
Hari yang ditunggu pun tiba, yaitu hari kedatangan seorang Putri dan Kerajaan Wu Xian yang ada di tenggara. Meskipun kerajaan Wu Xian ini tidak tergolong kerajaan yang besar, tapi kemakmuran rakyatnya sangat terkenal. Sang putri juga telah mendapat banyak penghargaan karena kemampuannya untuk menyelesaikan masalah yang meresahkan rakyatnya. Sebuah karpet merah telah digelar dari pintu depan aula pertemuan sampai kedepan singgasana sang Kaisar. Di sisi kanan dan kiri karpet itu telah disediakan banyak meja lesehan dengan kursi berbentuk bantalan tipis sebagai alas duduk.
Matahari hampir terbenam dan orang yang ditunggu baru tiba. Seorang wanita bermata almond dengan riasan eyeliner dan eyesadhow berwarna kemerahan dengan lipstik berwarna merah darah. Tubuhnya terlihat langsing dengan paduan hanfu berwarna kuning keemasan yang cocok dengan kulit putih dan agak kekuningannya. Rambutnya diikat keatas dengan perhiasan rambut yang terbuat dari emas. Ia berjalan memasuki aula pertemuan. Langkahnya sangat anggun ketika sepatu kain warna kuningnya menginjak karpet merah. Ia diikuti oleh 4 orang menteri utusan, seorang pelayan pribadi, 2 orang jendral serta 20 prajurit yang menunggu diluar aula.
Kaisar dan permaisuri telah menunggu di singgasana dan ke enam pangeran dan putra mahkota telah menempati bagian kanan dari karpet merah.
Semua orang yang ada diruangan itu berdiri menyambut kedatangan Sang Putri.
Langkah sang putri terhenti didepan singgasana Kaisar dan Permaisuri.
"Hormat kepada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri" ucap Putri seraya membungkuk diikuti oleh seluruh pengikutnya.
Kaisar tersenyum dan menggerakkan tangan kanannya mengisyaratkan untuk bangun kembali.
"Yang Mulia, Wu Liang menerima perintah Kaisar Wu untuk untuk memilih salah seorang pangeran sebagai calon pengantin. Hamba juga telah membawa beberapa kotak perhiasan untuk Permaisuri, serta beberapa kotak emas dan kain sebagai bentuk itikad baik dari Kerajaan Wu Xian kami" ucap Wu Liang dengan hormat.
"Aku sudah mendengar tentang kemakmuran Kerajaan Wu Xian, sampaikan terima kasihku pada Kaisar Wu" kata kata kaisar terputus sesaat.
"Putri Wu Liang dan para utusan dipersilahkan untuk duduk dan menikmati hidangan" sambung Kaisar.
Wu Liang dan para pendampingnya duduk disisi kiri karpet merah berhadapan dengan tempat duduk para pangeran. Beberapa pelayan istana memasuki aula dan menghidangkan makanan serta arak disetiap meja sebagai perjamuan. Setelah para pelayan keluar, 5 orang penari memasuki aula dan menari di iringi oleh musik dari kecapi dan seruling yang dimainkan oleh sarjana sastra istana. Terlihat semua utusan menikmati pertunjukan itu sambil meminum segelas kecil arak.
Seusai pertunjukkan itu, seluruh orang di aula itu menikmati hidangan di meja. Kemudian acara dilanjutkan dengan menikmati alunan musik kecapi yang indah sangat cocok dengan suasana saat itu.
"Putri Wu Liang, aku dengar kau sangat pandai menari. Bolehkah kami menyaksikan tarian putri?" minta Kaisar setelah alunan musik kecapi selesai.
"Yang Mulia, hamba tidak sehebat yang dikabarkan. Tapi hamba akan menunjukkan tarian hamba karena Yang Mulia memintanya"
Wu Liang pun maju menuju karpet merah. Alunan musik kecapi dan seruling pun kembali dimainkan. Tangannya sangat gemulai bergerak kekanan kekiri dan memutar. Kakinya juga sangat terlatih untuk berjinjit atau maju mundur mengikuti alunan musik. Semua mata terpana melihat tarian putri Wu Liang yang sangat bagus.
Tak lama kemudian tarian itu ditutup dengan penghormatan pada sang Kaisar. Suara tepuk tangan terdengar meriah dan Kaisar juga terlihat sangat senang.
"Baguss, bagus sekali! Ternyata kabar tentang putri Wu Liang tidaklah salah" ucap Kaisar memuji.
"Kalau begitu pangeran sekalian, silahkan memperkenalkan diri" perintah Kaisar.
__ADS_1
Para pangeran pun berdiri. Perkenalan belum dilaksanakan tetapi Wu Liang telah melihat satu persatu wajah para pangeran dan tertarik pada satu wajah tampan. Perlahan ia berjalan mendekati pemilik wajah itu.
"Yang Mulia.. hamba ingin memilih pangeran ini sebagai calon pengantin hamba" ucap Wu Liang seraya berdiri disamping Xuan dan menggandeng tangannya.
Seluruh orang di aula itu terlihat terkejut karena semua tahu bahwa Putra Mahkota telah memiliki calon pengantin.
Sementara itu Nao Yu tengah berlari memasuki paviliun Yue mengejutkan Lin Zi yang tengah bercermin.
"Nao Yu, ada apa kau berlarian malam malam begini?" tanya Lin Zi heran.
"Gawat nona... gawat!" ucap Nao Yu terbata karena nafasnya yang masih terengah.
"Gawat kenapa?" tanya Lin Zi yang kebingungan karena tidak tahu apa yang terjadi.
"Di aula pertemuan, Pu.. Putra Mahkota telah dipilih untuk menikahi....."
Belum selesai Nao Yu berbicara, Lin Zi segera berlari menuju aula pertemuan. Wajah paniknya tak bisa disembunyikan. Dari luar pintu aula yang terbuka terlihat Wu Liang yang masih menggandeng tangan kiri Xuan sambil menyenderkan kepalanya dipundak kiri Xuan. Lin Zi pun bergegas memasuki aula itu. Semua mata beralih pada kedatangan Lin Zi. Dengan raut wajah kesal Lin Zi segera menarik tangan Wu Liang dan menampar wajahnya dengan keras hingga meninggalkan bekas memerah di pipi kanan Wu Liang. Semua orang sangat terkejut apalagi Xuan dan Yuan yang selalu memperhatikan Lin Zi.
Wu Liang memegangi pipinya dengan tangan kanannya. Ekspresi marahnya tak bisa ditutupi.
"Pengawal! Penggal kepala wanita ini!" ucap Wu Liang dengan keras.
Dua orang pengawal Wu Liang pun memasuki aula dan memegang erat tangan kanan dan kiri Lin Zi.
"Lepaskan aku!" perintah Lin Zi pada kedua pengawal itu namun pengawal itu tidak menuruti perintahnya.
"Mohon Putri Wu Liang melepaskan nona Xiu" pinta Xuan dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Dia sudah sangat lancang menamparku didepan Yang Mulia Kaisar dan seliruh orang yang ada disini, kenapa aku harus melepaskannya?" ucap Wu Liang yang masih sangat marah.
"Nona Xiu ini adalah calon pengantinku, mohon putri tidak menyulitkannya" pinta Xuan yang masih agak membungkuk.
"Tapi dia telah mempermalukanku, dia harus dihukum dengan berat"
"Ucapan putri Wu Liang benar. Sikap nona Xiu tidak cocok dengan etika wanita dan harus dihukum" sahut permaisuri yang membela Wu Liang.
Permaisuri pikir dengan begini maka Lin Zi akan meninggalkan kesan buruk dihadapan Kaisar dan dapat mengubah pemikiran Kaisar untuk menikahkan Xuan dengan Lin Zi. Dengan begitu maka Xuan bisa menikahi putri salah satu menteri dengan pengaruh tinggi dikerajaan Jing ini.
__ADS_1
"Nona Xiu belum lama ini telah mengalami kecelakaan dan melupakan banyak hal, mohon putri Wu Liang mengerti dan tidak menghukum berat nona Xiu atas ketidaktahuannya" ucap pangeran Yuan berusaha membela Lin Zi.
"Soal hukuman, biar aku yang akan memutuskan" ucap Xuan menimpali.
"Baik. Tapi sebagai gantinya kau harus mengabulkan 3 keinginanku, bagaimana?" ucap Wu Liang memberi penawaran.
Xuan pun menerima tawaran Wu Liang, dan Wu Liang memerintahkan pengawalnya untuk melepaskan Lin Zi.
"Jing Xuan...." gumam Lin Zi melihat Xuan yang menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Kembali ke kamarmu, salin buku etika wanita sebanyak 10 kali dan kau tidak di ijinkan untuk keluar dari paviliun Yue tanpa seijinku" perintah Xuan memberi hukuman.
Lin Zi terlihat tidak terima dengan hukuman itu karena ia tidak berpikir bahwa yang dia lakukan adalah benar. Bagaimana mungkin dia diam saja ketika melihat calon suaminya digandeng mesra oleh perempuan lain.
"Ta... tapi.." kata kata Lin Zi terputus melihat ekspresi Xuan yang sangat dingin.
Matanya mulai berkaca kaca dan hampir tak dapat menahan tangisnya. Lin Zi pun segera berjalan meninggalkan aula dengan airmata yang mulai menetes.
"Baiklah, mari kembali ke acara perjamuan kita" ucap Xuan setelah melihat Lin Zi keluar melewati pintu aula.
"Putri Wu Liang, sebelumnya aku meminta maaf atas apa yang terjadi. Sebelumnya saat dalam perjalanan menuju istana untuk menghadiri upacara pernikahannya, nona Xiu mengalami kecelakaan jadi sikapnya mungkin sedikit tidak rasional. Tapi bagaimanapun juga dia adalah calon istri Putra Mahkota yang barusaja kau pilih. Jadi... mohon putri untuk memilih pangeran yang lain" ucap Kaisar berusaha memecah suasana canggung itu.
"Sudahlah. Siapapun yang diutus Yang Mulia Kaisar untuk menikahiku, aku tidaklah masalah. Tapi Putra Mahkota telah setuju untuk mengabulkan 3 permintaanku, mohon Putra Mahkota tidak ingkar janji" ucap Wu Liang menghentikan perdebatan itu.
"Putri bisa mengatakan apa permintaan Putri, aku akan mengabulkannya asal tidak menyalahi hukum dan etika" jawab Xuan yang merasa bertanggung jawab atas kejadian itu.
"Kudengar hutan di Kerajaan Jing ini sangat luas dan masih terdapat Harimau tua jelmaan hewan roh. Aku dengar kulit harimau ini berkualitas sangat bagus dan daging harimau ini terdapat khasiat untuk menyembuhkan banyak penyakit. Jadi permintaan pertamaku adalah meminta Putra Mahkota untuk menemaniku berburu harimau itu. Lalu untuk permintaanku yang kedua dan ketiga, aku akan memikirkannya lebih dulu baru memberitahu Putra Mahkota" ucap Wu Liang memutuskan.
Putra Mahkota pun setuju untuk memenuhi permintaan pertama Wu Liang. Dengan begitu maka putri Wu Liang telah menerima pangeran keempat Jing Wu untuk menikah dengannya dimasa yang akan datang. Kaisar pun meminta seorang kasim untuk mengantarkan Putri Wu Liang ke paviliun Di Mian untuk beristirahat selama ia tinggal di istana.
●●●~~●●●
Bersambung dulu ya, kepalaku pusing nih mikirin kelanjutannya kok makin rumit gini wkwkwk
Jangan lupa supportnya ya dengan menekan 💖 dan 👍..
Xiè Xiè Dà jiã 🤗🤗🤗
__ADS_1