
Malam telah berlalu. Waktu telah menunjukkan sekitar pukul 9 pagi. Di depan aula pertemuan terlihat Xuan tengah mendhadapi para utusan dari kerajaan Wu Xian.
"Putra Mahkota, urusan kami disini telah selesai, kami akan pamit" ucap seorang wanita mewakili bicara.
"Kenapa begitu terburu buru? Aku masih berhutang 2 permintaan padamu karena semalam tidak jadi makan bersamamu.." ucap Xuan basa basi.
"Permintaan pertamaku sudah terpenuhi meskipun yang kubawa bukanlah harimau jelmaan hewan roh tapi terhitung telah terkabul. Permintaan keduaku, akulah yang membatalkannya jadi aku akan menganggapnya hangus. Lalu... permintaan ketigaku..." Wu Liang terdiam sejenak.
"Aku ingin Putra Mahkota mengantarku sampai perbatasan, apakah keberatan?" sambung Wu Liang kemudian.
"Tentu saja tidak. Aku dengan senang hati akan mengantar Putri sampai ke perbatasan" jawab Xuan yang tak mau terlilit hutang.
Xuan pun segera menyiapkan kudanya dan pergi mengantar Wu Liang bersama beberapa pengawal kepercayaannya.
Sementara itu, Lin Zi baru terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sedikit pusing dan ia tidak ingat apa yang terjadi semalam. Ia hanya ingat sampai saat Yuan memapahnya meninggalkan kolam teratai.
"Nao Yu.." panggil Lin Zi yang tidak melihat Nao Yu di sisinya.
Lin Zi pun turun dari tempat tidurnya mencari Nao Yu disetiap sudut kamarnya namun ia tidak menemukannya.
Nao Yu kemana ya? Ahh kepalaku pusing sekali, sebebarnya apa yang terjadi semalam?
Lin Zi pun membuka pintu paviliunnya yang tertutup, sinar matahari membuat matanya silau.
"Nona.. nona... gawat gawat.." ucap seorang pelayan berlari menghampirinya.
"Nao Yu, kau darimana saja?" tanya Lin Zi pada gadis yang dicarinya sejak tadi.
"Aku dari halaman istana, sudahlah itu tidak penting... anuu Putra Mahkota... Putra Mahkota pergi bersama Putri Wu Liang..." ucap Nao Yu terbata karena nafasnya yang terengah.
"******** tengik!" gumam Lin Zi merasa kesal karena sudah tidak bertemu Xuan sejak pulang berburu dan sekarang Xuan malah pergi bersama wanita lain.
Lin Zi pun tidak bisa berbuat apa apa, hanya bisa menunggu sambil marah marah.
__ADS_1
Hari sudah mulai gelap, tapi Xuan tak kunjung kembali. Lin Zi mondar mandir di kamarnya menunggu kedatangan Xuan dengan resah.
"Nona! Putra Mahkota sudah tiba!" ucap Nao Yu dengan keras setelah melihat Xuan dari kejauhan.
Lin Zi pun bergegas pergi menuju kediaman Xuan. Namun pengawal Xuan melarang Lin Zi untuk masuk dengan alasan bahwa Putra Mahkota sangat kelelahan dan tidak ingin diganggu. Lin Zi pun berteriak memanggil Xuan tapi tidak mendapat jawaban apapun. Akhirnya dengan langkah gontai ia kembali ke paviliunnya, kali ini ia harus menelan kekecewaan lagi.
Malam semakin larut, namun lampu di paviliun Yue masih belum padam. Lin Zi masih terjaga sendirian, sementara Nao Yu telah pulas di kamar khusus pelayan.
Tok tok tok
Lin Zi mendengar suara pintunya diketuk, tapi siapa yang datang tengah malam begini? Ia pun membukanya dengan ragu ragu.
"Ehh bukankah kau pengawal pribadi Jing Xuan?" ucap Lin Zi mengenali tamu yang kini tengah memberi hormat padanya.
"Hamba diperintahkan Putra Mahkota untuk menjemput anda" ucap Hao Yi tanpa basa basi.
"Tengah malam begini?" tanya Lin Zi sedikit ragu.
"Benar!"
Mereka pun telah sampai. Lin Zi telah melihat seorang pria yang menunggunya, Hao Yi pun meninggalkannya.
Lin Zi berjalan mendekati pria itu.
"Jing Xuan, apa yang kau lakukan disini tengah malam begini?" tanya Lin Zi heran.
"Aku ada hadiah yang ingin kuberikan padamu.." gumam Xuan seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam lengan bajunya.
Lin Zi pun menerima pemberian Xuan. Ia membuka lipatan benda itu.
"Lentera?" gumam Lin Zi setelah mengetahui pemberian Xuan adalah sebuah lentera.
"Kau pernah mengatakan bahwa kau sangat menyukai lentera. Saat aku pergi tadi, aku melihatnya di pasar jadi aku membelinya untukmu" jelas Xuan.
"Saat kau pergi? Benar, aku masih belum memberi perhitungan untukmu! Jing Xuan, kau sudah berani meninggalkanku dan pergi dengan wanita lain?!" Lin Zi mengangkat lengan bajunya sambil marah marah hendak memukuli Xuan.
__ADS_1
Namun ia terhenti ketika melihat banyak lentera yang tengah melayang ke langit. Lin Zi tertegun melihatnya dan lengan bajunya turun dengan sendirinya.
"Jing Xuan... kau yang sudah menyiapkan ini semua?" gumam Lin Zi yang terpaku memandangi lentera yang melayang.
Xuan pun memungut lentera yang tadi Lin Zi jatuhkan karena marah marah. Ia kembali memberikannya pada Lin Zi, dan Lin Zi baru sadar di lentera itu ada sebuah tulisan.
Bersama sampai mati dan tidak saling mengecewakan.
Lin Zi sangat terharu membaca tulisan itu. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan kehangatan Xuan, dan melihat Xuan bersikap seperti sekarang ini sungguh telah meluluhkan hatinya. Mereka pun menyalakan lentera itu dan menerbangkannya ke langit.
"Zi'er.. maukah kau menikah denganku?" ucap Xuan membuat Lin Zi memandangnya seketika.
"Kali ini aku berjanji akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi.."
Kata kata Xuan terputus karena Lin Zi segera memeluknya dengan erat.
"Aku mau" jawab Lin Zi terharu sambil memeluk Xuan dengan erat.
Xuan pun membalas pelukan Lin Zi, namun sesaat kemudian Xuan mendorong tubuh Lin Zi melepaskan pelukannya.
"Tapi sebelum itu, ada hal yang ingin kuceritakan padamu.." ucap Xuan kemudian.
"Katakanlah, aku akan mendengarkan.." jawab Lin Zi menyetujui.
Jing Xuan pun kembali menerawang masa lalunya. Masa lalu yang tidak diketahui siapapun. Masa lalu yang selama ini selalu dirahasiakan. Kali ini Xuan ingin mengungkapkannya pada Lin Zi karena masa lalu itu terasa seperti dinding penghalang ketika mereka bersama.
●●●~~●●●
Episode selanjutnya \=》Masa Lalu Jing Xuan
Kek mana ya masa lalunya Jing Xuan? Apa karena itu yang bikin sikapnya jadi sedingin es kepada siapapun?
Support author dengan menekan 💖 dan 👍 yaaa biar ceritanya bisa dilanjutin🙈
Terima kasih semua🤗
__ADS_1