Tawanan Presdir Kejam

Tawanan Presdir Kejam
Bab 50


__ADS_3

Sharen terdiam, ia hampir tidak percaya seorang Keanu mengatakan itu semua. Walaupun terlihat tulus dari sorot matanya, tetapi perempuan itu jelas meragukan perasaannya.


"Sha, kenapa diam? Ayo kita pulang!" ajak Keanu serius.


Sharen memberi jarak, ia masih belum merasa nyaman dan terasa aneh saat Keen tiba-tiba terlihat lebih manis dan lembut. Jujur, ia terlalu takut menghadapi perangainya yang sesuka hati dan kadang berubah-ubah.


"Maaf Mas, aku butuh waktu untuk ini semua," jawab Sharen dalam kebimbangan. Ia paham janin dalam perutnya membutuhkan seorang ayah, tetapi perasaan sakit itu masihlah terlampau dominan.


"Sampai kapan? Aku akan menunggu, tapi tidak untuk tinggal di sini sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu? Aku khawatir, denganmu dan juga anak kita," bujuk pria itu lembut.


"Tidak tahu, tapi tidak untuk sekarang, aku belum bisa," jawabnya butuh waktu untuk menyakinkan diri dan memulihkan hati yang terlanjur dibuat sakit.


Keanu menghela napas sepenuh dada, ia terdiam cukup lama. Tak peduli langit berubah petang, ia tidak ingin beranjak sama sekali.


"Sebaiknya kamu pulang dulu, aku butuh istirahat," usir Sharen merasa kurang nyaman.


"Untuk apa aku pulang, kalau tujuan aku adalah kamu, aku akan pulang bareng kamu."


"Tolong Mas, beri aku ruang," pinta Sharen butuh menyelami hatinya. Jujur, ia memang mulai nyaman, tetapi hatinya terlampaui takut melangkah bersamanya.


"Aku akan menunggumu di sini, percumah aku pulang, aku tidak bisa tenang di rumah. Aku tidak bisa tidur seminggu ini, aku khawatir, bagaimana kalau aku pulang terus terjadi sesuatu di sini, aku tidak mau meninggalkanmu sendiri."


Keanu bahkan tidak beranjak sama sekali. Mengabaikan wajah keberatan Sharen.


Kali ini Sharen yang menghela napas panjang, sedikit tak ingin peduli. Membiarkan saja pria itu tetap berada di tempatnya. Ia melangkah masuk ke kamar, tubuhnya lelah seharian di luar, ia butuh mandi segera.


Sharen menuju kamar mandi sembari memeluk gantinya. Mengabaikan Keanu yang masih terduduk di ruang tengah, samar dari arah dapur, pria itu menelpon seseorang yang entah itu siapa.


Beberapa menit berlalu, Sharen keluar langsung menuju kamarnya. Sempat melirik Keen yang tengah menatapnya dalam diam, sebelum akhirnya fokus kembali melangkah ke kamar.


"Sha!" Keanu mengetuk pintu kamar itu, memintanya masuk.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Numpang mandi, pinjam handuk ada?" pinta Keanu menengadahkan tangannya.


Sharen mengangguk, mengambil dalam lemari, handuk bersih miliknya. Menyodorkan pada pria yang kini tengah menunggunya.


"Aku pesan makanan, dompetnya ada di meja nanti kalau datang," pesan pria itu beranjak.


Sharen hanya mengangguk kecil, kemudian sibuk sendiri. Rasanya terlalu aneh seorang Keanu menjadi sedikit banyak bicara. Ia belum paham benar dengan karakternya yang kadang lembut, takut sekejap kumat.


Keanu mandi dengan cepat, memakai kembali kaus dan juga celana pendeknya. Menyisakan kemeja dan Celana panjang yang menggantung begitu saja.


Ia baru saja keluar dari kamar mandi ketika pesanan makanannya datang. Menyiapkan di meja lalu memanggil istrinya di kamar.


"Sha, aku masuk ya, tolong siapin, ayo kita makan!" ajak pria itu lembut.


Sharen keluar dari kamar, menyiapkan dua piring di meja. Membuka nasi dalam kemasan. Menyiapkan untuk Keen lebih dulu, lalu ikut menyuap porsi miliknya. Kebetulan ia memang tengah lapar, sedari siang belum sempat makan.


"Mau ke mana?" tanya perempuan itu demi melihat Keen mengikutinya.


"Mm ...." Keen menggaruk tengkuknya bingung. "Aku tidur di mana?" tanya pria itu meminta pendapatnya. Sharen melirik kursi yang tentu saja sama sekali tidak nyaman untuk ditempati. Tetapi lebih baik, dari pada harus sekamar dengan dirinya.


Keanu terpaku di depan kamar kala pintu itu tertutup rapat, sungguh ia ingin masuk tetapi tak cukup berani untuk memaksa. Sedikit lebih baik, walau harus tidur di kursi, dari pada pulang dengan perasaan khawatir dan tak tenang jauh darinya.


Malam semakin merangkak, tetapi tak mampu membuat netra itu terpejam. Masih betah menatap langit-langit plafom. Hal yang sama dengan Sharen di kamarnya, kenapa ia mendadak tidak tenang, keputusan apa yang harus Sharen ambil.


Entah di jam berapa perempuan itu tertidur, ia terjaga setelah matahari muncul. Lebih dulu merapihkan kamar tidur, sebelum beranjak keluar.


Sharen menemukan ruangan yang telah kosong, dengan selimut dan bantal yang sudah terlipat rapih. Tak jauh dari kursi, beberapa lembar uang merah teronggok di meja, mungkin Keanu sengaja meninggalkan di sana.


Perempuan itu kembali beraktifitas seperti biasa pagi ini. Ia baru saja menjemur pakaian ketika masuk ada sebuah panggilan telepon. Namun, belum sempat Sharen mengangkat, keburu mati, menyisakan pesan dari orang yang sama dengan penelpon tersebut. Dia Arya, menawarkan pekerjaan agar perempuan itu untuk datang ke suatu tempat yang telah dikirimkan alamatnya.

__ADS_1


[Langsung datang saja, bilang Sharen, temannya Arya]~ Arya


Seketika asa itu kembali muncul, Sharen benar-benar mengunjunginya. Ia mendatangi tempat di mana Arya memberikan alamat itu, sebuah butik yang pada akhirnya tanpa banyak drama mau menerima dirinya. Berkat Arya, Sharen langsung bekerja hari itu juga.


Sementara Keanu dari rumah Sharen langsung ke kantor, pulang sejenak menukar pakaiannya. Ia belum sempat pamit lantaran istrinya masih tertidur. Pria itu kembali lagi sorenya, tetapi tidak menemukan istrinya di rumah. Keen menunggu cukup lama, Sharen baru pulang menjelang petang.


"Dari mana? Aku menunggumu dari tadi," sapa Keanu yang menunggunya cukup lama.


"Aku tidak tahu kalau kamu pulang ke sini lagi," jawab Sharen langsung masuk begitu saja. Keanu mengikutinya masuk, keduanya terlihat sama-sama lelah.


"Maaf, tadi pagi tidak sempat pamit, aku berangkat ke kantor, dan mungkin akan berangkat dari sini setiap hari. Terkecuali kamu mau pulang nanti."


"Mas, kamu tidak harus merepotkan dirimu sendiri. Aku masih nyaman di sini," jawab Sharen enggan kembali.


"Kenapa pulang sesore ini, dari mana? Kamu membuatku khawatir."


Sharen tidak menjawab, tidak begitu penting, ia butuh mandiri lagi untuk memulai hidup yang lebih baik.


"Sha, berikan nomormu, agar aku mudah menghubungimu!" Keanu mengetikkan nomor ponsel istrinya lalu menyimpannya. Dengan begitu sedikit bisa berkomunikasi walau tengah jauh.


"Apa malam ini aku boleh tidur di kamar?"


Sharen tidak menjawab, tetapi dari sorot netranya yang menajam jelas perempuan itu keberatan.


"Tidak harus seranjang, di kursi tidak pa-pa kalau kamu tidak nyaman."


"Tidak ada kursi, adanya tikar usang, mau?" tawar perempuan itu ngasal saja.


"Iya mau," jawab Keanu kegirangan.


"Mas, aku tahu kamu tidak nyaman, pulanglah ... biarkan semuanya seperti ini dulu, sampai antara aku dan kamu yakin."

__ADS_1


"Tapi aku sudah yakin, dan aku lebih merasa nyaman walau di tikar usang dari pada pulang dengan hampa," jawab Keanu tak menyerah.


__ADS_2