Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 27 "DEJA VU"


__ADS_3


"Bagaimana?" tanya seorang wanita yang tengah duduk dimeja riasnya melihat bayangan dirinya di cermin.


"Malam ini Yang Mulia Kaisar akan bermalam dengan Selir Wei. Sepertinya Ibu Suri sering meminta Selir Wei untuk melayani Kaisar" lapor Ruyu.


Lin Zi tersenyum, namun bukan senyuman orang senang.


Ia berdiri kemudian mendekati Ruyu. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Ruyu, dan membisikkan sesuatu. Perlahan mata Ruyu terbelalak lebar.


"Yang Mulia, tapi itu.." ucap Ruyu terkejut.


"Lakukan saja perintahku!"


Ruyu pun pergi menuju kediaman Kaisar.


"Yang Mulia, pelayan Permaisuri meminta untuk bertemu anda" lapor seorang kasim.


"Biarkan dia masuk"


Liu Ying segera mendekati Kaisar yang tengah duduk di meja kerjanya dan merangkul pundaknya. Meskipun Xuan merasa tidak nyaman, tapi masih ada pelayan Ibu Suri yang mengawasi. Dia tidak bisa bertindak leluasa.


"Hormat pada Yang Mulia Kaisar" ucap Ruyu memberi hormat.


"Ada apa?" tanya Xuan tanpa basa basi.


"Permaisuri jatuh sakit Yang Mulia"


"Sakit?" ucap Xuan segera berdiri.


"Benar Yang Mulia"


"Kembalilah, aku akan menjaga Permaisuri malam ini" perintah Xuan pada Liu Ying.


"Yang Mulia, ijinkan hamba untuk ikut menjenguk Permaisuri" pinta Liu Ying.


"Terserah kau saja!"


Xuan pun segera pergi bersama Ruyu menuju kediaman Lin Zi. Tak lama kemudian Liu Ying menyusul dengan membawa nampan berisi satu mangkuk bubur.


Xuan kini duduk ditepi tempat tidur Lin Zi, sementara Lin Zi tengah duduk bersandar.


"Hormat pada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri" ucap Liu Ying yang kini berdiri dengan jarak 3 meter dari tempat tidur Lin Zi.


"Yang Mulia, hamba membawakan bubur untuk anda. Hamba dengar anda terkena demam, jadi pasti tidak berselera untuk makan nasi"


Ruyu pun mengambil nampan yang dibawa Liu Ying sementara Lin Zi berusaha mengalihkan pandangan Xuan. Saat itu Ruyu mengambil kesempatan untuk memasukkan serbuk putih yang dari tadi digenggamnya. Ruyu menyodorkan nampan itu pada Xuan. Tanpa ragu Xuan menyuapkannya pada Lin Zi.


"Selir Wei, apakah kau yang membuat bubur ini sendiri?" tanya Xuan.


"Benar Yang Mulia, hamba membuatnya dengan tangan hamba sendiri"


"Tidak kusangka, ternyata Selir Wei.." kata kata Lin Zi terputus karena merasa mual.


"Zi'er.. ada apa? Kau kenapa?" tanya Xuan panik melihat Lin Zi yang mulai terbatuk batuk.


Lin Zi memegangi lehernya dan memuntahkan darah tepat dihadapan Xuan.


"Panggil tabib, cepat !!" perintah Xuan pada Ruyu yang tengah gemetar.


"Ti... tidak mungkin" gumam Liu Ying yang mulai gemetar ketakutan.


"Pengawal ! Tangkap Selir Wei sekarang juga!" teriak Xuan pada pengawal yang berjaga diluar.


Dua pengawal pun masuk dan memegangi Liu Ying.


"Yang Mulia, hamba tidak melakukannya! Bagaimana mungkin hamba meracuni Permaisuri di hadapan Yang Mulia Kaisar?!" ucap Liu Ying membela dirinya.

__ADS_1


"Maksudmu Permaisuri meracuni dirinya sendiri?!"


Xuan mendekap erat tubuh Lin Zi yang lemas.


Deja vu bukan? Rasakanlah apa yang kurasakan saat kau menjebakku. Rasakanlah bagaimana tatapan orang ketika melihatmu dengan pandangan yang menghina dan merendahkan. Dengarkan semua cacian orang orang di belakangmu!


***


Sinar matahari pagi menembus celah celah bangunan kamar Lin Zi. Perlahan gadis itu membuka matanya. Ia menatap langit langit dan mengedipkan matanya beberapa kali. Bola matanya mulai berputar dan mendapati seorang gadis yang tengah tidur dengan duduk dilantai bersandar ranjang tempat tidur Lin Zi. Kedua tanyannya dilipat didepan dan kepalanya diletakkan diatasnya. Lin Zi mengangkat tangan kanannya dan mengusap lembut kepala gadis yang masih pulas itu. Merasakan sentuhan dikepalanya, gadis itu perlahan membuka matanya.


"Yang Mulia Permaisuri, anda sudah sadar" ucap gadis itu segera mengangkat kepalanya.


"Kau menangis semalaman?" tanya Lin Zi melihat pipi Ruyu yang masih basah.


"Hamba sangat mengkhawatirkan anda Yang Mulia.. hamba sangat takut.. Bagaimana bisa anda memerintahkan hamba seperti itu.." ucap Ruyu yang kembali menangis.


"Aku tidak apa apa, jangan menangis lagi" ucap Lin Zi dengan tersenyum.


Ruyu membantu Lin Zi untuk duduk karena kondisi Lin Zi yang masih lemah.


"Saat ini kondisi istana menjadi kacau karena penangkapan Selir Wei. Bagaimanapun juga Selir Wei memiliki Menteri Wei sebagai ayah dan Ibu Suri sebagai pendukungnya" ucap Ruyu memberitahu Lin Zi.


"Kau benar. Aku sudah mempertaruhkan nyawaku demi menjebaknya. Sayang sekali..."


"Dimana dia sekarang?" sambung Lin Zi menanyakan keberadaan Liu Ying.


"Saat ini dia berada di paviliun pengasingan. Para menteri menolak hukuman matinya. Jadi Yang Mulia Kaisar terpaksa menuruti permintaan para mereka"


"Yang Mulia, Selir Zhen datang menjenguk" ucap Yi Wei yang baru memasuki kamar Lin Zi.


"Biarkan dia masuk"


Yi Wei undur diri digantikan oleh Zhen Yiyi yang berjalan menghampiri Lin Zi.


"Hormat pada Yang Mulia Permaisuri"


"Kudengar anda keracunan, bagaimana keadaan anda saat ini?"


"Aku baik baik saja"


"Tidakkah anda berpikir ini terlalu gegabah? Anda bahkan membahayakan nyawa anda sendiri"


Ruyu sangat terkejut. Tangannya kembali gemetar. Bagaimana bisa Yiyi tau tentang masalah ini? Tapi Lin Zi terlihat masih tenang. Ekspresinya tak berubah sedikitpun.


"Untuk menjatuhkan Selir Wei, anda harusnya menjatuhkan ayahnya terlebih dulu. Bagaimanapun juga, menteri Wei memiliki peran penting dalam kerajaan ini. Dia menguasai para pelajar dan sarjana. Dia bisa mengendalikan opini publik. Kurasa cepat atau lambat dia pasti akan bertindak"


"Sepertinya kau sangat mengetahui seluk beluk para menteri.."


"Sebenarnya aku sangat menyukai politik, karena itu aku tau latar belakang para menteri. Hanya saja ayahku mengirimku untuk menjadi selir bersama dengan adikku"


"Kalau begitu, apakah kau bisa membantuku?"


"Maaf Yang Mulia, tapi hamba tidak bisa membantu anda. Hamba juga memiliki keluarga. Meskipun hamba tidak ingin menjadi selir, hamba lebih tidak ingin kehilangan keluarga hamba. Maksud kedatangan hamba kemari sebenarnya hanya ingin memberitahu anda, bahwa Yang Mulia Kaisar sebenarnya tidak pernah menyentuh kami. Saat itu hamba memberanikan untuk bertanya kenapa dia melakukannya. Katanya, dia masih ingin menjaga janji yang tak akan pernah bisa ia tepati"


"Menjaga janji yang tak akan pernah bisa ia tepati?"


Jing Xuan, benarkah itu? Ternyata kau masih menjaga janji itu. Janji yang bahkan telah kupatahkan.


Kata kata Yiyi membuat Lin Zi sadar. Harusnya ia tidak melakukan sejauh ini dan membuat Xuan kesulitan. Ia tidak ingin bersandar pada Xuan, tapi nyatanya Xuan masih menjadi payung baginya. Payung yang akan melindunginya dari hujan deras yang mengguyur.


"Yang Mulia gawat, gawat" ucap seorang pelayan yang berlari memasuki ruangan.


"Xing Nan, apa yang terjadi?" tanya Lin Zi pada pelayannya yang terlihat sangat panik


"Ibu Suri telah dibunuh!"


"Apa???!" ucap Lin Zi sangat terkejut.

__ADS_1


"Bisakah kau katakan dengan lebih detail?" pinta Yiyi.


"Katanya sepulang dari menjaga Permaisuri, Yang Mulia Kaisar menemui Ibu Suri di kediamannya. Lalu sempat terjadi pertengkaran diantara mereka. Setelah itu Yang Mulia Kaisar keluar dengan ekspresi sangat marah. Dan paginya, Ibu Suri ditemukan sudah tidak bernyawa dikamarnya dengan belati Yang Mulia Kaisar yang menancap pada jantungnya"


"Lalu dimana Jing Xuan sekarang?" tanya Lin Zi sangat khawatir.


"Yang Mulia Kaisar saat ini dikurung di kediamannya. Para sarjana dan pelajar istana sekarang telah mengajukan petisi, menuntut Kaisar untuk segera turun tahta dan dihukum mati atas kedurhakaannya pada Ibu Suri"


"Ruyu, cepat bantu aku bersiap!"


"Tapi Yang Mulia, kondisi anda sekarang masih lemah"


"Lakukan saja perintahku!"


Lin Zi segera bersiap dan bergegas menuju paviliun Taijing bersama Ruyu dan Yiyi. Sesampainya didepan paviliun, langkahnya dihentikan oleh pengawal yang menjaga paviliun itu.


"Maaf Yang Mulia, tapi Yang Mulia Kaisar tidak diijinkan untuk menemui siapapun" ucap salah seorang pengawal.


"Kalian berani menghalangi jalanku? Aku adalah Permaisuri negeri ini! Kalian ingin aku memenggal kepala kalian satu per satu?" ucap Lin Zi mengancam.


Para pengawal itu saling memandang satu sama lain dan Lin Zi segera menerobos masuk sendirian. Langkah cepatnya berubah menjadi langkah biasa ketika ia melihat orang yang sangat dikhawatirkannya tengah duduk di meja kerjanya dengan tangan yang menyangga kepalanya. Lin Zi berjalan mendekatinya dan pria itu mulai mengangkat kepalanya ketika mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekatinya.


"Zi'er.." gumam Xuan seraya berdiri.


Lin Zi terus melangkah dan segera meraih tubuh pria dihadapannya. Kedua tangannya melingkari bahu Xuan. Kakinya berjinjit karena Xuan 20 cm lebih tinggi darinya. Airmatanya tak lagi terbendung.


"Maaf.... maafkan aku.." ucap Lin Zi tersengal sengal karena tangisnya.


"Ini bukan salahmu, kenapa kau minta maaf?" ucap Xuan membalas pelukan Lin Zi dengan mengusap bagian belakang kepala Lin Zi.


"Jika saja aku tau lebih awal.. jika saja aku tidak terlalu gegabah.."


Xuan melepas pelukan Lin Zi dan menyentuh pipi gadis didepannya.


"Baik kau gegabah ataupun tidak, semua ini tetap akan terjadi. Aku sudah meminta Hao Yi untuk menyelidiki masalah pembunuhan Ibu Suri, jadi kau jangan terlalu khawatir, ok?" ucap Xuan mensejajarkan wajahnya dan menghapus airmata Lin Zi yang mulai berhenti menetes.


Jika aku pergi.. (suara hati Lin Zi)


"Apakah kau akan baik baik saja?"


"Tentu aku akan baik baik saja. Aku hanya perlu mencari bukti untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah" jelas Xuan berusaha menenangkan hati Lin Zi.


Jika aku benar benar pergi, apakah kau bisa menjalani hidupmu seperti biasa?


"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?"


"Tidak ada. Jangan ikut campur masalah ini. Aku tidak ingin kau ikut terjerumus dan menanggung hukuman. Kembali dan tunggu saja, semua akan baik baik saja"


"Bagaimana aku bisa hanya duduk menunggu sementara kau menghadapi kematian? Bagaimana ini semua bisa terjadi?"


"Belati itu adalah pemberian Ayahanda ketika aku memenangkan pertempuran pertamaku, dan aku selalu menyimpannya, tidak pernah menggunakannya sama sekali. Dan sekarang belati itu menancap pada tubuh Ibu Suri"


"Jing Xuan, semua bukti mengarah padamu. Mereka juga pasti tidak akan mempercayaimu. Bagaimana jika Hao Yi tidak bisa menemukan pelakunya? Bagaimana jika kau benar benar harus dihukum mati? Bagaimana jika.."


Kata kata Lin Zi terputus ketika sebuah sentuhan hangat membungkam bibirnya. Perlahan ia memejamkan matanya merasakan ciuman yang semakin dalam.


"Aku akan baik baik saja, aku berjanji" ucap Xuan kemudian.


Sementara itu disebuah ruangan rahasia, terlihat seorang wanita berumur 40 tahunan tengah berbicara dengan seorang pria yang memakai baju serba hitam.


"Bagaimana? Apakah berjalan dengan lancar?" tanya wanita itu.


"Semua berjalan sesuai dengan rencana Nyonya. Saat ini keadaan istana menjadi kacau dan tak lama lagi Kaisar itu pasti akan dieksekusi"


"Masih terlalu awal untuk merasa senang. Apakah kau sudah menyiapkan para prajurit? Kita harus berjaga jaga jika rencana awal kita gagal"


"Aku sudah mengatur seluruh prajurit, Ibu angkat tidak perlu khawatir" ucap seorang pria yang baru memasuki ruangan rahasia.

__ADS_1


●●●~~●●●


__ADS_2