Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 2 "TAKDIR"


__ADS_3


Lin Zi menghentikan langkahnya setelah ia mendapati ruangan itu tidak ada orang. Apakah tidak ada orang? Sudahlah pulang saja, lagipula mana ada orang yang mempunyai kekuatan dewa. Lin Zi pun membalikkan badan dan berjalan menuju pintu. Namun ketika memegang gagang pintu itu, ia tak bisa membukanya. Ke...kenapa bisa begini? Apakah pintu ini terkunci otomatis? Sepertinya tidak ada cctv disini.


"Kau baru bisa keluar setelah menyelesaikan urusanmu" sebuah suara mengejutkan Lin Zi.


Lin Zi pun berbalik dan melihat kearah asal suara itu. Ia melihat seorang wanita cantik yang sedang menuruni tangga. Wanita itu begitu anggun dengan hanfu berwarna merahnya, namun wajahnya tertutup cadar.


"Namamu Xiu Lin Zi bukan? Duduklah, aku sudah menyiapkan teh untukmu" sambung wanita itu yang kini telah duduk bersila diatas bantal duduk.


"Ba...bagaimana kau bisa tau namaku?" tanya Lin Zi kebingungan dan sedikit terkejut.


Lin Zi pun menghampirinya dan duduk bersila didepan meja kecil yang ada di hadapan wanita itu.


"Apakah itu masih penting?" tanya wanita itu dengan tenang.


"emm anu... sebenarnya kedatanganku kesini.. aku mau bertanya sesuatu. Temanku bilang kau adalah seorang paranormal yang memiliki kekuatan dewa jadi kau pasti tau jawabannya" jelas Lin Zi dengan sedikit tergagap karena gugup.


Wanita itu mengangkat cangkir tehnya dan mencium aroma teh itu kemudian menutup matanya. Perlahan ia memasukkan cangkir teh kecil itu memasuki cadarnya dan meminumnya seteguk. Setelah itu ia meletakkan kembali cangkir itu dan menatap kedua mata Lin Zi dalam. Setelah beberapa saat ia menurunkan pandangannya.


"Apakah kau benar benar ingin tau kenapa kau selalu bermimpi aneh?" tanya wanita itu memastikan.


Wahhh hebat! Aku bahkan belum mengatakan bahwa aku sering bermimpi aneh tapi dia malah bertanya duluan.


"i...iya!" sahut Lin Zi cepat.


Wanita itu kembali menatap mata Lin Zi.


"Takdirmu seharusnya telah berakhir sejak bertahun tahun lalu" jelasnya.


"A...apa maksudnya..." gumam Lin Zi terperangah karena bingung.


"Harusnya kau sudah meninggal bertahun tahun lalu. Tapi sekarang kau duduk disini, tidakkah kau penasaran?" lanjut wanita itu.


"Jika satu atau dua kali bisa disebut pertolongan. Tapi jika berkali kali bukankah itu menyalahi takdir?" sambungnya.


"Tidakkah kau pernah bermimpi dirimu diselamatkan dari bahaya? Itu bukanlah mimpi. Tapi karena ingatanmu dihapus sebagian maka kau hanya bisa mengingatnya sebagai mimpi" wanita itu masih melanjutkan.


"Itu memang benar, tapi siapa yang melakukannya? Disetiap mimpi itu aku hanya melihat siluetnya. Apakah kau bisa melihat siapa itu?" ungkap Lin Zi membenarkan perkataan paranormal itu.


"Aku tidak bisa. Kemampuanku terbatas karena aku juga manusia. Siapapun yang bisa melakukannya pasti membutuhkan pengorbanan. Biasanya menyelamatkan nyawa maka mengganti nyawa. Orang yang melakukannya pasti bukan orang biasa.Tapi jika kau ingin tau siapa itu, kurasa aku bisa mengirimmu untuk menemuinya"


"Aku mau. Bagaimanapun juga dia adalah penyelamatku"


Wanita itu menutup kedua matanya lalu keadaan tiba tiba menjadi berkabut. Lama kelamaan kesadaran Lin Zi mulai berkurang sampai ia menutup kedua matanya.


●●●~~~~●●●


Gulp gulp


Dimana aku? Aku tidak bisa bernafas! Aku membuka mataku dan mendapati diriku berada didalam air. Dalam.... gelap... hanya cahaya matahari samar yang menembus perairan. Samar samar aku melihat bayangan seseorang berenang berusaha menggapaiku. Siapa?

__ADS_1


Perlahan Lin Zi membuka matanya sambil terbatuk batuk. Ia sangat terkejut melihat sekelilingnya ada beberapa orang berpakaian seperti prajurit.


"Zi'er apa kau tidak apa apa?" tanya seorang lelaki yang memakai hanfu berwarna putih sambil membantu Lin Zi duduk.


"Si... siapa? Aku dimana?" gumam Lin Zi sambil memegangi kepalanya.


"Zi'er ini aku A'Yuan.."


Belum selesai lelaki itu memperkenalkan diri, datang seorang lelaki berkuda hitam. Ia memakai jubah perang berwarna hitam. Rambutnya panjang, setengahnya diikat diatas. Tatapan matanya sangat tajam dan dingin. Tangan kanannya memegang pedang bersarung warna emas. Lelaki itu turun dari kudanya dan menghampiri Lin Zi yang kini telah dibantu berdiri oleh Yuan.


Lin Zi sangat terkejut melihat seorang berbaju putih dan seorang lagi berbaju hitam.


Apakah aku sudah mati? Siapa dia? Apakah aku berada di akhirat? Jangan jangan dia adalah malaikat maut atau seorang jendral neraka!


Lelaki itu memegang tangan Lin Zi namun Lin Zi berusaha menepisnya.


"Lepaskan aku! Kau siapa!" ucap Lin Zi panik.


"Kau sudah melupakan calon suamimu? Ayo kita kembali!" ucap lelaki itu sambil menarik Lin Zi.


"Le..lepaskan aku!" Lin Zi terus meronta.


" Putra Mahkota, mohon jangan bersikap kasar" ucap Yuan menghentikan langkah lelaki itu.


"Pangeran Yuan, ini adalah urusanku. Aku tidak tau bagaimana kau bisa ada disini, tapi terima kasih telah menolong Zi'er" ucap Xuan dengan ketus.


Xuan pun menaikkan Lin Zi ke atas kuda dan duduk dibelakang Lin Zi. Kedua tangannya memegangi tali pegangan.


Kuda hitam itu berlari menyusuri jalan tanah dengan hamparan rumput dan ilalang yang luas. Lin Zi masih meronta, namun Xuan mendekapnya dengan erat.


"Zi'er tenanglah! Nanti kita terjatuh!" ucap Xuan yang mulai hilang keseimbangan.


"Lepaskan aku! Kau mau membawaku kemana!"


Lin Zi masih meronta hingga mereka berdua terjatuh. Xuan mendekapnya dengan erat melindungi agar Lin Zi tidak terkena benturan keras. Namun Lin Zi tidak sadarkan diri dan dibawa kembali ke istana.


"Mulai sekarang kalian harus melayaninya dengan baik karena dia akan tinggal di paviliun Yue ini" ucap Xuan kepada beberapa pelayan yang ada diruangan itu.


"Baik Yang Mulia Putra Mahkota" ucap beberapa pelayan itu bersamaan.


"Jika dia sudah sadar nanti segera bersihkan dirinya lalu melapor padaku!"


"Baik"


Xuan pun berjalan meninggalkan beberapa pelayan yang masih membungkuk memberi hormat.


1 jam kemudian Lin Zi tersadar dan seorang pelayan segera menghampirinya.


"Nona, anda sudah sadar?" tanya seorang pelayan dengan sopan setelah mendapati Lin Zi tengah berusaha membuka matanya.


"Aku dimana?" tanya Lin Zi yang merasa asing dengan ruangan itu.

__ADS_1


"Anda berada di paviliun Yue. Mulai sekarang hamba adalah pelayan pribadi anda. Nama hamba Nao Yu"


"Pelayan pribadi?"


"Benar nona. Putra Mahkota telah memerintahkan hamba untuk melayani nona. Dan katanya mulai sekarang anda akan tinggal disini"


Lin Zi berusaha memahami keadaan dan menerimanya.


"Nona ikuti hamba, hamba sudah menyiapkan air hangat untuk memandikan nona"


Lin Zi pun mengikuti Nao Yu ke kamar mandi. Disana sudah ada 2 pelayan yang menunggu. Yang satu tengah memasukkan rempah rempah ke air mandi dan satunya lagi tengah menaburkan kelopak bunga mawar ke air mandi itu. Lin Zi benar benar terperangah merasa ini sangat menakjubkan. Selama ini ia selalu melakukan semuanya sendiri. Lin Zi pum menyuruh kedua pelayan itu pergi dan ia mulai melepas hanfu merahnya yang telah dipakai sejak ia tiba di dunia ini.


"Nao Yu, sini mandi bersamaku. bak mandi ini cukup besar pasti cukup untuk berempat" ajak Lin Zi yang tengah berendam sambil cengingisan.


"Ha hamba tidak berani nona! Hanya nona yang boleh menggunakannya" tolak Nao Yu dengan ekspresi sedikit ketakutan.


"Ternyata menyenangkan juga ya. Semua ada yang melayani hihihi" gumam Lin Zi sambil memainkan kelopak bunga yang ada di bak mandinya.


Tak lama kemudian Lin Zi keluar dari bak mandinya dan Nao Yu melayaninya untuk memakai hanfu berwarna hijau muda. Nao Yu juga melayaninya berdandan dan menata rambutnya.


"Nona, nona tunggu disini sebentar. Hamba akan melapor kepada Putra Mahkota" pamit Nao Yu sebelum memberi hormat dan berlalu.


Lin Zi merasa semuanya sangat menarik. Semua ada yang melayani. Ia berjalan menyusuri ruangan lalu keluar melihat sekeliling. Langkahnya terus berlanjut hingga suara burung kecil menghentikannya.


"Burung kecil kau terjatuh ya.. kasihan sekali. Tenang saja aku akan membantumu kembali ke sarangmu" gumam Lin Zi sambil mengelus elus kepala kecil anak burung itu.


Ia melihat keatas dan memikirkan caranya naik kesana. Ia pun merobek roknya hingga tinggal sepanjang lutut dan mulai memanjat pohon untuk mengembalikan anak burung itu.


"Dimana Zi'er?!" ucap Xuan mendapati ruangan paviliun Yue yang kosong.


"Ampuni hamba yang lalai yang mulia! Ampuni hamba! Hamba tadi hanya meninggalkannya sebentar untuk melapor" ucap Nao Yu sambil bersujud memohon ampun.


Xuan pun segera berlalu dan mencari Lin Zi.


"Zi'er, apa yang terjadi padamu?" tanya seorang lelaki yang memakai hanfu berwarna putih biru.


"ehh kau ini yang menolongku di danau tadi siang kan. emm sedikit sulit untuk memanjat jika menggunakan rok panjang itu jadi aku merobeknya" jelas Lin Zi sedikit malu malu.


Yuan pun tertawa kecil melihat tingkah laku wanita dihadapannya.


"Sepertinya Pangeran Yuan sangat suka berjalan jalan ya" sindir Xuan yang kini menghampiri tempat mereka berdiri.


Dengan spontan Lin Zi segera bersembunyi dibelakan Yuan. Xuan hanya menepuk jidatnya melihat hanfu bagian bawah Lin Zi yang tinggal separuh.


"Aku hanya berjalan menuju paviliun Yan Ji dan tidak sengaja melihat Zi'er yang baru turun dari pohon. Mohon jangan salah paham" jelas Yuan dengan senyum sedikit masam.


"Cepat kembali" ucap Xuan seraya menarik tangan Lin Zi.


Namun seperti sebelumnya, ia meronta. Jadi tanpa pikir panjang Xuan mengangkatnya dan menggendongnya di pundak kanannya.


"Turunkan aku! Malaikat maut kejam!" ronta Lin Zi seraya menepuk nepuk punggung Xuan karena posisinya yang terjungkal.

__ADS_1


●●●~●●●


__ADS_2