Takdir Yang Belum Berakhir

Takdir Yang Belum Berakhir
BAB 17 "SEPERTI NGENGAT"


__ADS_3


Hari sudah memasuki pagi hari, namun langit masih agak gelap karena matahari masih belum terbit. Terlihat Nao Yu telah memakai jubah menutupi kepala dan sebagian wajahnya dan dikawal oleh Xiao Wan keluar istana tanpa diketahui siapapun. Setelah Nao Yu memasuki kereta kuda, Xiao Wan pun kembali dan melapor pada Yuan.


"Pangeran, kenapa anda melakukannya?" tanya Xiao Wan pada pria yang tengah duduk di meja bacanya.


Yuan hanya terdiam. Matanya menuju kehalaman buku yang tengah dibukanya di meja.


"Jika anda ingin merebut tahta, bukannya sekarang adalah saat yang tepat? Kaisar dan Putra Mahkota sedang sekarat..."


"Permaisuri tidak akan tinggal diam. Jika aku menggunakan pasukan... aku takut waktunya tidak akan sempat. Bagaimanapun, Lin Zi telah menjadi bagian hidupku. Aku telah kehilangan ibuku, kali ini aku tidak ingin kehilangan Lin Zi"


"Lalu kenapa anda membiarkan Nao Yu pergi? Jika dia bersaksi bukankah Nona Xiu akan bebas?"


Yuan menghela nafasnya sambil menutup buku yang hanya dipandanginya sejak tadi.


"Permaisuri selalu mengawasiku. Dulu aku yang membawa Nao Yu masuk ke istana. Aku sudah menganggap Nao Yu seperti adikku sendiri. Jika Nao Yu bersaksi, Permaisuri juga pasti tidak akan melepaskanku. Pada akhirnya kami bertiga tetap akan mati. Sekarang... setidaknya aku bisa menyelamatkan 2 nyawa"


"Maksud pangeran adalah...." gumam Xiao Wan terkejut setelah memahami maksud perkataan Yuan.


Xiao Wan segera berlutut, kedua tangannya didepan dada dan badannya agak membungkuk.


"Pangeran, mohon pertimbangkan kembali keputusan anda!" ucap Xiao Wan memohon.


Hari semakin siang. Lin Zi berada ditengah halaman introgasi yang juga merupakan tempat eksekusi. Kedua tangan Lin Zi diikat di kursi yang didudukinya. Kepalanya menunduk karena tubuhnya sudah tidak bertenaga lagi. Ia tidak makan dan minum apapun sejak penangkapannya dan sekarang dia masih dijemur dibawah terik matahari.


"Hari sudah siang, lakukan eksekusinya!" perintah Permaisuri dari teras pengawasan.


Sang algojo pun mengangkat golok besarnya dengan kedua tangannya. Lalu terlihat Yuan yang berjalan memasuki halaman eksekusi.


"Hentikan eksekusinya!" ucap seseorang dari kejauhan.

__ADS_1


Yuan terkejut karena suara itu bukanlah suaranya. Siapa?


Lin Zi pun mengangkat kepalanya, pandangannya masih agak buram. Terlihat samar samar seorang pria mengenakan hanfu lapis 1 berlambang naga tengah berjalan melewati koridor menuju teras pengawasan. Langkahnya gontai, tangan kirinya berpegang pada dinding kayu saat berjalan dan tangan kanannya menyentuh perut.


"Jing Xuan...." gumam Lin Zi lirih mengenali sosok itu.


Permaisuri yang melihatnya pun segera menghampiri Xuan dan membantu Xuan menyangga tubuh.


"Xiao'er.. kau sudah sadar?! Kenapa kau datang kemari, tubuhmu masih belum kuat untuk berjalan" ucap permaisuri memapah Xuan.


"Lin Zi tidak bersalah... Dia adalah sasarannya dan aku sendiri yang berniat melindunginya. Pelaku aslinya sudah tertangkap.." ucap Xuan agak terbata menahan rasa sakit karena lukanya kembali mengeluarkan darah.


Yuan pun segera membawa Lin Zi yang tidak sadarkan diri kembali ke paviliun Yue. Pelayan telah menggantikan baju putih Lin Zi yang penuh darah dengan baju putih bersih. Tabib juga telah memeriksanya dan memberinya obat.


Yuan mengusap wajah Lin Zi yang masih ada noda darahnya dengan handuk yang sudah dibasahi air hangat. Wajah Lin Zi terlihat putih pucat.


"Nao Yu... ambilkan aku minum, aku haus sekali..." gumam Lin Zi perlahan membuka matanya yang masih dengan pandangan buram.


Yuan pun segera mengambilkan minum dan membantu Lin Zi untuk minum. Lin Zi mengedipkan matanya berkali kali.


"Jing Yuan.. dimana Nao Yu? Kenapa dia tidak disini?" tanya Lin Zi pada Yuan yang hanya terdiam.


"Nao Yu... dia... " Yuan ragu untuk melanjutkan perkataannya.


Lalu terdengar suara gong yang dipukul dengan keras, tanda eksekusi akan dimulai. Lin Zi memikirkan berbagai kemungkinan mengingat saat Nao Yu membohonginya malam itu. Lin Zi pun segera berlari menuju halaman eksekusi. Ia jatuh terduduk lemas melihat Nao Yu yang telah tergantung lemas. Airmatanya menetes tanpa aba aba. Yuan menghampirinya dan mengelus pundaknya berusaha sedikit menenangkan Lin Zi yang tangisnya mulai pecah.


Sebelumnya Nao Yu memang sudah pergi dari istana dan sudah menempuh perjalanan agak jauh. Namun kegelisahan tergambar jelas diwajahnya. Ia berkali kali mengingat kata kata Yuan sebelumnya dan berusaha memahami maksudnya. Akhirnya dia membunuh kusir yang mengendalikan kereta kudanya. Ia memotong tali kuda itu dari kereta dan menungganginya kembali ke istana. Ia masuk secara diam diam ke kamar Xuan dan memberikan Xuan penawar racun yang disimpannya. Tak lama kemudian Xuan pun sadar dan melihat Nao Yu yang berdiri disampingnya. Xuan pun berusaha untuk duduk dan Nao Yu segera berlutut dihadapan Xuan.


"Putra Mahkota mohon ampuni hamba.. Hamba lah yang membuat Nona Xiu dikejar harimau saat perburuan dan hamba lah yang melepaskan anak panah malam itu..." ucap Nao Yu segera mengakui kesalahannya.


"Kau memberikanku penawar dan mengakui kesalahanmu, apa yang kau inginkan?" tanya Xuan tanpa basa basi.

__ADS_1


"Nona Xiu akan segera dieksekusi. Demi nona Xiu, Pangeran Yuan akan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkannya.."


Xuan sangat terkejut mendengar Lin Zi akan dieksekusi.


"Eksekusi?"


"Benar! Hamba... hamba mohon Putra Mahkota untuk menyelamatkan Pangeran Yuan! Hanya anda yang bisa melakukannya. Jika hamba pergi dan mengakuinya sendiri, kami bertiga pasti tidak akan selamat. Jadi mohon selamatkan Pangeran Yuan!" ucap Nao Yu yang kemudian bersujud.


"Tapi aku tidak bisa mengghindarkanmu dari hukuman...."


"Hamba... hamba bersedia untuk dihukum mati, jadi hamba mohon selamatkan Pangeran Yuan" ucap Nao Yu kembali bersujud memohon pada Xuan.


Yuan pun menggendong Lin Zi dipunggungnya. Tubuh Lin Zi sudah lemas dan pandangannya telah kosong. Setelah sampai di paviliun Yue, Yuan menurunkan Lin Zi ditempat tidurnya. Lin Zi hanya duduk ditepi tempat tidurnya dengan kepala tertunduk. Airmatanya sudah mengering namun pandangannya masih kosong. Saat ini ia terlihat seperti mayat hidup.


Yuan pun berlutut didepan Lin Zi. Kedua tangannya menggenggam tangan Lin Zi.


"Zi'er... kau harus mengikhlaskannya.." ucap Yuan sambil mengusap tangan Lin Zi.


Lin Zi masih terdiam. Lalu Yuan mengeluarkan sebuah surat dari dalam lengan bajunya.


"Aku tadi menemukan ini diatas bantalmu" ucap Yuan memberikan surat itu.


Lin Zi pun membuka surat itu dan mulai membacanya didalam hati.


Nona, jika anda telah membaca surat ini berarti aku sudah dihukum mati. Sebelumnya, aku ingin meminta maaf yang sebesar besarnya karena telah berusaha membunuh anda yang sangat baik padaku selama ini.


Mata Lin Zi kembali berkaca kaca mengingat semua yang sudah ia lakukan bersama Nao Yu. Tawa Nao Yu masih terukir jelas di ingatannya.


Sebenarnya aku tidak bermaksud mencelakai anda, tapi kebodohan dan keegoisanku tidak dapat kututupi. Sebagai gantinya aku sudah menerima hukumanku dan anda boleh membeciku seumur hidup. Jika anda bertanya kenapa akhirnya aku menyerahkan diri meskipun aku memiliki kesempatan untuk pergi.... Aku rasa jawabannya sama seperti ngengat yang terbang menuju cahaya api meskipun ia tau api itu akan membuatnya mati. Sama seperti anda yang ingin melindungi orang yang anda cintai, aku juga ingin melindungi perasaan seperti itu.. Nona... terimakasih untuk apa yang sudah anda berikan untukku selama ini. Aku sangat bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk melayani anda. Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak keberatan untuk melayanimu kembali.


Lin Zi menggenggam erat kertas itu dan tangisnya kembali pecah. Yuan pun meraih tubuh Lin Zi dan menariknya ke pelukannya.

__ADS_1


●●●~~●●●


Bersambung . . .


__ADS_2