
Sharen menatap bingung saat Keen mendekatinya dengan perlahan. Mundur selangkah hingga mentok ke pinggir ranjang.
"Mm ... Mas mau apa?" tanya perempuan itu sedikit gugup.
Keanu tersenyum lembut, menatapnya teduh.
"Kamu, bolehkan?" ujar pria itu semakin dekat. Membuat Sharen sampai terduduk di ranjang.
"Gimana?" bisik pria itu tepat di samping telinganya. Seketika kulit Sharen meremang.
Mereka memang pernah melewati malam bersejarah itu, tetapi tentu dengan perasaan yang berbeda.
Sharen mengangguk pasrah saat pria itu pertama kalinya memagut bibirnya yang ranum. Perempuan itu terpejam berusaha menikmati sentuhannya yang lembut saat indera perasa itu mulai merasai rongga mulutnya. Mengajak lidah mereka saling berdansa.
"Aku tidak bisa berhenti jika sudah memulai, katakan padaku bila kamu tidak nyaman atau bahkan menyakitimu," kata pria itu dengan napas yang memburu. Sebelum akhirnya kembali melakukan serangan yang kedua lebih berani dan menuntut.
Perempuan itu hanya mengangguk tanpa perlawanan sedikit pun. Jantungnya deg degan luar biasa, tetapi hatinya seperti dihinggapi banyak kupu-kupu yang beterbangan.
Keanu menyentuhnya dengan lapar, sungguh ia pria normal yang menginginkan ini sejak lama. Saat ada kesempatan yang begitu sempurna, tentu ia tidak akan menundanya lagi.
Sharen mulai mendes@h manja saat lidah pria itu mulai tergelincir mengabsen lekuk tubuhnya. Menikmati setiap jrngkal napasnya dengan perasaan sayang dan ingin memiliki. Sesuatu yang tentu saja baru untuk keduanya, walau bukan yang pertama, tetapi perasaan itu jauh lebih nyaman dan seraya lebih bahagia.
"Mas!" pekik perempuan itu dengan suara tertahan. Merasakan sesuatu yang berbeda. Ia benar-benar dibuat tak berdaya dengan jemari nakal Keen yang terus bergerilya.
__ADS_1
"Hmm ... apa sayang, apa kamu tidak nyaman?" tanya Keen lembut. Menghentikan sejenak keasyikan yang menjadi mainan barunya.
"Pelan," jawabnya sembari terpejam.
Pria itu tidak menyahut, tetapi mengabulkan dengan gerakan epik. Hingga mampu membuatnya melayang syahdu. Melukis kenangan hari itu dengan sejuta madu. Memberikan warna baru untuk kehidupan mereka yang baru saja dimulai dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Apa kamu bahagia? Terima kasih, untuk petang ini yang begitu berkesan," ucap Keen membelainya dengan sayang. Mencium beberapa kali dengan gumaman sayang.
Sharen mengangguk terdiam, rasanya begitu aneh, tetapi perasaannya jauh lebih bahagia. Apalagi Keen tidak meninggalkannya begitu saja, menyanjungnya dengan lembut. Merasa begitu dihargai dalam setiap jengkal napasnya.
Rasanya seperti mimpi, melewatinya lagi dengan perasaan terbuka seperti ini. Tak pernah menyangka pria yang sempat ditakutinya itu bisa berperilaku manis seperti saat ini. Bahkan tidak egois sama sekali, memberikan kesempatan padanya untuk menolak jika tidak setuju.
"Mas, aku lapar," ucap perempuan itu merasa sedikit lelah dan tentu saja kurang nyaman untuk sekadar keluar kamar.
Pria itu beranjak dari tempat tidur, menutup tubuhnya lebih dulu dengan handuk. Lalu beranjak menuju ruang makan. Menyiapkan makan malam dengan nampan.
Sementara Sharen, bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri. Lalu menutup jejak suaminya dengan gaun malam yang sedikit terbuka.
"Sayang, sudah mandi?" tanya Keen demi melihat istrinya menggelung rambutnya dengan handuk kecil.
"Iya, kamu mandi Mas," ujar perempuan itu sedikit salah tingkah saat Keen melihat tampilannya yang girli.
"Cantik banget sih istriku, ini makan dulu," ucap Keen lembut. Sharen duduk di bibir ranjang, sementara Keen membuka penutup kepalanya.
__ADS_1
"Biar aku bantu keringin, seharusnya tadi nungguin aku, kita bisa keramas bareng," ujar pria itu mulai bergerak mengusak rambutnya.
"Kamu tidak makan?"
"Maunya makan kamu lagi, gimana dong," selorohnya tersenyum. Membuat Sharen tersedak begitu saja.
Uhuks!
Sharen terbatuk-batuk, Keen langsung menenangkan. Mengusap punggungnya lembut sembari membantunya minum.
"Maaf, aku becanda," sesal Keen tak setega itu. Walau sudah pasti akan mengulanginya lagi tentunya.
"Kamu membuat aku takut Mas," jawab Sharen jujur. Keen malah tersenyum, apa meminta dengan lembut juga masih tetap membuatnya takut.
Sharen makan dengan tenang, sementara Keen beralih menyisir mahkotanya yang tergerai indah.
"kamu ternyata semanis ini," ucapnya gemas sendiri. Merasakan damainya hati saat dekat seperti ini. Melakukan hal kecil, tetapi mampu membuatnya begitu betah.
Sharen menaruh piring yang hanya menyisakan sedikit di piringnya. Lalu menatap Keen serius. Pria itu masih berdiri tepat di sampingnya dengan sisir dalam tangannya.
"Kenapa sayang?" tanya Keen beralih berjongkok, bersiap mendengarkan suara lembutnya.
"Makasih, hari ini aku bahagia," ucap perempuan itu masih speechless atas tingkahnya yang begitu manis, semoga tetap seperti ini hingga nantinya.
__ADS_1
"Aku lebih bahagia, I love you," ucap Keen sungguh-sungguh. Tak berhenti sampai di situ, pria itu juga bermanja menciumi perutnya.