
Seperti biasa, pertemuan pagi untuk memberi hormat dilaksanakan di kediaman Permaisuri. Lima orang selir telah hadir disana dan masih menunggu kehadiran seorang selir lagi.
"Yang Mulia maaf aku terlambat" ucap seorang wanita yang baru memasuki ruangan.
"Duduklah" ucap Lin Zi tidak ingin memperpanjang masalah.
"Yang Mulia Kaisar semalam sangat ganas, aku jadi sangat kerepotan. Badanku rasanya sakit semua" ucap Liu Ying yang masih tak segera duduk.
"Apakah aku bertanya? Tidak tau malu!" sindir Lin Zi dengan sinis.
Selir yang lain kembali menertewakan kelancangan Liu Ying. Sifatnya seperti anak anak yang suka pamer. Niat hati ingin membuat Lin Zi cemburu, tapi Lin Zi justru tidak menghiraukannya.
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. Cahaya matahari sudah mulai kekuningan. Terlihat Lin Zi yang tengah berdiri di jembatan kolam teratai. Sepertinya sekarang ia lebih sering berada disana.
"Hormat pada Yang Mulia Permaisuri" ucap seorang wanita menghampiri Lin Zi.
"Apa yang Permaisuri lakukan disini sendirian?" tambah Liu Ying melihat Lin Zi tidak menjawab salamnya.
"Mencari udara segar" sahut Lin Zi sekenanya.
"Kukira Yang Mulia Kaisar juga mengundang anda minum teh, ternyata aku salah" ucap Liu Ying dengan sengaja ingin membuat Lin Zi marah.
"Minum teh?"
"Benar. Tadi pagi sebelum meninggalkan paviliun Taijing, Yang Mulia Kaisar mengundang hamba untuk minum teh bersama di pondok kolam teratai. Sepertinya Yang Mulia Kaisar hanya ingin minum teh berdua denganku" ucap Liu Ying memanasi hati Lin Zi.
"Benarkah? Kalau begitu nikmatilah waktumu. Aku akan pergi" ucap Lin Zi yang mulai melangkah.
Sial! Kenapa dia tidak marah sama sekali? Jika begini rencanaku akan gagal! (suara hati Liu Ying)
"Permaisuri tunggu dulu" ucap Liu Ying menghentikan langkah Lin Zi.
Lin Zi pun kembali menghadap Liu Ying, dan Liu Ying mendekatinya.
Liu Ying melihat Xuan yang tengah berjalan. Dengan cepat ia menarik kedua tangan Lin Zi dan berbuat seolah olah Lin Zi tengah mencekiknya.
"Selir Wei, apa yang kau lakukan !" ucap Lin Zi berusaha melepaskan tangannya tapi cengkeraman Liu Ying lebih kuat.
Xuan melihatnya dan segera berjalan kearahnya. Sandiwara Liu Ying masih belum selesai. Ia menceburkan dirinya ke kolam dan berpura pura tidak bisa berenang. Hal itu membuat Lin Zi benar benar tercengang. Ia baru menyadari kenapa Liu Ying melakukan itu. Xuan kini sudah ada disampingnya dan Hao Yi masuk ke kolam untuk menyelamatkan Liu Ying.
"Apa yang sudah terjadi disini?!" tanya Xuan menuntut penjelasan.
Liu Ying telah dibawa naik oleh Hao Yi dan segera berlutut didepan Xuan.
"Yang Mulia, mohon beri hamba keadilan" ucap Liu Ying dengan menangis.
"Permaisuri marah karena semalam hamba bermalam dengan anda. Dia hampir membunuh hamba. Yang Mulia tolong tegakkan keadilan" tambah Liu Ying.
"Zi'er ?" panggil Xuan meminta penjelasan dari Lin Zi.
"Apakah kau mempercayainya?" tanya Lin Zi dengan tenang.
"Aku..." gumam Xuan ragu ragu. Ia mempercayai Lin Zi, tapi ia melihat kejadian itu dengan matanya sendiri.
"Jika kau mempercayainya maka tidak ada gunanya aku menjelaskannya, kau tetap tidak akan mempercayaiku"
Terkadang dalam sebuah hubungan ada hal yang tidak perlu dijelaskan. Dan sebagai pasangan kau harusnya bisa mengerti karena kau adalah orang terdekat yang memahami.
Xuan melihat punggung Lin Zi yang semakin jauh meninggalkannya. Dada Lin Zi terasa sesak karena sikap Xuan yang seolah tak lagi mempercayainya.
Matahari sudah lama tenggelam. Lin Zi masih duduk terpaku di meja riasnya dengan Ruyu yang membantunya menyisir rambut. Lin Zi hanya mematung memandangi sebuah tusuk rambut dengan hiasan berbentuk bunga teratai yang dipegangnya diatas meja. Beberapa kali jarinya memutar tusuk rambut itu.
"Yang Mulia Permaisuri.." panggil Ruyu.
Namun Lin Zi tak menanggapinya sedikitpun. Tatapannya masih kosong.
__ADS_1
"Yang Mulia" ulang Ruyu membuat Lin Zi terkejut hingga kelopak teratai yang diukir agak runcing menusuk telapak tangannya.
"Ahh" teriak Lin Zi sembari melihat telapak tangannya yang mulai mengeluarkan darah.
"Yang Mulia, anda tidak apa apa? Aku akan segera mengambilkan obat"
"Tidak perlu" sahut Lin Zi.
"Hanya luka kecil. Lagipula hanya akan mengeluarkan setetes darah, tidak perlu berlebihan" tambahnya lagi seraya mengusap darah yang keluar dengan sapu tangan.
"Apakah Yang Mulia Kaisar memanggil selir lagi?" tanya Lin Zi menebak apa yang ingin dikatakan Ruyu tadi.
"Benar.. malam ini Yang Mulia Kaisar memanggil selir Zhen" ucap Ruyu mengkhawatirkan perasaan Lin Zi.
Lin Zi menghela nafas panjang.
"Ruyu... jika hari itu aku tidak kembali ke istana, apakah Jing Xuan tetap akan menjadi seorang Kaisar?" tanya Lin Zi menerawang masa lalu.
"Menjadi Permaisuri bukanlah hal yang kuinginkan. Sedangkan menjadi Kaisar, adalah sebuah keharusan bagi Jing Xuan. Jika hari itu aku tidak kembali, apakah aku akan bahagia?"
"Apakah Yang Mulia Permaisuri menyesal?" tanya Ruyu pada gadis yang kembali memainkan tusuk rambutnya.
"Aku tidak menyesal. Bahkan jika aku kembali pada saat itu, aku akan tetap memilih hal yang sama. Hanya saja.. menjadi Permaisuri sangat menggelikan. Aku memiliki kekuasaan satu tingkat dibawah Kaisar, tapi aku tidak bisa melindungi perasaanku sendiri, bukankah itu lucu?"
"Yang Mulia....." gumam Ruyu.
"Aku bahkan melupakan tujuanku berada disini, dan terus mengikutinya. Dia bilang tidak akan memiliki selir, tapi nyatanya... Kurasa aku bisa mengerti kenapa dia tidak menepati janjinya. Tapi aku tidak bisa mengerti jika sampai dia tidak mempercayaiku lagi"
***
Keesokan paginya Zhen Yiyi tidak datang untuk memberi hormat pada Permaisuri.
"Kemana selir Zhen?" tanya Lin Zi melihat kursi Yiyi yang kosong.
"Selir Zhen sedang masuk angin jadi tidak bisa datang memberi hormat" jawab Zhen Qing menjelaskan penyebab ketidakhadiran kakaknya.
***
"Yang Mulia Permaisuri tiba" teriak kasim mengumumkan kedatangan Lin Zi.
Yiyi segera bangun dari tidurnya dan berusaha memberi hormat.
"Kau sedang sakit, tidak perlu memberi hormat dulu" ucap Lin Zi membantu Yiyi duduk di tepi tempat tidurnya.
Ruyu pun meletakkan nampan yang dibawanya diatas meja.
"Hormat pada Yang Mulia Permaisuri" ucap seorang wanita yang baru masuk.
"Kudengar Selir Zhen sakit jadi aku datang menjenguk. Tidak kusangka Permaisuri juga ada disini" sambung Liu Ying setelah memberi hormat.
"Oh ya, aku tadi membawakan teh jahe dan cemilan. Kau harus segera meminum tehnya selagi masih hangat"
Ruyu memegang gagang teko hendak menuangkan teh ke cangkir, namun Liu Ying merebutnya.
"Biar aku saja yang menuangkan tehnya"
Tanpa diketahui orang lain, Liu Ying menaburkan serbuk putih kedalam cangkir dan menuangkan tehnya agar serbuk itu segera tercampur. Setelah itu ia memberikannya pada Yiyi dan tanpa ragu Yiyi segera meminumnya.
"Bagaimana?" tanya Lin Zi setelah Yiyi menghabiskan setengah cangkir tehnya.
"Rasanya hangat ditenggorokan. Terima kasih Permaisuri sudah peduli dan perhatian padaku" ucap Yiyi.
"Yang Mulia Kaisar tiba" teriak kasim mengumumkan kedatangan Xuan.
Seluruh orang diruangan itu segera memberi hormat.
"Aku sudah lama disini, sebaiknya aku segera pergi" ucap Lin Zi pamit.
__ADS_1
Lin Zi masih merasa marah pada Xuan dan tidak ingin melihatnya untuk sementara waktu jadi ia berusaha menghindarinya. Sesaat setelah Lin Zi keluar, Yiyi terbatuk batuk dan memuntahkan darah. Xuan segera memegangi tubuhnya dan memerintahkan untuk segera memanggil tabib.
Kali ini kau tidak akan lolos Permaisuri ! (suara hati Liu Ying)
"Bagaimana?" tanya Xuan pada tabib yang memeriksa nadi Yiyi yang tengah terbaring tak sadarkan diri di ranjangnya.
"Untung racunnya belum menyebar, nyawa Selir Zhen masih bisa tertolong. Hanya butuh minum obat dan istirahat beberapa hari dan ia akan segera pulih"
"Racun?" gumam Xuan tak mengerti.
Liu Ying segera mengambil kesempatan.
"Lapor Yang Mulia, tadi Permaisuri membawakan teh jahe. Dan setelah meminumnya, Selir Zhen jadi seperti ini. Mungkinkah...."
Tabib itu segera mengambil jarum perak dari sakunya dan mencelupkannya pada teh yang tersisa di cangkir Yiyi tadi. Warna jarum yang tercelup berubah menjadi hitam membuat Xuan sangat terkejut.
"Sebelumnya Permaisuri mendorongku ke kolam karena bermalam dengan Yang Mulia, sekarang dia meracuni Selir Zhen. Jika ini terus berlanjut, hamba takut seluruh selir di istana ini akan menderita karena kecemburuan Permaisuri"
Xuan tidak menghiraukan kata kata Liu Ying dan bergegas menuju paviliun Nu Huang. Liu Ying yang tak mau ketinggalan pertunjukkan juga mengikutinya.
Sementara itu, Lin Zi tengah memandangi tusuk rambut yang dipegangnya. Mengingat hubungannya dengan Xuan yang kini semakin memburuk, membuat hatinya semakin gelisah.
"Yang Mulia Kaisar tiba" teriak kasim mengumumkan kedatangan Xuan bersama Liu Ying.
"Jing Xuan.." gumam Lin Zi segera berdiri.
"Yang Mulia, sebaiknya anda segera menggeledah tempat ini" ucap Liu Ying memanasi Xuan.
"Lancang ! Keberanian darimana seorang selir mau menggeledah kediaman Permaisuri?!" bentak Lin Zi pada Liu Ying.
"Pergilah, aku akan mengurus masalah ini" ucap Xuan pada Liu Ying.
Liu Ying pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Zi'er.. katakan yang sesungguhnya. Jika kau mengatakannya aku tidak akan menghukummu" ucap Xuan seraya memegang pundak Lin Zi dan mensejajarkan wajahnya.
"Jing Xuan, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang harus kukatakan padamu?"
Xuan melepaskan pegangannya dan kembali berdiri tegap.
"Selir Zhen keracunan setelah meminum teh jahe darimu. Jika kau benar melakukannya, aku tidak akan menghukummu"
"Kau tidak mempercayaiku?" tanya Lin Zi menebak ekspresi Xuan.
"Jing Xuan, aku benar benar tidak melakukannya.." jelas Lin Zi dengan mata yang mulai berkaca kaca.
Aku mohon, percayalah padaku (suara hati Lin Zi)
"Pelayan! Geledah tempat ini!" ucap Xuan.
Beberapa pelayan pun masuk dan mengobrak abrik kediaman Lin Zi. Tak ada satu tempat pun yang luput dari pemeriksaan.
Jika kau tidak lagi mempercayaiku (suara hati Lin Zi)
Jika aku tidak lagi mempercayaimu (suara hati Xuan)
Apakah hubungan kita masih bisa berlanjut? (suara hati keduanya)
●●●~~●●●
Wahh ceritanya tinggal beberapa bab lagi nih..
Diselesaiin sekarang apa dibikin season 2 nya🤔🤔🤔
Kritik dan saran bisa dicantumkan di komentar ya
terimakasih atas dukungannya🤗🤗
__ADS_1