Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 22 "SANDIWARA"


__ADS_3


Pagi pagi buta kediaman Nu Huang telah ramai. Terlihat 3 orang pelayan tengah berlutut didepan Lin Zi yang masih memakai hanfu lapis 1.


"Yang Mulia, terima kasih karena sudah membebaskan kami dari perbudakan" ucap seorang gadis berusia 23 tahun sambil bersujud diikuti kedua temannya.


"Berdirilah" ucap Lin Zi yang telah menerima penghormatan mereka.


"Kami berjanji akan setia kepada anda" ucap Xing Nan yang sejak tadi mewakili berbicara.


"Benar, mulai sekarang nyawa kami adalah milik anda Yang Mulia" tambah Yi Wei.


"Kalian berbicara seperti itu seolah aku mengutus kalian untuk berperang saja" ucap Lin Zi yang kini tertawa kecil.


Mendengar kata kata itu, ketiga pelayan itu langsung memandang wajah Lin Zi. Mereka merasa bahwa majikannya kali ini pasti sangat baik. Meskipun tidak pernah mengenalnya tapi dapat terasa dari senyumannya yang hangat menyambut mereka.


Matahari telah diatas. Namun rasa panasnya seperti menusuk kepala. Musim panas baru saja tiba, sehari terasa sangat panjang. Seleksi selir beberapa waktu lalu telah meloloskan 4 selir tingkat 8 dan 2 selir tingkat 7. Mereka memulai dari tingkat yang rendah sebelum akhirnya mereka membuat kemajuan dan menaikkan tingkatan selir mereka.


Matahari baru saja terbit, tapi Lin Zi telah bersiap. Karena setiap pagi para selir akan berkumpul di kediamannya dan memberi salam.


"Hormat pada permaisuri" ucap ke 6 selir bersamaan menyambut kedatangan Lin Zi di ruang pertemuan.


Dengan sangat elegan Lin Zi berjalan didampingi 2 pelayan menuju tempat duduknya yang posisinya lebih tinggi 2 anak tangga dari tempat duduk para selir. Hanfu panjangnya menjuntai hingga menyapu lantai, namun kini ia tampak terbiasa dengan itu. Perlahan ia menaiki 2 buah anak tangga dan duduk diatas sebuah kursi setinggi 40 cm.


"Bangunlah" ucap Lin Zi kepada ke 6 selir yang masih membungkuk memberi hormat.


Ke 6 selir pun duduk kembali di lantai yang beralaskan bantalan tipis.


"Karena aku belum mengenal kalian, tolong kalian perkenalkan diri kalian" ucap Lin Zi memulai perannya sebagai Permaisuri.


"Hamba selir tingkat 7, Wei Liu Ying" ucap Liu Ying.


"Kita sudah sering bertemu sebelumnya, rasanya lucu melihatmu memperkenalkan diri lagi disini" ucap Lin Zi dengan senyum menyindir.


"Kudengar Selir Wei mendapat nilai tertinggi saat seleksi, aku jadi sangat penasaran dengan ketrampilannya" sambung Lin Zi membuat keadaan menjadi canggung.


"Jika anda begitu penasaran, hamba bisa menunjukkannya sekarang" balas Liu Ying tak mau kalah.


"Tidak perlu. Musim panas sudah tiba, aku takut kalian akan kepanasan saat kembali jika pertemuan ini terlalu panjang"


Kelima selir lainnya menahan tawa mereka. Bagaimana tidak, wajah Liu Ying terlihat sangat kesal saat kalah bicara dari Permaisuri.

__ADS_1


"Hamba selir tingkat 7, Zhen Yiyi" ucap seorang selir yang duduk disamping Liu Ying.


"Yiyi... nama yang bagus.." gumam Lin Zi.


"Hamba selir tingkat 8, Wang Da Yue"


"Hamba selir tingkat 8, Zhen Qing"


"Hamba selir tingkat 8, Li Chang Yi


"Hamba selir tingkat 8, Feng Xuan Yin"


"Baiklah.. Pada pertemuan pertama kita, aku hanya ingin menegaskan. Karena kalian akan berada di istana dalam, kalian harus mematuhi aturan istana dalam. Dan jangan lupa bahwa aku adalah Permaisuri yang memimpin di istana dalam!" tegas Lin Zi menunjukkan kekuasaannya.


"Baiklah, kalian bisa kembali" ucap Lin Zi mempersilahkan ke6 selir untuk kembali ke kediaman masing masing.


"Sombong sekali, tidak tau diri!" gumam Liu Ying lirih namun terdengar oleh Lin Zi.


"Selir Wei tolong tinggal, yang lain boleh kembali" ucap Lin Zi.


Kelima selir yang lain pun memberi hormat kemudian keluar bersama.


"Selir Wei itu sangat lancang ya" ucap Selir Wang pada 2 orang selir yang bersamanya.


"Sepertinya sudah ada dendam pribadi diantara mereka. Bukankah tadi permaisuri mengatakan mereka sering bertemu?" ucap Selir Li memulai gosip.


"Benar!"


"Kalian tidak perlu memikirkannya, yang harus kalian pikirkan adalah bagaimana mendapat kasih sayang Kaisar dan melahirkan keturunan. Untuk apa mengurusi urusan orang lain, lucu sekali!" sahut Selir Zhen sembari berjalan dan tersenyum menyindir.


Sementara itu, didalam ruang pertemuan terlihat Lin Zi yang kini berdiri didepan Liu Ying.


"Selir Tingkat 7 Wei Liu Ying! Ingatlah posisimu!" ucap Lin Zi dengan tegas yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Liu Ying yang menahan amarahnya dengan mengepalkan kedua tangan.


"Zi'er" ucap seorang pria menghentikan langkah Lin Zi tepat didepan pintu ruang pertemuan.


"Jing Xuan... kenapa kau kemari?" ucap Lin Zi.


"Tadinya aku ingin menemanimu di pertemuan pagi pertamamu. Tapi sepertinya aku terlambat" jelas Xuan.


Seorang wanita berjalan dengan pincang keluar dari dalam ruangan. Terlihat pipinya telah basah dengan air mata.

__ADS_1


"Hormat pada Yang Mulia Kaisar" ucap Liu Ying setelah menghapus airmatanya.


"Apa yang terjadi dengan kakimu? Dan kenapa kau menangis?" tanya Xuan membuat semua mata memandang Liu Ying.


Sandiwara huh?


"Tadi hamba...." gumam Liu Ying sambil sesekali menatap Lin Zi.


"Katakan saja, tidak apa apa" dorong Xuan.


Liu Ying segera berlutut dengan airmata yang kembali menetes.


"Tadi hamba tidak sengaja mengucapkan sesuatu yang tidak disukai Permaisuri. Setelah selir lain pergi, Permaisuri mendorong hamba hingga terjatuh dan kaki hamba terkilir. Mohon Yang Mulia Kaisar memberi keadilan pada hamba" jelasnya.


Kata katanya membuat Lin Zi dan Xuan terkejut.


"Bohong! Yang Mulia, Selir Wei berbohong pada Yang Mulia. Permaisuri tidak pernah menyentuhnya, hamba mendampingi Permaisuri sejak tadi" ucap Ruyu sambil berlutut.


"Yang Mulia, dia adalah pelayan Permaisuri. Tentu saja akan membela majikannya meskipun majikannya bersalah. Sedangkan hamba..."


"Zi'er?" ucap Xuan menuntut penjelasan Lin Zi.


"Pelayanku sudah mengatakannya, apakah perlu aku mengulanginya?"


"Mohon anda berikan hamba keadilan Yang Mulia" ucap Liu Ying membuat Xuan menjadi serba salah.


"Berdirilah. Kasim Gong, segera siapkan tandu dan antar Selir Wei kembali ke paviliunnya. Dan juga segera panggil tabib untuk mengobati kakinya" perintah Xuan.


Kasim Gong pun segera pergi melaksanakan perintah Xuan.


"Ruyu, berdirilah. Ayo kita pergi" ucap Lin Zi.


Sementara itu, di sebuah ruangan khusus yang ada didalam paviliun Wangmu, terlihat seorang pelayan perempuan tengah berlutut memberi hormat.


"Apakah kau sudah melakukannya?" tanya seorang wanita paruh baya yang mengenakan jubah menjuntai hingga menyapu lantai.


"Hamba sudah melakukan apa yang anda perintahkan Yang Mulia Ibu Suri. Hamba mencampurkan ramuan yang anda berikan pada makanan dan minuman yang diantar ke kediaman Permaisuri" lapor pelayan muda itu.


"Ramuan ini tidak berwarna dan berbau. Meskipun dites dengan perak juga tidak akan meninggalkan bekas seperti racun. Karena sebenarnya yang kuberikan adalah tonik kesehatan, tapi jika pemakaiannya terlalu banyak akan membahayakan kandungan... Lanjutkan tugasmu, aku akan segera membebaskan keluargamu jika tugas ini telah selesai"


Demi menggugurkan kandungan Lin Zi, Ibu Suri melakukan tindak kejahatan. Tapi di jaman seperti itu penggunaan racun ataupun obat herbal sangatlah biasa. Dan tanpa disadari, Lin Zi menyantap ramuan itu setiap hari dan setiap waktu. Sesekali ia merasa perutnya sakit. Namun ia berpikir mungkin karena masih awal kehamilan jadi pencernaannya sering terganggu. Siapa sangka jika hal itu ternyata disebabkan oleh racun yang menyamar.

__ADS_1


●●●~~●●●


__ADS_2