
Perempuan itu terduduk lemas, mengatur napasnya agar sedikit lebih tenang. Merubah posisi, mengelus perutnya perlahan, tetapi rasa sakit itu tak kunjung reda. Terasa kencang dan keras, hingga membuatnya serasa ingin pasrah.
Sementara Keanu, sedari tadi gelisah. Ia tidak tenang sama sekali, beberapa hari ini merasa kacau, bahkan tak berkonsentrasi untuk bekerja. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, dan hidup tak tenang. Inikah yang dinamakan definisi dari patah hati yang menyakitkan. Kenapa rasanya begitu sakit, lebih sakit dari apa pun yang pernah ia rasakan.
"Semoga kamu baik-baik saja Sha, aku akan segera menemukanmu," gumamnya yakin. Berusaha menghibur diri dan berharap orang-orangnya segera menemukan keberadaan Sharen saat ini. Hatinya nelangsa kesepian, terlalu merindukan kehadirannya yang bahkan selalu terabaikan.
Sementara sore itu, Keanu kedatangan tamu tak diundang yang beberapa hari ini menyambangi kantornya tetapi selalu tidak ketemu.
"Sore Mbok, Keen ada?" sapa Mesya menyambangi rumahnya dengan oleh-oleh di tangannya.
"Sore Non, Tuan—" Melihat penampilannya yang terlalu seksi, pegawai rumah Keen sampai mengurut dada.
"Ah lama, ada di kamar ya," ujar perempuan itu menerobos masuk.
"Non jangan! Biar saya panggilkan," cegah perempuan itu tak setuju. Tuannya sedang mode galak, salah-salah ngamuk bila kedatangan tamu tak sesuai kaidah sopan santun.
"Apa sih, saya orang terdekatnya, biar saya lihat," sahut Mesya dengan percaya diri.
Perempuan itu mengetuk pintu kamar utama. Keanu yang jelas ada di kamarnya tidak minat untuk menerima siapa pun. Ia bahkan tidak menyahut, ketika Mesya nekat menerobos masuk, Keen cukup terkejut dengan kedatangannya ke kamarnya.
"Keen, aku masuk ya. Aku dengar kamu kurang sehat, aku membawakan buah-buahan untukmu!" Mesya langsung masuk, menghadap Keanu yang terlihat cukup menyedihkan.
"Siapa yang menyuruhmu ke sini, keluar!" bentak Keen terlihat tak suka dengan kedatangan Mesya.
"Kamu kenapa sih, aku hanya ingin menjengukmu, aku khawatir dengan keadaanmu sekarang."
"Pergi! Aku tidak butuh dijenguk siapa pun, keluar dari kamarku!" murka Keen menyorot garang.
__ADS_1
"Aku ke sini karena peduli padamu, kalau sifatmu seperti ini terus, wanita mana pun tak akan betah di dekatmu, buktinya Sharen lebih memilih pergi dan merajut cinta yang baru dari pada harus hidup bersama dirimu!" kesal Mesya terusir.
"Apa maksud kamu! Pergi dan jangan coba-coba menghasutku."
"Kenapa kamu sebodoh itu, seharusnya kamu peka dong, dia rela ninggalin kehidupannya yang dirasa tidak nyaman hanya untuk bersama pria lain."
"Diam! Pergi dari sini dan jangan pernah kembali!" sentak Keanu murka. Melempar keranjang buah dari Mesya ke sisi tubuhnya hingga nampak berserakan.
Mesya terkesiap melihat itu, dirinya langsung pergi begitu mendengar amukannya.
"Dasar pria sinting, dikasih hati malah musuhin, siapa juga yang mau dimarah-marahin!" gerutu Mesya berjalan keluar sembari menghentakkan kakinya jengkel.
Keanu yang masih kesal, bertambah jengkel akibat mulut Mesya yang nggak ngotak. Ia kepikiran apakah Sharen menemui Daniel, dan memutuskan untuk hidup bersamanya. Benarkah dia setega itu?
Untuk memastikan rasa penasaran itu, Keanu akan membuktikannya sendiri. Pria itu pun langsung melesat keluar, menyambangi rumah Daniel. Ia memerintahkan anak buahnya memata-matai rumahnya.
Pria itu tiba-tiba mengingat sesuatu, tempat di mana ia dulu menjemput istrinya dengan paksa, mungkinkah Sharen pulang ke sana?
Setelah menyuruh seseorang untuk memantau rumah Daniel, Keen beranjak melajukan mobilnya. Satu-satunya tempat tinggal yang mungkin saja memberikan asa. Kenapa baru kepikiran, ia pun bergegas ke sana.
Pria itu melangkah lebar begitu turun dari mobil. Ia mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan. Sengaja mengintip ke sisi jendela, cukup terkejut mendapati istrinya benar-benar ada di dalam dengan keadaan merintih kesakitan.
Dengan panik pria itu menerobos masuk, tak peduli dengan persetujuannya ataupun tidak. Sharen yang mendengar seperti ada tamu pun tak kuasa beranjak, tengah menikmati rasa sakit yang makin menjadi.
"Sharen!" pekik pria itu mendekat dengan panik.
"Perutmu kenapa? Apanya yang sakit?" tanya pria itu panik sendiri. Langsung mendekat dan merengkuhnya agar terduduk di kursi. Spontan meraba buah hatinya yang masih dalam perut ibunya.
__ADS_1
Sharen yang tengah merasa sakit, cukup terkejut dengan kedatangan pria itu yang sangat tiba-tiba.
"Ayo ke rumah sakit sekarang!" ujar pria itu hendak menggendongnya.
"Nggak Mas, untuk apa kamu datang?" tanya perempuan itu masih sedikit kaget. Namun, ajaib sekali rasanya, nyeri itu tiba-tiba berangsur menghilang seketika mendapat sentuhannya. Ah, janin ini memang benar-benar anaknya.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu pergi? Tanpa pamit, bahkan tanpa peduli dengan apa yang aku rasakan."
"Bukankah kamu tidak peduli, aku pergi karena sikapmu yang membuatku yakin. Jangan membuatku semakin sakit hanya karena kamu tidak menginginkan keberadaanku."
Keanu tidak menyahut perkataan istrinya lagi, sadar akan kesalahannya selama ini dan telah membuatnya tersiksa batin.
"Aku tahu aku salah, jangan menghakimi dirimu dengan menghukumku seperti ini, aku mencarimu seminggu ini," ucap Keanu langsung memeluknya.
Sharen terdiam, sakit sekali rasanya, ia tidak tahu cara menyikapi perasaannya. Melihatnya kadang terasa begitu benci, tetapi kenapa sesakit ini rasanya.
"Lepas!" ucapnya dingin. Terpaku dalam diam dengan netra berkaca-kaca.
"Aku tahu aku salah, maaf, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Bagaimana kamu melewati ini semua, aku bahkan tidak bisa tenang selama sepekan ini." Keanu memberi jarak, menatapnya penuh permohonan.
"Aku tidak bisa Mas, hidup dalam kebencianmu selama ini," jawab Sharen terpejam sembari meneteskan air matanya. Ia memalingkan wajahnya sendu.
"Aku minta maaf Sha, tapi pandangan itu telah berubah, aku mencintaimu," ucap Keanu akhirnya mengungkapkan kata sakral itu dari mulutnya. Seumur hidup, mungkin pengakuan pertama yang ia berikan untuk seorang perempuan dari Keanu.
Sharen tidak menyahut, rasanya sulit dipercaya, bahkan terlampaui tidak yakin dengan kata-katanya.
"Aku mencintaimu," ulang Keanu cukup jelas.
__ADS_1
"Aku ingin kita mengawalinya bersama-sama dari awal. Melupakan semua aral dan pertikaian yang pernah ada. Sebagai penebusan atas diriku, kamu boleh tetap membenciku, tapi jangan pernah berniat pergi dariku, anak kita nantinya membutuhkan keluarga yang utuh," ucap Keanu kembali mendekapnya. Mencurahkan kerinduannya selama beberapa hari ini yang cukup menyiksa batin dan raga.