
Sejak pertengkaran mereka, Xuan tidak menemui Lin Zi sama sekali. Sudah 4 hari Lin Zi berada di kamarnya. Matahari sudah hampir terbenam, cahaya senja tampak samar samar melewati celah pohon dan bangunan paviliun. Terlihat Lin Zi tidak memiliki hal untuk dilakukan. Beberapa hari ini Lin Zi hanya tidur, makan, rebahan, duduk membaca buku lalu makan dan rebahan lagi. Nao Yu pun sampai bingung melihat nonanya seperti orang yang tidak berguna.
"Membosankan sekali..." gumam Lin Zi yang telah duduk di kursi dan membenturkan kepalanya di meja.
"Nona... jangan membenturkan kepala anda seperti itu.." nasihat Nao Yu yang sedang berdiri disamping Lin Zi.
Lin Zi menghela nafasnya.
"Nao Yu... apa si malaikat maut itu masih marah ya?" Lin Zi mengangkat kepalanya dengan malas. Tubuhnya terasa lemas karena kebosanan.
"Nona... jangan memanggil Putra Mahkota seperti itu" ucap Nao Yu kembali menasehati.
"Bosan sekali... jika begini terus aku bisa mati kebosanan.. Pangeran Yuan juga tidak menemuiku sejak hari itu" eluh Lin Zi.
"Mungkin Putra Mahkota dan Pangeran Yuan sedang sibuk jadi tidak bisa menemui anda..." sahut Nao Yu berusaha menenangkan nonanya.
Lin Zi segera bangkit dari kursinya, wajahnya terlihat cerah setelah mendapatkan sebuah ide.
"Benar juga, jika mereka tidak bisa menemuiku kan aku bisa menemui mereka" ucap Lin Zi sambil menjentikkan jarinya.
Lin Zi pun mengangkat rok panjangnya dengan kedua tangannya. Ia berjalan keluar dengan girang. Rambut panjangnya bergoyang ke kanan dan kekiri mengikuti langkahnya.
"Nona... matahari sudah terbenam, kemana lagi anda pergi"
Tingkah Lin Zi benar benar membuat Nao Yu kerepotan. Ia tak bisa membiarkan nonanya berjalan sendirian. Ekspresi sebal terlukis di wajah pelayan itu, dan ia terpaksa mengikuti kemana Lin Zi pergi.
Langkah Lin Zi terhenti di halaman depan sebuah paviliun besar bernama Jin Long yang berarti Naga Emas. Didepan pintu paviliun itu ada 2 orang penjaga berpakaian prajurit dengan pedang yang terikat di pinggangnya. Lin Zi mengintai dari jarak kurang lebih 20 meter karena ia juga tak berani memasuki paviliun itu.
Tak lama kemudian ia melihat Jing Xuan yang dikawal oleh seorang kasim tengah berjalan kemudian berhenti didepan pintu karena seorang pelayan wanita yang menghampirinya. Lin Zi tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan jadi hanya mengamatinya saja. Sebuah senyum lebar tiba tiba terukir di bibir mungilnya dan kedua tangannya melambai kearah Xuan yang sedang melihatnya. Namun pria bermata tajam itu mengabaikannya dan berjalan pergi mengikuti pelayan itu. Lin Zi kembali kehilangan semangatnya, wajahnya tampak lesu.
"Aiiyooooo dia benar benar masih marah" gumam Lin Zi menghembuskan nafas kesal.
"Nona.. sebaiknya anda minta maaf pada Putra Mahkota. Meskipun Putra Mahkota selalu bersikap dingin tapi sebenarnya dia seseorang yang perhatian. Hanya saja Putra Mahkota tidak bisa mengekspresikannya" ucap Nao Yu memberi nasihat.
"Benar juga.." kata katanya terputus memikirkan kata kata Nao Yu yang ada benarnya.
__ADS_1
"Ehh Nao Yu.. apa kau pernah pacaran?" Lin Zi bertanya dengan semangat karena Nao Yu terlihat ahli dalam bidang ini.
"Pacaran?" Nao Yu bertanya tanya karena ia tak pernah mendengar istilah itu.
"Emmm maksudku berhubungan dengan lelaki" sambung Lin Zi menjelaskan namun dengan istilah yang membuat Nao Yu salah mengerti.
"Nona.. kita tidak boleh melakukan itu sebelum menikah!" sahut Nao Yu dengan wajah memerah sambil menunduk.
"Maksudku bukan seperti itu! Maksudku emmm dekat! Dekat dengan lelaki seperti sering berjalan atau menonton film bersama dengan orang yang kau sukai" Lin Zi berusaha mencari kata kata yang bisa dimengerti.
"Nona..." kata kata Nao Yu terputus.
Sebuah senyum lebar kembali terukir di bibir Lin Zi melihat Nao Yu yang sepertinya mengerti.
"Apakah kau sudah mengerti?"
"Apa itu film?" tanya Nao Yu membuat semangat Lin Zi kembali hilang.
Senyuman yang tadi telah berubah menjadi helaan nafas kesal.
"Sudahlah.." gumam Lin Zi sebelum berjalan meninggalkan Nao Yu.
Sementara itu seorang pelayan wanita tengah memimpin jalan menuju paviliun *** Jing yang merupakan kediaman Kaisar.
Saat sampai didepan pintu paviliun, pelayan itu membukakan pintu dan mempersilahkan masuk. Kasim yang tadi mengikuti Jing Xuan pun berhenti dan menunggu didepan pintu bersama 2 pelayan yang menjaga pintu.
"Xiao'er.. kau sudah datang, duduklah" ucap Kaisar itu mempersilahkan Xuan duduk bersamanya di meja makan yang telah dipenuhi banyak hidangan lezat.
"Hormat kepada Ayahanda Kaisar dan Ibunda Permaisuri" ucap Xuan memberi hormat.
Xuan pun duduk di kursi yang telah disisakan untuknya. Di meja itu juga telah terkumpul keenam pangeran yang jarang ditemui dihari biasa. Sepertinya ada hal penting yang akan dibahas pada acara makan malam itu.
"Semua pangeran telah berkumpul, sepertinya Ayahanda Kaisar memiliki hal penting yang perlu dibahas" ucap Xuan memecah suasana canggung diantara para pangeran.
"Xiao'er.. kau sangat memahami situasi" ucap Kaisar dengan tawa kecilnya memuji insting Xuan.
Permaisuri pun tersenyum mendengar Kaisar yang memuji putranya. Namun hal itu menambah canggung situasi diantara pangeran.
__ADS_1
"Tujuanku mengumpulkan kalian disini karena Putri dari Kerajaan Wu Xian yang akan datang kemari. Pangeran kedua telah menikah jadi aku tidak mengundangnya lagi" ucap Kaisar memulai pembicaraan.
"Maksud Yang Mulia adalah kedatangan putri kali ini bertujuan untuk menikahkan salah satu dari kami?" tanya pangeran ke 9 memastikan.
"Chen'er benar. Tapi karena Putra Mahkota telah memiliki calon istri maka dia akan dikecualikan"
Kata kata itu membuat permaisuri sedikit kesal karena putranya masih keras kepala dan Sang Kaisar juga menuruti kemauannya.
"Yang Mulia.. Putra Mahkota juga masih belum menikah.. kami sebagai adik sepertinya sedikit tidak sopan jika menikah lebih dulu" ucap pangeran keempat.
"Wu'er... bukankah umurmu dengan Putra Mahkota juga hanya berjarak 2 minggu?" ucap Sang Kaisar mengerjai putranya.
"Ta...tapi Yang Mulia" pangeran ke empat terbata karena tidak bisa memikirkan kata kata untuk menjawab pertanyaan Kaisar.
Sang Kaisar pun tertawa membuat para pangeran kebingungan.
"Aku hanya bercanda, kalian jangan terlihat kaku begitu..." ucap Kaisar kemudian yang masih tidak bisa menahan tawanya.
Melihat itu, permaisuri dan para pangeran pun ikut tertawa meskipun terlihat agak terpaksa hanya agar Kaisar tidak merasa bahwa candaannya terlalu garing.
"Kedatangan putri Kerajaan Wu Xian kali ini adalah untuk memilih salah satu dari kalian karena Yang Mulia Kaisar juga telah merundingkannya sebelumnya. Tapi ini hanya pertunangan saja, untuk pernikahan tentu saja harus menunggu Putra Mahkota menikah terlebih dulu" jelas permaisuri yang tidak suka basa basi.
"Maksud permaisuri adalah.. siapapun yang dipilih oleh Putri itu maka harus menikahinya?" tanya Yuan menegaskan.
"Benar! Jadi aku minta untuk sementara kalian jangan keluar istana dulu sebelum acara itu selesai" jawab Kaisar memberi peringatan.
"Jika kalian sudah mengerti, maka silahkan makan.. silahkan silahkan.." sambung Kaisar mempersilahkan untuk menyantap hidangan.
Kaisar, Permaisuri dan seluruh pangeran telah bersiap memegang sumpit logam mulia mereka dan ada yang sudah menyumpit salah satu hidangan.
"Jadi.. kapan Putri itu akan tiba?" tanya Xuan membuat aktivitas terhenti.
"Kira kira.. lusa.. sudahlah Xiao'er kita makan dulu. Lihatlah adik adikmu sudah lapar" jawab Kaisar sembari melihat putra putranya yang belum jadi menelan.
●●●~~●●●
Siapa yaaa yang bakal dipilih sama Putri dari Kerajaan Wu Xian ini?
__ADS_1
suport author dengan menekan 💖 dan 👍 yaaa
Xie Xie Ni 🤗🤗..