
Lin Zi bangun dengan terbelalak, nafasnya terengah.
"Apakah aku sudah mati?" gumam Lin Zi.
Ia meraba tubuhnya dan menyadari bahwa dirinya masih hidup. Hanya ada goresan tipis dilehernya.
"Nona... anda tidak apa apa?" tanya Nao Yu melihat Lin Zi mengatur pernafasannya.
"Nao Yu, jam berapa sekarang?"
"Matahari baru saja terbit, apakah nona mau mandi sekarang?"
"Baiklah"
Lin Zi pun mandi dan meminta Nao Yu meninggalkannya. Ia berendam sambil mengingat ingat apa yang terjadi kemarin.
Dia benar benar kejam! Matanya begitu tajam, dia lebih menakutkan dari seorang malaikat maut! Dibandingkan dengan Yuan sebenarnya wajah malaikat maut itu jauh lebih tampan, hanya saja buat apa tampan kalau sifatnya begitu mengerikan! Kasian juga nasib pangeran Yuan.... tunggu dulu... seharusnya aku tidak memikirkan hal itu! Tujuanku datang kemari adalah untuk mengetahui siapa penyelamatku, tapi kenapa di era kerajaan begini? Apakah paranormal itu salah kirim ya? Sudahlah.. nikmati saja dulu. Ini kan kerajaan, pasti ada banyak pangeran tampan yang baik seperti Jing Yuan, hihihiii.
Lin Zi pun segera menyelesaikan mandinya dan berpakaian. Setelah itu Nao Yu membantu untuk menata rambutnya.
"Nona, hamba sudah menyiapkan makanan di meja"
"Makanan?"
Lin Zi pun teringat ia belum makan sejak kemarin siang. Ia bergegas duduk dan menyantap berbagai hidangan lezat itu.
"Eh.. Nao Yu kenapa kau masih berdiri disitu? Kemarilah, duduk disini dan makanlah bersamaku" ucap Lin Zi seraya menarik kursi keluar dari bawah meja.
"Hamba tidak berani nona.. jika ada yang tau, hamba pasti akan dihukum"
"Sudahlah.. Kau kan melayaniku, jadi aku adalah majikanmu. Hanya aku yang boleh menghukummu!"
"Tetap saja hamba tidak berani. Jika putra mahkota melihatnya..."
"Takut sekali pada malaikat maut itu, ya sudahlah!"
"Nona, anda jangan memanggilnya seperti itu. Bagaimanapun juga dia adalah putra mahkota. Hanya dengan perintahnya saja nyawa anda bisa melayang"
"Aku tidak takut! Lagipula nyawaku juga hampir melayang!"
"Benarkah?" sahut Xuan seraya berjalan menghampiri Lin Zi.
"Merusak nafsu makanku saja!" ucap Lin Zi menghembuskan nafas kesal.
"Kenapa tidak melanjutkan makanmu? Ini semua adalah makanan kesukaanmu"
Xuan pun duduk didepan Lin Zi. Lin Zi sangat kesal atas apa yang terjadi kemarin jadi dia memikirkan cara untuk mengusir Xuan dari kamarnya.
"Jing Fuan... bufanfah fau merindufanfu?" ucap Lin Zi sambil mengunyah dan menyemburkan beberapa potong kecil makanan mengenai wajah dan baju Xuan.
"Sejak kapan Lin Zi jadi menggila seperti ini" gumam Xuan lirih sambil menepuk jidatnya tak habis pikir.
"Jing Fuan, fenafa diom? Ayo maqan sini afa banyaf sefali mafanan" ucap Lin Zi yang masih mengunyah dan menyemburkan makanannya.
Brakkkkkkkk!
Xuan seraya berdiri memukul meja dengan telapak tangannya membuat Lin Zi terkejut dan berhenti mengunyah.
"Lanjutkanlah makanmu, aku masih ada urusan" ucap Xuan kemudian menahan amarah.
Xuan pun pergi meninggalkan Lin Zi yang masih terdiam.
Fuhhhh akhirnya pergi juga, hihihiiii. Eh apa itu ya?
__ADS_1
Lin Zi melihat sebuah kantung seperti kantung wewangian yang ditinggalkan Xuan. Ia mengambilnya dan melihatnya. Di kantung itu ada sulaman sepasang bebek mandarin yang melambangkan kesetiaan. Karena penasaran ia membuka kantung itu dan melihat apa isinya.
Rambut?
Belum puas ia melihatnya suara langkah kaki membuatnya segera menutup kantung itu dan mengembalikan ke tempatnya sebelumnya. Xuan pun mengambil kantung itu kembali dan pergi tanpa mengatakan apapun. Hanya tatapan tajamnya yang membuat Lin Zi tertunduk.
Rambut siapa ya? Apakah rambut kekasihnya? Orang seperti dia mana bisa punya kekasih, hanya wanita bodoh saja yang mau, hihihihi...
"Nona... apa yang anda tertawakan?" tanya Nao Yu heran melihat Lin Zi cekikikan sendiri.
"Tidak tidak, bukan apa apa.. Nao Yu, cuaca begitu cerah. Kau temani aku jalan jalan ya"
"Tapi nona, Putra Mahkota kemarin berpesan agar anda merenungkan kesalahan dan tidak boleh keluar paviliun"
"Merenungkan kesalahan? Jelas jelas dia yang salah! Nao Yu lihatlah goresan dileherku ini"
"Leher anda tidak putus, Putra Mahkota pasti hanya untuk menggertak saja. Sejak hamba menjadi pelayan disini, Putra Mahkota dan Pangeran Yuan tidak pernah akur. Setiap mereka bertemu yang dibicarakan pasti hanya perdebatan saja"
"Jadi kau mau melihat leherku putus?"
"Ampun nona.. hamba tidak bermaksud begitu" ucap Nao Yu segera berlutut.
"Ahhh sudah sudah berdirilah. Aku hanya bercanda saja" jelas Lin Zi seraya membantu Nao Yu berdiri.
Lin Zi pun keluar jalan jalan mengelilingi istana bersama Nao Yu.
"Nao Yu, di istana ini ada berapa Pangeran?" tanya Lin Zi menghentikan langkahnya.
"Apakah nona sudah lupa?"
"Sebenarnya aku tidak ingat apapun sejak kecelakaan itu. Eh... apakah sebelumnya kau mengenalku?"
"Sebelumnya hamba pernah melayani anda beberapa kali setiap anda datang ke istana untuk bertemu Putra Mahkota"
"Dari yang hamba rasakan selama melayani anda, Anda adalah seorang wanita yang elegan dan lemah lembut. Anda sangat cerdas dan mampu membantu Putra Mahkota dalam menyelesaikan masalah. Yang Mulia Kaisar bahkan pernah memuji kecerdasan anda"
"Benarkah?"
"Anda dan Putra Mahkota juga terlihat saling mencintai. Hamba tidak pernah melihat Putra Mahkota bersikap kasar kepada anda"
"Tapi kenapa sekarang dia begitu sinis melihatku?"
"Mungkin Putra Mahkota marah terhadap sikap anda. Jujur saja sifat anda sekarang jauh berbeda dari sebelumnya"
"Sepertinya Xiu Lin Zi ini akan menjadi seorang artis jika di duniaku, menjadi idola banyak pria"
"Artis? Apa itu nona?"
"Ah tidak bukan apa apa. Jadi disini ada berapa Pangeran?:
"Sebelumnya ada 9 pangeran dan 2 putri. Pangeran pertama meninggal dalam peperangan. Pangeran ke 2 menikah dengan putri dari Negeri tetangga. Pangeran ke 3 adalah Putra Mahkota saat ini. Pangeran ke 4 tinggal di luar istana karena dia lebih suka berpetualang. Pangeran ke 5 adalah Pangeran Yuan. Pangeran ke 6 sering pergi ke tempat hiburan dan jarang ada di istana. Pangeran ke 7 sering berada di balai pengobatan istana karena suka mempelajari tentang pengobatan. Pangeran ke 8 sering berada di kediamannya, beliau suka melukis dan menulis cerita. Pangeran ke 9 biasanya sering berburu. Lalu... kedua putri ini... hamba dengar mereka menempati istana Ibu Suri yang telah kosong"
"eh... Nona anda tidur sambil berdiri?"
"Maaf maaf, ceritamu panjang sekali aku jadi mengantuk. Lalu bagaimana dengan selir Kaisar?"
"Selir Kaisar saat ini hanya tinggal Selir Tingkat 2 Fei saja. Dulu Kaisar memiliki 13 orang selir tapi mereka saling mencelakai demi mendapatkan kasih sayang Kaisar. Hanya 6 selir yang berhasil memiliki putra dan putri"
"Lalu ke 6 selir itu?"
"Hamba dengar Permaisuri adalah seorang pencemburu. Satu per satu selir yang membahayakannya akan dia singkirkan. Tapi ini hamba juga tidak tau kebenarannya karena hamba juga hanya mendengar dari cerita orang saja"
"Kalau begitu kenapa Selir Fei masih hidup?"
"Hamba juga tidak tau, mungkin karena hubungannya dengan Selir Yan yang sangat erat sebelumnya"
__ADS_1
"Selir Yan?"
"Selir Yan adalah selir kesayangan Kaisar yang juga merupakan Ibu dari Pangeran Yuan. Karena selir Yan sering bersama Kaisar, jadi selir Fei juga jadi mendapat perhatian dari Kaisar"
"Jadi begitu.. rumit sekali kehidupan di istana ini"
"Tinggal di istana ini memanglah banyak gejolak yang terjadi" sahut seseorang dari arah belakang Lin Zi.
"Kau adalah...."
"Aku pangeran ke 7 Jing Xiu" ucap lelaki itu memperkenalkan diri.
"Bukankah kau sering berada di balai pengobatan istana?"
Jing Xiu pun tertawa kecil diikuti oleh Nao Yu yang berusaha menahan tawanya.
"Nona Xiu, tidakkah kau lihat, sekarang kau berada didepan balai pengobatan" jelasnya kemudian.
Lin Zi pun melihat bangunan di belakang Jing Xiu yang dihalamannya terdapat banyak tanaman obat yang sedang dijemur.
"Hehe.. aku tidak menyadarinya" gumam Lin Zi sambil cengengesan karena malu.
"Dilihat langsung ternyata kau lebih cantik dari yang pernah dilukis oleh Pangeran ke 8"
"Benarkah?" gumam Lin Zi tersipu.
"Tapi.. ada apa Nona Xiu datang kemari?"
"Ehhh tentang itu... aku tadi berkeliling dan tanpa sadar berhenti disini, hehehe"
"Jika kau berkenan, aku menawarkan untuk minum teh bersama dan juga mengobati luka dilehermu agar tidak berbekas"
"Baiklah!"
Mereka berdua pun duduk di bangku yang tak jauh dari balai sambil menikmati teh hangat.
Jing Xiu kembali tertawa melihat Lin Zi yang meminum tehnya begitu saja, tidak seperti bangsawan pada umumnya.
"Eh kenapa?"
"Tidak... hanya saja kepribadian Nona Xiu sedikit unik"
"Ahhhh itu karena kecelakaan sebelumnya.. maaf jika membuat Pangeran Xiu tidak nyaman"
"Aku sudah mendengarnya. Dan juga kedepannya Nona Xiu bisa memanggilku Xiu'er karena umurku 1 tahun lebih muda darimu. Selain itu juga kelak kau akan menikah dengan Putra Mahkota jadi tetap akan menjadi kakak iparku"
"Seperti itu... baiklah... emm Xiu'er"
Jing Xiu kembali dibuat tertawa diikuti Lin Zi yang juga merasa aneh dengan pelafalannya sendiri.
Tanpa disadari mereka mengobrol sudah agak lama, matahari sudah hampir ditengah.
"Sepertinya pembicaraan kalian menyenangkan sekali" ucap Xuan menghampiri.
"Kakak, bergabunglah dengan kami. Ternyata kakak ipar sangat lucu" ucap Xiu yang masih tertawa.
"Dasar! Seperti jaelangkung saja! Datang tidak diundang pergi tidak pamitan" gumam Lin Zi kesal melihat Xuan yang selalu merusak moodnya.
"Xiu'er, kalau begitu lain kali kita ngobrol lagi ya. Obat ini aku akan menggunakannya, terima kasih" ucapnya sambil membawa sebotol kecil obat lalu berdiri dan mulai berjalan.
"Ehh kenapa? Kakak kan baru datang" tanya Xiu dengan nada keras karena Lin Zi berjalan semakin jauh.
Xuan pun segera berdiri dan mengejar langkah Lin Zi.
●●●~~●●●
__ADS_1