
Hari berburu pun tiba. Sinar matahari mulai menembus celah celah pintu dan jendela. Burung berkicau saling bersautan. Lin Zi terlihat masih tidur pulas di tempat tidurnya. Nao Yu memasuki kamar Lin Zi dengan buru buru dan berusaha membangunkan Lin Zi.
"Nona... nona bangun nona... nona..." panggil panggil Nao Yu seraya menggoyangkan bahu Lin Zi.
"Aku masih ngantuk sekali.... jangan menggangguku..." gumam Lin Zi dengan mata yang masih terpejam sambil menepis tangan Nao Yu dibahunya.
"Nona bukankah hari ini anda akan berburu? Cepat bangun!"
Ucapan Nao Yu membuat Lin Zi bangun seketika. Ia benar benar melupakannya dan terlalu lelap dengan tidurnya.
"Nao Yu.. apakah Jing Xuan sudah berangkat?" tanya Lin Zi segera setelah ia sadar.
"Mereka masih bersiap di halaman istana dan akan segera berangkat.."
"Celaka celaka celaka celaka celaka" gumam Lin Zi seraya membuka selimut yang masih menutupi setengah kakinya dan bergegas menuju bak mandi yang sudah disiapkan.
"Nao Yu, cepat siapkan bajuku" perintah Lin Zi seraya melepas bajunya.
Tak lama kemudian Lin Zi telah siap dengan hanfu khusus untuk berburunya. Rambut panjangnya diikat keatas menggunakan pita panjang berwarna merah. Ia bergegas untuk keluar namun langkahnya terhenti didepan pintu. Ia melihat seekor kuda putih telah terikat di batang bambu depan paviliunnya yang dilengkapi dengan pelana, anak panah dan busur panah.
"Eh Nao Yu.. kenapa ada kuda disini?" tanya Lin Zi pada gadis yang baru selesai membereskan meja rias.
"Putra Mahkota tadi mengantarnya untuk anda" jawabnya.
"Jing Xuan? Kapan dia datang? Kenapa aku tidak tau?"
"Tadi saat anda masih tertidur..."
"Zi'er" ucap seorang pria mengenakan hanfu berburu warna putih.
"Ehh Jing Yuan... kenapa kau disini?" tanya Lin Zi pada pria yang menghampirinya.
__ADS_1
"Aku menunggumu di halaman istana, tapi kau tidak datang datang jadi aku kemari.." jelas Yuan seraya melihat kuda putih di depan paviliun Lin Zi.
"Ehh.. apakah ini kuda dari Putra Mahkota?" Bagus sekali" sambung Yuan seraya mengelus kepala kuda itu.
"Benar kan? Kalau begitu aku akan menamai kuda ini... Mei Li.." ucap Lin Zi seraya menghampiri kudanya.
"Mei Li berarti indah, cocok.. sangat cocok" puji Yuan dengan tersenyum
"Sudahlah.. kita sudah terlambat, Mei Mei ayo cepat pergi.." ucap Lin Zi bergegas melepaskan ikatan kuda dan menarik kudanya.
Lin Zi berusaha menarik tali kuda dengan kuat, namun tak selangkah pun kuda itu beranjak. Tangannya yang menarik tali tambang itu bahkan sudah memerah.
"Mei Mei.. ayo jalannn" ucap Lin Zi yang dahinya semakin mengernyit karena terlalu ngotot untuk menarik kudanya.
"Ehh.. Zi'er.. kenapa tidak menaikinya saja?" ucap Yuan yang melihat Lin Zi berusaha menarik tali kuda itu namun kuda itu tidak melangkah sedikitpun.
"ehh benar juga, hehehe" Lin Zi pun tertawa malu lalu berusaha menaiki kudanya.
Yuan pun tersenyum melihat tingkah konyol Lin Zi dihadapannya.
Lin Zi kebingungan karena kudanya masih tak mau berjalan. Ia pun mengingat ingat adegan mengendarai kuda pada acara drama kolosal di tv yang pernah ia tonton sebelumnya.
"Hiyaa! Hyaaa!" ucap Lin Zi dengan keras memerintahkan kudanya berjalan namun tetap saja kuda itu tidak bergerak.
Yuan tertawa kecil melihat Lin Zi yang tidak tau cara menunggang kuda. Ia pun melompat dengan jurus meringankan tubuhnya dan mendarat tepat dibelakang Lin Zi. Kedua tangannya memegangi tali kendali yang terlihat seperti sedang memeluk Lin Zi dari belakang. Lin Zi terdiam karena terkejut. Wajahnya mulai merona dan jantungnya berdetak agak cepat.
Sementara itu didalam paviliun Lin Zi terlihat seorang pelayan dengan mata berkaca kaca melihat perlakuan Yuan pada Lin Zi. Tangannya mengepal kuat.
"Kau harus memegang talinya dengan kuat" ucap Yuan tepat disamping telinga Lin Zi membuat Lin Zi jadi seperti patung batu.
"Lalu... pukul badannya menggunakan kakimu baru dia akan berjalan" sambung Yuan seraya mengetukkan kakinya ke badan kuda.
Kuda itu pun mulai berjalan dengan kecepatan rendah. Lin Zi merasa takjub karena ini pertama kalinya ia menunggang kuda. Matanya terbuka lebar melihat kekanan kekiri dan keatas, mulutnya terbuka dan berkali kali mengatakan waahhhhh waahhhhh.
__ADS_1
Setelah sampai dihalaman istana, Yuan menghentikan kuda itu dengan menarik tali kendali. Ia pun turun dan berganti menaiki kudanya sendiri berwarna cokelat gelap yang tadi ia tinggalkan untuk mencari Lin Zi. Lin Zi pun mengendalikan kudanya sendiri dan Yuan mengikutinya di belakang.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di area perburuan. Mereka menuntun kudanya memasuki area perburuan dengan padang rumput yang agak luas.
Lin Zi menuntun kudanya agak ketengah padang sementara Xuan tengah menghampiri Yuan yang ada di tepi padang rumput itu.
Lalu seorang wanita dengan hanfu berburu berwarna ungu menuntun kudanya menghampiri Lin Zi.
"Kudamu bagus juga.." ucap wanita itu.
"Tentu saja!" sahut Lin Zi ketus.
"Percuma saja kuda bagus jika tidak bisa mengendarainya" sindir wanita itu lagi.
"Wu Liang.. apakah sudah pernah ada yang mengatakan kalau kau itu sangat sombong?" ucap Lin Zi yang tidak suka disindir oleh Wu Liang.
"Kau!" kata kata Wu Liang terputus karena Lin Zi segera menyautnya.
"Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu lagi. Kalau begitu aku pergi dulu ya" ucap Lin Zi seraya menaiki kudanya.
Kata kata Lin Zi membuat Wu Liang sangat kesal.
"Lihat saja apa kau bisa mengendarainya" gumam Wu Liang seraya memukul bokong kuda dengan keras menggunakan cambuk yang dibawanya.
Kuda itu pun menjerit mengangkat kedua kaki depannya dan melaju dengan sangat kencang memasuki hutan. Yuan pun segera menunggangi kudanya dan mengejar Lin Zi. Tidak mau disalahkan, Wu Liang pura pura terjatuh dan menahan Xuan yang mau pergi mengejar Lin Zi. Wu Liang mengatakan pada Xuan bahwa dia sangat terkejut karena kuda Lin Zi tiba tiba menggila. Xuan melihat Yuan yang telah memasuki hutan mengejar Lin Zi, dalam hatinya berharap Yuan dapat melindungi Lin Zi. Dia pun membantu Wu Liang untuk berdiri dan berusaha untuk tetap bersikap baik mengingat hubungan antar Kerajaan.
Sementara itu, kuda Lin Zi masih melaju dengan sangat kencang memasuki hutan semakin dalam. Yuan yang mengejarnya pun kehilangan jejaknya dan berusaha menyusuri jejak kaki kuda dengan kecepatan sedang.
Sebuah pergerakan dari balik semak belukar mengejutkan kuda Lin Zi sampai menjerit dan mengangkat kedua kaki depannya. Gerakan yang tiba tiba itu menjatuhkan Lin Zi dari kudanya. Tanpa pikir panjang, kuda itu segera berbalik dan berlari meninggalkan Lin Zi. Lin Zi jatuh terduduk dan mengernyit kesakitan memegangi bokongnya sambil berusaha berdiri. Sesosok hewan besar keluar dari semak semak itu. Mata Lin Zi terbelalak melihatnya. Seekor harimau besar menghampiri Lin Zi. Tanpa pikir panjang, Lin Zi yang ketakutan pun segera berlari menyelamatkan diri. Harimau itu mengejarnya.
Yuan melihat kuda Lin Zi yang berlari kembali sendirian. Ia pun segera mempercepat langkah kudanya menuju asal kuda Lin Zi berlari.
Sementara itu langkah Lin Zi terhenti diujung tebing. Jalan buntu! pikirnya. Kini harimau besar itu hanya berjarak 5 meter darinya dan terus mendekat perlahan. Langkah Lin Zi sudah mencapai ujung tebing, jika melangkah lagi, ia akan terjatuh.
__ADS_1
●●●~~●●●
Bersambung yaa......