Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 23 "KEGUGURAN"


__ADS_3


"Yang Mulia, haruskah hamba memanggil tabib istana?" tanya Ruyu melihat Lin Zi yang baru muntah muntah.


"Tidak perlu. Bukankah sudah biasa seperti ini?" gumam Lin Zi memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Yang Mulia, Pangeran Xiu sudah menunggu didepan" ucap Xing Nan yang baru masuk.


"Biarkan dia masuk"


Xiu pun melangkahkan kakinya memasuki kediaman Permaisuri.


"Ruyu, cepat siapkan teh untuk Pangeran Xiu"


"Tidak perlu" sahut Xiu segera menghentikan Ruyu yang hampir pergi.


"Aku hanya datang untuk mengantarkan pesanan Permaisuri. Tapi.. wajahmu terlihat pucat" ucap Xiu yang sejak tadi mengamati.


"Beberapa hari ini pencernaanku memang sedang tidak baik. Bukankah itu wajar saat awal kehamilan?"


"Kalau begitu izinkan aku memeriksanya"


Lin Zi pun mengulurkan tangan kirinya dan Xiu memeriksa nadinya. Namun wajahnya terlihat sedang terkejut dan beberapa kali ia meraba nadi Lin Zi.


"Jing Xiu, apakah ada yang salah?" tanya Lin Zi memperhatikan Xiu.


"Jing Xiu!" panggil Lin Zi yang tak mendapat jawaban.


"Aku tidak bisa merasakan nadi janinmu lagi. Janinmu... kurasa..sudah mati.." gumam Xiu membuat Lin Zi syok.


"Tidak....mungkin...." ucap Lin Zi tak percaya.


"Kau pasti salah! Aku tidak pernah terjatuh. Aku makan makanan yang bergizi. Aku sangat menjaga kandunganku selama ini..kenapa......."


Bagaimanapun ini merupakan pukulan terberat baginya. Ia bahkan belum sempat memberitahu Jing Xuan tentang kehamilannya dan sekarang ia harus kehilangannya dan menanggungnya seorang diri. Air matanya mulai menetes.


"Tinggalkan aku sendiri. Dan juga tentang hal ini aku tidak ingin siapapun mengetahuinya" ucap Lin Zi dengan suara parau.


"Permaisuri..." gumam Xiu mengkhawatirkan kondisi Lin Zi.


"KELUAR !!!" teriak Lin Zi.


Kini Lin Zi berada di ruangan besar itu sendirian. Kakinya tak lagi sanggup menopangnya hingga ia terjatuh di lantai. Air matanya menetes semakin deras. Kedua tangannya menutup mulutnya dengan rapat agar suara tangisannya tidak sampai terdengar. Ia menangis sejadi jadinya. Ia menjerit, mengerang, mengeluarkan seluruh kesedihannya. Ia bahkan tidak tau kenapa ia harus mengalami hal ini. Ia tidak pernah berbuat jahat pada siapapun tapi setiap luka seperti menghujani dirinya. Yang jelas, ia tak akan pernah rela.


Malam telah larut, Ruyu memberanikan diri untuk memasuki ruangan sambil membawakan makanan karena sejak kejadian siang tadi, Lin Zi tidak makan apapun. Tapi ruangan itu gelap. Tak ada satupun lilin yang dinyalakan.


"Yang Mulia Permaisuri?" panggil Ruyu seraya menelisik kegelapan.


Ruyu meletakkan nampannya di meja dan segera menyalakan lilin satu per satu.


Ruangan sudah terang dan Ruyu sudah bisa melihat dengan jelas. Namun ia tidak melihat siapapun diruangan itu. Ruyu pun segera berlari keluar namun langkahnya terhenti ketika ia tidak sadar telah menabrak seseorang didwpan pintu.


"Yang Mulia Kaisar mohon maafkan hamba, hamba tidak sengaja" ucap Ruyu segera bersujud.


 

__ADS_1


"Berdirilah"


Ruyu pun berdiri dengan kepala yang menunduk. Namun wajah paniknya tak bisa disembunyikan.


"Ada apa?" tanya Xuan.


"Per... Permaisuri tidak ada dikediaman Yang Mulia. Saat hamba masuk ruangannya sangat gelap dan saat hamba menyalakan lilin, Permaisuri sudah tidak ada" jelas Ruyu.


Xuan pun segera memerintahkan pelayannya untuk mencari keberadaan Lin Zi.


"Apa yang Permaisuri lakukan disini tengah malam begini?" ucap seorang pria menghampiri Lin Zi yang tengah berdiri di jembatan kolam teratai.


"Jing Xuan..." gumam Lin Zi melihat kearah suara itu.


Xuan pun berjalan dan mendekap Lin Zi dari belakang, ia memejamkan matanya merasakan kehangatan.


"Aku mencarimu kemana mana" gumam Xuan yang masih tak melepaskan dekapannya.


"Aku hanya mencari udara segar. Sangat sesak berada di ruangan sepanjang hari" ucap Lin Zi dengan suara agak parau.


"Begitukah? Haruskah aku menambahkan banyak jendela di kediamanmu?" canda Xuan seraya menumpangkan dagunya di pundak kanan Lin Zi.


Lin Zi pun tersenyum dan melepaskan dekapan Xuan agar ia bisa berhadapan dengan pria berparas tampan itu.


"Haruskah? Kurasa paviliunku akan penuh dengan jendela.." ucap Lin Zi dengan tersenyum membalas candaan Xuan.


"Benar" ucap Xuan tertawa kecil.


Tawanya terhenti ketika melihat Lin Zi melipat kedua tangannya dan mengusap lengannya untuk sedikit menghangatkan.


"Aku akan kembali jika ada yang menggendongku" canda Lin Zi.


Xuan pun tersenyum. Ia membalikkan tubuhnya dan mulai berjongkok. Lin Zi terdiam hingga Xuan menatap kearahnya. Perlahan Lin Zi merendahkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya pada bahu pria maskulin itu. Xuan pun berdiri dan memegangi kedua kaki Lin Zi yang ada di pinggulnya.


"Sepertinya kau semakin ringan. Apakah makanannya tidak cocok dengan seleramu?" tanya Xuan ketika mulai berjalan.


Lin Zi tidak menjawab pertanyaan itu. Tangannya semakin erat mendekap pria yang menggendongnya. Setiap tetes airmatanya membasahi bahu kiri Xuan. Meskipun Lin Zi berusaha menangis tanpa suara, tapi Xuan juga bukan pria yang tak berperasaan. Ia hanya diam sepanjang perjalanan menuju Paviliun Nu Huang.


Bagaimanapun juga, saat ini Lin Zi merasa hanya Xuan lah tempat ia bersandar. Apalagi disaat seperti ini, hanya Xuan yang memberinya kekuatan untuk kembali tegar.


Sejak pernikahan Lin Zi, Yuan juga sudah tidak pernah bertemu dengannya. Kabarnya Yuan tinggal diluar istana untuk mencari kehidupan yang tenang. Namun sesekali ia menyelinap ke istana saat malam hari, hanya sekedar melihat Lin Zi yang tertidur pulas. Setidaknya hal kecil itu bisa mengobati kerinduannya.


Sesampainya di kamar Lin Zi, Lin Zi telah tertidur digendongan Xuan. Xuan menurunkannya pelan pelan ke tempat tidur dan menyelimutinya. Ia memandanginya sesaat sebelum keluar.


"Apa yang terjadi pada Permaisuri?" tanya Xuan pada seorang pelayan yang baru saja menghampirinya dihalaman paviliun Nu Huang.


"Ini...." gumam Ruyu ragu ragu mengatakan kebenaran.


"Ada apa?" ulang Xuan.


"Permaisuri melarang hamba untuk memberitahu siapapun. Mohon ampuni hamba Yang Mulia"


"Jika kau tidak mengatakannya, aku juga tidak akan tau cara membantu Permaisuri"


"Sebenarnya Permaisuri telah mengandung.. tapi tadi siang saat diperiksa oleh Pangeran Xiu... katanya janinnya sudah tidak bernyawa"

__ADS_1


"Kenapa tidak memberitahuku?" sahut Xuan dengan terkejut.


"Permaisuri memerintahkan untuk merahasiakannya. Katanya ingin memberikan kejutan untuk Yang Mulia Kaisar" jawab Ru Yu yang gemetar ketakutan.


Xuan terdiam. Ia mengingat ketika Lin Zi beberapa kali ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi sampai akhirnya sekarang keguguran dan memendam kesedihannya sendiri.


"Bagaimana dia bisa keguguran?"


"Hamba juga tidak tau Yang Mulia. Tabib yang memeriksa kehamilannya tempo hari telah dibunuh. Dan akhir akhir ini Permaisuri mengalami gangguan pencernaan dan sakit perut. Terkadang urinnya juga tercampur darah"


Xuan kembali terdiam. Dalam otaknya telah memikirkan satu tersangka. Namun karena Lin Zi tidak mengatakan apapun padanya, ia juga berusaha untuk tidak memperpanjangnya. Ia akan tetap pura pura tidak tau agar tidak membuka luka Lin Zi kembali. Sebaliknya sebagai seorang suami, ia akan menghibur istrinya.


Keesokan paginya istana terlihat ramai yang membincangkan tentang festival Qi Xi. Banyak pria dan wanita yang akan meramaikan Festival Qi Xi yang merupakan hari valentine. Banyak gadis yang berdoa agar mendapat suami yang setia, baik dan mencintainya. Biasanya dijalanan akan ramai, banyak pedagang yang menjual pernak pernik romantis, juga akan ada acara menerbangkan lentera bersama pasangan.


"Yang Mulia, apakah anda nanti akan pergi merayakan festival Qi Xi bersama Yang Mulia Kaisar?" goda Ruyu pada gadis yang tengah merangkai bunga di vas.


"Jangan bercanda... Yang Mulia Kaisar mana boleh meninggalkan istana kalau tidak ada urusan penting" ucap Lin Zi yang masih sibuk menggabungkan bunga agar terlihat cantik.


"Siapa bilang tidak boleh?" sebuah suara pria membuat Lin Zi segera menoleh. Ruyu pun segera memberi hormat pada kedatangan pria itu.


"Bulan madu bersama Permaisuriku, bukankah itu juga urusan yang penting?" tambahnya lagi.


"Kau selalu datang tiba tiba, seperti hantu saja" ucap Lin Zi yang melanjutkan menata bunga.


Xuan pun tersenyum dan merangkul Lin Zi dari belakang.


"Kalau begitu aku akan menghantuimu seumur hidup bagaimana?" rayu Xuan membuat Lin Zi tersipu malu karena Ruyu masih ada disana.


Lin Zi melepas pelukan Xuan dan berbalik menghadapnya.


"Gombal.." ucap Lin Zi sambil tertawa kecil bersama Xuan.


"Jadi Permaisuriku mau pergi atau tidak?"


"Tapi... apakah aku boleh meninggalkan istana?" tanya Lin Zi ragu.


"Bukankah kita bisa pergi diam diam?"


"Baiklah"


Matahari hampir terbenam. Xuan segera menyelesaikan tugasnya dan menyiapkan seekor kuda untuk ditungganginya bersama Lin Zi. Xuan telah menunggu dengan mengenakan hanfu biasa tanpa jubah kaisarnya. Tak lama kemudian Lin Zi datang. Mereka pun bergegas pergi.


Sementara itu di paviliun Wangmu terlihat Ibu Suri yang tengah berbincang dengan Liu Ying.


"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk segera mendapat kasih sayang Kaisar? Kenapa Kaisar malah keluar dengan perempuan itu?!" ucap Ibu Suri marah marah.


"Mendapat hati Kaisar tidaklah mudah. Dan juga sejak para selir masuk istana, Kaisar juga tidak pernah memanggil ataupun mengunjungi kami"


"Tentang itu aku akan mengurusnya. Sebaiknya kali ini kau benar benar berusaha" ucap Ibu Suri memperingatkan.


Suasana pasar sangat ramai. Banyak yang berpasang pasangan tapi banyak juga yang sendirian berlalu lalang. Xuan telah mengikat kudanya di tiang kayu sebelum memasuki pasar. Kini ia berjalan pelan memasuki pasar semakin dalam. Disisi kiri dan kanan jalan banyak pedagang yang menjajakan dagangannya.


"Zi'er, aku mau ke toilet sebentar. Kau tunggu disini jangan kemana mana" ucap Xuan.


Setelah melihat Lin Zi mengangguk, Xuan segera pergi. Lin Zi memandangi kerumunan pasar. Diantara kerumunan orang berlalu lalang, ia melihat seorang pria yang ia kenal tengah berdiri beberapa langkah dihadapannya. Mereka saling menatap diantara keramaian.

__ADS_1


●●●~~●●●


__ADS_2