Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 3 "LUKA YANG SAMA"


__ADS_3


Xuan menurunkan Lin Zi ditempat tidurnya.


   "Aduhh nona apa yang terjadi pada baju anda..." eluh Nao Yu melihat hanfu Lin Zi tinggal separuh.


   "Dasar malaikat maut kejam! Sudahlah aku tidak mau berada disini lagi!"


   "Sepertinya kecelakaan itu telah membuat otakmu rusak! Sekarang diam disini dan renungkan kesalahanmu!"


  "Omong kosong! Otakmu lah yang rusak! Mana ada lelaki memperlakukan wanita sepertimu! Sudahlah aku tidak mau melihatmu lagi!"


Lin Zi merasa sangat kesal, ia pun berjalan menuju pintu keluar namun tangan Xuan menahannya. Tangannya mencengkram kuat pergelangan tangan Lin Zi.


   "ahhh sakit! Lepaskan aku!"


Lin Zi kesakitan dan mencoba untuk melawan Xuan. Namun setiap serangannya dapat digagalkan dengan mudah.


Setiap seranganku dapat digagalkannya. Apakah dia yang sangat kuat atau kemampuanku yang menjadi terlalu lemah disini?


   "ahhh sakit!"


   "Aku akan melepaskanmu, tapi tenangkan dirimu. kita bicara baik baik" ucap Xuan melonggarkan cengkeramannya.


   "Apalagi yang perlu dibicarakan. Aku tidak mau bicara denganmu" gumam Lin Zi mengalihkan pandangannya kearah samping.


   "Bukankah kau ingin pulang?"


Pertanyaan itu membuat Lin Zi memandang Xuan kembali.


   "Pulang?"


Pulang? Jadi aku punya keluarga? Kalau begitu.. Ayah Ibu..


   "Besok pagi aku akan menemanimu kembali ke kediamanmu. Tapi sekarang aku mau kau merenungkan kesalahanmu dan jangan mengulanginya lagi"


   "Nao Yu, ganti pakaian Zi'er dan biarkan dia merenungkan kesalahannya sendiri"


   "Baik putra mahkota" jawab Nao Yu seraya memberi hormat pada Xuan yang beranjak pergi.


Waktu sudah mendekati tengah malam, tapi Xuan masih terjaga di ruang bacanya memeriksa laporan para menteri. Seorang lelaki berbaju hitam datang dan memberi hormat.


   "Bagaimana?"


   "Saat hamba datang, seluruh orang di kediaman Xiu telah dibunuh. Hamba telah memeriksa semuanya meninggal karena tebasan pedang. Saat ini hamba masih menyelidiki siapa pelakunya tapi masih belum menemukan petunjuk apapun"


   "Apakah ini perbuatan menteri Wei? Saat aku mengatakan aku akan menikahi Zi'er, dia adalah orang pertama yang menolak"


   "Tapi menteri Wei selalu berhati hati. Hamba rasa jika memang dia yang melakukannya bukankah terlalu mencolok?"


   "Kau benar. Lanjutkan penyelidikanmu, bawa mayat mereka ke ruang investigasi"


   "Baik!"


Keesokan paginya Lin Zi telah bersiap menunggu kedatangan Xuan. Kesabarannya sudah mulai habis. Matahari sudah hampir ditengah namun Xuan masih tak kunjung datang.


Disisi lain Xuan baru keluar dari aula pertemuan. Debatnya dengan para menteri telah memakan waktu berjam jam tanpa disadarinya. Ia segera bergegas menemui Lin Zi di paviliun Yue.


   "hhmmhh!" gumam Lin Zi memalingkan muka.


   "Hormat pada putra mahkota"

__ADS_1


   "Nao Yu keluarlah. Aku ingin bicara berdua dengan Zi'er"


   "Baik"


   "Kupikir kau sudah lupa!"


   "Zi'er maafkan aku. Aku juga tidak sadar pertemuan pagi tadi memakan banyak waktuku"


   "Alasan! Ingkar janji ya ingkar janji saja! Tau begitu tadi aku pergi sendiri saja!"


   "Zi'er.. seluruh orang di kediaman Xiu telah dibunuh semalam.. termasuk kedua orang tuamu, karena itu juga pertemuan pagi ini memakan banyak waktu karena membahasnya" ucap Xuan ragu.


   "Apa... katamu...." gumam Lin Zi memandang mata Xuan.


   "Zi'er..."


   "Kau bohong... kan?"


Ada apa? kenapa aku menangis? Apakah ini reaksi dari pemilik tubuh ini? Tapi rasa sakitnya sama seperti saat aku kehilangan kedua orang tuaku. Apakah ini perasaanku?


  "Dimana mayat mereka"


  "Di ruang investigasi..."


Belum selesai Xuan berbicara, Lin Zi segera berlari keluar. Ia mengelilingi semua bangunan mencari ruang investigasi. Air matanya terus menetes, kekawatirannya telah memuncak. Langkahnya terhenti ketika ia menemukan ruangan yang ia cari. Dengan terengah ia memasuki ruangan itu dan mendapati 2 mayat yang ditutupi kain putih. Kakinya melemas dan tak tahan menopang tubuh Lin Zi. Lin Zi jatuh terduduk.


   "Kenapa..." gumam Lin Zi lirih.


  "Zi'er..." gumam Xuan memeluk tubuh Lin Zi.


Nafasnya mulai berat dan tangisannya pun meledak. Xuan mendekapnya dengan kuat dan mengelus lembut kepalanya.


   "Tidak apa apa.. menangislah"


   "Bagaimana?" tanya Xuan melihat tabib yang tengah memeriksa nadi Lin Zi.


   "Tidak apa apa, hanya kelelahan saja. Hamba akan meresepkan tonik untuk memulihkan staminanya"


   "Lalu bagaimana dengan penyakitnya?"


   "Penyakit? Tapi hamba memeriksa nadinya tidak ada masalah. Apa penyakit yang anda maksudkan putra mahkota?"


   "Sejak aku membawanya kembali, dia seperti melupakan semuanya. Dia juga tidak seperti Xiu Lin Zi yang kukenal"


   "Sebelumnya nona Xiu terjatuh dari tebing yang sangat tinggi. Melihat nona Xiu sekarang, ini adalah sebuah keajaiban besar. Mungkin penyakit yang anda maksud adalah efek sampingnya. Tapi hal ini tidak mempengaruhi kesehatannya jadi anda tidak perlu kawatir"


   "Baiklah, kau boleh pergi"


Tabib itu pun segera memberi hormat dan beranjak pergi.


Sementara itu di paviliun Yuan Ji, terlihat seorang berbaju hitam tengah berlutut.


   "Dasar bodoh! Kenapa kau membunuhnya!"


   "Mereka melawan, jadi kami terpaksa membunuh semuanya"


   "Bukankah aku memerintahkan untuk menahan mereka di kediamannya saja?! Kenapa kau begitu gegabah!"


   "Ampun pangeran... hamba.."


belum selesai orang itu berbicara, Yuan menebas lehernya dengan pedangnya.

__ADS_1


   "Xiao Wan"


   "Iya pangeran"


   "Bunuh semua yang terlibat dalam insiden itu!"


   "Baik"


Xiao Wan adalah pengawal pribadi Yuan. Dulu Yuan pernah menyelamatkannya ketika masih kecil. Sejak saat itu Xiao Wan selalu mengikuti Yuan dengan setia. Ia juga seorang master kungfu yang hebat.


"Zi'er, kau sudah sadar?" tanya Xuan melihat Lin Zi perlahan membuka matanya.


"Apa yang terjadi?" gumam Lin Zi seraya duduk dibantu Xuan.


"Kau pingsan setelah menangis tadi, istirahatlah. Nao Yu, minta bagian dapur untuk segera menyiapkan makanan!"


"Tidak perlu" potong Lin Zi.


"Zi'er, kenapa?"


Bagaimana aku bisa makan? Kesedihan ini rasanya memenuhi semua lubang dalam tubuhku. Luka ini sama seperti yang kurasakan sebelumnya. Tidak! Ini jauh lebih sakit. Tapi kenapa? Mereka bukanlah orang tua asliku, tapi kenapa rasanya sakit sekali?


"Zi'er?" panggil Xuan melihat Lin Zi tertunduk dan terus diam.


"Aku ingin sendiri, tinggalkan aku" gumam Lin Zi sebelum ia berbaring dan menutup dirinya dengan selimut.


"Baiklah. Istirahatlah. Nao Yu, pastikan Zi'er makan nanti!"


"Baik" sambil memberi hormat.


Xuan pun kembali ke kediamannya dan ia melihat seorang pria paruh baya mengenakan jubah Kaisar telah menunggunya.


"Hormat kepada Ayahanda Kaisar" ucap Xuan segera.


"Tidak perlu terlalu sungkan Xiao'er"


"Tetap saja, Ayahanda adalah seorang Kaisar negeri ini"


Kaisar itu pun tertawa kecil.


"Bagaimana keadaan Lin Zi? Dia pasti sangat terpukul karena kejadian itu"


"Benar, tadi dia pingsan setelah menangis. Dan saat ini dia mengurung dirinya dalam kamar. Aku akan memberinya waktu untuk sendiri"


"Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian? Xiao'er, kau harus segera menikah. Tapi... Lin Zi sekarang tidak akan memberimu keuntungan apapun. Keluarganya sudah tidak ada. Jadi...."


"Aku akan tetap menikahinya! Dia akan menjadi satu satunya wanitaku kelak. Hal ini aku sudah berjanji padanya sebelumnya"


Sang Kaisar kembali tertawa kecil mendengar ucapan Xuan.


"Xiao'er... kau masih sangat keras kepala. Kau tau itu tidak akan mudah. Jangan melupakan semua menteri di sekelilingmu. Mereka akan segera mencari cara untuk menusukmu dari belakang. Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Jika kau masih keras kepala, mungkin Lin Zi akan menjadi beban terbesarmu di singgasana. Aku telah menjadi Kaisar sejak berumur 15 tahun, dan aku telah mengorbankan banyak hal. Munafik jika aku mengatakan itu semua demi negeri ini, nyatanya aku melakukannya demi tahta"


"Ayahanda...." gumam Xuan seakan tak percaya.


"Xiao'er, kau adalah putraku yang paling kupercaya. Kesehatanku juga semakin lama semakin memburuk. Cepat atau lambat kau akan menjadi seorang Kaisar yang memimpin negeri ini. Ayah akan selalu mendukungmu"


"Terimakasih Ayahanda, Xiao'er mengerti"


"Kalau begitu aku akan kembali. Xiao'er, jaga Lin Zi dengan baik. Saat ini dia pasti sangat membutuhkanmu"


"Baik Ayahanda Kaisar" ucap Xuan sambil memberi hormat mengantar kepergian Ayahnya.

__ADS_1


●●●~~●●●


  


__ADS_2