Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 16 "PENGORBANAN"


__ADS_3


Anak panah itu melesat dengan cepat kearah Lin Zi. Namun dengan cepat Xuan memeluk Lin Zi hingga panah itu menancap dipunggung kanannya. Lin Zi sangat terkejut melihat kejadian yang tiba tiba itu. Matanya terbelalak dan mulai berkaca kaca.


"Jing Xuan..." gumam Lin Zi meraba anak panah yang telah menancap di punggung Xuan.


Perlahan Xuan melepaskan pelukannya dan melihat wajah gadis didepannya.


"Zi'er, apakah kau baik baik saja?" tanya Xuan dengan mengernyit menahan rasa sakit.


Lin Zi belum sempat menjawabnya dan Xuan telah terjatuh di pangkuannya.


"Jing Xuan... kau harus tetap sadar..." ucap Lin Zi yang airmatanya telah mengucur deras.


Pandangan Xuan mulai buram, ia berusaha menghapus airmata Lin Zi dengan sisa tenaganya, namun belum sampai menyentuh wajah Lin Zi, Xuan telah kehilangan kesadarannya dan tangannya terjatuh lemas di tanah yang dingin.


Lin Zi menangis sejadi jadinya, rasa sedihnya tak terbendung lagi. Ia kembali melihat tangannya yang ternoda darah Xuan, ada bercak warna hitam. Panah itu adalah panah beracun.


Sementara itu Yuan yang masih mencari keberadaan Lin Zi bertemu dengan pelaku yang menembakkan panah pada Lin Zi. Ia bertarung dengan pelakunya. Tapi karena bahunya yang masih belum benar benar sembuh, ia tak bisa bergerak terlalu leluasa. Namun ia berhasil membuka cadar orang itu.


"Nao Yu...." gumam Yuan terkejut mengenali wajah pelaku itu.


Nao Yu hanya memandangnya dengan rasa bersalah dan pergi begitu saja. Yuan yang masih tertegun juga tidak menghalanginya.


Bantuan segera datang. Xuan dibawa ke paviliunnya dan tabib istana segera memeriksanya.


Diruangan itu terlihat Lin Zi tengah berlutut dengan airmatanya yang masih menetes.


"Tabib, bagaimana keaadaan Putraku?" tanya permaisuri dengan wajah cemas dan tidak sabaran.


"Yang Mulia Permaisuri, untuk saat ini obat yang hamba berikan hanya menghambat penyebaran racunnya. Penawar untuk jenis racun ini agak sulit didapatkan jadi mohon Permaisuri bersabar" ucap tabib tua itu.


"Lalu kapan Xuan bisa sadar kembali?" tanya permaisuri yang masih tidak bisa tenang.

__ADS_1


"Saat penawarnya didapatkan, maka Putra Mahkota bisa kembali siuman. Hanya saja...." tabib itu ragu ragu untuk menyelesaikan perkataannya.


"Hanya saja apa? Aku akan memberimu imbalan yang sangat besar jika kau bisa menyembuhkan putraku"


"Hanya saja... kita memiliki waktu 3 hari untuk mendapatkan penawar itu. Setelah 3 hari maka racunnya akan menyebar sampai ke jantungnya dan nyawa Putra Mahkota tidak akan tertolong lagi" ucap tabib melanjutkan kata katanya yang sempat terputus.


Sebagai seorang ibu, tentu saja permaisuri merasa syok berat.


"Pengawal! Cepat tangkap wanita ini dan introgasi dia!" perintah Permaisuri dengan tegas.


2 orang pengawal pun masuk dan segera menangkap Lin Zi. Namun kali ini Lin Zi tidak meronta sedikitpun. Tenaganya terasa telah habis dan ia berjalan dengan gontai. Pandangannya kosong dan airmatanya telah berhenti menetes.


Keesokan paginya Lin Zi pun dibawa ke tempat introgasi. Namun setiap pertanyaan dari petugas yang mengintrogasinya tidak mendapatkan jawaban apapun. Lin Zi hanya terdiam dengan pandangan kosong. Sesekali Lin Zi berteriak kesakitan karena petugas itu mulai menyiksanya dengan memukul dan mencambuknya.


Hari telah sore dan kabar ini telah sampai ke telinga Permaisuri. Permaisuri memutuskan untuk menghukum mati Lin Zi karena telah melindungi pelaku pembunuhan Xuan. Kaisar juga tidak bisa berbuat apa apa karena kondisinya yang juga masih lemah.


Sementara itu di ruang rahasia paviliun Yuan Ji terlihat Xiao Wan membawa seorang wanita dan membuat wanita itu berlutut didepan Yuan.


Namun gadis dihadapannya seperti batu yang tidak bergeming. Ia hanya terdiam sambil tertunduk.


"Jangan jangan insiden saat perburuan itu kau juga yang melakukannya?" tanya Yuan kembali.


"Benar..." gumam Nao Yu lirih.


"Kenapa? Bukankah selama ini Lin Zi memperlakukanmu dengan baik?"


"Karena aku merasa cemburu. Aku tahu, aku tidak pantas untuk merasa cemburu. Tapi tetap saja, aku tidak bisa membohongi perasaanku..." gumam Nao Yu yang masih tertunduk.


Airmatanya mulai menetes. Lalu seorang pelayan wanita yang ditugaskan Yuan untuk mencari informasi memasuki ruangan itu dan melaporkan jika sampai besok siang Lin Zi tidak bisa membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, Lin Zi akan dieksekusi.


"Tinggal lah disini malam ini. Besok pagi pagi sekali kau harus keluar dari istana secara diam diam. Aku sudah menyuruh orang untuk menyiapkan kereta kuda. Pergilah dan jangan pernah kembali lagi" ucap Yuan memberi kesempatan pada Nao Yu.


"Apa yang akan kau lakukan?" Nao Yu mengangkat kepalanya memandang Yuan.

__ADS_1


"Apa yang akan aku lakukan bukanlah urusanmu! Yang jelas, aku tidak akan membiarkan Zi'er mati!"


Yuan pun pergi meninggalkan Nao Yu yang masih tertegun. Yuan melangkah dengan cepat menuju penjara tempat Lin Zi ditahan. Di dalam penjara itu, ia melihat Lin Zi yang duduk bersandar jeruji besi yang dingin. Tubuh Lin Zi dipenuhi luka dan baju putihnya penuh dengan noda darah. Wajahnya terlihat sangat pucat dan tidak bertenaga.


"Jing Yuan...." gumam Lin Zi menyadari keberadaan Yuan.


Lin Zi pun menghampiri Yuan dengan sisa tenaganya. Yuan pun jongkok agar sejajar dengan Lin Zi yang merangkak menuju ke arahnya.


"Jing Yuan... bagaimana keadaan Xuan sekarang? Apakah dia masih belum sadar?" tanya Lin Zi yang sudah tak mempedulikan dirinya sendiri.


Yuan hanya menggeleng dan matanya mulai berkaca kaca melihat Lin Zi yang masih mengkhawatirkan Xuan sementara kondisinya sendiri sudah di ambang kematian.


"Jangan memikirkannya lagi, tabib istana pasti bisa menyelamatkannya" ucap Yuan berusaha menenangkan kekhawatiran Lin Zi.


"Lalu bagaimana dengan Nao Yu? Dia pasti sedang bersedih. Jing Yuan, katakan padanya bahwa aku baik baik saja. Aku pasti akan...." kata kata Lin Zi terputus karena Yuan tiba tiba meninggikan nada bicaranya.


"Lihatlah dirimu! Kau sudah sangat menderita dan kau masih mengkhawatirkan orang lain!" potong Yuan meninggikan suara.


"Zi'er... pikirkanlah dirimu sendiri.. Jika besok pelakunya masih tidak tertangkap, kau akan dieksekusi..." ucap Yuan kembali menurunkan suaranya.


"Aku tidak apa apa, jangan khawatir. Jing Yuan, cepat pergilah. Jika terlalu lama disini, mereka pasti juga akan mencurigaimu. Cepat pergi"


Lin Zi pun kembali merangkak menjauhi Yuan. Ia meringkuk diatas jerami dan telapak tangannya melambai lambai menyuruh Yuan segera pergi.


"Zi'er... aku tidak akan membiarkanmu mati!" gumam Yuan dengan lirih dan tidak terdengar oleh telinga Lin Zi.


Yuan pun melangkahkan kakinya meninggalkan Lin Zi yang kembali meneteskan air mata.


*Apakah aku benar benar akan mati mengenaskan didunia yang asing ini?


●●●~~●●●*


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2