Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 21 "DUKUNGAN"


__ADS_3


"Yang Mulia, tadi hamba bertemu dengan Permaisuri di depan" ucap Liu Ying seraya menuangkan teh ke gelas.


"Tapi saat hamba menawarkannya untuk bergabung, dia menolak dan membuang kue.nya di tanah" tambah Liu Ying yang kini duduk disamping Ibu Suri.


"Dia pasti cemburu melihatmu" ucap Ibu Suri setelah mencium aroma teh buatan Liu Ying.


Xuan hanya terdiam. Mengingat bagaimana kata katanya sebelumnya, ia merasa serba salah.


"Jika sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, mohon Ibu Suri dan nona Wei segera kembali. Aku ingin beristirahat" ucap Xuan yang tidak suka mereka menggunjing Lin Zi.


Ibu Suri dan Liu Ying pun keluar dan berjalan bersama melewati taman istana.


"Liu Ying, kau jangan kawatirkan seleksi selir itu. Itu hanya sebagai formalitas saja. Tentunya aku akan meluluskanmu dan menjadikanmu Selir Tingkat 1" ucap Ibu Suri sembari berjalan pelan.


"Tapi bukankah yang mengatur istana dalam adalah Permaisuri?" tanya Liu Ying menyamakan langkah.


"Asal aku ingin, dia pasti tidak bisa menolaknya. Lagipula selama dia menjadi Permaisuri, semua tugasnya dilakukan oleh Kaisar, yang dia lakukan hanya makan dan tidur saja"


"Kalau begitu, mohon bantuan Ibu Suri"


1 minggu berlalu dengan sangat cepat. Banyak gadis yang berkumpul di depan aula khusus pemilihan. Semua cantik dan muda. Seleksi tahap pertama selesai pada sore hari dan meloloskan 27 peserta dari 42 peserta. Para peserta yang lolos akan melakukan seleksi tahap kedua, 2 hari kemudian.


"Hormat pada Ibu Suri" ucap Lin Zi ketika berpapasan dengan Ibu Suri dan Liu Ying yang tengah berjalan bersama.


"Seleksi sudah selesai, kenapa kau berjalan ke arah sana?" tanya Ibu Suri.


"Aku sedang menuju balai pengobatan istana yang kebetulan tempatnya ada di sebelah aula khusus seleksi" jawab Lin Zi dengan sopan.


"Balai pengobatan? Apakah kau sakit? Lalu kenapa kau tidak menggunakan tandu dan hanya membawa 1 pelayan?" tanya Ibu Suri.


"Aku hanya ingin mengambil racikan teh pesananku. Akhir akhir ini badanku sakit karena tidak banyak bergerak, jadi sekalian jalan jalan. Dan juga tentang pelayan, aku tidak mudah mempercayai orang lain, jika banyak pelayan takutnya ada yang menyusupkan mata mata"


"Kata katamu ini seolah kau sedang menyindirku karena sebagian pelayan di kediamanmu adalah orang orangku"


"Aku tidak berani. Sepertinya Ibu Suri sangat dekat dengan nona Wei sehingga aku sering melihat kalian bersama"


"Ibu Suri sangat baik padaku, dan juga aku akan segera menjadi selir Kaisar. Jadi kurasa tidak ada salahnya" ucap Liu Ying.


"Lancang!" ucap Lin Zi membuat semua orang terkejut.


"Seleksi masih belum selesai dan kau sudah memproklamasikan gelar selirmu, apakah itu pantas?" tambah Lin Zi membuat Liu Ying tertunduk.


"Pelayan, antarkan nona Wei kembali ke kediamannya" ucap Ibu Suri pada pelayan yang ada dibelakangnya.


Salah satu pelayan Ibu Suri telah pergi bersama Liu Ying.


"Permaisuri, tidakkah kau terlalu berlebihan menanggapinya?!" ucap Ibu Suri sebelum berlalu bersama 5 pelayannya.


"Yang Mulia, sepertinya nona Wei akan menjadi musuh terbesar anda. Apalagi dia mendapat dukungan dari Ibu Suri..." ucap Ruyu kawatir.


"Kau tidak perlu memikirkannya. Sepertinya kedepannya sudah bukan jalan yang mudah. Aku harus berusaha menjadi Permaisuri yang sesungguhnya"


Tak lama kemudian Lin Zi dan Ruyu pun tiba di balai pengobatan dan disambut oleh pangeran ke 7.


"Permaisuri anda.." ucap Xiu setelah Lin Zi membisikkan permintaannya.


"Sssstttt" sahut Lin Zi segera agar Xiu tidak keceplosan.


"Sudah berapa lama? Apakah Kaisar sudah mengetahuinya?" bisik Xiu.

__ADS_1


Lin Zi tidak menjawab pertanyaan Xiu dan hanya melihatnya dengan tatapan yang bermakna "jangan banyak tanya".


"Karena Permaisuri sudah disini.. bagaimana kalau minum teh bersamaku? Aku punya teh yang sangat bagus"


Mereka pun duduk tak jauh dari balai pengobatan. Seorang pelayan telah menghidangkan teh pesanan Xiu. Lin Zi pun mengambilnya dan mencium aromanya.


"Peppermint?" gumam Lin Zi mengenali aroma itu.


"Benar. Teh ini sangat berkhasiat mengatasi gangguan pencernaan dan memperbaiki suasana hati. Kulihat Permaisuri sudah tidak bisa tertawa bebas seperti sebelumnya, apalagi ditambah dengan pemilihan selir ini....." Xiu ragu melanjutkan kata katanya.


"Sejak menjadi Permaisuri... rasanya semuanya menjadi membosankan.."


"Bukankah Kaisar sering mengunjungimu?"


"Benar. Tapi sudah 1 minggu ini dia tidak menemuiku. Mungkin terlalu sibuk.."


"Benar juga.. Tapi biasanya walaupun sangat sibuk dia selalu meluangkan waktu untuk mengunjungimu. Apakah terjadi masalah?"


"Kurasa ada sedikit salah paham diantara kami. Hanya saja kami terlalu egois untuk meluruskannya"


"Kaisar memang keras kepala, tapi meski begitu dia sebenarnya adalah pribadi yang lembut"


"Jing Xiu, untuk pesananku yang sebelumnya, ganti saja dengan teh ini. Sepertinya teh ini lebih bagus" ucap Lin Zi mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah. Jika sudah ada aku akan membawakannya untukmu"


"Matahari sudah hampir terbenam sepenuhnya, aku harus kembali"


Lin Zi pun kembali ke kediamannya. Namun saat ia memasuki kediamannya, sudah ada seseorang berjubah warna emas dan bermotif naga yang telah menunggunya.


"Zi'er" sambut pria itu menyambut Lin Zi yang baru masuk.


"Jing Xuan.." gumam Lin Zi.


"Liu Ying? Sepertinya kau sudah akrab dengannya sampai tidak memanggil dengan marganya.."


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Dan juga tentang apa yang ingin kau katakan padaku tempo hari..."


"Apakah itu masih penting?"


"Zi'er kau masih marah?"


Lin Zi menghela nafas panjang tidak tau harus bagaimana menjelaskan perasaannya.


"Aku tidak marah. Aku hanya.... agak cemburu. Bagaimanapun juga sebagai seorang Kaisar, kau tidak akan bisa hidup tanpa selir. Tapi aku juga wanita, perasaan itu tidak bisa terhindarkan" jelas Lin Zi kemudian.


"Lalu apa yang ingin kau katakan tempo hari?"


"Sebenarnya waktu itu aku ingin mengatakan padamu bahwa aku sedang.." kata kata Lin Zi terputus karena seorang pelayan wanita menerobos masuk.


"Yang Mulia maafkan kelancangan hamba"


"Bukankah kau pelayan Ibu Suri?" ucap Lin Zi mengenali pelayan itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Xuan melihat wajah panik pelayan itu.


"Ibu Suri baru saja jatuh pingsan"


"Zi'er pembicaraan kita dilanjutkan lain waktu saja, aku harus pergi" ucap Xuan sebelum mulai berjalan bersama pelayan itu.


"Ibu Suri pingsan kenapa malah mencari Kaisar, bukannya mencari tabib" gerutu Ruyu.

__ADS_1


"Ruyu, siapkan teh chamomile. Kita juga harus segera menjenguk Ibu Suri"


Tak lama kemudian Lin Zi pun pergi menuju paviliun Ibu Suri bersama Ruyu yang membawa nampan berisi teko dan cangkir.


"Hormat pada Ibu Suri" ucap Lin Zi sedikit membungkuk pada wanita paruh baya yang tengah duduk bersandar di tempat tidur.


"Berdirilah" ucap Ibu Suri.


Katanya Ibu Suri jatuh pingsan, tapi kenapa wajahnya tidak terlihat pucat sama sekali?


"Zi'er?" panggil Xuan membuyarkan lamunan Lin Zi.


"Kudengar Ibu Suri jatuh pingsan, jadi aku menyiapkan teh chamomile yang sangat berkhasiat"


Ruyu pun maju dan mengulurkan nampan dengan 2 cangkir yang telah terisi teh. Xuan pun mengambilnya dan mencium aromanya.


"Aroma bunga chamomilenya sangat kuat. Kudengar bunga ini dapat membantu merelaksasikan pikiran, meredakan radang, mengatasi migrain dan juga diabetes. Teh ini sangat bagus, Ibu harus mencobanya" ucap Xuan.


Ibu Suri pun mengambil 1 cangkir teh yang tersisa dan meminumnya seteguk.


"Lumayan" ucap Ibu Suri menutupi rasanya yang cocok di lidahnya.


"Jika Ibu Suri suka, aku masih ada 1 kotak. Besok aku akan meminta Ruyu mengantarnya"


"Terserah kau saja" ucap Ibu Suri ketus.


"Zi'er, sudah malam. Kembalilah" ucap Xuan menyadari sikap Ibunya yang masih belum bisa menerima Lin Zi.


Lin Zi pun pamit bersama dengan Ruyu. Di perjalanan menuju paviliunnya, pikirannya tak bisa berhenti bekerja.


"Ruyu, aku ingin kau pastikan sesuatu" ucap Lin Zi menghentikan langkahnya.


"Apapun itu, Ruyu siap melakukannya" terima Ruyu.


"Kau pergi cari tabib yang mendiagnosa kehamilanku waktu itu. Tapi jangan sampai ada yang mengetahuinya, apa kau mengerti?" perintah Lin Zi yang ingin mencari tau apakah dugaannya benar.


Ruyu pun pergi melaksanakan perintah Lin Zi. Ia mencari di balai pengobatan tapi tidak menemukannya. Kemudian ia pergi secara diam diam keluar istana, menuju rumah tabib itu yang tak jauh dari istana.


Malam sudah larut, namun Lin Zi masih menunggu dengan gelisah. Tak lama kemudian, Ruyu memasuki ruangannya dan Lin Zi segera menyambutnya.


"Bagaimana?" tanya Lin Zi dengan segera.


"Tabib itu sudah dibunuh Yang Mulia" lapor Ruyu.


"Dibunuh?" ucap Lin Zi terkejut.


"Kata keluarganya, mayat tabib itu ditemukan di jalan 1 minggu lalu" sambung Ruyu.


"Ternyata dugaanku benar..."


"Maksud anda adalah......" gumam Ruyu yang juga telah menduga.


"Ibu Suri sudah mengetahui berita kehamilanku dan berusaha menutupinya dari Jing Xuan. Kalau begitu, cepat atau lambat dia pasti mengincar kandunganku"


"Lalu kita harus bagaimana Yang Mulia?" tanya Ruyu.


"Ruyu, apakah kau memiliki teman yang bisa dipercaya?"


"Ada Yang Mulia, tapi mereka telah menjadi budak di kantor pemerintahan"


"Tidak apa apa, besok kau sampaikan perintahku untuk menjadikan mereka sebagai pelayanku"

__ADS_1


"Baik Yang Mulia" sahut Ruyu dengan wajah girang karena bisa bertemu temannya lagi.


●●●~~●●●


__ADS_2