
Tiba tiba sebuah anak panah menancap pada leher harimau itu membuat harimau itu tidak berkutik. Yuan segera berlari menghampiri Lin Zi dari arah belakang harimau.
"Zi'er kau tidak apa apa?" tanya Yuan memastikan keadaan Lin Zi.
"Tidak apa apa!" sahut Lin Zi.
Ketakutan Lin Zi perlahan sirna melihat Yuan ada disisinya.
"Syukurlah.. ayo kita pergi dari sini" ucap Yuan seraya menggandeng tangan kiri Lin Zi.
Baru saja Yuan membalikkan badannya, 4 ekor harimau muncul dari dalam hutan. Lin Zi kembali ketakutan dan menggenggam erat lengan Yuan.
"Zi'er kenapa harimau harimau ini seperti mengejarmu?" tanya Yuan berusa menyelidiki akar masalah.
"Aku tidak tau" ucap Lin Zi yang kini bersembunyi dibelakang Yuan.
Angin berhembus membawa sebuah aroma yang tercium oleh hidung Yuan. Harimau yang juga mencium aroma itu pun terlihat semakin ganas seperti harimau kelaparan. Yuan pun mencium aroma tubuhnya, tidak ada yang aneh. Lalu Yuan berbalik dan mencium aroma tubuh Lin Zi. Kini ia tau kenapa harimau itu mengejar Lin Zi.
"Zi'er lepaskan bajumu!" ucap Yuan segera.
"Ke..kenapa! Apa yang kau pikirkan?!" ucap Lin Zi sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
"Aku mencium aroma daging di bajumu, jadi cepat lepaskan bajumu!" sahut Yuan menegaskan.
Yuan pun segera melepaskan hanfu lapisan luar Lin Zi dengan paksa dan melemparkannya kearah harimau itu. Keempat harimau itu saling berebut baju yang dilemparkan Yuan. Sementara itu Yuan segera merarik Lin Zi berlari melewati sisi kiri tebing.
Namun sesaat kemudian, keempat harimau itu kembali mengejar Lin Zi dan Yuan. Yuan berusaha memanah harimau harimau itu sambil berlari, namun anak panahnya terus meleset karena Yuan tidak bisa fokus. Harimau itu semakin mendekat, Yuan mengeluarkan sebuah belati bersarung perak dari dalam bajunya. Ia berusaha melawan harimau itu. Menyadari hal itu, langkah Lin Zi terhenti melihat keadaan Yuan dan memikirkan cara untuk menolongnya. Namun melawan 4 harimau dengan bersenjatakan belati tidaklah mudah. Seekor harimau berhasil melukai bahu kanan Yuan dengan cakar tajamnya. Yuan merasa kesakitan, tapi dia masih harus melawan harimau itu.
"Zi'er cepat masuk ke gua itu!" ucap Yuan dengan keras membuat Lin Zi mencari dimana gua yang dimaksud Yuan.
Bola matanya terhenti ketika melihat sebuah pintu gua yang sempit. Hanya bisa dimasuki jika seseorang memiringkan tubuhnya, dan hanya orang kurus yang bisa memasukinya.
"Tapi..." gumam Lin Zi yang tidak bisa meninggalkan Yuan dalam kondisi seperti itu.
Saat ini Yuan tengah menahan terkaman harimau lalu Lin Zi melihat sebongkah batu agak besar berjarak beberapa langkah darinya. Ia segera mengambil batu seberat 2,5 kg itu dan melemparnya kearah harimau harimau itu. Yuan pun memanfaatkan kesempatan itu menarik Lin Zi pergi memasuki pintu gua sempit itu. Keempat harimau itu berusaha mengejarnya tapi karena tubuhnya yang besar membuatnya tidak bisa masuk. Tapi mereka tak menyerah dan menunggu didepan pintu gua.
Nafas Lin Zi dan Yuan terengah. Tangan kiri Yuan memegangi bahu kanannya yang terus mengeluarkan darah. Melihat itu, Lin Zi mau merobek roknya. Tapi ia baru sadar bahwa kini ia hanya memakai celana kain panjang dan atasan berbentuk seperti tank top namun berbahan kain dan bertali bahu kecil. Lin Zi melihat hanfu Yuan dan segera merobek bagian bawahnya. Ia menyuruh Yuan untuk duduk dan melepaskan bagian atas hanfunya agar Lin zi bisa membalutnya.
"Semoga harimau itu segera pergi dan kita bisa keluar.. jika tidak... kau tidak akan bisa bertahan lagi.. luka di bahumu cukup dalam dan darahmu sudah keluar terlalu banyak" gumam Lin Zi yang kini duduk disamping Yuan seraya memeluk kedua kakinya yang ditekuk didepan, kepalanya tertunduk.
Yuan menatap Lin Zi yang terlihat sedang menyalahkan diri sendiri. Yuan pun mengambil hanfu bagian luarnya dan memakaikannya ke punggung Lin Zi. Lin Zi berbalik menatapnya.
"Jing Yuan..." gumam Lin Zi melihat Yuan yang kini hanya memakai atasan berbentuk seperti jubah mandi namun terbuat dari kain dengan bawahan celana panjang kain berwarna putih sama seperti atasanannya, meskipun kini atasannya bercampur warna merah dari darah.
"Kau bisa masuk angin..." ucap Yuan mengkhawatirkan Lin Zi.
Waktu terus berlalu, Lin Zi yang kelelahan pun tak lagi mampu menahan kantuk. Ia ketiduran dengan menumpangkan pelipis bagian kanannya diatas lutut. Yuan pun duduk menghadap Lin Zi agar bisa lebih leluasa memandangi wajah Lin Zi yang kini telah pulas.
__ADS_1
Tak lama kemudian suara tapak kaki kuda yang ramai membangunkan Lin Zi. Yuan telah berdiri dan mengintip apa yang terjadi diluar. Terlihat Xuan dengan beberapa pengawalnya menaiki kuda dan berhenti didepan gua itu.
Lin Zi pun berdiri dan ikut melihat melalui pintu gua yang sempit.
"Jing Xuan!" panggil Lin Zi dengan keras.
Xuan pun turun dari kudanya melihat Lin Zi keluar dari pintu gua diikuti oleh Yuan.
"Zi'er... bahumu.." ucap Xuan melihat bahu Lin Zi yang berdarah.
"Aku tidak apa apa, ini baju Yuan.. bahu Yuan yang terluka, kita harus segera membawanya kembali untuk dirawat" ucap Lin Zi dengan cepat.
Mereka pun segera kembali ke istana. Yuan pun telah mendapat perawatan dari tabib di paviliunnya.
Lin Zi juga telah menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Yuan. Orang pertama yang dicurigai oleh Xuan adalah Nao Yu, tapi Nao Yu mengatakan bahwa dia tidak tau apa apa. Lin Zi juga melarang Xuan untuk mengintrogasi Nao Yu, karnena Lin Zi percaya bahwa Nao Yu tidak akan berbuat hal itu. Lalu dikediaman Xuan, Xuan memerintahkan pengawal pribadinya untuk menyelidikinya secara rahasia, siapa yang menyemprot parfum beraroma daging ke baju berburu Lin Zi.
Malam semakin larut, namun lampu di paviliun Di Mian masih menyala.
"Wanita itu benar benar licik!" ucap seorang wanita sambil menggebrak meja.
"Gara gara dia aku jadi gagal untuk bersama Jing Xuan!" sambung wanita itu.
"Nona Wu Liang... bagaimana kalau anda meminta Putra Mahkota untuk makan malam bersama. Lalu memasukkan obat perangsang pada minumannya, dengan begitu anda bisa melewati malam bersama Putra Mahkota kan?!" ucap pelayan pribadi Wu Liang memberi pencerahan.
"Benar juga ya.. dengan begitu aku bisa menikah dengan Jing Xuan" ucap wanita itu sambil menghayal dengan cengingisan.
Lin Zi terlihat sedang mengintip dari balik pohon. Ia melihat seorang pria berbaju dan bermahkota emas baru saja keluar dari paviliun Yuan Ji. Setelah Kaisar berjalan agak jauh, ia bergegas memasuki paviliun Yuan Ji untuk bertemu Yuan.
"Jing Yuan.. Jing Yuan" panggil Lin Zi seraya memasuki paviliun.
"Zi'er... ada apa?" sahut Yuan seraya berdiri dari kursinya.
"Duduk saja.. duduklah.." ucap Lin Zi menyuruh Yuan duduk kembali sambil cengengesan.
Yuan pun tersenyum dan duduk kembali diikuti oleh Lin Zi yang duduk disampingnya.
"Zi'er ada apa kau kemari?" tanya Yuan pada Lin Zi yang sebelumnya tidak pernah datang ke kediamannya sendirian.
"Jing Yuan... emmm... ituuu" gumam Lin Zi yang kebingungan untuk memulai pembicaraan.
"Katakan saja.. jangan kawatir.." dorong Yuan sambil tertawa kecil.
Lin Zi pun mengeluarkan sebuah belati bersarung perak dari dalam lengan bajunya dan meletakkannya di meja kemudian menyodorkannya kepada Yuan.
"Ini..." gumam Yuan mengenali belati itu.
"Aku memungutnya sebelum meninggalkan tempat itu. Aku juga sudah membersihkannya.. Jing Yuan.. terima kasih karena kau telah menolongku" ucap Lin Zi kemudian memberitahukan maksud kedatangannya.
"Aku bahkan tidak mengingatnya karena kekacauan kemarin. Zi'er terima kasih sudah merawatnya.. Belati ini.. adalah pemberian ibuku sebelum kematiannya.." ucap Yuan yang memandangi belati didepannya.
__ADS_1
"Ternyata... ini benda yang sangat penting. Untung saja tidak hilang, jika hilang... aku tidak tau harus bagaimana.." gumam Lin Zi yang kini ikut memandangi belati itu.
"Ehh Zi'er..." Yuan mengambil belati itu dengan tangan kirinya.
"Kau bisa merawat belati ini untuk seterusnya..." sambung Yuan memberikan belatinya.
"Tidak tidak... ini benda yang sangat penting, aku tidak bisa menerimanya.." sahut Lin Zi seraya berdiri.
Yuan pun berdiri lalu meraih tangan kiri Lin Zi dengan tangan kanannya. Ia meletakkan belati itu ditelapak tangan Lin Zi dan membuat Lin Zi menggenggamnya.
"Zi'er.. aku hampir menghilangkannya. Karena kau telah menemukannya, maka mulai sekarang belati ini adalah milikmu. Belati ini memang untuk wanita, kau bisa membawanya kemanapun untuk melindungi diri jika sesuatu terjadi padamu" jelas Yuan agar Lin Zi mau menerima pemberiannya.
"Kalau begitu aku akan merawatnya dan menggunakannya dengan baik"
Yuan pun tersenyum mendengar perkataan Lin Zi. Bagi Lin Zi itu hanya sebuah pemberian biasa. Tapi bagi Yuan, memberikan belati itu berarti memberikan hatinya.
"Eh.. Jing Yuan, nanti malam apakah kau akan datang ke acara makan malam?" tanya Lin Zi mengalihkan pembicaraan.
"Tentu.."
"Tapi.. lukamu.."
"Ini hanya luka kecil, tidak apa apa.."
"Kalau begitu aku akan menemanimu nanti. Bagaimanapun juga kau terluka karena melindungiku, jadi setidaknya aku harus menjagamu sampai sembuh, iya kan?" ucap Lin Zi sambil tersenyum ceria.
"Sepakat" sahut Yuan tersenyum.
"Kalau begitu aku kembali dulu ya.. Nao Yu pasti sedang kebingungan mencariku karena aku pergi diam diam"
Yuan kembali tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Bye bye ..." ucap Lin Zi melambaikan tangan kanannya dan beranjak pergi.
Sambil berjalan Lin Zi melihat belati yang masih ada digenggaman tangan kirinya. Ia pun memasukkan belati itu kedalam bajunya agar tidak mudah jatuh.
Hari sudah semakin sore, Wu Liang memerintahkan pelayannya untuk mengantarkan surat ke kediaman Putra Mahkota. Surat itu berisi ...
*Salam, Putra Mahkota
Aku ingin mengundangmu untuk makan malam bersamaku di pondok kolam teratai. Ini adalah permintaan keduaku, jadi mohon untuk mengabulkannya*.
●●●●~~●●●*
Wahhhh Wu Liang mulai beraksi nih.. gimana ya kelanjutannya?
Kepoin yuk dan jangan lupa support author dengan menekan 💖 dan 👍 yaa
Thank you🤗🤗🤗
__ADS_1