
"Masih terlalu awal untuk merasa senang. Apakah kau sudah menyiapkan para prajurit? Kita harus berjaga jaga jika rencana awal kita gagal"
"Aku sudah mengatur seluruh prajurit, Ibu angkat tidak perlu khawatir" ucap seorang pria yang baru memasuki ruangan rahasia.
"Kau selalu bersikap tanggap. Jangan kawatir, sebentar lagi tahta Kaisar itu akan segera menjadi milikmu Yuan'er"
"Semua berkat Ibu angkat. Aku sangat berterimakasih"
Tunggulah aku Zi'er, tidak lama lagi aku akan menggapaimu.. (suara hati Yuan)
***
"Aku tidak bisa duduk diam disini. Sudah 2 hari sejak Xuan dikurung tapi masih belum menemukan bukti apapun" ucap Lin Zi yang tidak sabaran.
"Yang Mulia, apa yang akan anda lakukan?" tanya Ruyu.
"Aku harus melakukan sesuatu"
Lin Zi pun bergegas diikuti oleh Ruyu dan ketiga temannya. Ia melangkah cepat menuju aula pertemuan. Di depan aula ia melihat banyak sarjana dan pelajar yang tengah berlutut menuntut Kaisar untuk turun tahta dan menerima hukuman. Lin Zi terpikir satu tempat dimana ia pasti akan mendapatkan bantuan. Ia bergegas untuk pergi kesana.
Tak lama kemudian, Lin Zi telah sampai dihalaman depan sebuah paviliun kecil yang usang. Perlahan ia memasuki paviliun itu.
"Sepertinya Permaisuri sangat merindukanku sampai harus datang ke paviliun pengasingan untuk menemuiku" ucap Liu Ying menyambut kedatangan Lin Zi.
"Aku tidak akan berbasa basi lagi. Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?" tawar Lin Zi.
"Kesepakatan? Sepertinya Permaisuri sudah sangat putus asa" sindir Liu Ying.
"Baiklah, karena aku sudah tau kondisi istana saat ini, aku juga tidak akan berbasa basi lagi. Aku bisa meminta ayahku untuk membantu Kaisar. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kau berlutut dan memohon padaku. Dan juga aku ingin kau segera meninggalkan posisi Permaisuri, bagaimana?" sambung Liu Ying memberi penawaran.
"Lancang! Bagaimana bisa seorang selir meminta Permaisuri untuk berlutut" ucap Ruyu spontan.
Lin Zi mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Ruyu tidak ikut campur.
"Apakah kau bisa menjamin bahwa masalah ini akan segera berakhir dan Kaisar akan kembali ke tahtanya?"
"Tentu saja"
Lin Zi terdiam sesaat untuk berpikir dan mengambil keputusan. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk Jing Xuan. Asal Xuan bisa tetap hidup, ia tidak keberatan untuk menanggung apapun.
"Yang Mulia.. anda tidak boleh melakukannya.. itu akan merendahkan harga diri anda..." ucap Ruyu berusaha mengubah pikiran Lin Zi.
Untuk saat ini, hanya ini yang bisa kulakukan. Baik sekarang ataupun nanti, takdir ini tetap akan terjadi.
Lin Zi merendahkan tubuhnya hingga lututnya menyentuh lantai. Kedua tangannya disatukan didepan. Keempat pelayan Lin Zi mengikuti gerakannya sambil menangis.
"Aku memohon pada Selir Wei untuk membantu Kaisar mengatasi masalah ini"
Lin Zi mulai membungkukkan badannya. Pelayannya menangis tersedu sambil memanggil manggil namanya. Namun Lin Zi tetap melakukannya. Ia bangun lalu membungkuk lagi, bangun dan membungkuk lagi. Liu Ying sangat terkejut, ia tak menyangka Lin Zi akan melakukannya.
Dulu kau melepaskanku demi tahtamu, maka sekarang juga tidak akan ada bedanya. Aku tidak peduli kau masih seorang Kaisar atau bukan, aku hanya ingin kau tetap hidup. Sekalipun tidak bersamaku, sekalipun aku hanya bisa merindukan dan memandang dari kejauhan. Aku ingin melihatmu tersenyum lagi seperti saat itu...
***
Lin Zi telah berada di kediamannya. Kini ia tengah duduk di meja riasnya. Ia memandangi dirinya di cermin kemudian membuka laci nomor 2. Ia mengambil sebuah belati usang yang tak pernah disentuhnya selama beberapa tahun ini.
__ADS_1
"Ruyu, bisakah kau membantuku?" tanya Lin Zi pada gadis dibelakangnya sembari memandangi belati di genggamannya.
"Kali ini apa yang akan anda lakukan Yang Mulia?" tanya Ruyu kembali.
"Tolong berikan belati ini pada Pangeran Yuan" ucap Lin Zi mengulurkan belati itu.
"Hanya ini saja? Tidak ada pesan ataupun surat?" tanya Ruyu sembari mengambil belati itu.
"Tidak ada. Berikan saja padanya, dia akan mengerti"
"Baik Yang Mulia"
Benarkah ini adalah akhir bagi kita? Setelah ini, bagaimana kita bisa bertemu lagi? Aku bahkan tidak berharap untuk kembali ke duniaku. Setelah apa yang kulalui disini, aku tidak akan sanggup untuk kembali.
Malamnya, setelah Yuan menerima belati itu, ia bergegas menaiki kudanya menuju istana. Saat itu Lin Zi tengah bersiap mengemasi beberapa baju untuk dibawanya. Dibelakangnya ada 4 orang pelayan yang berlutut memohon padanya untuk tidak pergi.
"Yang Mulia, jika memang anda harus pergi.. hamba mohon bawalah kami bersama anda" ucap Ruyu dengan menangis.
"Benar Yang Mulia, bawalah kami" tambah Xing Nan.
"Aku tidak akan bisa menggaji kalian. Setelah ini aku bukanlah Permaisuri lagi. Aku hanya seorang gadis biasa" ucap Lin Zi yang masih sibuk melipat bajunya.
"Tidak masalah jika tidak membayar kami, cukup memberi kami makan dan tinggal saja. Kami mohon Yang Mulia..." ucap Yi Wei.
"Aku juga tidak tau apakah aku bisa makan dan memiliki tempat tinggal. Jangan menyusahkan diri kalian untuk tetap mengikutiku"
Aku mungkin juga akan menghilang..
"Lalu bagaimana kami harus menjalani hidup di istana ini? Kami tidak pernah memiliki majikan sebaik anda, jika anda pergi...." Ruyu terus meminta.
Lin Zi mengeluarkan empat lembar kertas yang dilipat dari lengan bajunya.
"Aku sudah menyiapkan ini untuk kalian. Ini akan menjadi kuasa terakhirku sebagai Permaisuri" ucap Lin Zi memberikan kertas itu pada keempat pelayannya.
Mereka pun membuka lipatan kertas itu.
"Yang Mulia, ini adalah....." gumam Ruyu membaca tulisan di kertas yang menjelaskan bahwa dirinya dibebas tugaskan.
"Mulai sekarang, kalian bisa melanjutkan hidup kalian dengan bebas. Kalian tidak perlu disiksa ataupun tidak tidur semalaman lagi"
"Yang Muliaaaaaa" gumam keempat pelayan Lin Zi bersamaan.
Saat dini hari, Lin Zi berjalan meninggalkan paviliunnya tanpa diketahui siapapun. Keempat pelayannya tertidur dilantai karena menemaninya semalaman. Tak lama kemudian ia telah berada didepan pintu samping istana. Ia bersiap menaiki kuda berwarna coklat gelap dan seseorang menghampirinya dengan menunggang kuda dari arah berlawanan.
"Zi'er.. kali ini apakah kau benar benar yakin? tanya pemuda itu seketika sampai di hadapan Lin Zi.
"Kita harus bergegas" ucap Lin Zi yang kemudian membuat kudanya berlari kencang.
Yuan pun mengikutinya dibelakang. Kuda itu terus berlari hingga pagi hari.
Sementara itu, Xuan yang baru dibebaskan segera pergi menuju paviliun Nu Huang untuk memberitahukan bahwa masalah telah selesai jadi Lin Zi tidak perlu kawatir lagi. Ia berjalan dengan tergesa gesa, dan sesampainya disana ia segera membuka pintu yang masih tertutup itu dengan tangannya sendiri. Ia mencari disetiap sudut ruangan, namun ruangan itu telah kosong. Ia menemukan sebuah tusuk rambut dan sepucuk surat yang Lin Zi tinggalkan diatas bantalnya.
Jing Xuan.. maaf aku harus melakukan hal ini. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membuatmu tetap hidup. Suatu saat nanti kita mungkin akan bertemu lagi. Entah kau yang menemukanku, atau aku yang menemukanmu.
Jing Xuan benar benar tak bisa berkata kata lagi. Lalu seorang pelayan memasuki ruangan itu.
"Dimana Permaisuri?" tanya Xuan pada wajah yang dikenalnya.
__ADS_1
Tangan Ruyu mulai gemetar dan ia segera berlutut.
"Permaisuri telah pergi Yang Mulia..." lapor Ruyu dengan suara parau.
"Per...gi...?" gumam Xuan yang sangat terkejut.
"Demi mengembalikan posisi anda, Permaisuri membuat kesepakatan dengan Selir Wei" tambah Ruyu yang kini mulai menangis.
"Yang Mulia, lapor!" ucap seorang pengawal yang tiba tiba memasuki ruangan.
"Ribuan prajurit telah menyerang perbatasan di timur. Tolong berikan perintah anda!"
"Perbatasan telah diserang? Siapa yang melakukannya?"
"Hamba juga tidak tau Yang Mulia. Tapi seluruh prajurit itu memakai jubah perang yang sama dengan milik kita"
Kata kata prajurit itu membuatnya terkejut sekaligus marah. Kedua tangannya mengepal dengan kuat.
"Jing Yuan!" gumam Xuan.
Xuan pun bergegas memberi perintah untuk memperkuat perbatasan dengan mengirimkan 3000 prajurit.
***
Ciiiiiitttttttttt Duaaarrrrrrr
Suara letusan kembang api itu menghentikan langkah kuda Lin Zi. Ia melihat keatas. Itu adalah sebuah sinyal perang. Dan itu berasal dari arah belakangnya yang berarti sinyal itu berasal dari istana. Hal itu membuatnya sangat kawatir dan tanpa pikir panjang ia segera kembali. Sementara Yuan tidak memiliki pilihan selain mengikuti Lin Zi. Ditengah perjalanan, ia dihentikan oleh seorang pria yang menunggangi kuda hitam.
"Apa yang terjadi?" tanya Yuan pada pria itu.
"Prajurit kita telah menyerang perbatasan. Dan sebagian lagi telah masuk kedalam istana!"
"Apa maksudnya.... Yuan, jangan bilang kau..." gumam Lin Zi menebak nebak.
"Bukankah aku sudah memerintahkan untuk membatalkan penyerangan?!" ucap Yuan dengan nada meninggi.
"Selir Fei mengambil alih perintah dan melanjutkan rencana"
Lin Zi tak lagi memperdulikan apapun. Ia menunggangi kudanya kembali ke istana. Yuan yang merasa bersalah pada Lin Zi mengikutinya sampai ke istana.
2 jam kemudian Lin Zi dan Yuan telah memasuki gerbang istana. Banyak mayat prajurit yang bergeletakan di tanah. Darah ada dimana mana. Ia terus memasuki istana semakin dalam sampai ke depan aula pertemuan. Disana ia melihat peperangan yang tengah terjadi. Ratusan tubuh tak bernyawa telah tumbang. Pandangannya kemudian tertuju pada sisi kiri. Ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya tengah menggenggam erat pedangnya dan menebas siapapun yang menyerangnya. Lin Zi tak ingin tinggal diam, ia segera turun dari kudanya.
"Apa yang akan kau lakukan? Ini sangat berbahaya! Aku pasti akan melindungi Xuan untukmu"
Akhirnya inilah yang kukatakan. Aku sangat benci untuk mengatakannya. Tapi aku lebih benci ketika aku tidak bisa berbuat apapun untukmu (suara hati Yuan)
Yuan pun segera maju memasuki kerumunan orang yang tengah berperang dan saling menghunuskan pedang. Lin Zi yang tidak bisa tinggal diam pun turut masuk dalam peperangan. Ia mengambil pedang yang tergeletak dan mulai mengayunkannya pada setiap prajurit yang menyerangnya. Xuan yang melihatnya berusaha untuk mendekatinya untuk melindunginya, tapi ada terlalu banyak prajurit yang menghentikan langkahnya. Lama kelamaan Xuan mulai kewalahan. Tangan, kaki, hingga punggungnya terkena tebasan pedang yang tajam. Kakinya mulai melemah dan ia jatuh terjerembab. Lin Zi segera mengalihkan pandangannya melihat keadaan Xuan.
"Jing Xuan!" teriak Lin Zi memastikan keadaan Xuan.
Xuan berusaha melihat Lin Zi. Ketika itu sebilah pedang yang diayunkan seorang prajurit menebas punggung Lin Zi. Xuan terbelalak melihat Lin Zi yang terjatuh. Tangan kirinya berusaha meraih sebuah tusuk rambut yang sempat terjatuh. Ia menggenggam erat tusuk rambut itu.
Aku akan melindungimu
Aku akan melindungimu
Aku.... akan.. melindungimu !!! (suara hati Xuan)
__ADS_1