
"Yang Mulia, hamba menemukan ini" ucap seorang pelayan memberikan botol kecil.
Xuan menerimanya dan membuka tutupnya. Ia mencium aroma yang sama dengan yang ada di teh Yiyi. Saat ini ia benar benar tidak tau harus berkata apa. Ia ingin mempercayai Lin Zi, tapi seluruh bukti mengarah padanya.
"Aku dijebak. Aku benar benar tidak melakukannya" ucap Lin Zi membela diri.
Xuan menghela nafas panjang dengan menutup matanya. Ia berusaha menerima kenyataan meskipun kenyataan itu bukanlah yang diinginkannya.
"Kenapa?" gumam Xuan membuka kedua matanya.
"Aku benar benar tidak melakukannya !"
"Zi'er, kau tau? Aku sangat ingin mempercayaimu, tapi semua bukti mengarah padamu. Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku..."
"Aku bisa mengerti kau cemburu, tapi apakah perlu sejauh ini?"
"Kau bilang sangat ingin mempercayaiku? Tidakkah kau sadar yang kau lakukan saat ini hanyalah menyudutkanku? Jing Xuan.. aku adalah seorang Permaisuri. Aku adalah Ibu negeri ini. Menurutmu aku benar benar akan melakukan hal kotor itu hanya karena aku cemburu? Kau lebih mengenalku bukan?"
"Benar, karena kau adalah seorang Permaisuri maka menambah kemungkinan kau melakukannya karena kau memiliki kekuasaan"
Setiap kata kata Xuan membuat Lin Zi menggenggam tusuk rambut yang sejak tadi di tangan kanannya. Semakin Xuan menyinggung hatinya, semakin kuat ia menggenggam tusuk rambut itu.
Jing Xuan, aku mohon percayalah padaku dan meminta maaflah (suara hati Lin Zi)
"Kenapa kau diam?" tanya Xuan pada Lin Zi yang hanya menatapnya dengan mata berkaca kaca.
Masih belum terlambat untuk meminta maaf (suara hati Lin Zi)
"Jika benar aku yang melakukannya, lalu kau mau apa? Menggantungku? Memenggal kepalaku? Lakukan saja! Tidak peduli apa yang kukatakan kau tetap tidak akan mempercayaiku"
Kupikir putus cinta adalah hal yang paling menyedihkan. Ternyata kehilangan kepercayaan jauh lebih mengerikan. Ada saat dimana kebenaran akan terungkap, dan kau akan menyesal. Namun, saat itu tiba.. kata maaf tidak lagi berarti.
"Kenapa kau harus menjadi begitu kejam?!" ucap Xuan semakin menyinggung hati Lin Zi.
Klekk
Tusuk rambut yang sejak tadi masih digenggamnya kini telah patah. Namun Lin Zi malah menggenggamnya semakin erat hingga patahan yang tajam menusuk telapak tangan dan jarinya. Darahnya mulai menetes ke lantai, setetes demi setetes. Namun Xuan tidak menyadarinya.
"Kejam kau bilang?" gumam Lin Zi dengan air mata yang mulai menetes.
Tidak ada kata yang lebih menyakitkan selain kata yang keluar dari mulut orang yang paling kau cintai.
"Pengawal, bawa Permaisuri ke paviliun pengasingan!"
"Karena kau mengatakan aku kejam, akan aku tunjukkan seperti apa KEJAM yang sesungguhnya!!"
Dua pengawal masuk dan memegangi Lin Zi, namun Lin Zi segera menepisnya. Ia melangkah maju hingga kini berada disamping Xuan. Ia menatap lurus kearah luar sementara Xuan menatap lurus kearah dalam.
"Mulai sekarang, sebaiknya kita memanggil dengan gelar saja. Hubungan kita, sudah tidak ada artinya lagi" ucap Lin Zi menjatuhkan tusuk rambut yang telah patah dan tercampur darah ke lantai.
__ADS_1
Lin Zi melanjutkan langkahnya dan diikuti oleh Ruyu dan ketiga temannya yang sejak tadi menunggunya diluar.
Lin Zi kembali menghentikan langkahnya didepan Liu Ying yang berdiri di depan paviliunnya.
"Kau pikir bisa menjatuhkanku semudah itu? Jangan bermimpi!" ucap Lin Zi dengan senyum merendahkan.
Suatu hari, pembalasan akan terjadi. Akan ada saat dimana kau jatuh dan tidak bisa berdiri lagi. Saat itu mungkin kau akan memohon padaku dan aku akan menepis tanganmu.
***
1 bulan Lin Zi dikurung dalam paviliun pengasingan. Insiden sebelumnya membuat ia mengerti bahwa sikap rendah hati akan membuatnya kalah dalam pertarungan. Untuk berada diposisi tertinggi, maka bersifat egois adalah satu satunya jalan.
Lin Zi memasuki kamarnya yang telah lama ia tinggalkan. Berantakan, kotor, berdebu. Seluruh barang berserakan di lantai. Ia menghela nafas panjang. Ternyata meskipun posisinya sebagai seorang Permaisuri, pelayan masih bisa merendahkannya.
"Ruyu, panggil semua pelayan yang bertugas di kediamanku" perintah Lin Zi.
Tak lama kemudian 19 pelayan telah berkumpul di halaman paviliun Nu Huang yang luas. Terdiri dari 12 pelayan wanita dan 7 pelayan pria. Lin Zi duduk dikursi yang ada didepan mereka didampingi oleh Ruyu dan ketiga temannya.
"Aku sudah meninggalkan tempat ini selama 1 bulan. Tapi kenapa tempat ini jadi seperti gudang? Apakah kalian masih menganggapku sebagai Permaisuri?!" ucap Lin Zi dengan keras agar didengar oleh semua pelayannya.
"I...Ibu Suri.. melarang kami untuk membersihkannya.." lapor seorang pelayan yang ketakutan.
"Ibu Suri? Apakah Ibu Suri adalah majikan kalian? Baiklah jika kalian berpikir begitu. Aku bisa saja mengirim kalian ke kediaman Ibu Suri, meskipun kediaman Ibu Suri tidak bisa menampung pelayan sebanyak itu. Lagipula mencari pelayan baru juga tidak akan sulit. Sementara nyawa kalian terikat didalam kontrak. Kalian bisa bayangkan apa yang terjadi jika aku membuang kalian bukan?"
"Yang Mulia Permaisuri, mohon ampuni nyawa kami. Kami telah bersalah, kami janji tidak akan mengulanginya lagi" ucap seorang pelayan mewakili bicara dengan berlutut.
"Yang Mulia Permaisuri, mohon ampuni nyawa kami" ucap seluruh pelayan (kecuali Ruyu dan ketiga temannya ya) yang kini berlutut.
"Kalian bereskan tempat ini, aku akan kembali saat semuanya sudah bersih" perintah Lin Zi pada Ruyu dan ketiga temannya.
Lin Zi berjalan menuju kolam teratai. Tempat yang sering ia datangi saat perasaannya gundah. Dijalan ia berpapasan dengan Xuan yang tengah berjalan bersama Liu Ying diikuti oleh beberapa pelayan dibelakangnya.
"Hormat pada Yang Mulia Kaisar" ucap Lin Zi seraya agak membungkukkan badannya.
"Zi'er... apa ..kabar?" ucap Xuan dengan canggung.
"Baik, sangat baik. Kabar Yang Mulia Kaisar sepertinya aku tidak perlu menanyakannya karena ada Selir Tingkat 4 Wei yang selalu menjaga anda" ucap Lin Zi menegaskan kedudukan Liu Ying yang naik karena memfitnahnya.
"Aku baru saja mau pergi ke kediamanmu, tidak kusangka bertemu disini" ucap Xuan berusaha mencairkan suasana.
"Kadiamanku sangat kotor, takutnya membuat anda tidak nyaman" ucap Lin Zi dengan mata yang menatap tajam kearah Liu Ying.
Kali ini aku tidak akan mengalah lagi. Tidak peduli bagaimana pendapat orang lain, aku hanya akan melindungi perasaanku sendiri.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita minum teh bersama?" tawar Xuan.
"Bersama?" ucap Lin Zi menatap tajam Liu Ying.
"Kalian antarkan Selir Wei kembali ke kediamannya, dan seorang lagi tolong siapkan teh dan beberapa cemilan" perintah Xuan pada 6 pelayan yang mengikutinya.
"Tapi Yang Mulia..."
Xuan tidak menghiraukan Liu Ying dan pergi bersama Lin Zi menuju pondok kolam teratai.
__ADS_1
***
"Apa yang ingin anda katakan Yang Mulia?" tanya Lin Zi yang kini duduk didepan Xuan.
"Zi'er... aku.. minta maaf" ucap Xuan agak ragu ragu.
"Maaf? Bukankah itu sudah terlambat Yang Mulia? Aku sudah menunggunya cukup lama"
"Ini.. aku mengambilnya dan memperbaikinya sendiri" ucap Xuan mengeluarkan sebuah benda dari lengannya dan menyodorkannya pada Lin Zi.
Lin Zi mengambil benda itu dan memandanginya dari ujung hingga ujung.
"Tidakkah anda lihat Yang Mulia? Meskipun tusuk rambut ini sudah rekat kembali, tapi bekas patahannya masih terlihat" ucap Lin Zi meletakkan tusuk rambut dengan hiasan berbentuk teratai itu dimeja.
"Sama seperti sebuah hubungan. Meskipun kata maaf bisa menyelesaikannya, tapi anda tidak tahu seberapa besar luka yang sudah anda sebabkan. Kata maaf mungkin hanya akan menutup separuhnya, tapi separuhnya lagi? Menganga dan kemudian membusuk" sambung Lin Zi.
Xuan merasa sangat bersalah. Jika saja saat itu dia tidak menjadi kaisar, jika saja saat itu ia tidak memiliki selir, jika saja saat itu ia bisa menurunkan egonya dan mempercayai Lin Zi. Hanya saja di dunia ini tidak ada kata jika. Semua sudah terjadi, disesali sekarang sudah tidak ada gunanya.
"Apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya?"
"Kenapa anda bertanya padaku Yang Mulia? Demi mencari perhatianku, apakah anda tidak ingat sudah berapa selir yang anda masukkan kedalam istana? Kurasa ada 20 lebih hanya dalam waktu 1 bulan"
"Apakah kita benar benar tidak bisa seperti dulu? Apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
"Tidak lagi"
Aku bukan berhenti mencintaimu, aku hanya berhenti bergantung padamu. Jika aku terus bergantung padamu, aku hanya akan menjadi batu sandunganmu.
"Aku rasa pembicaraan kita sudah cukup. Aku akan kembali ke kediamanku" ucap Lin Zi yang kemudian berdiri memberi hormat.
Xuan memandangi tusuk rambut yang ditinggalkan Lin Zi di meja. Ia berpikir sesaat kemudian mengambilnya dan mengejar langkah Lin Zi yang menjauh.
"Zi'er, tunggu" ucap Xuan menghentikan langkah Lin Zi.
Lin Zi pun berbalik menghadap pria yang menghentikannya.
Xuan memasangkan tusuk rambut yang dibawanya ke rambut Lin Zi.
"Aku tidak tau apa yang kau rencanakan. Tapi aku tau, perasaanmu tidak akan menghilang dengan begitu mudah. Meskipun sudah terlambat sekarang, tapi aku akan mempercayaimu" kata Xuan.
Jika waktu bisa kuputar kembali, kurasa aku akan tetap memilih hal yang sama. Hanya saja mungkin aku akan melalui jalan yang berbeda.
***
Kini Lin Zi menjadi pribadi yang berbeda. Ia berubah menjadi seorang yang angkuh dan kejam. Siapapun yang membuat kesalahan, ia akan menghukumnya tidak peduli sekecil apapun kesalahan itu. Ia berusaha keras menjadi seorang Permaisuri yang sesungguhnya. Hanya saja, tanpa seorang keturunan, ia harus melindungi posisinya dengan sekuat tenaga.
3 tahun telah berlalu. Kerajaan masih belum memiliki keturunan. Seluruh orang bergunjing temtang hal ini dan mulai menggosipkan hal yang bukan bukan. Kini di istana telah ada 2 Selir tingkat 2, 4 selir tingkat 3, 4 selir tingkat 4, 2 selir tingkat 5, 7 selir tingkat 6, 10 selir tingkat 7 dan 14 selir tingkat 8. (kalian itung sendiri ya berapa jumlah selirnya🤪)
●●●~~~●●●
kritik dan saran bisa dicantumkan di komentar ya
terimakasih🤗
__ADS_1