untuk tahu ada apa gerangan.
"Ada apa ini?" Tanya Rei yang berjalan mendekati pagar.
"Ini, mas Rei. Ada yang mau bertemu, saya suruh tunggu malah marah-marah!" Seru petugas yang terlihat sangat kesal.
Rei mengijinkan pagar di buka lebih lebar agar dia dapat melihat siapa tamunya siang itu.
Alya?" Ucap Rei dengan kaget.
Alya adalah mantan kekasih Albert yang beberapa tahun lalu meminta tolong kepadanya untuk menjemputnya di rumah Albert.
Entah apa alasannya hingga hari ini dia mencari Rei lagi setelah sekian lama tak bertemu.
__ADS_1
"Masuklah, kamu kemana saja?" Tanya Rei yang mempersilahkan Alya masuk.
"Aku cuma mau bertemu sebentar kok, aku harap informasi ini bisa membantumu. Aku sudah kesal melihat Albert terus membayangimu." Lanjut Alya sembari melangkahkan kakinya masuk.
Alya bercerita jika beberapa hari yang lalu Ibu dari Albert sempat sakit dan meminta Albert untuk berubah, entah sudah berapa kali pria itu di tahan di kantor polisi karena di anggap berbahaya bagi banyak orang, dan karena itu ibunya selalu sakit.
"Jadi ibu Albert sudah tahu semua ini?" Tanya Rei penasaran.
"Tentu saja dia lelah anaknya bikin ulah terus. Dia ingin Albert berubah!"
Rei menceritakan semua perlakuan Albert kepadanya, mulai dari menerornya, menghasut Tyra, untuk meracuni seisi rumah hingga membuat perampokan palsu di outlet kopinya yang membuatnya semakin geram.
"Iya, karena itu ibunya meminta dia untuk di kirim saja ke luar negeri dan memutuskan hubungannya dengan semua orang suruhannya di Jakarta ini."
"Tapi bagaimana caranya?" Tanya Rei tak mengerti.
"Kita bantu Ibunya membebaskannya dulu. Aku jamin kali ini dia akan di kirim ke luar negeri!" Pinta Alya yang tahu jika penangkapan Albert ini juga atas perintah Rei.
"Baiklah, kalau kamu yang minta, tapi kamu harus jamin dia tak lagi menggangguku!" Tegas Rei.
Alya mengangguk, dia berkali-kali memberitahu Rei jika dia pun lelah jika harus di teror mantan kekasihnya itu.❤️❤️❤️
Ingatkan lagi aahh ...
Komen bebas asal santun 💭
Love/ favorite ❤️
Like/jempol 👍
Bunga 🌸
Kopi ☕
Vote dooong 🥰
Rating/ bintang 🌟
Mampir juga ke karya aku yang lainnya 🙏
__ADS_1