
pria bertubuh tinggi itu masih terlihat cemas, dia bahkan sampai menghubungi beberapa temannya untuk mengilangkan rasa paniknya.
"kenapa dokternya belum juga keluar, sebenarnya apa yang dia lakukan didalam sampai lama sekali
"oh tidak! apa mungkin lukanya parah?
**tuhan ku mohon **...
Hampir 30 menit kemudian dokter yg memeriksa riffa keluar, ken yang memang sudah menunggu nya segera menghamipiri menyerbu dengan beberapa bertanyaan.
dokter itu bukanya menjawab nya tapi malah tersenyum , membuat ken begitu sangat kesal.
"Bisa ikut keruangan saya sebentar" dokter itu mengeluarkan suaranya
wajah kenzo yang mulanya ditekuk karena kesal langsung terlihat serius
"ada apa sebenarnya dok, apa ada yg seriuss ?
dokter itu tidak menjawab meninggalkanya berjalan keruangan yang mungkin ruang dinas kerja nya.
ken langsung mengikuti dokter itu masuk, mereka sudah duduk berhadapan ken yang masih dihantui ketakutan lagi-lagi bertanya secara beruntun pada dokter itu
Lagi-lagi dokternya tersenyum, membuat ken ingin sekali mengebrak meja di depannya namun tetap dia menahan amarahnya,
"pacar mu tidak apa-apa" tutur dokter sambil tersenyum
ken yang mendengar kata-kata dokter di depannya ini pun langsung tertawa terbahak-bahak, membuat dokter itu menyerngit bingung
"apa ada yang lucu? tutur dokter
kenzo langsung berhenti tertawa melihat ekspresi serius sang dokter
oh maah dok tutur ken
__ADS_1
"dia bukan pacar ku, aku tidak sengaja menabraknya hari ini jadi aku membawanya kesini untuk bertanggung jawab
" jadi tidak ada yang serius padanya benar begitu dok?
dokter. "iyaaa"
"baguslah aku benar-benar khawatir tadi, aku sangat bersyukur terima kasih tuhan" tutur ken mengusap wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
kau begitu panik membawanya sambil berteriak seperti orang gila itu sebabnya saya kira wanita itu pacarmu lanjut dokter
" ini pertama kalinya aku menabrak orang jadi aku begitu takut melihatnya tergelak berdarah aku hanya berpikir apa mungkin dia akan mati"
"mmmaaf membuat keributan hari ini" ken menundukan kepalanya,
"sudah tidak apa-apa, aku mengerti situasinya " dokter menepuk bahu ken tersenyum, kalau begitu aku permisi memeriksa pasien sebantar,
"baik dok terima kasih, aku juga ingin keluar melihat wanita itu. mereka keluar bersama.
ken melamun diam duduk disebelah riffa masih dengan masih memperhatikan .
tiba-tiba ketukan pintu membuat ken begitu kaget membuyarkan pikiranya yang kemana-mana, dia menoleh ternyata suster memintanya untuk mengurus administrasi pasien atas nama riffa.
"ya baiklah saya akan segera keluar mengurusnya"
ken berdiri keluar, ketika tangannya memegang handle pintu dia menoleh dan balik badan lagi memperhatikan sekali lagi wajah riffa " dia benar-benar mirip... " ken berhenti melanjutkan kalimatnya huh omong kosong tuturnya, melangkah keluar ruangan mengurus administrasi riffa.
sementara sepeninggal ken tadi tidak lama riffa sadar, memegang kepalanya yang sakit memperhatikan ruangan sekeliking, matanya berhenti pada tanganya yang terdapat infus juga memandang kaca ada perban di kepalanya, riffa tersenyum kecut
" jadi aku kecelakaan hari ini ?, *aku selamat lagi! *"aku memang punya 1000 nyawa"
__ADS_1
riffa turun dari ranjang melepas jarum infus dari tanganya, berjalan keluar dari rumah sakit. dia keluar dan memilih pulang ke kosan sempit yang yang dia anggap istana baginya.
riffa membaringkan badanya tidur telentang menatap langit-langit atas rumahnya,
" ayah jangan! ibu bisa mati"
"kenapa aku harus patuh padamu kau bahkan tidak bisa memenuhi kewajibanmu"
"apa kau kira orangtua mu ini punya banyak uang, jangan bermimpi terlalu tinggi,
"pergilah mencari uang jangan menyusahkan ku seperti ayahmu"
"ibu mau kemana aku ingin bersama ibu" pergi ikut ayahmu sana"
"ayah... kenapa kau tidak pergi dengan wanita itu!
*gadis kecil berusia 9 tahun duduk menangis di bawah pohon taman kota*
langit begitu gelap meskipun siang hari tapi seperti pukul enam sore hujan disertai angin turun sangat deras, kilat petir seakan mendukung keseraman untuk bocah yang sedang menangis ketakutan.
ayah... ibu...
ayah... ibu... jangan tinggalkan akuu
ayah...ibu aku takutttt
keringat dingin mengalir di dahi serta jidatnya, dia sedang merasaakan kembali peristiwa yang dia rasakan bertahun tahun lalu. meski demikian masih jelas terlihat luka masih ada di hatinya.
Riffa terbangun terkejut, dia duduk meringkuk diujung sudut kamarnya. dia tidak lagi menangis tapi entahlah mimik muka yang tidak bisa di jelaskan .
hanya dia dan tuhan yang tahu.
bersambung....
__ADS_1