
"Kakek.... tua.." gumam Lin Zi agak lemas.
Kedua matanya memandangi langit lengit, menyadari ia masih hidup sebagai Xiu Lin Zi. Tabib tua itu pun segera mengulurkan tangannya memeriksa nadi Lin Zi. Senyuman kecil tersirat di bibir tabib tua itu dan kepalanya mengangguk angguk. Tangan kirinya mengelus jenggot panjangnya yang berwarna putih.
"Kedua pangeran dipersilahkan masuk" ucap tabib itu agak keras agar suaranya menjangkau keberadaan kedua pangeran.
Lin Zi berusaha untuk duduk, tubuhnya masih agak lemas karena hipnotis.
"Zi'er?" panggil Yuan memastikan keadaan Lin Zi.
"Kedua pangeran tidak perlu kawatir. Setelah ini nona Xiu tidak akan mengalami kesakitan yang menusuk lagi. Hal ini bisa dikatakan bahwa nona Xiu telah sembuh" jelas tabib itu sambil tertawa dan memgelus jenggot.
Kedua pangeran merasa sangat lega dan bersyukur. Pangeran Yuan mengeluarkan sebuah kantung yang agak besar berisikan 50 tael emas. Namun tabib tua itu menolak pemberiannya dan mengatakan bahwa itu adalah tugasnya dan tidak memerlukan bayaran apapun.
Mereka pun pamit dan kembali ke istana. Kedua pangeran mengantarkan Lin Zi kembali ke kediamannya.
Di kamarnya telah ada seseorang yang didampingi seorang pengawal dan seorang pelayan. Orang itu menatap tajam kedatangan Lin Zi dan kedua pangeran.
"Nona.. Putra mahkota sudah menunggu anda sejak tadi" ucap Nao Yu menghampiri Lin Zi yang berhenti di pintu.
Lin Zi pun masuk bersama kedua pangeran. Hao Yi dan Nao Yu pun keluar mempersilahkan mereka berbicara.
"Jing Xuan..." gumam Lin Zi lirih melihat Xuan yang berdiri.
"Darimana saja? Kau bahkan tidak mengatakan apapun padaku, bukankah setidaknya kau berpamitan dulu padaku?" ucap Xuan tanpa basa basi.
"Putra mahkota, apakah anda pantas berkata begitu? Aku tahu mata mata anda telah mengawasi kediaman ini dan aku yakin anda sudah tahu bagaimana keadaan Lin Zi. Tapi anda bahkan tidak mengunjunginya saat dia kesakitan semalam dan sekarang anda bertanya seolah olah marah karena Lin Zi pergi tanpa berpamitan"
"Pangeran Yuan, aku tidak bertanya padamu. Aku bertanya pada Zi'er" sahut Xuan dengan ketus.
"ehhh kakak Xuan kakak Yuan.. tolong jangan seperti ini.. kita ini saudara kan, kita harus akur.. betul tidak?"
Pangeran Xiu berusaha untuk menengahi sambil merangkul Xuan dan Yuan. Senyuman paksa terlihat di bibir Xiu karena keadaan yang menjadi canggung.
__ADS_1
Setiap kali tatapan Xuan dan Yuan bertemu, seolah ada aliran listrik bertegangan tinggi yang mengalir.
"Setiap kali bertemu selalu bertengkar, apakah kalian anjing dan kucing?" ucap Lin Zi angkat suara karena sudah cukup lelah dan masih harus mendengar perdebatan mereka.
Xuan mengalihkan tangan kanan Xiu yang tadi merangkul pundaknya.
"Anjing?" gumam Xuan bertanya.
"ehhhh... kalau begitu kalian bicara saja dulu.. Putra mahkota, adik Xiu dan adik Yuan pamit" ucap Xiu terbata seraya tersenyum paksa dan menarik Yuan keluar dari kamar Lin Zi.
Setelah agak jauh, Xiu melepaskan tangan Yuan. Nafasnya terengah karena berjalan dengan cepat. Yuan masih bungkam dan terlihat masih marah. Ekspresi wajahnya terlihat sangat kaku, tidak seperti Yuan yang biasanya selalu bersikap tenang.
"Fiuhhhh untung saja aku segera membawamu pergi" ucap Xiu yang masih terengah dan bangga dengan sikap refleksnya.
Yuan hanya diam dan tidak menghiraukan. Ia melangkahkan kakinya hendak kembali ke kediamannya.
"Tidak bisakah kalian kembali seperti dulu?" tanya Xiu dengan keras menghentikan langkah Yuan.
"Dulu kalian adalah teman baik. Bagiku... kalian adalah kakakku yang paling kusayangi karena hanya kalian berdua yang dekat denganku. Meskipun permaisuri selalu melarang kakak Xuan bergaul dengan kita, tapi dia selalu bersikap baik pada kita. Kemana tawa kita yang dulu?" lanjut Xiu.
Kata kata Xiu membuat Yuan terdiam dan kembali menerawang masa lalunya.
Yuan tersadar dari lamunannya dan ia kembali melangkahkan kakinya tanpa memberikan jawaban pada Xiu yang masih menunggu.
Sementara itu di paviliun Yue.
"Benar... anjing" gumam Lin Zi setelah terdiam beberapa saat.
"Kau sedang mengolokku?" tanya Xuan memastikan.
"Tidak.. hanya saja sikap kalian seperti seekor anjing dan kucing yang tidak pernah akur saat bertemu.." Lin Zi menghela nafasnya sebelum melanjutkan.
"Kudengar.. dulu kalian berteman baik.. kenapa kau begitu sombong dan dingin?" lanjut Lin Zi.
"Kau tidak mengerti..." Xuan terhenti sejenak, kata katanya terputus karena ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.
__ADS_1
"Benar. Aku memang tidak mengerti, tapi pernahkah kau memberitahuku?"
Xuan terdiam. Perasaan Lin Zi bercampur dengan ingatan Lin Zi di masa lalu. Ia seakan marah dan tidak terima karena sejak dulu Xuan selalu bersikap dingin pada Lin Zi. Meski begitu Lin Zi tetap mencintai dan selalu menerima Xuan. Meskipun sebelumnya Lin Zi tidak pernah jatuh cinta, tapi melihat perlakuan Xuan pada Lin Zi di ingatannya, ia merasa Xuan adalah orang yang tidak pantas untuk Lin Zi.
"Zi'er... selama ini kau selalu berada disisiku, kupikir kau telah menerimaku dengan tulus. Ternyata aku salah... Kau tidak pernah memahamiku" Xuan merasa kecewa.
"Memahamimu?"
"Saat aku lelah dan merasa kesepian, kau selalu memelukku dan tidak menanyakan alasannya. Saat aku sedih, kau juga tidak pernah bertanya apa yang membuatku sedih. Kau hanya akan berada disisiku dan menemaniku sampai aku merasa nyaman. Kemana Lin Zi yang kukenal dulu?"
"Lin Zi yang kau kenal dulu hanya akan ada didalam ingatanmu! Mungkin dulu aku terlalu bodoh karena selalu memperjuangkan orang yang begitu dingin padaku"
"Apakah kau menyesal?" tanya Xuan dengan mata yang mulai berkaca kaca.
"Aku... sangat menyesal" gumam Lin Zi membuat Xuan menjadi sangat kecewa.
Xuan pun mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia sangat marah mendengar kata kata Lin Zi. Ia pun segera membalikkan badannya dan angkat kaki dari tempat itu.
Mata Lin Zi berkaca kaca dan tangannya gemetaran. Ia jatuh teduduk di tepi tempat tidurnya.
Apa yang telah kukatakan tadi? Apakah aku terlalu keras padanya?
Lin Zi menepuk nepuk bibirnya dengan telapak tangannya seolah telah mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan.
Dasar mulut sialan! Aku harus bagaimana.. dia pasti sangat marah.. Kenapa aku harus bicara sembarangan hanya karena melihat ingatan itu? Lagipula itu juga bukan ingatanku.... aaaaa.... aku harus bagaimana...
Lin Zi merengek sendiri memikirkan ia harus bagaimana. Ia merasa bersalah pada Xuan dan tidak tahu harus bagaimana meminta maaf dan menjelaskannya.
●●●~~●●●
Wahhh wah wahhh Lin Zi ini emang lancang ya.. berani beraninya bikin Jing Xuan ini marah besar.
Apa yang bakal dilakuin Jing Xuan ya?
Penasaran nggak?
__ADS_1
Tunggu lanjutannya ya dan jangan lupa buat tekan 💖 dan 👍 buat mensuport author walaupun karya.nya gak bagus wkwkwk
Terima kasihhh🤗🤗🤗