
Status baru yang membuat Sharen bingung. Haruskah dia berperan seperti istri pada umumnya. Perempuan itu kembali ke kamarnya usai acara yang cukup sederhana itu selesai. Sementara Keanu entah pergi ke mana dengan urusannya.
Hingga sesorean pria itu baru saja kembali.
Keanu ternyata ke rumah sakit menjenguk ibunya. Kondisi Nyonya Abraham sudah lebih baik, hanya sedikit syok saja. Keanu juga belum memberi tahu ibunya tentang pernikahannya hari ini.
"Keen, tumben pakaian ke rumah sakit seresmi ini? Kamu dari mana?" tanya Mesya keheranan melihat Keanu yang tak biasa begitu rapih.
"Apanya yang salah, aku mau pakai apa pun terserah diriku," jawab Keen dingin.
"Keen, Mesya berbaik hati menunggu mama di sini, kenapa kamu baru datang?" Nyonya Abraham merasa lega melihat putranya menyambangi dirinya.
"Bagaimana keadaan mama? Maaf baru saja sempat, akan ada seseorang yang merawat mama, jangan khawatir," ucap pria itu datar saja.
"Lebih baik, akan lebih sehat lagi jika kamu nanti menikah dengan Mesya," ucap Nyonya Abraham tersenyum lembut meraih tangan putranya.
"Jangan memikirkan apa pun tentang Keen, Ma, bukankah itu tidak begitu penting, pikirkan saja Mama agar cepat sehat," ucap pria itu datar.
Keen tak begitu ambil pusing dengan penolakan atas pilihannya, Sharen sebagai istri. Karena Keanu sendiri tidak pernah bercita-cita memperistri perempuan yang bahkan ia benci. Namun, takdir telah membawanya dalam ikatan pernikahan.
"Keen, apa kamu mau langsung pulang?" tanya Mesya mendekatinya di luar ruangan.
Pria itu menatap Mesya dingin, sedari dulu ibunya menginginkan agar gadis di depannya itu menjadi istrinya. Selama itu pula dirinya tidak pernah tertarik dengannya.
"Iya, terima kasih sudah menjaga mama, tapi tidak usah repot-repot juga, ada seseorang yang akan menjaga untuknya setiap hari."
"Aku senang mengurus ibumu, bukankah ibumu kelak akan menjadi ibuku juga setelah kita menikah?" Mesya meletakkan tangan kanannya di atas tangan Keen.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Mesya, aku sudah menikah," jawab Keanu mengangkat tangan Mesya untuk tidak menyentuhnya.
__ADS_1
"Apa! Maksud kamu?" tanya Mesya terperangah mendengar pernyataan dari pria yang begitu ia cintai dari dulu. Gadis itu langsung berdiri, menatapnya tak percaya.
Keanu menatap datar Mesya sekilas, tanpa salah dan dosa langsung pergi begitu saja. Pria berhati dingin itu lagaknya tidak begitu peduli dengan perasaan siapa pun. Ia akan melakukan sesuai keinginannya saja tanpa dibantah. Satu-satunya orang yang begitu ia sayangi telah pergi, hingga membuat hatinya semakin tak peduli.
Semenjak Ayah dan ibunya berpisah, tiada lagi tempat yang bisa membuatnya nyaman. Tak ada kasih sayang mereka yang Keanu dapat semenjak kecil. Bahkan di saat Ibu dari teman-temannya hadir menjemputnya sekolah, Ibu Keanu selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Ayah entah pergi ke mana, yang Keanu tahu, pria yang disebut Ayah itu telah meninggalkan dirinya semenjak kecil demi perempuan lain. Keanu kecil hidup dalam kebencian, hanya Fiona yang selalu ia jaga, setelah kepergiannya, hilang juga kasih sayang yang tersisa untuk orang-orang di dekatnya.
Pria itu kembai ke rumah utama di saat senja menyapa. Seperti biasa sebelum menjadi istrinya, Sharen harus menyambut kepulangannya, lebih dulu meraih jas yang baru saja dilepas.
"Siapkan air hangat untukku, tiga puluh tujuh derajat, tidak lebih ataupun kurang," titahnya harus tepat sesuai keinginannya.
Sharen menurut tanpa berkata sepatah kata pun. Beranjak menyiapkan sesuai yang diperintahkan. Saat gadis itu hendak keluar dari kamar mandi, tepat di saat Keanu hendak masuk sembari melepas kancing kemejanya.
Membuat kedua manusia berstatus halal itu saling terdiam beberapa detik hampir bertabrakan, sebelum akhirnya Sharen tersadar dan harus segera minggir karena telah menghalangi jalannya.
Netra tajam itu melirik Sharen, lalu melangkah masuk menempati kamar mandi.
"Aku mau ganti handuknya, warna coklat sedang tidak mood dengan perasaan aku. Warna putih lebih cocok!" ucapnya sebelum sempat Sharen beranjak keluar kamar.
"Sharen!" seru Keanu merasa istrinya begitu lama.
"Masuk! Mana handuknya!" pekik pria itu mengarahkan petunjuk.
Dengan perasaan tak karuan, lebih horor dari pada kemarin bermalam di kuburan. Gadis itu menekan handle pintu dengan pelan. Bingung, tetapi tidak ada pilihan, memastikan tangan dan matanya tidak ternoda di ruangan tiga kali dua setengah meter persegi itu.
Sharen menunduk bingung saat menaruh handuk yang dipesan pria itu. Sementara Keanu masih berendam dengan netra terpejam. Buru-buru gadis itu keluar setelah urusannya selesai. Sejenak bernapas lega setelah kembali menutup pintunya.
Cepat gadis itu meninggalkan kamar setelah menyiapkan pakaian ganti untuknya. Menuju dapur, membuat kopi dengan ukuran yang pas, lima gram bubuk kopi, dan separuh sendok makan gula pasir. Begitulah ukuran yang didapat semenjak perempuan itu mulai mengurusnya.
Sharen menyiapkan kopi itu di ruangan pribadinya. Tempat rehat sementara kalau sore hari setelah bekerja. Keanu yang sudah berganti baju mendatangi tempat itu seperti biasa.
__ADS_1
"Silahkan Tuan," ucap Sharen sebelum beranjak.
"Aku tidak suka panggilan itu, mama akan mengira kamu bukan istriku jika mendengar, segera perbaiki kesalahanmu!" ucap pria itu dingin, tanpa menoleh sedikit pun.
Sharen mengangguk paham, tetapi ia menjadi bingung, panggilan apa yang cocok untuk presdir kejam itu. Bahkan, sampai saat ini dia belum menemukan clue yang cocok untuk memanggil suaminya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi, duduk, kamu hanya boleh meninggalkan tempat ini setelah kopi buatan kamu habis!" ucap pria itu membuat langkah Sharen yang hampir keluar pintu terhenti. Kembali memutar tubuhnya, duduk dengan perasaan tak nyaman tepat di depannya.
Keanu menatap Sharen yang tertunduk tepat di depannya. Pria itu mulai menyeruput kopi sedikit demi sedikit, hingga tanpa sadar Keen telah menghabiskan tanpa sisa.
"Kamu tidak dengar, bukankah waktunya harus pergi ke kamar setelah kopiku habis," kata pria itu membuat Sharen paham harus segera kembali ke kamarnya.
Sharen menunduk paham, beranjak lebih dulu menuju kamarnya.
"Apa kamu lupa, kalau pagi tadi kita sudah menikah. Kamu kira ikrar akad yang aku ucapkan bohongan. Masuk ke kamar utama, di mana seharusnya seorang istri menempati kamar yang sama!" seru Keanu cukup jelas. Terdengar begitu mengkhawatirkan bagi pendengaran Sharen, haruskah ia tidur bersama di kamar yang sama.
"Ghem!"
Keanu berdehem cukup keras melihat istrinya belum juga beranjak dari pijakannya. Dengan perasaan gamang dan waswas luar biasa, Sharen berjalan mengikuti Keanu masuk ke kamarnya.
"Tutup pintunya!"
.
Tbc.
.
.
__ADS_1
.