Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 18 "AKU INGIN PERGI"


__ADS_3


Sejak kematian Nao Yu 2 hari lalu, Lin Zi menolak setiap pelayan yang ditugaskan untuk melayaninya. Ia tidak makan, tidak minum juga tidak mandi. Ia hanya duduk di kursi meja riasnya sepanjang hari, tidak beranjak sedikitpun. Sesekali tangannya menyentuh bedak, pensil alis dan juga peralatan make up lainnya. Ia memandangi dirinya dicermin.


Biasanya ada Nao Yu yang merias dan menata rambutku...


Terdengar bunyi langkah memasuki ruangannya.


"Nona, nama hamba Ruyu. Mulai hari ini, hamba ditugaskan untuk melayani anda" ucap pelayan muda itu dengan agak gemetaran.


Lin Zi tidak menoleh sedikitpun. Ia hanya melihat sosok pelayan itu melalui cermin didepannya.


"Aku tidak membutuhkan pelayan, pergilah"


Kata kata itu sontak membuat Ruyu segera berlutut.


"Nona tolong jangan menolak hamba.. hamba tidak mau mati.. hamba masih memiliki orang tua dan adik yang harus hamba beri makan, hamba mohon nonaa...." ucap gadis itu memohon sambil menangis.


"Mati?" tanya Lin Zi tidak mengerti maksud perkataan gadis berumur 16 tahun itu.


"Sebelumnya anda sudah menolak 3 orang pelayan, saat mereka kembali ke paviliun khusus pelayan... kepala dayang memerintahkan untuk membunuh mereka"


"Kenapa membunuh mereka? Apa salah mereka?" tanya Lin Zi yang kini duduk menghadap pelayan yang masih berlutut itu.


"Saat kami masuk istana, kami sudah dikontrak seumur hidup untuk setia melayani siapapun majikan kami. Jika anda menolak kami untuk melayani, itu berarti adalah hukuman mati bagi kami" jelas Ru Yu.


"Kontrak macam apa itu? Kenapa di istana ini menganggap nyawa manusia seperti seekor nyamuk?"


"Karena itu, hamba mohon jangan menolak hamba untuk melayani anda.." ucap Ruyu kemudian.


Akhirnya Lin Zi pun menerima Ruyu untuk melayaninya. Ia tidak menyangka hanya karena ia tak ingin dilayani, ia telah membunuh 3 nyawa.


Hari sudah mulai sore, Lin Zi bersama dengan Ruyu pergi menuju bukit di belakang istana. Ia pergi ke tempat dimana Yuan pernah membawanya. Ia duduk dibawah pohon besar melihat matahari yang hampir terbenam.


"ngin...gi" gumam Lin Zi lirih.


"Nona, apa yang anda katakan?" tanya Ruyu yang tidak mendengar jelas.

__ADS_1


"aku... nginn... gi" gumam Lin Zi yang masih tidak jelas. Beberapa kata menghilang karena suaranya terlalu kecil.


Aku ingin pergi....


"Pemandangan sangat indah, tapi kenapa hatiku tidak merasa senang?" gumam Lin Zi mengganti topik.


"Ternyata kau ada disini..." ucap seorang pria dari arah belakang.


"Hormat pada pangeran Yuan" ucap Ruyu memberi hormat.


"Kau...." gumam Yuan tidak mengenali pelayan itu.


"Hamba Ruyu, pelayan baru nona Xiu" ucap Ruyu memperkenalkan diri.


"Ruyu, bisakah kau memberiku waktu berbicara dengan Lin Zi berdua?"


"Baik" ucap Ruyu yang kemudian pergi kearah belakang hingga suara Yuan dan Lin Zi tak bisa didengar.


"Zi'er..." panggil Yuan pada gadis yang menatap kosong matahari terbenam.


"Jing Yuan... aku... ingin pergi..." gumam Lin Zi yang masih tak memandang lelaki yang kini duduk disampingnya.


"Sungguh? Aku bisa pergi dari sini?" tanya Lin Zi memandang wajah Yuan.


Yuan pun mengangguk. Tak lama kemudian mereka pun kembali ke kediaman masing masing. Lin Zi menyiapkan 2 pakaian yang dibungkus kain putih sebagai tas. Ia juga membawa beberapa tael emas yang ada diruangannya.


"Nona... apakah anda benar benar akan pergi? Lalu bagaimana dengan hamba?" tanya Ruyu pada gadis yang masih sibuk mencari sesuatu di laci mejanya.


"Nona, kalau begitu bawalah hamba bersama anda bagaimana? Hamba pasti tidak akan menyusahkan anda..." ucapnya lagi.


"Ruyu, pergi bersamaku mungkin akan membuatmu kesulitan..."


"Hamba tidak keberatan!" sahut Ruyu segera.


Malam semakin larut, Lin Zi dan Ruyu berjalan menuju paviliun Jin Long. Paviliun itu masih dijaga ketat dan siapapun dilarang untuk memasukinya. Terlihat permaisuri berada didepan pintu paviliun sedang berbicara dengan seorang pelayan.


"Nona, apakah anda yakin tidak mau bertemu Putra Mahkota?" tanya Ruyu berbisik.

__ADS_1


"Jika kesana, aku pasti hanya akan membuat keributan. Lagipula kondisinya akan segera pulih..." gumam Lin Zi.


Lin Zi dan Ruyu pun keluar melalui pintu samping istana. Disana sudah ada Yuan yang menunggu dengan 2 ekor kuda. Lin Zi menunggangi kuda bersama Ruyu sementara Yuan menunggangi kuda satunya. Kuda itu berlari melewati jalan kecil hutan hingga tiba di sebuah pasar dini hari. Lin Zi dan Yuan menuntun kuda mereka melewati pasar itu.


"Masih dini hari tapi kenapa pasar disini sudah sangat ramai?" tanya Lin Zi heran.


"Ini adalah desa Guang. Semakin malam akan semakin ramai dan semakin pagi akan semakin sepi. Desa ini disebut juga sebagai desa lentera karena disetiap akhir atau awal musim, warga disini selalu menerbangkan lentera" jelas Yuan.


"Lentera?" gumam Lin Zi menghentikan langkahnya.


Lin Zi teringat akan kata kata Xuan sebelumnya. Saat Xuan meminta Lin Zi untuk menikah dengannya. Harapan yang juga sebuah janji tertulis di lentera yang mereka terbangkan bersama. Hal itu membuat hati Lin Zi semakin ragu.


Musim semi akan segera berakhir. Warga desa Guang menerbangkan lentera harapan mereka. Bersinar berwarna orange di langit yang dihiasi cahaya bintang. Semua mata terpukau untuk melihat cahaya lentera dilangit.


"Jing Yuan...." panggil Lin Zi membuat Yuan menoleh kearahnya.


"Aku... akan kembali ke istana.." ucap Lin Zi membuat Yuan terkejut.


"Apa maksudmu?"


"Maafkan aku... Aku tidak bisa meninggalkan Jing Xuan.. Aku benar benar minta maaf" ucap Lin Zi kemudian membungkukkan badannya.


"Aku tau.." gumam Yuan kemudian.


Meskipun Yuan tidak mengatakannya, tapi ekspresi kecewa tergambar jelas diwajahnya.


"Suatu hari nanti, jika kau ingin pergi dari istana, katakanlah padaku. Aku selalu siap membawamu pergi" ucap Yuan.


Sebelumnya saat Yuan meminta Xiao Wan menyiapkan kuda untuknya, Xiao Wan telah bertanya padanya.


"Pangeran, anda melakukan ini apakah tidak akan menyesal nantinya?" tanya Xiao Wan pada pria yang tengah duduk dimeja baca.


"Bagaimanapun, karena anda... orang tua nona Xiu mati terbunuh. Jika nona Xiu mengetahui hal ini, aku tidak yakin dia masih bisa menerima anda" sambung Xiao Wan melihat Yuan yang masih terdiam.


"Hal ini akan aku rahasiakan sampai mati. Asal aku bisa hidup bersamanya, aku akan melakukan segalanya untuknya termasuk melupakan dendamku..." ucap Yuan memberikan jawaban.


"Tapi pangeran..."

__ADS_1


"Siapkan saja kudanya, kau jadi sangat cerewet belakangan ini" ucap Yuan memutus pembicaraan.


●●●~~●●●


__ADS_2