Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 24 "PERTEMUAN KEMBALI"


__ADS_3


Lin Zi dan pria itu hanya saling menatap. Tidak ada yang mendekat dan tidak ada sapaan.


"Zi'er" panggil Xuan mengejutkan Lin Zi untuk segera menoleh kearahnya.


"Ada apa? Apakah kau bertemu seseorang yang kau kenal?" tanya Xuan menelisik arah pandangan Lin Zi tadi.


"Aku melihat Yuan...." kata katanya terputus saat ia kembali melihat kearah pria yang sejak tadi dipandanginya, pria itu sudah tidak ada.


"Sepertinya aku salah lihat...." ucap Lin Zi kemudian.


Mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan.


"Wahhh tampan sekali, apakah dia suami gadis itu?" suara orang di pasar.


"Apakah mereka pasangan suami istri? Beruntung sekali dia bisa menemukan pemuda yang sangat tampan"


"Aku belum pernah melihat pemuda setampan ini.."


Suara orang orang dipasar terdengar sampai ketelinga Lin Zi. Disepanjang jalan semua orang berbisik tentang ketampanan Xuan. Lin Zi pun berhenti dan menyaut kain yang dijual pedagang disampingnya untuk menutup kepala dan sebagian wajah Xuan.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Xuan kebingungan.


"Bisakah jika hanya aku yang bisa melihat wajahmu?" ucap Lin Zi pada pria yang kini hanya terlihat matanya saja.


"Kenapa? Aku sangat tampan kan?" goda Xuan.


"PD sekali, hmmhh!" ucap Lin Zi berjalan meninggalkan Xuan.


"Nona anda belum membayar!" teriak lelaki penjual kain.


Xuan pun memberinya beberapa koin.


"Zi'er tunggu aku!" ucap Xuan menyamakan langkah dengan Lin Zi.


Duh Kaisar mulai ngebucin Astagfirullah🤦🏼‍♀️


Langkah Lin Zi terhenti di sebuah stand yang menjual pernak pernik wanita.


"Kau suka?" tanya Xuan pada gadis yang matanya tertuju pada satu benda.


"Penglihatan nona sangat bagus sekali. Ini adalah tusuk rambut yang berasal dari Timur. Lihatlah hiasannya yang berbentuk bunga teratai ini, sangat cantik bukan? Ini adalah satu satunya..."


"Aku akan mengambilnya" potong Xuan dengan memberikan 1 tael emas.


"Jing Xuan, kau tidak perlu menghabiskan banyak uang" ucap Lin Zi melihat suaminya yang begitu boros.


"Aku hanya membeli yang kau sukai. Jadi apakah kau tidak mau? Kalau begitu aku akan..."


"Aku mau!" potong Lin Zi dengan segera merebut tusuk rambut itu dari tangan Xuan.

__ADS_1


"Sini, aku bantu untuk memasangnya" tawar Xuan.


Lin Zi pun membiarkan Xuan menusukkannya ke rambut Lin Zi yang diikat sebagian diatas.


"Cantik tidak?" tanya Lin Zi seraya meraba rambutnya.


"Semua yang kau pakai selalu tampak cantik"


"Gombal.." ucap Lin Zi seraya tertawa malu malu.


Mereka pun melanjutkan dengan menonton pertunjukkan tarian yang diadakan di tengah pasar yang luas. Setelah itu mereka berlanjut dengan menerbangkan lentera disebuah halaman di pinggir sungai besar berarus tenang.


"Jing Xuan, terima kasih" ucap Lin Zi pada pria yang saat ini tengah memeluknya dari belakang.


"Zi'er... aku sangat mencintaimu" gumam Xuan sambil mengeratkan pelukannya.


***


Xuan baru saja kembali dari pertemuan paginya dengan para menteri. Namun wajahnya tidak terlihat puas. Sesampainya di paviliun Taijing, ia bertemu dengan rombongan Ibu Suri yang telah menunggunya. Xuan pun masuk bersama Ibu Suri.


"Jika Ibu datang kemari untuk marah marah, sebaiknya lain kali saja. Kepalaku sangat pusing" ucap Xuan seraya duduk di kursinya.


"Xiao'er... ibu hanya mengkhawatirkanmu. Kenapa kau begitu sembrono? Kau tau melawan para menteri itu tidak mudah"


"Aku tau"


"Jika tau, kenapa kau masih keras kepala? Kau hanya perlu meniduri selirmu dan memiliki keturunan, apakah itu begitu sulit?!"


Selama ini aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun kecuali Lin Zi.


"Terserah Ibu saja" gumam Xuan menyangga kepalanya.


Malam telah tiba. Sinar rembulan menyinari jalan. Berjuta bintang gemerlapan di langit. Di paviliun Nu Huang terlihat Lin Zi tengah duduk di meja riasnya dan Ruyu tengah membantu menyisir rambutnya yang panjang.


"Yang Mulia Permaisuri..." Ruyu merasa ragu untuk melapor saat melihat bayangan wajah Lin Zi di cermin.


"Ada apa?" desak Lin Zi.


"Tadi hamba melihat Selir Wei menuju paviliun Taijing. Sepertinya Yang Mulia Kaisar akan bermalam dengannya.."


Lin Zi terdiam. Meskipun ia tidak mengatakannya, sorot matanya menunjukkan kesedihan. Bagaimana mungkin ia bisa berbagi pria yang sangat dicintainya dengan wanita lain. Berkali kali ia mencoba untuk mengerti posisi Xuan sebagai Kaisar. Tapi hatinya tetaplah hati seorang perempuan bukan hati batu.


"Yang Mulia...." gumam Ruyu yang ikut merasakan sesak dihati Lin Zi.


"Pergilah.. aku akan tidur lebih awal hari ini" ucap Lin Zi kemudian.


Sementara itu di Paviliun Taijing, Xuan masih sibuk menulis tanpa menghiraukan Liu Ying yang sejak tadi berdiri menunggunya.


"Jika kau mengantuk, kau boleh tidur lebih dulu" ucap Xuan yang masih sibuk menulis.


"Tapi Yang Mulia... malam ini kita akan..."

__ADS_1


 


"Itu hanya formalitas saja. Sama seperti saat seleksi selir, bukankah saat itu kau mengikutinya juga hanya untuk formalitas?"


 


"Aku sudah menyiapkan alas tidur, kau bisa tidur disana" lanjut Xuan melihat Liu Ying yang terdiam.


Mata Liu Ying pun tertuju pada tempat yang dimaksud Xuan. Sebuah kursi panjang yang dilengkapi dengan alas tidur, bantal dan selimut. Liu Ying pun terpaksa menurut karena posisi Xuan sebagai Kaisar.


"Jika siapapun bertanya, katakan saja aku sudah menidurimu. Terutama pada Ibu Suri!" ucap Xuan agak keras agar Liu Ying mendengarnya.


Lin Zi berusaha untuk memejamkan matanya. Tapi semakin ia mencoba untuk tidur, kegelisahan semakin menyelimutinya. Ia pun keluar untuk mencari udara segar di taman istana. Beberapa kali ia menghela nafas berusaha menenangkan hatinya yang kacau. Namun tetap saja, rasa sesak itu memenuhi hatinya.


"Zi'er?" panggil seorang pria dari arah samping.


Lin Zi pun menoleh seketika melihat siapa yang memanggilnya larut malam begini.


"Jing Yuan...."


Senyuman kecil terlintas di bibir Yuan.


"Lama tidak bertemu.."


"Lama... tidak bertemu.." sapa Lin Zi kembali dengan canggung.


"Apa yang kau lakukan tengah malam begini" ucap Lin Zi dan Yuan secara bersamaan membuat keduanya tertawa kecil.


"Aku tidak bisa tidur dan mencari udara segar" jawab Lin Zi kemudian.


"Aku dari paviliun Zou" balas Yuan.


Lin Zi pun mengingat cerita Yuan sebelumnya. Rupanya Yuan bertemu dengan Selir Fei secara diam diam.


"Kudengar malam ini Kaisar bermalam dengan Selir Wei.." singgung Yuan.


"Lalu kenapa? Bukankah itu wajar?"


"Berhentilah berpura pura. Aku tau hatimu pasti terasa sangat sesak sekarang"


Karena aku juga merasakannya saat kau bersama Xuan. (suara hati Yuan)


"Jangan sok tau!" ucap Lin Zi ketus karena yang dikatakan Yuan adalah kebenaran.


Menyedihkan rasanya mengakui hatinya yang terasa sesak. Memalukan untuk mengatakan bahwa ia cemburu. Ia bahkan tidak memiliki hak untuk melarang Xuan melewati malam dengan wanita lain. Tidak disangka, menjadi Permaisuri adalah hal yang sangat memilukan. Bahkan dengan kekuasaan tertinggi, Permaisuri justru tidak bisa melindungi perasaannya sendiri.


"Sudah malam, sebaiknya kau segera kembali" ucap Lin Zi beranjak pergi.


Yuan meraih pergelangan tangan Lin Zi dan menariknya ke pelukannya. Lin Zi sangat terkejut dan berusaha melepaskan diri.


"Jing Yuan, saat ini aku masih seorang Permaisuri. Tolong jangan melewati batas!" ucap Lin Zi dengan ketus dan meninggalkan Yuan seorang diri.

__ADS_1


Zi'er, jika kau tidak bisa turun bersamaku. Maka aku yang akan naik dan menggapaimu!(suara hati Yuan)


●●●~~●●●


__ADS_2