Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 10 "CEMBURU ATAU MARAH"


__ADS_3


Lin Zi memasuki kamarnya dengan air mata yang masih menetes. Tak disangka ia merasa sangat sedih karena sikap Xuan. Rasa sedihnya bercampur dengan amarah yang ia pendam. Nao Yu tidak berani berkata apa apa kepada Lin Zi. Lin Zi pun menghapus airmatanya ketika menyadari langkah seseorang memasuki paviliunnya. Kasim pribadi Xuan datang mengantarkan buku etika.


"Nona, hamba datang untuk mengantarkan dan juga mengawasi nona menyalin buku etika" ucap kasim itu seraya mengulurkan sebuah buku dengan kedua tangannya.


Lin Zi pun berbalik dan melihat buku yang diberikan kasim itu. Ia mengambil buku itu dan melihat halaman belakang buku.


"Buku setebal 200 halaman ini aku harus menyalinnya 10 kali?" ucap Lin Zi tak percaya melihat buku yang memang terlihat tebal tapi dengan ukuran tulisan yang agak besar.


"Sebelum anda selesai menyalin, hamba diperintahkan untuk mengawasi anda. Anda hanya boleh keluar paviliun ketika anda selesai menyalin atau dengan izin Putra Mahkota" jelas kasim itu dengan nada bicara yang sopan.


Lin Zi menghembuskan nafas kesal dan berjalan menuju meja setinggi 30 cm dengan panjang 1 meter dan lebar 50 cm. Ia duduk beralaskan bantalan tipis dan membanting buku itu di mejanya.


"Dasar malaikat maut kejam! Tidak punya hati! Tidak tau malu! Tidak punya otak!" gumam Lin Zi menyalurkan amarahnya dengan ocehannya.


"Nona..." Nao Yu melirik Lin Zi lalu melirik kasim itu mengisyaratkan pada Lin Zi untuk tidak berkata sembarangan karena kasim itu adalah kasim pribadi Xuan.


Kasim itu menyadari lirikan Nao Yu lalu membungkuk memberi hormat pada Lin Zi sebelum pergi dan menunggu diluar paviliun.


"Nao Yu... tidak bisakah kau membantuku menyalinnya?" pinta Lin Zi agar hukumannya segera selesai.


"Maafkan hamba nona, hamba tidak berani" sahut Nao Yu.


Nao Yu pun ikut terjaga dengan membantu menggilingkan tinta untuk Lin Zi menulis.


Malam telah larut, Lin Zi terlihat ketiduran di meja menindih kertas salinannya dan Nao Yu ketiduran di lantai.


Suara kicau burung membangunkan Lin Zi dari tidur pulasnya. sebuah kertas menempel di wajahnya. Ia pun melepaskan kertas itu dan menggebrakkannya di meja membuat Nao Yu terbangun dengan terkejut.


Nao Yu melihat kertas itu dan sangat terkejut. Semalaman mereka terjaga dan Lin Zi baru menyalin 2 halaman saja.


"No... nona..." gumam Nao Yu melihat ekspresi Lin Zi sedang marah.


"Sudahlah, aku tidak mau menulis lagi!" ucap Lin Zi seraya berdiri sambil memegangi lututnya karena kakinya yang kesemutan.


"Nona.. jika anda tidak menyelesaikannya anda tidak akan diijinkan keluar paviliun.." ucap Nao Yu seraya berdiri.


"Iya iya aku akan menyalinnya lagi nanti, aku mau istirahat sebentar" ucap Lin Zi kemudian seraya berjalan menuju tempat tidurnya.


"Kalau begitu hamba akan menyiapkan air mandi dan sarapan untuk anda" ucap Nao Yu pada gadis yang tengah duduk ditepi tempat tidur.


Lin Zi pun mandi untuk menyegarkan kembali pikirannya yang kacau. Setelah mandi, seperti biasa Nao Yu membantunya untuk berias dan menata rambut. Setelah itu Lin Zi berjalan menuju meja makannya.

__ADS_1


"Nona, hamba dengar Putra Mahkota akan menemani putri Wu Liang berburu 2 hari lagi" lapor Nao Yu menghentikan langkah Lin Zi.


"Berburu bersama?" gumam Lin Zi seraya duduk di kursi meja makannya.


"Benar. Hamba dengar Putra Mahkota juga menyetujuinya begitu saja. Padahal selama ini Putra Mahkota tidak pernah pergi bersama wanita manapun kecuali anda"


Kata kata Nao Yu membuat Lin Zi terdiam. Di otaknya memikirkan adegan mesra saat mereka pergi berburu bersama.


"Sudahlah, aku tidak mau makan lagi!" ucap Lin Zi seraya melemparkan sumpit yang baru ia pegang.


"Nona.. tapi.."


"Bawa pergi semuanya!" perintah Lin Zi sebelum berjalan menuju meja belajarnya untuk melanjutkan salinannya yang masih jauh dari kata selesai.


Tapi semakin Lin Zi mencoba untuk fokus menulis, bayangan akan adegan mesra di area perburuan itu semakin jelas dan mengacaukan pikirannya.


2 hari telah berlalu namun Lin Zi masih belum selesai menyalin. Ia bahkan menolak untuk makan dan hanya berdiam di meja itu selama 2 hari. Matahari baru saja terbit namun Lin Zi masih terjaga dan tidak tidur semalaman. Lingkar matanya terlihat agak hitam karena menahan kantuk.


Xuan telah menerima laporan bahwa Lin Zi menolak untuk makan dan telah terjaga di meja belajarnya semalaman. Ia pun memperpendek pertemuan pagi dengan para menteri dan bergegas untuk menemui Lin Zi di paviliunnya.


"Nao Yu... jari jariku terasa kaku sekali..." gumam Lin Zi yang masih memegang kuasnya.


"Hormat pada Putra Mahkota" ucap Nao Yu melihat Xuan memasuki ruangan.


"Kau terjaga semalaman penuh, bahkan menolak untuk makan hanya untuk menyelesaikan 2 salinan buku ini?" ucap Xuan meletakkan kembali salinan Lin Zi di meja.


"Bukankah aku menghukummu untuk menyalin 10 kali?" ucap Xuan menatap wajah Lin Zi yang terlihat agak pucat.


"Putra Mahkota yang baik hati dan tidak sombong... tidak bisakah kau meringankan hukuman itu menjadi 2 salinan saja? Aku sudah sangat berusaha..." ucap Lin Zi berusaha merayu Xuan untuk meringankan hukumannya.


"Bukankah kau biasa memanggilku malaikat maut? Kenapa mendadak menjadi begitu sopan" serang Xuan yang tahan godaan.


"Sudahlah, kau memang tidak punya hati! Aku tau kau masih marah padaku karena itu kau menghukumku seperti ini. Dasar lelaki tidak punya pendirian! Seperti baru kemarin bilang akan menjadikanku wanita satu satunya dan besok malah mau keluar dengan perempuan lain!"


"Kau cemburu?" tanya Xuan menghentikan ocehan Lin Zi.


"Ce... cemburu? Mana mungkin" kata katanya terputus karena tawanya yang terlihat dibuat buat.


"Aku hanya marah karena kau menghukumku seperti ini sementara kau enak enakan pergi bersama perempuan" jelas Lin Zi kemudian berusaha menutupi perasaannya.


"Bukankah sebelumnya kau bilang sangat menyesal berada disisiku selama ini.."


Kata kata itu membuat Lin Zi kembali terdiam. Matanya terlihat berkaca kaca. Ia mendekati Xuan dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Xuan dan menempelkan pipi kirinya di dada pria setinggi 185 cm itu.

__ADS_1


"Maaf... tapi bisakah kau tidak pergi ke acara perburuan itu?" pinta Lin Zi seraya mendongakkan kepalanya melihat ekspresi wajah Xuan.


"Tidak bisa" ucap Xuan melepaskan pelukan Lin Zi.


"Untuk meringankan hukumanmu aku terpaksa menerima permintaan putri Wu Liang" ucap Xuan berusaha memberi pengertian.


"Kalau begitu aku akan ikut berburu, ya?" pinta Lin Zi agar bisa tetap mengawasi Xuan dan wanita itu.


"Tidak boleh!" larang Xuan dengan tegas.


Xuan pun agak membungkukkan badannya membuat wajahnya sejajar dengan wajah Lin Zi. Tangan kanan dan kirinya menyentuh pipi Lin Zi dan menghapus air mata Lin Zi yang menetes.


"Zi'er... aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya.. Hutan sangat luas dan ada banyak binatang buas, aku takut kau terluka" jelas Xuan memberi pengertian.


"Alasan!" tangan Lin Zi menepis tangan Xuan dan memalingkan wajahnya.


"Aku tau kau pasti ingin berduaan saja dengan wanita itu kan.. aku tau sifatku sekarang selalu membuatmu terganggu" tuduh Lin Zi.


"Kalau begitu nanti aku akan meminta Yuan untuk melindungimu di area perburuan. Ingatlah untuk tidak jauh jauh dari Yuan" ucap Xuan luluh.


"Benarkah? Aku boleh ikut?" ucap Lin Zi yang kembali bersemangat.


"Tapi ada syaratnya..." ucap Xuan membuat Lin Zi kembali kehilangan semangat.


"Kau harus makan dulu sekarang"


"Baik!" ucap Lin Zi dengan sigap.


"Pelayan, siapkan makanan" perintah Xuan pada Nao Yu.


Mereka berdua pun makan bersama. Lin Zi terlihat makan dengan lahap karena perutnya yang sudah kosong selama 2 hari. Xuan tersenyum melihat nafsu makan Lin Zi yang begitu besar.


●●●~~●●●


Next episode \=》 "Perburuan"


Wah gimana ya ekspresi Wu Liang dan Lin Zi jika bertemu kembali?


Tunggu next episode.nya ya


Jangan lupa support author dengan menekan 💖 dan 👍


Xie Xie 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2