Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 13 "MAKAN MALAM"


__ADS_3


Matahari telah terbenam. Di taman istana juga telah disiapkan banyak meja dengan bermacam olahan daging dan arak. Para utusan dari kerajaan Wu Xian telah berkumpul dan saling berbincang sebelum acara dimulai. Sementara itu Lin Zi baru saja keluar dari paviliunnya namun setelah beberapa langkah, ia berhenti dan berbalik menghadap seorang pelayan yang ada dibelakangnya.


"ehh Nao Yu... malam ini kau tidak perlu mengikutiku" ucap Lin Zi.


"Tapi nona..."


"Kau istirahat saja.. nanti aku akan membawakan makanan untukmu, jangan khawatir.."


"Baiklah kalau begitu, nona hati hati.."


Lin Zi pun melanjutkan langkahnya. Tak lama kemudian, ia telah sampai ditempat acara makan malam. Bola matanya berputar mencari keberadaan Yuan. Namun ia tak menemukannya, hanya ada 3 pangeran yang berada disana.


Sepertinya Yuan masih belum datang, kalau begitu aku akan mencari Jing Xuan dulu ah...


Lin Zi pun pergi ke kediaman Putra Mahkota, tapi pelayan disana mengatakan bahwa Putra Mahkota baru saja keluar.


Lin Zi pun pergi, ia berjalan sambil berpikir kemana Xuan pergi. Tanpa sadar langkahnya membawanya ke kolam teratai. Ia terpukau melihat bunga teratai yang mekar di malam hari. Bau wanginya semerbak dan membuat pikiran menjadi tenang. Lin Zi pun berjalan melewati jembatan menuju pondok yang ada ditengah kolam teratai. Disana ia melihat banyak hidangan telah disajikan dimeja. Tiba tiba perutnya merasa lapar dan ia memakan hidangan itu dengan lahap. Setelah kenyang, ia meraih gelas kecil dan menuangkan arak ke dalamnya. Lin Zi pun minum, lagi dan lagi sampai arak yang ada di teko itu habis.


Lalu seorang wanita bersama pelayan pribadinya datang menghampiri Lin Zi. Keduanya tertegun melihat Lin Zi telah menghabiskan arak yang seharusnya untuk Xuan.


"Kau!" ucap Wu Liang tak mampu berkata kata.


"eee Wu Liang... kenapa cuacanya jadi panas sekali ya" gumam Lin Zi yang mulai merasa kepanasan dengan wajahnya yang memerah.


"Lancang!" kata kata Ning Qiu terhenti karena Wu Liang mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Ning Qiu diam.


"Kenapa panas sekali..." gumam Lin Zi seraya mengipasi dirinya dengan kedua telapak tangannya.


"Xiu Lin Zi.. ini adalah hari kematianmu!"


Wu Liang pun mengeluarkan cambuk dari dalam bajunya. Ia mengangkat cambuk itu dan mau mencambuk tubuh Lin Zi.


"Sepertinya putri Wu Liang sudah tidak memikirkan reputasinya lagi" sebuah suara menghentikan Wu Liang.

__ADS_1


"Hmmhhh kau lagi! Sepertinya kau tidak bisa jika tidak ikut campur urusanku!" ucap Wu Liang melihat pria yang tengah menghampiri Lin Zi.


"ehh... Jing Yuan aku sangat kepanasan. Kenapa malam ini sangat panas ya.. apa karena sudah mendekati musim panas?" gumam Lin Zi setengah sadar melihat Yuan kini ada disampingnya.


"Kau memasukkan obat perangsang dalam minuman ini. Kutebak ini pasti untuk Putra Mahkota kan, tapi Lin Zi yang tidak tau, meminumnya sampai habis" ucap Yuan setelah mencium aroma yang ada di teko arak itu.


Wu Liang hanya terdiam karena kini rahasianya telah terbongkar.


"Ternyata kau pintar juga" ucap Wu Liang menahan amarahnya.


"Aku akan melepaskan masalah di area perburuan dan juga masalah malam ini. Tapi jangan menyulitkan Zi'er lagi, atau aku akan memberitahu Putra Mahkota tentang kejadian ini" ucap Yuan memberikan penawaran.


"Kulihat kau selalu melindunginya, apakah dia tau tentang perasaanmu?" ucap Wu Liang menyindir halus.


Yuan tidak terlalu menghiraukannya. Ia sibuk membantu Lin Zi untuk berdiri karena tubuhnya yang lemas. Ia meletakkan lengan kanan Lin Zi ke bahunya, berusaha memapah gadis setengah sadar itu.


"Putri Wu Liang.. tentang perasaanku.. itu bukan urusanmu!" ucap Yuan sebelum memapah Lin Zi pergi.


"Nona.. apakah anda akan membiarkannya begitu saja? Gadis itu selalu menggagalkan rencana nona.." ucap Ning Qiu memperhatikan Wu Liang yang tidak berkutik.


Sementara itu Yuan memapah Lin Zi menuju paviliun Yue. Namun langkahnya terhenti karena efek obat ditubuh Lin Zi semakin bereaksi.


"Jing Yuan... wajahmu tampan sekali, aku sangat menyukainya" gumam Lin Zi seraya memegang pipi Yuan dengan kedua tangannya.


Perlahan Lin Zi mendekatkan bibirnya, ia hendak mencium Yuan. Yuan terlihat tengah memandang mata Lin Zi. Bibir mereka semakin dekat, Yuan mulai memejamkan matanya. Namun kesadaran Lin Zi hilang dan ia terjatuh dalam pelukan Yuan. Lin Zi terlalu banyak meminum arak itu jadi tubuhnya tak mampu lagi menahan efeknya hingga jatuh pingsan. Yuan pun menggendong Lin Zi didepan. Beberapa kali ia mengernyit kesakitan karena lukanya yang masih belum sembuh dan masih harus menggendong Lin Zi yang cukup berat.


Tak lama kemudian Yuan telah sampai di paviliun Lin Zi. Nao Yu menyambutnya dengan kawatir.


Yuan meletakkan tubuh Lin Zi ditempat tidurnya dan menyelimutinya.


"Pangeran.. luka anda berdarah lagi. Izinkan hamba untuk mengobatinya.." ucap Nao Yu melihat pria yang kini tengah duduk ditepi tempat tidur Lin Zi.


"Aku tidak apa apa. Cepat siapkan air dingin untuk kompres"


"Tapi..." Nao Yu tidak melanjutkan kata katanya, ia pun memberi hormat lalu segera pergi melaksanakan perintah Yuan.

__ADS_1


Tak lama kemudian Nao Yu telah tiba membawa seember air dingin dengan kain kompres. Yuan pun menerimanya lalu mencelupkan kain itu ke air kemudian memerasnya.


"Pangeran.. hamba bisa melakukannya, lebih baik anda merawat luka anda terlebih dulu" ucap Nao Yu yang kawatir dengan kondisi Yuan.


"Aku ingin melakukannya sendiri. Kau boleh pergi" jawab Yuan ngotot ingin merawat Lin Zi sendiri.


Nao Yu merasa enggan untuk pergi, tapi dia tidak bisa melawan perintah. Ia pun terpaksa keluar. Ia hendak menutup pintu, namun ia terhenti melihat Yuan yang tengah mengelap keringat Lin Zi. Yuan membuka hanfu bagian luar Lin Zi dan mengelap leher dan dada Lin Zi yang berkeringat. Kemudian ia mencelupkan lagi kain itu ke air dan memerasnya lagi. Ia kembali mengelap wajah Lin Zi. Namun tangannya terhenti, ia menatap Lin Zi dalam. Perlahan ia mulai membungkuk dan mendekatkan wajahnya. Matanya memejam ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir Lin Zi. Mata Nao Yu terlihat berkaca kaca, dan air matanya mulai menetes. Ia pun merapatkan pintu agar ia tak bisa melihatnya lagi.


Tak lama kemudian Yuan membuka pintu dan keluar. Seorang pelayan segera menghampirinya ketika ia kembali menutup pintu iu.


"Pakaiannya sudah basah kuyup karena terus berkeringat, kau gantikan bajunya" ucapnya pada gadis yang kini ada disampingnya.


"Sepertinya anda masih belum bisa melupakan nona Xiu.." gumam Nao Yu sambil tertunduk.


"Kau hanya seorang pelayan, jangan ikut campur dengan perasaanku!" ucap Yuan ketus.


"Tapi nona Xiu tidak pernah menghargai perasaan anda, kenapa anda masih belum menyerah?" tanya Nao Yu memberanikan diri dengan menatap mata Yuan.


"Nao Yu, apa yang...." kata kata Yuan terputus karena Nao Yu segera menyahutnya.


"Sejak kau memberikanku makanan di jalanan waktu itu, aku selalu memperhatikanmu. Lalu kau sering datang dan memberikanku makanan. Kau juga mengajariku membaca dan menulis. Kau bilang meskipun aku hanya gelandangan, tapi jika aku bisa membaca dan menulis maka aku bisa menaklukkan dunia. Sejak saat itu, aku selalu mengikutimu sampai aku melihat kau bertemu dengannya dipasar. Kemudian kau semakin jarang menemuiku sampai akhirnya kau tidak pernah datang. Sementara aku hanya bisa menunggumu.." Nao Yu berhenti sejenak karena airmatanya mulai menetes dan nafasnya mulai tidak stabil.


"Lalu aku tau bahwa kau adalah seorang pangeran. Aku mencuri dan hampir dipukuli sampai mati, saat itu kau datang menolongku lagi. Kubilang saat itu aku mencuri untuk membayar penyalur pekerja istana agar aku bisa masuk ke istana..." kata kata Nao Yu kembali terputus karena tersengal tangisnya.


"Lalu aku membawamu ke istana.." sahut Yuan yang juga mengingat kejadian itu.


"Selama ini aku selalu disisimu dan menuruti segala perintahmu meskipun itu membahayakan nyawaku.. tapi kenapa... tidak sedikitpun kau melihatku..." sambung Nao Yu yang tangisnya semakin pecah.


"Aku yang salah, seharusnya aku tidak pernah membawamu ke istana ini. Sebagai gantinya aku akan membebaskanmu dari istana ini agar kau bisa hidup lebih baik dan melupakanku" ucap Yuan sebelum pergi.


Mendengar kata kata itu, Nao Yu pun tertunduk.


"Tapi bukan itu yang kuinginkan.." gumam Nao Yu lirih sambil menangis tersedu.


●●●~~●●●

__ADS_1


Enaknya lanjutannya gimana ya?


__ADS_2