
"Apapun permohonan kalian, tapi jangan selir" ucap seorang berjubah emas yang tengah duduk di singgasana memimpin pertemuan pagi di aula bersama para menteri.
"Yang Mulia, anda telah menikah dengan Permaisuri selama 1 tahun tapi sampai sekarang Permaisuri masih belum bisa memberi keturunan" ucap Menteri Wei dari sisi kanan.
"Benar Yang Mulia, dengan adanya selir kami rasa anda bisa segera mendapat keturunan" imbuh menteri Zhang.
"Lancang !! Kalian pikir Permaisuri tidak bisa memberiku keturunan?!" ucap Xuan meninggikan suara.
"Tapi ini sudah 1 tahun. Bagaimanapun juga, tidak ada satupun kerajaan yang tidak memiliki selir" menteri Wei kembali menambahkan.
"Lagipula kenapa begitu terburu buru? Aku masih sangat sehat, tidak memiliki keturunan untuk sementara waktu ini kupikir tidaklah masalah. Apa yang kalian ributkan?" ucap Xuan yang kembali berbicara dengan tenang.
"Yang Mulia, keturunan adalah hal yang paling penting dalam setiap kerajaan. Mohon anda pertimbangkan kembali" ucap Menteri Guo.
"Kalian sangat keras kepala" gumam Xuan lirih.
"Jadi siapa yang akan kalian ajukan untuk menjadi selirku? Putri menteri Wei? Putri menteri Zhang? Atau putri menteri Yang? atau mungkin putri menteri Yun?" sindir Xuan membuat para menteri tertunduk.
"Untuk hal ini hamba sarankan untuk melakukan seleksi pemilihan selir. Dan juga hal ini bisa diserahkan kepada Ibu Suri untuk memimpin seleksi ini secara langsung" ucap menteri Guo memberi saran.
"Kenapa tidak kalian saja yang menjadi pemimpin kerajaan ini? Kalian begitu pintar bicara" gumam Xuan lirih.
"Yang Mulia, mohon anda pertimbangkan kembali" ucap menteri Wei.
"Yang Mulia, mohon anda pertimbangkan kembali" ucap seluruh menteri bersamaan.
Sementara itu di paviliun Nu Huang terlihat Lin Zi yang sedang diperiksa oleh tabib karena baru saja pingsan.
"Tabib, akhir akhir ini pencernaanku sedang kurang baik. Sebenarnya aku ini sakit apa?" tanya Lin Zi pada tabib yang masih memeriksa nadi Lin Zi.
"Kabar baik Yang Mulia, kabar baik" ucap tabib itu dengan tersenyum membuat Lin Zi kebingungan.
"Selamat Yang Mulia, anda telah mengandung. Kerajaan Jing ini akan segera memiliki keturunan"
"Aku... sedang hamil?" gumam Lin Zi seakan tak percaya.
"Selamat Yang Mulia, selamat..." ucap Ruyu ikut senang mendengar berita itu.
"Tabib, hal ini aku minta kau rahasiakan dulu. Jangan memberi tahu siapapun bahkan kepada Yang Mulia Kaisar"
Tabib itu terlihat terkejut. Kabar baik ini kenapa justru ingin dirahasiakan?
"Kenapa Yang Mulia? Ini adalah kabar baik. Yang Mulia Kaisar pasti akan sangat senang mendengarnya" tanya Ruyu.
"Aku ingin memberi kejutan untuknya. Akhir akhir ini dia sangat sibuk mengurus pemerintahan. Aku ingin mencari waktu yang baik untuk memberitahunya" jelas Lin Zi.
Ruyu dan juga tabib itu pun setuju untuk merahasiakam hal ini untuk sementara. Tabib itu pun memberi hormat dan keluar dari paviliun. Di luar ia berpapasan dengan Kaisar yang berjalan menuju paviliun Nu Huang.
__ADS_1
"Zi'er apa yang terjadi padamu?" ucap Xuan seraya memasuki ruangan.
"Hormat pada Yang Mulia Kaisar" ucap Ruyu membungkuk.
"Berdirilah" ucap Xuan menerima hormat Ruyu.
"Zi'er aku berpapasan dengan tabib istana diluar, apa kau sedang sakit?" tanya Xuan pada gadis yang tengah duduk di tepi tempat tidur.
"Aku tidak apa apa, jangan kawatir. Jing Xuan, aku ingin mengatakan sesuatu padamu" ucap Lin Zi.
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu" gumam Xuan agak ragu.
Mereka berdua pun berjalan menuju pondok kolam teratai untuk bicara. Saat dijalan mereka berdua hanya terdiam. Meski begitu, wajah senang tergambar di wajah Lin Zi sementara Xuan justru terlihat sedang banyak pikiran. Tak lama kemudian mereka telah berdiri di jembatan diatas kolam teratai yang sedang mekar.
"Aku..." gumam Lin Zi dan Xuan secara bersamaan.
"Kau dulu saja.." ucap Lin Zi meminta Xuan untuk berbicara lebih dulu.
"Mingu depan.. akan diadakan seleksi pemilihan selir.." ucap Xuan agak ragu.
"Selir?" Lin Zi terperangah.
"Para menteri mendesakku untuk segera melakukan seleksi pemilihan selir..."
"Dan kau menyetujuinya?" tanya Lin Zi dengan nada rendah dan ekspresi kecewa.
"Aku tidak punya pilihan..."
"Baiklah" gumam Lin Zi membuat Xuan menyadari bahwa gadis itu menyetujuinya karena terpaksa.
"Zi'er apa kau marah?"
"Mana berani hamba marah pada Yang Mulia? Lagipula negeri ini akan hampa tanpa adanya selir bukan?" ucap Lin Zi dengan nada menyindir.
"Kenapa kau berbicara begitu? Sebanyak apapun selir di negeri ini, hanya kaulah yang aku cintai" tegas Xuan berusaha menghibur hati gadis didepannya.
Air mata Lin Zi bahkan enggan untuk menetes. Hatinya terus berkecamuk. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, Lin Zi sudah enggan untuk menaruh harapan tinggi lagi. Semua tidak berjalan sesuai ekspetasinya.
"Hanya aku? Jika hanya aku, bisakah kau meninggalkan tahtamu demi aku? Pada akhirnya Permaisuri hanyalah sebuah status" ucap Lin Zi
"Apakah kau harus begitu egois?" ucap Xuan yang sontak membuat gadis itu menatapnya dengan tajam.
"Egois?"
"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri" tambah Xuan tak mau kalah.
"Benar, aku selalu memikirkan diriku sendiri! Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau memikirkanku saat membuat keputusan itu? Lagipula bukankah aku juga sudah menyetujuinya? Atas dasar apa kau mengatakan bahwa aku egois?" ucap Lin Zi meluapkan perasaannya.
Xuan terdiam melihat airmata Lin Zi yang mulai menetes. Lin Zi yang sebelumnya selalu ceria kini meneteskan airmatanya.
__ADS_1
Lin Zi meninggalkan Xuan sendirian dijembatan itu memandangi bunga teratai dengan mata yang berkaca kaca.
"Yang Mulia Permaisuri... apa yang terjadi?" tanya Ruyu melihat Lin Zi memasuki ruangan sambil menangis.
"******** tengik! Dasar lelaki hidung belang! Semuanya sama saja! Raja keparat!" gumam Lin Zi memaki.
"Yang Mulia Permaisuri, anda tidak boleh memaki Yang Mulia Kaisar seperti itu. Jika ada yang mendengar, anda bisa dipenggal" ucap Ruyu memberi nasihat.
"Yang Mulia Permaisuri, jika anda mengatakan masalah anda mungkin hamba bisa membantu" ucap seorang pria berpakaian kasim.
"Minggu depan akan diadakan seleksi selir.." ucap Lin Zi.
Kata kata itu membuat Ruyu dan Zhen Xi terperangah.
"Jika untuk hal ini, hamba hanya seorang kasim, tidak bisa membantu Yang Mulia" ucap Zhen Xi.
"Lalu apakah Yang Mulia sudah mengatakan bahwa Yang Mulia sedang hamil?" tanya Ruyu.
Lin Zi hanya menggelengkan kepalanya sambil cemberut.
"Permaisuri, jika anda mengatakannya pada Yang Mulia Kaisar, mungkin Yang Mulia Kaisar akan mengerti dan membatalkan seleksi selir" ucap Ruyu.
"Xuan bukan orang yang mudah melunak. Dia tidak akan mengubah pikirannya sekalipun aku mengatakannya" gumam Lin Zi.
"Apa salahnya jika mencoba?"
"Tapi kami baru saja bertengkar... Ruyu, kalau begitu nanti kau temani aku ke paviliun TaiJing untuk menemui Jing Xuan" ucap Lin Zi kemudian menghapus air matanya.
Sorenya Lin Zi pergi ke dapur untuk membuat kue bulan kesukaan Jing Xuan. Setelah selesai membuatnya, ia segera membawanya menuju paviliun TaiJing ditemani oleh Ruyu.
Namun saat di halaman depan paviliun, ia ditabrak oleh seorang wanita muda mengenakan hanfu berwarna pink yang membuat kue yang dibawa Lin Zi jadi jatuh berantakan.
"Yang Mulia Permaisuri, mohon maafkan hamba. Hamba benar benar tidak sengaja melakukannya" ucap wanita itu sambil agak membungkuk memberi hormat.
"Aku tidak pernah melihatmu di istana ini sebelumya dan apa yang membuatmu tampak tergesa gesa?" tanya Lin Zi.
"Tadi Yang Mulia Ibu Suri membawa hamba untuk bertemu Yang Mulia Kaisar dan meminta hamba untuk membuatkan teh jadi hamba terburu buru"
"Ibu Suri? Kau adalah..."
"Hamba putri menteri Wei, Wei Liu Ying" ucap wanita itu memperkenalkan diri.
"Jadi kau adalah salah satu peserta seleksi selir.." gumam Lin Zi.
"Benar. Yang Mulia Permaisuri hamba harus segera pergi membuat teh, hamba takut membuat Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Ibu Suri menunggu terlalu lama"
"Pergilah" ucap Lin Zi membiarkan wanita itu pergi.
"Tapi Yang Mulia Permaisuri.. kue buatan anda...." gumam Ruyu memandangi kue yang berserakan di tanah.
__ADS_1
"Aku bisa membuatnya lagi nanti, ayo kembali" ucap Lin Zi dengan wajah yang terlihat agak kecewa.
●●●~~●●●