
Sekitar pukul 6 Lin Zi tiba di istana. Namun tak terlihat seperti biasanya. Istana yang biasanya ramai malah terlihat agak sepi.
"Tunggu dulu" ucap Lin Zi pada seorang pelayan yang lewat.
"Ada yang bisa hamba bantu nona?" tanya pelayan itu setelah memberi hormat.
"Kenapa istana terlihat agak sepi?"
"Yang Mulia Kaisar baru saja mangkat dini hari tadi. Beberapa pelayan membantu untuk menyiapkan ritual pemakaman" jelasnya.
"Yang Mulia Kaisar telah mangkat?" tanya Lin Zi kembali seolah tak percaya.
"Benar nona, kalau begitu hamba permisi. Hamba masih harus menyelesaikan tugas hamba" ucap pelayan itu sebelum memberi hormat lalu pergi.
Berita itu sangat mengejutkan Lin Zi. Namun yang lebih dikhawatirkan Lin Zi adalah Jing Xuan. Kondisinya masih belum pulih dan ayahnya meninggal di usia 49 tahun.
Lin Zi hanya melihat ritual penghormatan dari kejauhan. Karena selain keluarga yang sedang berkabung, tidak ada orang lain disana. Setelah pemakaman selesai, Lin Zi berniat untuk menemui Xuan. Namun saat ia melihat Xuan kembali ke paviliun Jin Long, langkahnya terhenti. Xuan terlihat kelelahan setelah upacara pemakaman yang memakan waktu seharian. Apalagi besok pasti akan diadakan rapat dadakan untuk membahas penerus Kaisar. Lin Zi pun membalikkan badannya. Ia terdiam.
"Zi'er?" sebuah suara dari arah belakang Lin Zi membuyarkan lamunannya.
"Jing Xuan.." gumam Lin Zi berbalik melihat asal suara itu.
"Kenapa kau disini?" tanya Xuan pada gadis yang berdiri didepannya.
"Aku..." Lin Zi bingung untuk melanjutkan kata katanya.
"Jing Xuan, aku minta maaf. Kau sudah menyelamatkan nyawaku, tapi aku justru tidak menjengukmu sama sekali. Aku juga ragu untuk menemuimu. Aku bahkan berdiri di baris paling belakang saat upacara pemakaman dilaksanakan. Aku minta maaf..." ucap Lin Zi tertunduk.
Xuan tersenyum kecil sembari mengusap rambut Lin Zi.
"Dasar gadis bodoh.." gumam Xuan.
Mendengarnya, Lin Zi pun mengangkat kepalanya melihat wajah Xuan yang tersenyum padanya. Saat ini dia terlihat seperti tidak ada beban, atau mungkin dia terlalu pandai menyembunyikannya.
"Ibuku menjaga paviliunku dengan sangat ketat, aku justru akan kawatir jika kau datang" lanjut Xuan yang masih tersenyum.
__ADS_1
Lin Zi pun meraih tubuh pria didepannya. Kedua tangannya merangkul pinggang Xuan dan ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Xuan. Xuan juga membalas pelukannya.
"Saat aku dinobatkan nanti, saat itulah hari pernikahan kita.." ucap Xuan yang terdengar sangat jelas ditelinga Lin Zi, namun Lin Zi terdiam.
"Zi'er, apa kau senang?" tanya Xuan pada Lin Zi yang tak kunjung memberi jawaban.
"Senang..." gumam Lin Zi kemudian mengeratkan pelukannya.
Saat Lin Zi mengatakan senang, terlihat airmata menetes di pipinya. Terharu, mungkin itulah yang dirasakannya. Bahkan di situasi seperti saat ini, Xuan masih memikirkan pernikahannya.
Keesokan paginya Xuan kembali beraktivitas seperti biasa. Ia menghadiri pertemuan para menteri dan membahas tentang penobatan. Xuan telah memutuskan minggu depan akan diadakan upacara penobatan sekaligus acara pernikahannya dengan Lin Zi. Para menteri tentu menolak, masa berkabung belum selesai malah memikirkan tentang pernikahan. Namun Xuan membantah, bagaimana ada Kaisar jika tidak ada Permaisuri. Pada akhirnya para menteri pun mengalah mengingat kondisi Xuan juga masih belum pulih.
1 minggu telah berlalu. Istana terlihat sangat ramai dengan para pelayan yang menyiapkan pernak pernik pernikahan dengan kain serba berwarna merah.
Saat ini Lin Zi telah dirias dan mengenakan hanfu pernikahan berwarna merah.
"Nao Yu... apakah aku terlihat cantik?" tanya Lin Zi sambil memandangi dirinya di cermin.
"Nao Yu?" gumam Ruyu yang tidak mengenali nama itu.
"Maaf.. aku salah menyebutkan nama.. jadi Ruyu.. apakah aku sudah terlihat cantik?" ucap Lin Zi meralat kata katanya.
"Hormat pada pangeran Yuan.." ucap Ruyu memberi hormat pada pria yang memasuki kamar Lin Zi.
"Jing Yuan.. kenapa kau kemari?" tanya Lin Zi yang berdiri dari duduknya.
Yuan hanya terdiam. Ruyu pun memberi hormat dan pergi meninggalkan mereka untuk memberi privasi.
"Jing Yuan.. apakah aku sudah terlihat cantik?" tanya Lin Zi tidak pias dengan jawaban Ruyu sebelumnya.
"Cantik...." gumam Yuan menjawab sekenanya.
"Jing Yuan, ada apa denganmu?" tanya Lin Zi melihat wajah Yuan yang tidak terlihat senang.
"Zi'er... apakah kau yakin akan menikahinya? Menjadi seorang permaisuri tidak akan mudah. Nantinya pasti akan ada banyak selir yang mengincar nyawamu" ucal Yuan menyampaikan maksudnya.
"Jing Yuan, aku tau. Xuan pernah berjanji tidak akan memiliki selir. Jadi..."
__ADS_1
"Kau percaya?" potong Yuan.
Lin Zi terdiam.
"Apakah kau benar benar percaya?" ucap Yuan mengulangi pertanyaannya dengan nada meninggi.
"Aku percaya" sahut Lin Zi.
"Kau bohong... kau sudah goyah sebelumnya.. kau hampir meninggalkannya kan?"
"Saat itu aku sedang tidak berfikir jernih, dan nyatanya aku masih disini kan?"
"Zi'er... tidak bisakah kau melupakannya dan pergi denganku?" ucap Yuan seraya memegang pundak Lin Zi dan mensejajarkan wajahnya.
"Aku tidak bisa" ucap Lin Zi memalingkan wajahnya.
Yuan menghela nafasnya dan melepaskan pundak Lin Zi.
"Jika kau bisa berdamai dengan masa lalumu, aku akan mempertimbangkannya.." ucap Lin Zi kemudian.
"Baik.. aku tidak akan membalas dendam padanya, bagaimana?"
"Kalau begitu aku akan mempertimbangkannya"
"Tapi setelah kau menjadi permaisuri, aku tidak akan bisa bertemu denganmu sebebas sebelumnya. Bagaimana cara kita berkomunikasi?"
"Bukankah aku masih menyimpan belatimu? Saat seseorang mengantarkannya padamu, berarti saat itu aku setuju untuk pergi bersamamu" putus Lin Zi.
Sesaat kemudian terlihat Ruyu tengah berlari dengan tergesa memasuki kamar Lin Zi.
"Nona.. upacara akan segera dimulai. Anda diminta untuk segera bersiap" ucap Ruyu setelah memberi hormat.
Yuan pun pamit dan Lin Zi segera bersiap. Upacara pernikahan dilakukan dihalaman depan aula pertemuan yang luas. Seluruh menteri dan pejabat hadir disana. Dipimpin oleh penasihat istana yang mengatur jalannya acara.
Setelah upacara pernikahan selesai, dilanjutkan dengan upacara penobatan dengan memberikan mahkota Kaisar pada Jing Xuan yang akan melanjutkan pemerintahan. Dengan begitu Lin Zi menjadi seorang Permaisuri dan Permaisuri yang sebelumnya kini menjadi seorang Ibu Suri.
Matahari telah tenggelam. Lin Zi telah duduk di tepi tempat tidur paviliun Jin Long dengan kepala yang masih ditutupi kain merah. Tak lama kemudian Xuan masuk dan membuka penutup kepala Lin Zi menandakan upacara pernikahan telah selesai dengan lancar dan layaknya pasangan pada umumnya mereka melaksanakan malam pertama.
__ADS_1
●●●~~●●●
episode selanjutnya \=》 SELIR ????