
Yuan berusaha melindungi Lin Zi dari serangan sementara Lin Zi masih berusaha menyangga tubuhnya sendiri. Xuan terlihat tengah berusaha untuk berdiri namun prajurit musuh tak berhenti menyerang. Airmatanya menetes ketika ia ingin melindungi Lin Zi namun tubuhnya bahkan tak mampu untuk berdiri. Ia menggenggam erat tusuk rambut ditangan kirinya.
Aku akan melindungimu!!!
Seketika itu auranya berubah menjadi merah kehitaman. Rambutnya berubah menjadi warna putih dan matanya berubah jadi warna merah menyala. Pupilnya seperti pupil ular yang siap menerkam. Kukunya menjadi panjang dan tajam dan taring muncul diantara giginya.
"Jing Xuan..." gumam Lin Zi terbelalak melihat perubahan Xuan.
Kini Xuan telah berubah menjadi iblis haus darah. Ia menggenggam pedangnya dengan tangan kanannya dan menebas siapapun dihadapannya. Ia membunuh semua yang mendekatinya tanpa pandang bulu. Ia kehilangan kesadarannya sepenuhnya. Kini dirinya tanpa kendali. Mayat yang berserakan semakin banyak. Darah sampai dimana mana.
"Jing Xuan..." gumam Lin Zi berusaha berdiri.
"Apa yang akan kau lakukan? Jangan mendekatinya!" ucap Yuan menyadari Lin Zi yang mulai melangkah.
"Jing Xuan.." panggil Lin Zi berusaha menghampiri Xuan yang masih bertarung.
"Zi'er berhenti! Jangan mendekatinya, berbahaya!!"
Yuan berusaha menghentikannya tapi banyaknya prajurit yang menyerangnya membuatnya tak bisa menghalangi Lin Zi untuk mendekati Xuan.
JLEBBB
Pedang Xuan menembus perut Lin Zi. Mulut Lin Zi menganga merasakan sakit yang teramat sangat. Nafasnya seolah berhenti di tenggorokan. Dahinya mengernyit dan beberapa tetes darah keluar dari mulutnya.
"Zi'er !!!" teriak Yuan terkejut melihat Xuan menusuk Lin Zi.
Tangan kiri Lin Zi berpegang dengan mencengkeram kuat lengan Xuan dan tangan kanannya berusaha menyentuh pipi pria dihadapannya.
"Jing... Xuan... ini... aku... Lin.. Zi.." ucap Lin Zi terputus putus karena rasa sakitnya.
Xuan tidak menjawabnya. Ia tak berubah sedikitpun. Tatapan matanya sangat menakutkan.
"Aku... Zi'er... aku.. adalah... Zi'er..mu"
Zi'er .... (suara hati Xuan)
Perlahan ingatannya bersama Lin Zi memasuki benaknya. Satu per satu kenangan indah, satu persatu kesedihan, semua tergambar jelas di ingatannya. Perlahan rambutnya kembali menjadi hitam. Matanya kembali normal. Kuku dan taringnya kembali seperti semula. Namun auranya tetap sama.
"Zi'er..." gumam Xuan bergetar melihat gadis yang paling dicintainya dalam kondisi sekarat.
Airmata Xuan menetes. Ia sangat ketakutan.
"Benar... aku..." kata kata Lin Zi terputus.
Mulutnya menganga berusaha untuk bernafas. Cengkeramannya pada lengan Xuan jadi semakit kuat seolah rasa sakitnya telah memuncak. Lin Zi mulai terjatuh dan Xuan segera menangkapnya dipangkuannya.
Lin Zi menatap kosong kearah wajah Xuan yang tengah menunduk. Perlahan tubuhnya menjadi lemas dan matanya mulai terpejam.
"Ti...tidak... Zi'er... bangunlah! Zi'er.." ucap Xuan mengoyak tubuh Lin Zi yang lemas.
"Zi'er !!!!" teriak Xuan dengan keras sembari memeluk erat tubuh Lin Zi.
Seketika itu sebuah gelombang berkekuatan dahsyat menyapu seluruh orang kecuali Yuan. Yuan berdiri melihat Xuan yang menangis tersedu meratapi kepergian Lin Zi. Tak terasa air mata Yuan juga mengalir. Pedang yang dipegangnya terjatuh.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Xuan berhenti menangis. Ia mencabut pedang yang masih menancap diperut Lin Zi dan melemparnya. Ia mengangkat tubuh Lin Zi dan membawanya pergi meninggalkan Yuan yang menangis sambil menatap kepergian Xuan.
"Bisakah kau melupakan dendammu dan memulai dari awal lagi?" (ingatan Yuan ketika berbicara dengan Lin Zi)
Andai saja saat itu aku berusaha untuk memulainya kembali.. Mungkin aku tidak harus kehilanganmu.. Jika aku tidak egois untuk tetap memilikimu, kurasa juga kekacauan ini tak perlu terjadi.
Pikiran Yuan diselimuti oleh khayalan dimana mereka bisa hidup layaknya saudara. Makan bersama, minum bersama, bercanda bersama. Kemudian Lin Zi datang dan tersenyum pada mereka, saat itu mereka semua menyambutnya dengan hangat dan tersenyum. Lin Zi duduk disamping Xuan dan ikut bersenda gurau. Tertawa bersama, bahagia bersama. Namun kenyataannya semua itu hanya khayalan.
***
Kini Xuan telah berada didepan semuah gundukkan tanah. Ia meletakkan beberapa tangkai bunga krisan putih diatasnya dan menyiramkan segelas arak yang dipegangnya.
Waktu terus dan terus berlalu. Adat dan zaman terus berubah namun tidak dengan Xuan. Waktunya seolah terhenti ketika kematian Lin Zi saat itu. Ia hidup sendirian, kesana kemari tanpa tujuan. Hanya berjalan dan terus berjalan hingga ia menemukan apa yang ia cari.
***
Suasana tiba tiba menjadi hamparan putih yang kosong. Lin Zi terlihat tengah berdiri ditengahnya. Ia melihat kesekelilingnya, hanya putih, tak ada apapun. Sebuah cahanya sangat menyilaukannya dan ia menutup kedua matanya. Dan ketika cahaya itu menghilang ia kembali membuka matanya. Ia melihat suasana yang tak asing baginya. Kejadian saat kecelakaannya bersama kedua orang tuanya. Ia melihat seorang pria yang sangat dikenalinya berdiri disisi jalan. Pria itu mengulurkan tangannya dan seketika itu tubuh Lin Zi seolah mendapat perlindungan hingga Lin Zi tidak mendapatkan cidera apapun dalam kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya itu. Lalu cahaya terang kembali muncul dan ia melihat kejadian ketika ia merasa frustasi karena kehilangan orang tuanya. Gadis kecil itu berusaha bunuh diri dengan melompat dari atas gedung rumah sakit. Namun waktu seolah berhenti dan ia tiba tiba sudah berada dibawah tanpa luka sedikitpun. Cahaya putih kembali muncul dan ia melihat kembali kejadian saat SMP kelas 3, ia menyelamatkan Ming Yue dari tabrakan mobil yang melaju kencang. Saat itu harusnya tubuh Lin Zi sudah terpelanting karena tertabrak mobil. Namun anehnya ia berada dipinggir jalan tanpa lecet sedikitpun.
Lin Zi berusaha mendekati pria yang dilihatnya disetiap kejadian itu. Pria itu membalikkan tubuhnya dan Lin Zi kini melihatnya. Keadaan disekelilingnya berubah kembali menjadi hamparan putih kosong. Hanya ada Lin Zi dan pria itu yang saling berhadapan.
Wajah yang sangat familiar baginya. Kedua matanya terbelalak melihat wajah itu. Ia mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah itu. Namun pria itu menghilang seperti debu yang terbang ke langit.
Kau hidup selama ini hanya untuk melindungiku sampai jiwamu hancur menjadi abu.. Ternyata orang yang selalu kulihat bayang punggungnya itu adalah kau Jing Xuan!
Lin Zi membuka kedua matanya menatap langit langit. Ia mengedipkan matanya berkali kali. Putih...
"Lin Zi, kau sudah sadar? Aku akan segera memanggil dokter!" ucap seorang gadis.
Lin Zi pun memandang gadis yang kini telah membuka pintu dan keluar. Ia melihat kesekeliling, suasana ini..
Tak lama kemudian dokter masuk dan memeriksanya. Dokter itu tersenyum diikuti oleh gadis disampingnya.
"Dokter, Lin Zi sudah tidak apa apa kan?" tanya gadis itu.
"Hanya perlu istirahat beberapa hari dan dia sudah boleh pulang" dokter itu tersenyum kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
"Syukurlah... Lin Zi aku sangat merindukanmu" ucap gadis itu seraya memeluk tubuh Lin Zi yang masih terbaring.
"Ming Yue... apa yang terjadi?" tanya Lin Zi membuat Ming Yue melepaskan pelukannya.
"Kau tidak ingat? Kau ditemukan pingsan di pinggir jalan dan warga sekitar membawamu kerumah sakit"
"Pingsan?" gumam Lin Zi seraya berusaha untuk duduk.
Ming Yue terlihat sibuk melakukan sesuatu dimeja. Ia membuka laci dan menyalakan korek api.
"Lin Zi... selamat ulang tahun!" ucap Ming Yue menyodorkan kue dengan lilin yang telah menyala.
Ulang tahun?
Ulang tahunnya tanggal 4 april dan Lin Zi melihat lilin yang berbentuk angka 18 di kuenya. Itu berarti sejak kejadian saat itu, Lin Zi sudah tidak sadarkan diri selama 7 hari.
"Lin Zi!" panggil Ming Yue membubarkan lamunan Lin Zi.
__ADS_1
"Tanganku sudah lelah, cepatlah tiup lilinnya" ucap Ming Yue dengan manja.
Lin Zi pun meniup lilin itu dan Ming Yue kembali meletakkan kue itu di meja yang ada disamping ranjang Lin Zi.
"Lin Zi, disekolah kita ada murid pindahan! Diaaa sangat tampan sekali🤤🤤" ucap Ming Yue seraya duduk ditepi ranjang Lin Zi.
"Murid pindahan? Di akhir semester?"
"Memangnya kenapa? Lagipula kita masih kelas 2 SMA kan? Kudengar ayahnya jatuh sakit, jadi dia pindah sekolah sekalian membantu ayahnya mengurus bisnis"
Lin Zi mengangguk anggukkan kepalanya mendengarkan cerita Ming Yue.
"Kudengar ayahnya adalah konglomerat" tambah Ming Yue dengan berbisik.
"Jadi kenapa? Kau menyukainya?" ucap Lin Zi menggoda sahabatnya.
"Tentu saja aku suka! Wajahnya tampan, dia juga kaya raya.. Tapi kudengar dia seorang playboy.."
Na na na na (nada dering ponsel, lagu exo-love shot)
Ming Yue mencari ponselnya di tas dan segera mengangkat telfon masuk itu.
"Halo?" ucap Ming Yue membuka percakapan. Ia terdiam sementara orang diseberang telpon sedang berbicara.
"Baiklah aku akan segera pulang" ucap Ming Yue mengakhiri percakapan di telepon.
"Lin Zi.. maaf aku harus segera pulang" ucap Ming Yue bergegas mengemasi tasnya.
"Oh iya, untuk biaya rumah sakit, ayahku sudah membayarnya!" tambah Ming Yue yang telah membuka pintu.
Kini Lin Zi kembali sendirian. Pikirannya berputar mengingat apa yang telah ia alami.
Apakah hanya mimpi? Tapi kenapa terasa sangat nyata? Jika hanya pingsan kenapa sampai 7 hari? Mungkinkah itu dunia paralel? Atau mungkinkah itu kehidupanku sebelumnya?
Pertanyaan pertanyaan itu terus menyelimuti pikirannya. Ia menghembuskan nafas panjang dan kembali membaringkan tubuhnya.
"Ahh!" teriak Lin Zi merasakan ada sesuatu yang menusuk perutnya.
Ada sesuatu yang mengganjal disana. Lin Zi pun memasukkan tangannya mencari tau benda apa yang menusuknya.
"I...ini" gumam Lin Zi memandangi benda yang kini ada di tangan kanannya.
Kenapa tusuk rambut ini ada padaku? Itu..... bukan mimpi!
***
Lin Zi berjalan di koridor sekolah. Meskipun masih pukul setengah 6 pagi tapi sekolah terlihat sudah ramai. Ia berjalan melewati setiap kelas sambil memandangi sekelilingnya. Tak ada yang berubah. Sepertinya kehidupannya telah kembali normal.
Bruukkkk
Lin Zi menabrak seseorang didepannya, hingga ia terpental 2 langkah kebelakang. Ia mengusap usap kepalanya yang menubruk dada bidang seorang pria.
"Lihat jalanmu!" ucap pria itu dengan ketus.
"Maaf maaf, aku tidak senga..." kata kata Lin Zi terputus ketika melihat wajah pria dihadapannya. Seorang pria yang mengenakan seragam yang sama dengannya. Wajahnya terlihat sangat tampan dengan model rambut ala boyband korea.
__ADS_1
"Jing Xuan!" panggil Lin Zi pada pria dihadapannya.
TAMAT