
Keanu menatap bibir ranum yang pernah ia rasai dalam semalam. Mungkinkah bisa merasakan lagi? Mengingat hati Sharen masih sedingin perangainya saat ini.
"Pulang Mas," ujarnya menginterupsi. Membuat pria itu mundur memberi jarak dengan perasaan tidak rela.
Sharen sendiri tidak berkata lagi, sibuk menbenahi hatinya yang mendadak entah. Memilih membuang muka ke arah jendela, bahkan hingga mobil itu memasuki pekarangan rumahnya.
Sharen langsung turun, diikuti Keanu yang berjalan tak jauh darinya.
"Sudah pulang, Non?" sambut Mbok menyapa keduanya.
"Iya Mbok," jawab Sharen sambil lalu. Perempuan itu langsung menuju kamarnya, sementara Keanu masuk ke ruang kerja.
Keduanya tidak saling bertemu hingga petang menyapa. Sama-sama keluar setelah mbok pamit pulang. Makan malam sudah tersaji di meja sedari tadi. Sharen juga sudah menempati ruangan itu. Ia pikir, Keanu beraktifitas di luar rumah, tetapi nyatanya pria itu menetap di ruang kerjanya hingga petang.
"Makan Mas!" seru Sharen akhirnya membuka suara. Melihat suaminya hanya diam dan terasa aneh, kadang membuatnya bingung menyikapi semua.
Keanu menarik kursi, menempati tanpa mengeluarkan suara. Perempuan itu mencoba mencairkan dengan mengambilkan seporsi untuknya. Selebihnya pria itu hanya menggumamkan terima kasih, lalu fokus menekuri isi piringnya.
Sikapnya yang dingin, membuat Sharen tidak terlalu banyak berinteraksi. Takut salah dan akan menemukan murkanya. Terlebih apa yang pria itu inginkan, Sharen sungguh tidak paham. Ia akan selalu bersikap datar setiap siang hari, tetapi jika malam sedikit berbeda, walau tak ada perkataan serius atau interaksi lebih dalam. Keanu selalu kooperatif memeluknya, bahkan menyentuh perutnya setiap malam. Seakan pria itu hanya menginginkan anaknya saja, dan kadang malah interaksi tak terduga itu menyelipkan sedikit luka karena tak jarang membuatnya baper. Tetapi akan kembali ke bentuk awal jika siang harinya.
__ADS_1
Semua berjalan terasa lambat, rasanya Sharen tidak sabar untuk melihat hasil otopsi yang masih kisaran seminggu lagi. Hal yang sama ditunggu oleh Keen juga. Namun, dengan porsi yang sedikit berbeda. Ia merasa kacau luar biasa dengan perasaannya. Bahkan, tidak mengerti harus melakukan apa.
"Kopinya Mas," ujar perempuan itu menyajikan di depan meja.
"Iya." Interaksi datar yang selalu pria itu tunjukan, kadang hanya iya, atau bahkan mengangguk dengan gumaman saja.
Sharen pun sudah mulai terbiasa, lebih manusiawi yang ia rasakan dari pada dulu di awal. Tidak masalah didiamkan, dari pada harus menerima bentakannya yang kadang menyakitkan.
Usai sarapan, Keanu seperti biasa langsung ke kantor. Ada rasa tidak semangat dan ingin cepat pulang. Namun, begitu sampai di rumah, ia sendiri terkadang bingung menyikapi hatinya.
"Tumben Mas sudah pulang?" tanya perempuan itu penasaran.
"Kamu sakit?" tanya perempuan itu lagi merasa khawatir. Entahlah, kenapa hati lembutnya selalu merasa tidak nyaman saat pria itu kenapa-napa.
"Hanya sedikit lelah," jawab pria itu kurang fit.
Sharen tidak bertanya lagi, sampai malam menjelang tidur, Keanu sudah lebih dulu menempati ranjang. Hal yang jarang sekali pria itu lakukan.
Seperti biasa, Sharen menempati bagiannya. Tak berselang lama pria itu memeluknya. Entah perasaan Sharen saja, atau memang malam ini terasa berbeda, Keanu memeluknya begitu erat, seakan tak ingin jauh ataupun berpisah dengannya malam ini.
__ADS_1
"Mas, aku tidak nyaman," keluh Sharen memindah posisinya menjadi saling berhadapan.
Keanu hanya diam, menatap tanpa kata. Sharen pun melanjutkan tidurnya lagi, enggan memikirkan hal lain yang ada di pikiran pria itu. Berbeda dengan Sharen yang lelap, Keen justru tidak bisa tidur sama sekali.
"Apa kamu besok akan benar-benar pergi? Bagaimana caranya aku dekat dengan anak ini," ucap Keen menatap sendu.
Kenapa ia takut kalau malam ini akan menjadi malam terakhir untuknya. Haruskah pria itu memenuhi janjinya, memberikan kebebasan untuknya jika memang istrinya tidak bersalah.
Pagi harinya, Keanu terjaga dengan tidak semangat sama sekali, sementara Sharen beraktifitas seperti biasa. Hari ini hasil lab otopsi Fio akan diumumkan, dan entah mengapa itu menjadi hari yang paling dinanti dan paling ditakuti khususnya untuk Keanu.
Semua orang sudah berkumpul menanti hasil yang keluar setelah ditunggu hampir lima minggu. Suasana nampak tegang, bercampur deg degan luar biasa. Kalaupun salah satu kejanggalan itu terpecahkan, keluarga akan membawa perkara tersebut ke jalur hukum.
Di tempat yang sama, Daniel juga hadir di sana. Nampak keluarga besar Abraham datang untuk melihat langsung hasil yang akan dibacakan oleh dokter forensik tersebut.
Detik-detik itu berlalu, kata demi kata dibacakan dengan cukup gamblang dan bersifat terbuka. Agar menjadi semakin jelas, hasilnya cukup mencengangkan untuk semua yang hadir. Bahwa Fio, meregang nyawa karena sebuah kelalaian dirinya sendiri.
"Apa maksudnya ini, Dok?" tanya Nyonya Abraham belum paham. Ketegangan nampak menyelimuti keluarga tersebut.
Hampir semua orang menatapnya dengan rasa tidak percaya.
__ADS_1