
Sharen membuka mulutnya saat pria itu menyuap isi sendoknya. Perempuan itu sedikit memegang bibirnya merasakan panas menguar di lidahnya. Melihat itu, Keanu berinisiatif sendiri meniupnya lalu menyuapi dengan telaten. Tak ada percakapan di antara keduanya. Sharen fokus mengunyah, sementara Kean terlihat tidak begitu fokus. Sejenak, netra bening itu menatap dalam diam, perempuan itu langsung mengalihkan pandangannya begitu Kean balas menatapnya. Perempuan itu benar-benar makan dari tangan suaminya hingga merasa kenyang.
Usai menghabiskan sepertiga isi piringnya, Sharen menggeleng merasa kenyang.
"Cukup Mas, aku kenyang," ucap perempuan itu menjauhkan sendoknya.
Keanu tidak menanggapi, tetapi langsung menaruh nampan itu di nakas. Berlalu begitu saja tanpa kata, merebah di sofa dengan lengan kanan menutup wajahnya. Sharen sempat menatapnya diam, lalu kembali merebah ke bad.
Seharian Keanu di rumah sakit, membuat Sharen tidak leluasa bergerak sedikit pun. Walaupun pria itu tidak banyak bicara, tetapi Sharen merasa diawasi dan tidak bebas. Terlebih sahabatnya, Arya tidak bisa leluasa menjenguknya hanya sekadar bertanya kabar.
"Sus, apa istri saya sudah boleh pulang?" tanya Kean pada perawat yang bertugas.
"Menunggu pemeriksaan dokter dulu ya Pak, nanti diinformasikan," ujar perawat itu sambil lalu.
Sesungguhnya Sharen merasa sudah lebih baik, hanya saja masih tersisa ngilu dan sakit pada dadanya. Perempuan itu belum sempurna untuk menggerakkan tangan kirinya. Hingga sesorean pria itu berada di rumah sakit. Nampak keluar sebentar mencari makan, lalu kembali ke ruangan dengan menenteng kopi kemasan dalam botol di tangannya.
Duduk dengan tenang menghadap ke bad, di mana Sharen tengah terbaring dengan mata terbuka. Nampak seorang suster masuk membantu melepas infusnya, sore ini perempuan itu sudah boleh pulang.
"Ibu sudah boleh pulang, setelah menyelesaikan administrasinya," ujar suster menginterupsi.
Keanu yang lebih dulu mendapat informasi itu pun langsung bergegas menyelesaikan pembayaran. Sementara Sharen masih di ruang rawat dibantu suster.
__ADS_1
"Terima kasih, Sus," ujar perempuan itu berhati-hati bangkit dari ranjang.
"Sama-sama, semoga cepat pulih," ucapnya seraya membantu menempati kursi roda. Suster mengantarnya hingga ke mobil, dibantu Keanu, Sharen masuk menempati jok sebelah kemudi.
Perempuan itu menarik sabuk pengamanannya yang terasa sulit, tanpa kata pria itu membantunya begitu saja. Membuat gerakan yang tak terduga, Sharen yang hendak menoleh menjadi kaget, hingga terjadilah benturan kening di antara keduanya.
"Aww ...." Sharen mengaduh, terasa berdenyut sedikit ngilu. Sementara Kean hanya menatapnya dalam diam tanpa kata. Tangannya tergerak untuk menyentuhnya, tetapi urung lalu segera menarik kembali. Duduk dengan tenang di tempatnya.
Pria itu langsung melajukan mobilnya ke rumah miliknya. Di mana ada Mbok Art yang sudah menunggu. Perempuan paruh baya itu begitu khawatir ketika melihat istri dari Tuan rumahnya sakit.
"Non Sharen tidak pa-pa, mari mbok bantu," ujarnya mengantar perempuan itu sampai di kamarnya.
Keanu yang baru masuk kamar, langsung menutup pintunya. Berhenti sejenak melihat istrinya yang mengisi sofa, lalu beranjak ke kamar mandi. Pria itu membersihkan diri dan mengambil ganti sendiri tanpa berteriak-teriak meminta tolong seperti yang sudah-sudah.
Sharen sendiri tidak melakukan apa pun, perempuan itu langsung mengistirahatkan tubuhnya saja karena waktu juga beranjak malam. Sementara Keanu sendiri, terdiam merebah di ranjang, nampak gelisah tidak seperti biasanya. Berkali-kali menatap Sharen yang terlihat terpejam.
Pria itu menatap langit-langit kamar, memikirkan banyak hal dalam hidupnya. Memikirkan pernikahannya juga, sejenak kembali menatap sofa, pria itu sampai bangkit dan terduduk lama di bibir ranjang.
Sharen sendiri sudah lelap lebih dulu karena minum obat. Tidak tahu lagi malam itu apa yang terjadi, tetapi saat pagi terjaga perempuan itu sudah berada di ranjang. Membuatnya sedikit bingung, namun tak berani menanyakan perihal itu langsung. Terlebih sikap Kean pagi ini yang masih nampak dingin seperti biasa. Tidak banyak bicara, tidak banyak memerintah, dan terlihat mengerjakan semuanya sendiri. Bahkan, hingga menjelang berangkat ke kantor, Keanu tidak menitipkan pesan apa pun.
"Pagi Non Sharen, sarapannya sudah saya siapkan, biar mbok bantu," ujar art tersebut mengurusinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Mbok, saya bisa jalan ke ruang makan, tidak usah," ucap perempuan itu merasa lebih baik.
"Tapi Non, Tuan berpesan agar saya menjaganya, karena pagi ini Tuan Kean sudah berangkat," lapor art itu.
"Owh ... ya sudah, terima kasih Mbok sebelumnya," jawab Sharen menunggu di kamar.
Usai sarapan, Sharen benar-benar hanya mengistirahatkan tubuhnya saja tanpa melakukan apa pun. Merasa jenuh, ia pun memutuskan untuk keluar kamar. Sekadar diam di taman belakang, menatap sendirian.
"Ada yang bisa, Mbok bantu Non, perlu sesuatu kah?" ucap art itu seraya membawakan teh hangat ke mejanya.
"Terima kasih, Mbok, ini aja," ucapnya perlahan mulai menyeruput dari cangkirnya.
Perempuan itu baru masuk setelah mendapati senja di ujung langit sana. Merasa sudah terlalu lama tanpa melakukan apa pun, segera masuk karena hari sudah sore. Menukar pakaiannya lalu seperti bingung saat hendak tidur. Takut salah-salah suaminya mengamuk jika menempati ranjang, Sharen pun mencari aman memilih di sofa saja, toh dia juga tidak minat untuk tidur seranjang dengan pria itu. Bayangan Daniel hendak menyentuhnya paksa masih berputar di otaknya, membuat Sharen merinding takut seketika.
Perempuan itu baru saja memikirkan hal lain di otaknya kala pintu kamarnya dibuka. Keanu yang masuk dengan wajah lelah. Terdiam, lalu membuka jas miliknya, melempar asal ke sisi ranjang, membuka dasi yang terasa mengurung leher seharian.
Lalu beranjak ke kamar mandi.
Kali ini Sharen berinisiatif menyiapkan gantinya, saat hendak beranjak dengan pakaian pria itu di tangannya. Keanu masuk begitu saja, membuat keduanya saling tatap dalam diam.
"Ini gantinya," ucap perempuan itu membuka suara. Kean terdiam menatap pakaian ganti di tangannya, pria itu mendekat. Mengambil dari tangan istrinya lalu tak beranjak dari sana, membuat Sharen terkurung dalam pandangan tubuh kekarnya.
__ADS_1