
"11 tahun lalu, aku pernah sekarat karena seseorang meracuni makananku. Tabib bilang tidak ada penawar untuk racun mematikan itu. Lalu ibuku membuat altar didalam kediamannya, mengundang penyihir dan menghidupkanku kembali dengan sihir hitam. Tapi saat itu, aku seperti kesurupan. Aku membunuh penyihir itu dan beberapa pelayan yang mendampingi ibuku. Selama ini ibu dan aku selalu merahasiakannya, tidak ada satupun orang di kerajaan ini yang tau. Karena itu aku menjauhi orang orang, aku takut... aku akan melukai mereka..." Xuan terdiam sesaat.
"Dulu penyakit aneh itu sering datang kembali, aku seperti iblis haus darah dan membunuh orang orang disekitarku. Jadi setiap kali aku hampir hilang kesadaran, aku mengusir semua orang dan mengurung diriku didalam kamar. Tapi... setelah bertemu denganmu, penyakit itu tidak pernah datang lagi. Karena tidak peduli bagaimana aku mengabaikanmu, kau selalu ada disisiku. Jujur saja.. sebenarnya pertemuan kita dihutan waktu itu, akulah yang merekayasanya. Aku yang meminta beberapa bandit itu mengejarmu, dan aku berpura pura menolongmu untuk mendekatimu. Tapi.. semakin kita menjadi dekat, aku semakin takut penyakit itu datang dan aku akan melukaimu jadi aku mulai mengabaikanmu.."
"Jing Xuan..." gumam Lin Zi melihat Xuan yang terdiam.
"Kau benar, aku tidak pernah kehilangan seseorang yang sangat penting bagiku. Tapi, selama ini aku hidup dalam ketakutanku sendiri. Aku hidup dalam kesendirian tanpa siapapun..." gumam Xuan tertunduk.
"Jing Xuan... mulai sekarang, aku tidak akan meninggalkanmu lagi jadi berjanjilah untuk tidak mengabaikanku lagi bagaimana?" ucap Lin Zi menatap Xuan berusaha memberinya semangat.
"Tapi...." gumam Xuan yang masih tertunduk.
"Tidak ada tapi tapian.." ucap Lin Zi memegang pipi Xuan dan memalingkannya agar Xuan menatap Lin Zi.
"Karena aku tau, kau tidak akan melukaiku. Kau akan selalu melindungiku"
Xuan tersenyum mendengar kata kata itu. Ia pun menarik Lin Zi ke dalam pelukannya. Lin Zi mendongak melihat Xuan yang mulai menunduk dan mendekatkan bibirnya. Mata Lin Zi mulai memejam dan sebuah sentuhan lembut mendarat di bibirnya. Xuan menciumnya dengan penuh perasaan dan mendekapnya seolah akan kehilangan. Sinar bulan dan cahaya lentera di langit menambah suasana romantis malam itu.
Matahari baru saja terbit beberapa saat yang lalu, tapi Xuan terlihat telah duduk di singgasana. Seperti biasa ia selalu menghadiri pertemuan pagi dengan para menteri.
"Putra mahkota, keaadaan di perbatasan utara kini sangat genting. Rakyat di desa Feng Shan menderita kelaparan. Pasukan dari Kerajaan Utara mengklaim bahwa tanah Feng Shan adalah milik Kerajaan Utara. Jika begini terus, hamba takut peperangan akan terjadi" ucap salah seorang menteri.
"Menteri Wei, bukankah sebelumnya aku sudah menyuruhmu untuk menangani kelaparan itu?" ucap Putra Mahkota.
"Kas Negara semakin berkurang dan hampir habis, mohon untuk mempertimbangkan kenaikan pajak agar dapat menyelesaikan masalah ini" ucap seorang Menteri keuangan.
"Omong kosong!" ucap Xuan dengan lantang seraya menggebrak meja didepannya.
"Kalian sudah menaikkan pajak dengan sangat tinggi dan sekarang ingin menaikkannya lagi, apa kalian anggap aku ini boneka? Kemana semua kas negara selama ini?! Tidak kusangka kalian begitu serakah!" ucap Xuan marah marah.
"Kas negara telah dipakai untuk memperkuat perbatasan, pembangunan bendungan dan juga untuk pembangunan istana apakah anda lupa?" ucap Menteri Wei.
"Oh... aku dengar rumah besar Menteri Wei baru saja dibangun kembali dengan sangat megah, sepertinya kau memiliki begitu banyak uang. Kenapa kau tidak menyumbangkannya pada kas negara?" sindir Xuan.
Xuan sebenarnya telah mengetahui menteri menteri yang korup. Hanya saja dia tidak memiliki kuasa untuk memecat mereka karena pengaruh mereka yang begitu tinggi terhadap kerajaan. Sebelum semua bukti terkumpul, dia masih harus berhati hati. Tapi semakin lama para menteri semakin melunjak dan menganggap Xuan seperti boneka yang akan menuruti kemauan mereka.
"Kalau begitu aku akan mengeluarkan kebijakan baru. Mulai sekarang semua menteri akan membayar pajak sesuai aturan dan tanpa terkecuali"
"Putra Mahkota, anda tidak bisa melakukan ini! Bagaimanapun anda masih harus merundingkannya dengan Yang Mulia Kaisar, terlebih lagi kebijakan ini harus disetujui oleh seluruh menteri"
"Mohon anda mempertimbangkannya kembali" ucap seluruh menteri yang hadir secara bersamaan.
"Kalian memiliki tanah yang begitu luas, hanya membayar pajak saja kalian sangat keberatan? Lalu bagaimana dengan warga kita yang hanya memiliki tanah kecil dan masih harus membayar pajak dengan tinggi? Dimana otak kalian!" Xuan kembali melantangkan suaranya.
Seluruh menteri terdiam, mereka tidak menyangka bahwa Xuan akan seberani ini.
"Karena kalian diam, aku akan menganggap kalian setuju dengan kebijakanku. Dan untuk masalah di perbatasan, aku sendiri yang akan mengurusnya dan bernegosiasi dengan Kerajaan Utara"
__ADS_1
Dengan begitu maka rapat pagi telah selesai. Para menteri keluar dan saling berbincang membicarakan keberanian Xuan. Para menteri merasa tidak puas dengan keputusan itu.
Setelah upacara pagi Xuan bergegas menuju paviliun Kaisar karena ia mendengar Kaisar baru saja jatuh pingsan.
"Hormat pada Ayahanda Kaisar dan ibunda Permaisuri" ucap Xuan melihat Permaisuri tengah menyuapi Kaisar minum obat.
"Xiao'er.. penyakit ayahmu sudah semakin parah, kau harus segera naik tahta" ucap Kaisar yang terbatuk batuk.
"Ayah, Ibu ... 2 minggu lagi aku akan menikahi Lin Zi" ucap Xuan agak ragu.
"Jing Xuan! Bukankah ibu sudah pernah mengatakannya padamu.." kata kata permaisuri terputus karena tangan kanan Kaisar menarik bajunya mengisyaratkan untuk tidak lagi memaksa Xuan.
"Kulihat Jing Xuan sudah mampu membungkam para menteri, jadi untuk pernikahan ini jangan terlalu memaksanya" ucap Kaisar pada permaisurinya.
"Sebelumnya aku akan pergi ke perbatasan utara untuk negosiasi, mohon ayah dan ibu merestui" ucap Xuan mengakhiri pembicaraan.
Keesokannya Jing Xuan telah bersiap di halaman istana mengenakan jubah perangnya. Ia akan membawa 100 prajurit bersamanya, karena jika terlalu banyak takut kerajaan utara salah paham dan menyatakan perang. Lin Zi yang mendengar kabar itu pun segera berlari menemui Xuan. Bagaimanapun, mereka akan menikah. Tapi masalah seperti ini justru Xuan tidak memberitahu Lin Zi.
"Jing Xuan" panggil Lin Zi seraya berlari menghampiri Xuan.
Lin Zi pun berlari lalu memeluk Xuan dengan erat. Airmatanya menetes karena kekawatirannya.
Xuan pun melepas pelukannya dan Lin Zi memukuli dada Xuan dengan telapak tangan kanannya.
"Zi'er... aku hanya akan pergi sebentar.." ucap Xuan memegangi tangan Lin Zi yang memukulinya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu? Sebenarnya kau anggap aku ini apa?"
"Apakah kau akan kembali dengan selamat?"
"Tentu saja. Zi'er aku hanya pergi untuk negosiasi, bukannya pergi berperang. Aku juga sudah menetapkan tanggal pernikahan kita, jadi persiapkan saja dirimu"
"Benarkah?"
Xuan mengangguk. Lin Zi pun meminta kantung wewangian kecil yang selalu dibawa Xuan kemana mana. Ia mengambil pedang Xuan dan memotong beberapa helai rambutnya. Ia menerbangkan rambut yang ada dikantung itu dan menggantinya dengan rambutnya.
"Kau harus kembali dan menikahiku, oke?" ucap Lin Zi mengembalikan kantung itu pada Xuan.
"Oke!"
Xuan pun mengusap rambut Lin Zi dan menaiki kudanya. Kuda itu sudah mau berjalan namun Lin Zi menarik lengan Xuan.
"Aku akan merindukanmu..." gumam Lin Zi agak lirih namun dapat didengar oleh Xuan.
Xuan pun membungkuk seraya menarik tubuh Lin Zi dan agak mengangkatnya. Lagi lagi sebuah sentuhan lembut kembali Lin Zi rasakan di bibirnya.
Setelah Xuan berangkat, Lin Zi berjalan kembali ke paviliunnya namun langkahnya terhenti oleh seorang pria yang menghalangi jalannya.
"Zi'er kenapa kau terlihat sangat sedih?" ucap pria itu melihat wajah Lin Zi yang masih basah.
__ADS_1
"Jing Yuan.." gumam Lin Zi segera mengusap sisa airmata diwajahnya.
"Zi'er apa yang terjadi?" ucap Yuan kawatir.
"Tidak, tidak ada apa apa. Eh Jing Yuan, bagaimana lukamu?" tanya Lin Zi mengalihkan topik pembicaraan.
"Lukaku sudah mengering, sudah hampir sembuh"
"Syukurlah kalau begitu"
"Zi'er bisakah..." kata kata Yuan terputus.
"e Jing Yuan, aku mau kembali ke kamar.. bye bye" potong Lin Zi.
Lin Zi pun meninggalkan Yuan yang belum jadi mengatakan sesuatu.
1 minggu pun berlalu, Xuan sudah hampir tiba di kerajaannya.
"Nona gawat, nona gawat!" ucap Nao Yu memasuki ruangan.
"Nao Yu, ada apa?" tanya Lin Zi yang kebigungan.
"Pangeran Yuan pingsan dihutan belakang istana!"
"Malam malam begini? Bagaimana bisa?" ucap Lin Zi kaget.
"Pangeran Yuan mengejar penyusup sampai ke hutan belakang dan terluka. Sekarang dia pingsan"
"Kalau begitu aku akan segera menolongnya" ucap Lin Zi.
Lin Zi pun segera berlari sambil membawa lampu berbentuk lampion untuk penerangannya karena jalan yang gelap saat malam hari.
Sementara itu Xuan yang baru tiba pun segera mencari Lin Zi ke kediamannya namun kamar Lin Zi telah kosong. Xuan pun segera pergi menuju paviliun Yuan Ji.
"Putra Mahkota, ada apa kemari?" tanya Yuan melihat Xuan yang tengah menghampirinya dengan wajah panik.
"Apakah Lin Zi ada disini?" tanya Xuan tanpa basa basi.
"Dia tidak disini, apakah telah terjadi sesuatu?"
"Yang Mulia, tadi saat hamba pergi ke dapur istana, hamba melihat Nona Xiu berjalan kearah belakang istana" lapor salah seorang pelayan wanita yang tengah menyuguhkan sepiring buah buahan untuk Yuan.
Xuan dan Yuan pun bergegas keluar dan berlari mencari Lin Zi ke area belakang istana. Untuk memudahkan pencarian, Yuan mencari kearah kiri dan Xuan akan mencari kearah kanan hutan.
Sementara itu Lin Zi memasuki hutan semakin dalam.
"Jing Yuan! Jing Yuan kau dimana? Apakah kau mendengarku?" ucap Lin Zi dengan keras sambil melihat ke sekelilingnya.
Seseorang berbaju dan bercadar hitam telah mengintai di atas pohon sambil membawa busur panah. Melihat Lin Zi yang tidak terlalu banyak bergerak ia segera menempatkan anak panahnya dan menarik tali busurnya mengarahkannya pada Lin Zi. Saat merasa bidikannya sudah pas, dia segera melesatkan anak panahnya.
__ADS_1
●●●~~●●●
Bersambung yaaaa gaeessss🤪🤪🤪