
"apa kau kira aku masih bisa makan ? tanya nya datar
tapi tidak bagi riffa yang mendengar nya, walau Ken berucap biasa tapi sudah seperti pukulan telak untuk nya
"Ken, maafkan aku. pelan riffa mengeluarkan suaranya, sudah duduk bersimpuh. berharap dengan cara ini bisa menurunkan sedikit amarah suaminya . aku benar benar tidak ingat tadi, kalau kau akan pulang cepat, mengatupkan kedua tangan nya, memohon ampun.
"Bagus kalau kau sadar kesalahan mu, tukas Ken mendorong kening istrinya dengan jari telunjuk nya.
"bangun
"siapa yang menyuruh mu duduk disitu, menunjuk bawah dengan mulut nya.
melongos melihat riffa yang bersimpuh di bawah kaki, Ken tidak suka, membuat nya seperti suami yang kejam terhadap istrinya.
lihat sudah jam berapa? tunjuknya pada jam dinding . kau telat 2 jam 7 menit . ujarnya dengan sorot mata tajam.
riffa mendongak melihat jam dinding kamar
jam 20:05 gumamnya ,
sungguh jelas jarum panjang jam itu menunjukkan di angka 5 hanya tergeser sedikit dari posisi yang seharusnya.
__ADS_1
riffa menelan ludah nya,
dia benar-benar memperhitungkan waktu nya
tiga Minggu sudah mereka menikah, sebelum memasuki rumah ini suaminya sudah gamblang menjelaskan aturan yang harus dia patuhi mengenai jam pulang nya berkerja, tidak boleh pulang lebih dari jam enam sore. meskipun dengan lembur atau tidaknya ken suaminya . menjelaskan bahwa dia harus sudah berada di rumah di jam yang sudah di tetapkan sekalipun tidak ada suaminya sekalipun. dan itu tidak masalah bagi riffa saat itu, mengingat dia memang pulang berkerja jam tiga, hanya sesekali saja jika sedang sibuk paling sore dia pulang pukul lima. itupun sangat jarang, jadi dia tidak keberatan. dia langsung menyetujui aturan suaminya .
ragu riffa menjawab. takut alasan yang akan di utarakan nya tidak diterima suaminya, jika tidak berhasil meredam amarah ken malah akan membuat masalah semakin rumit dan mempersulit nya. namun riffa tetap harus mengutarakan alasannya. bagaimana pun ini kesalahan pertama nya, karena sudah melanggar aturan suaminya. mungkin tidak begitu sulit baginya mengatasi amarah Ken. tentu ini hanya dari sudut pandang berfikir riffa saja
"Ken tolong dengar kan aku dulu ucap riffa. dia sudah bangun duduk disebelah suaminya, menatap penuh harap, mengiba.
salah satu teman ku berulang tahun hari ini. jadi semua merayakan nya. kami pergi makan bersama. ucapnya pelan, bagaimana mungkin aku pergi begitu saja, apalagi ini hari terakhir ku berkerja. terakhir kali aku bersama mereka.
jelas riffa
Ken yang melihat kearah lain beralih menatapnya , dengan raut wajah yang sulit dijelaskan . keningnya sedikit berkerut.
cukup lama
tangannya memegang ujung rambut riffa.
" kau kira akan pergi kemana haa . jarinya mendorong kening istrinya lagi pelan. membuat naskah drama mu sendiri bicara panjang lebar kemana mana. memang kau akan pergi ke neraka, cih terakhir katamu!. kau kan bisa bertemu besok saja. besok temui saja lagi teman mu itu. suara Ken sudah tinggi mengudara.
__ADS_1
"dan kau tidak melakukan nya . ucapnya lagi. kau sudah melanggar aturan ku ! kau tahu!
"maafkan aku Ken,, aku terlalu sedih tadi, sampai pikiran ku tak sampai kesitu. riffa semakin memelas belas kasih
"katakan kau ingin aku menghukum mu apa, tukas Ken. kau sudah mengingat kan ku ini kesalahan pertama mu kan tadi
"jadi aku beri kau kehormatan memilih hukuman mu sendiri.
"Ken tolong maafkan aku, riffa menggenggam tangan suaminya, ini terakhir kalinya, aku janji tidak akan mengulangi lagi aku mohon. matanya sudah menganak sungai. jatuh membasahi pipinya
Ken yang melihat itu jadi tak tega, bagaimana pun amarah nya tidak lah begitu besar. ini hanya ekting menunjukkan kepada istri nya kalau aturan nya mutlak, itu saja. dan yang melanggar tetap di jatuhi sanksi.
"baiklah, aku akan berbaik hati kali ini .
aku bahkan belum melakukan apa apa kau sudah menangis. tuturnya
"aku tidak menangis ucap riffa mengusap matanya
"lalu cairan bening itu jatuh dari mana , dari langit "menunjuk keatas"
sudahlah ambil tas kerja ku sana Ken sudah berlalu mengambil ponselnya.
__ADS_1
riffa yang baru saja berjalan hendak keluar menghentikan langkahnya menoleh lagi melihat suaminya
aku selamat kali ini, benar dia tidak akan menghukum ku kan