
Nona, pangeran Yuan meminta untuk bertemu dengan anda" ucap Nao Yu memberi tau bahwa Yuan telah menunggu diluar.
"Pangeran Yuan?" gumam Lin Zi sedikit berpikir seraya duduk ditempat tidurnya.
"Zi'er" panggil Yuan yang telah menerobos masuk.
"Hormat kepada pangeran ke-5" ucap Nao Yu memberi hormat.
"Zi'er.. aku baru dengar kau jatuh pingsan jadi aku segera kesini" ucap Yuan seraya duduk di tepi tempat tidur Lin Zi.
Lin Zi hanya terdiam.
"Zi'er?" panggil Yuan kembali melihat Lin Zi yang masih terdiam.
Yuan melihat makanan dimeja Lin Zi yang masih utuh, ia pun memandang Nao Yu.
"Nona tidak mau makan sejak siang tadi" ucap Nao Yu menyadari isyarat tatapan Yuan.
"Zi'er, jika begini terus kau bisa sakit. Begini saja, ikutlah denganku"
"Kemana?"
"Sudah ikut saja, ayo" ucap Yuan sambil menarik tangan Lin Zi.
"Tu...tunggu dulu, aku pakai sepatu dulu"
Yuan menariknya kearah bagian belakang istana dan menaiki bukit terjal.
"Sebenarnya kita mau kemana, aku sudah lelah" ucap Lin Zi terengah sambil masih terus berjalan menanjak dan menarik keatas roknya agar tidak mengganggunya berjalan.
Keringatnya bercucuran karena sebelumnya ia tak pernah mengeluarkan tenaga untuk menaiki bukit yang tinggi. Jalan bebatuan dengan banyak pohon pinus, bambu dan banyak semak liar yang tumbuh.
Yuan melihat kebelakang, Lin Zi tengah membungkuk, dahinya mengernyit dengan mulut terbuka mengumpulkan nafasnya yang tinggal separuh.
__ADS_1
"Sedikit lagi ayolah.." ucap Yuan yang kembali menghampiri Lin Zi dan menariknya.
Setelah 10 meter dilalui, Yuan pun melepaskan tangan Lin Zi yang basah karena keringat.
"Nahh sudah sampai" ucap Yuan seraya berjalan kedepan beberapa langkah.
Lin Zi terengah engah, namun setelah melihat pemandangan didepannya ia begitu terkejut. Rasa lelahnya seakan menghilang tergantikan dengan ketakjubannya. Pemandangan banyak bangunan istana dari atas bukit serta pemandangan senja yang terlihat jelas. Karena Kerajaan Jing terletak di timur dengan bangunan istana yang menghadap ke barat jadi bisa menikmati indahnya matahari terbenam.
"Wahhh... indah sekali" gumam Lin Zi menikmati suasana.
"Saat aku sedih, aku selalu kemari" ucap Yuan seraya duduk dibawah pohon besar.
"Saat kau sedih?" tanya Lin Zi seraya duduk disamping Yuan.
"Ibuku meninggal sejak aku berumur 7 tahun. Sejak saat itu, Selir Tingkat 2 Fei yang merawatku dan membesarkanku seperti anaknya sendiri"
"Selir Tingkat 2 Fei?"
"Kau tidak pernah bertemu dengannya. Dia dikurung di paviliun Zou, selamanya tidak di ijinkan untuk keluar"
"Kenapa seperti itu?" tanya Lin Zi penasaran.
"Lalu?" tanya Lin Zi semakin penasaran.
"Ketika umurku menginjak 7 tahun, Ibuku dijebak oleh Permaisuri, membuat Kaisar salah paham. Saat itu aku tidak mengerti apa apa, yang kutahu hanya kesedihan. Ibuku dihukum oleh Kaisar, ia meminum racun sampai meninggal. Dan sejak saat itu, aku dirawat oleh Selir Tingkat 2 Fei dan sejak saat itu juga, aku dan Jing Xuan menjadi rival. Kami saling bersaing dalam mendapatkan kepercayaan Kaisar. Sayangnya aku begitu bodoh, selalu kalah cepat dengannya. Dan karena itu juga Selir Tingkat 2 Fei melakukan banyak cara untuk mencelakai Jing Xuan. Jadi Kaisar memutuskan untuk mengurungnya. Tapi sekarang, aku berjanji pada diriku bahwa aku tidak akan kalah lagi. Zi'er.. bisakah kau mendukungku?"
"Ternyata kisah kita hampir sama" gumam Lin Zi lirih.
"Apa yang kau katakan?" tanya Yuan yang tidak begitu mendengar.
"Tidak tidak, bukan apa apa" sahut Lin Zi dengan tertawa canggung.
"Kau bilang ibumu dijebak oleh permaisuri, dijebak seperti apa?"
"Saat itu adik Kaisar sedang mabuk di taman istana. Ibuku yang mendapat surat dari permaisuri segera bergegas ke taman istana karena isi surat itu permaisuri meminta untuk bertemu disana. Lalu Ibuku melihat adik Kaisar yang tengah terjatuh dan mencoba menolongnya untuk berdiri. Tapi karena tubuh adik Kaisar yang agak besar membuat ibuku hilang keseimbangan dan terjatuh bersamanya. Saat itu Kaisar tengah berjalan di taman istana dan melihatnya karena itu Kaisar menjadi salah paham, berpikir ibuku telah melakukan perbuatan yang kotor"
__ADS_1
"Tapi itu adalah masa lalu, semua itu tak ada kaitannya dengan kita sekarang" ucap Xuan memotong penjelasan Yuan.
"Hormat pada Putra Mahkota" ucap Yuan melihat Xuan yang telah ada dibelakangnya.
"Bagaimana kau bisa ada disini..." gumam Lin Zi terkejut.
"Semua itu adalah masa lalu, kita tidak mengerti apapun. Kau tidak bisa menuduh orang tanpa bukti. Jangan begitu naif!"
"Naif? Bagaimanapun juga, namanya kehilangan orang yang paling kita sayangi tentu saja itu menjadi lubang terbesar di hati kita. Meskipun itu sudah terjadi 12 tahun yang lalu tapi rasa sakitnya masih menyiksa" ucap Yuan yang tak mau kalah.
"Meski begitu, jika kau bicara tanpa dasar juga takutnya orang tidak akan percaya. Saat itu tidak ditemukan bukti apapun, hanya percaya dari perkataan satu orang saja itu namanya bodoh"
"Bagaimana denganmu? Apakah kau pernah merasakannya? Kehilangan orang yang paling kau sayangi? Tidak kan? Selama ini kau hidup dengan baik. Semua yang kau inginkan selalu dipenuhi, kau tau apa tentang rasa sakit?" ucap Lin Zi angkat bicara.
Xuan terdiam namun tatapannya pada Lin Zi menjadi sangat tajam. Seolah ada hal yang telah menyinggungnya.
"Kembali sekarang!" perintah Xuan pada Lin Zi.
"Tidak! Aku tidak mau!"
"Kembali sekarang, atau.."
"Atau apa? Kau mau membunuhku?"
"Kenapa tidak? Kau yang menyerahkan nyawamu lebih dulu!" ucap Xuan seraya menghunuskan pedangnya didepan mata Lin Zi.
"Putra Mahkota, ini semua salahku. Jangan menyulitkan Zi'er" ucap Yuan mencoba menenangkan Xuan.
"Kau tidak berani kan? Kau tidak akan membunuhku!" tantang Lin Zi melihat Xuan yang terdiam.
"Apa kau yakin aku tidak berani? Aku akan melakukannya!"
Xuan mengangkat pedangnya dan menebaskannya kearah leher Lin Zi. Mata Lin Zi terbuka lebar, ia sangat terkejut. Perlahan kesadarannya menghilang dan ia terjatuh ke pelukan Yuan.
"Dulu kau memenangkan hatinya, sekarang tolong jangan bersikap kasar padanya. Atau aku akan merebutnya kembali dari sisimu!" ucap Yuan memperingatkan.
__ADS_1
"Sejak dulu Zi'er tidak pernah mencintaimu, sekarang juga akan sama saja. Berhentilah mempengaruhinya atau aku tidak akan tinggal diam lagi!" balas Xuan seraya mengambil tubuh Lin Zi dari pelukan Yuan dan menggendognya kembali ke paviliun Yue.
●●●~~●●●