
Hasil lab telah dibacakan dan semuanya menjadi jelas. Bahwa kematian Fio tidak ada unsur kesengajaan ataupun pembunuhan berencana. Fio meninggal karena keracunan kafein. Diduga Fio baru saja minum obat pereda sakit kepala sebelum meminum kopi.
Hasil itu pun cukup mencengangkan keluarga. Terlebih, si pembawa kopi tersebut Daniel, tentu tidak tahu menahu kronologi sebelumnya. Ia hanya menawarkan minuman yang tentu saja tidak ada unsur kesengajaan.
"Tetap saja kamu ikut andil dalam kematian Fio, kalau kamu tidak memberikan kopi untuknya, tentu saja Fio masih ada. Kamu sengaja kan!" tuduh Keanu emosi.
"Aku memang bukan orang baik, tapi membunuh apalagi meracuni sama sekali bukan passionku. Lantas, bagaimana denganmu yang berlaku sesuka hati menghakimi istrimu dengan keji, jelas ksn sekarang, Sharen tidak telibat!"
"Brengsek kamu! Diam!" murka Keen terlihat frustrasi.
Sharen termangu di tempat, ia bingung mengambil sikap dengan situasi yang terjadi. Hasilnya sungguh tidak memuaskan, dan tentu saja membuat persinggungan di antara kedua saudara tanpa ikatan itu makin memanas.
"Kamu tidak bisa menuduh Daniel begitu saja, Keen, biar bagaimana pun itu kelalaian adikmu sendiri, kenapa dia tidak sadar diri kalau baru saja meminum obat."
"Kamu menyalahkan anak saya!" Nyonya Abraham menghardik mantan suaminya.
"Saya tidak menyalahkan, tetapi seharusnya kita melihat dari sudut yang berbeda. Bagaimana bisa menuduh Daniel sementara kopi itu tidak mengandung racun sebelumnya!" jelas pria itu meninggikan suaranya. Suasana makin memanas dan tidak kondusif.
"Kamu seperti ini karena membenci Fio kan Mas, makanya kamu nggak respect sama sekali, bahkan dengan kematiannya pun tak peduli."
"Aku tidak pernah membencinya, tapi aku membenci kelakuan kamu hingga menghasilkan anak seperti Fio!" sarkas Tuan Abraham terpaksa membuka luka lama. Selama ini pria itu tersiksa menahan sendiri pada Kean, bahkan mantan istrinya telah memanipulasi semuanya, hingga Keanu menjadi benci padanya.
Keduanya saling menatap dalam permusuhan.
__ADS_1
"Diam!" pekik Keen menutup kedua telinganya. Ia seperti mempunyai trauma masa kecil bila mendengar pertengkaran ayah dan ibunya. Terlihat sangat kacau, dan tidak baik-baik saja.
"Mas, sebaiknya kita pulang!" ajak Nyonya Ana pada suaminya.
"Iya," jawab Tuan Abraham mengiyakan.
Keluarga Daniel pulang lebih dulu, menyisakan Keanu dan ibunya yang nampak seperti belum ikhlas. Sementara Sharen tak jauh berdiri dari sana. Terdiam menyaksikan semuanya, sulit dimengerti, tetapi pada masa sehatnya, Fio sering mencurahkan isi hatinya tentang status dirinya yang tidak punya ayah yang jelas.
Keanu melangkah cepat meninggalkan tempat itu. Ia masuk ke mobilnya dengan suasana kacau, Sharen langsung mengikutinya.
"Turun, aku ingin sendiri!" titahnya dingin.
Sharen yang sejatinya berniat menenangkannya pun urung demi melihat sikapnya yang kembali dingin tak terusik.
Perempuan itu kembali keluar, menatap mobil Keanu yang melesat meninggalkan dirinya seorang diri. Sebenarnya ia merasa iba dengan kondisi suaminya, tetapi sikapnya yang dingin dan tak peduli membuatnya yakin, bahwa dirinya memang tidak pernah penting bahkan sama sekali tidak berarti di matanya.
Pada akhirnya, semua meninggalkan dirinya, tidak ada yang perlu disesali, setidaknya hari ini semua telah jelas, dirinya bebas dari tuduhan apa pun. Berharap agar Fio tenang di sana.
Sharen kembali ke rumah Keanu dengan taksi. Saat perempuan itu sampai rumah, Keanu belum kembali. Ia tidak ingin peduli, walaupun sebenarnya hatinya tidak menginginkan begini. Kenapa sesakit ini, bukankah sudah biasa mendapat sikap dinginnya, atau karena sedang hamil jadi mudah baper hanya karena diacuhkan saja.
"Pak, tunggu sebentar ya, saya mau ambil barang-barang saya dulu," ucap Sharen rasanya begitu sedih.
Ia langsung menuju kamar, mengemas beberapa helai pakaian yang sering digunakan. Sebenarnya Sharen menunggu keputusan Keanu atas kepergiannya. Namun, melihatnya yang bahkan tidak peduli, kenapa sesakit ini.
__ADS_1
Perempuan itu melepas cincin pernikahannya, lalu pergi dengan kehamilannya.
"Loh, Non Sharen mau ke mana?" Asisten rumah tangganya nampak terkejut melihat Nyonya rumahnya pergi membawa koper.
"Maaf Mbok, Sharen pamit dulu ya, tolong jagain Mas Keen, dia sedang tidak baik-baik saja," pamit perempuan itu terlihat sendu.
Perempuan itu melangkah gontai meninggalkan rumah yang telah memberikan banyak kehidupan di antara luka dan air mata. Perempuan itu bahkan terus menangis sepanjang perjalanan. Ia kembali ke rumah kontrakannya yang dulu pernah disinggahi.
Sementara Keanu pulang ke rumahnya menjelang petang. Terlihat lebih baik setelah memenangkan diri, takut melampiaskan pada istrinya, Keen memilih menyingkir sejenak agar bisa mengutarakan isi hatinya dengan sedikit lebih tenang.
"Tuan baru pulang?" sapa Mbok Art di rumahnya.
"Ya," jawab Keen datar. Langsung menuju kamar, ia pikir istrinya pasti sudah menunggu di sana.
"Sha!" panggil Keen mencari sosoknya yang bahkan menjadi salah satu penyebab dirinya harus pulang.
Perempuan itu tidak ada di manapun, menyusul ke dapur barang kali di sana.
"Mbok, Sharen mana?" tanya Keanu mulai merasa tidak tenang.
"Maaf Tuan, Non Sharen pergi, bawa koper dan pamit tadi," jawabnya takut-takut.
"Apa!" Keanu terperangah seketika. Berlari menuju kamarnya, meneliti pakaian istrinya yang berkurang cukup banyak dari tempatnya.
__ADS_1
Pria itu beranjak, sebuah cincin teronggok di nakas, sama persis dengan cincin pernikahannya. Keanu menggenggamnya erat. Ia lemas seketika, dia benar-benar pergi meninggalkan dirinya.
"Kenapa ninggalin aku, Sha!" ucapnya tergugu. Hatinya begitu hancur dan rapuh dibuatnya.