
"Melihat kenyataan," jawab Sharen menatap dingin. Meninggalkan ruangan itu dengan pikiran yang penuh dengan teka teki.
Benarkah Daniel terlibat? Apakah Daniel yang melakukannya?Rasanya pria itu tidak mungkin sekejam itu walau pada kenyataannya sekarang berubah. Kedua tangan itu saling memilin dalam kecemasan. Membuatnya ragu akan tabir yang sebenarnya. Andai saja Daniel bisa bersikap jujur, mungkin akan menemukan titik temu.
Perempuan itu terjingkat resah saat pintu dibuka begitu keras hingga berdentum pada dinding. Keanu datang dengan mata yang menyala, menyorotnya tajam penuh amarah.
"Apa sekarang selancang itu? Terus, kamu merasa tidak bersalah apa pun setelah melihat semuanya!" tekan Keanu tidak terima.
"Aku hanya tidak sengaja melihatnya, kalau memang benar, kenapa kamu menyembunyikan semuanya. Seharusnya kamu menepati janjimu kala itu!" tantang Sharen meninggikan suaranya.
"Kamu lupa dengan statusmu, kamu hanya perempuan yang telah dijual ayahmu sebagai penebus hutang, sebaiknya tidak usah bermimpi terlalu jauh," jawab Keanu seakan mempunyai pembelaan untuk dirinya.
"Aku nggak nyangka kamu sekejam dari yang lebih aku bayangkan, aku bahkan sudah menebus dengan kehidupan aku selama ini, kamu jahat Mas!" ronta Sharen terlihat kacau.
"Diam! Jangan membuatku marah!" Keanu mencengkram kedua tangan Sharen yang mengamuk memukuli dadanya. Pria itu sebenarnya bermaksud menenangkan, tetapi sikapnya yang kaku membuat dirinya salah mengambil langkah.
Tiba-tiba perempuan itu merasa mual, ingin memuntahkan isi perutnya. Keanu yang melihat itu langsung melepas cengkraman di kedua tangannya. Sharen sendiri menutup mulutnya sembari berlari kecil ke kamar mandi. Keanu mengekor begitu saja lewat instingnya.
Sharen merasa perutnya bergejolak, eneg, dan tidak nyaman sama sekali. Perempuan itu benar-benar muntah, tanpa sadar, tangan kanan Keanu terulur memijit tengkuknya sebagai respon spontan tanpa diduga. Namun, merasa tidak nyaman Sharen langsung menggerakkan tubuhnya agar pria itu tidak menyentuhnya.
"Kamu sakit?" tanya pria itu seketika hilang marahnya berganti khawatir. Kemarin Sharen pernah sakit, rasanya biasa saja, kenapa sekarang ia begitu mencemaskannya.
Perempuan itu tidak menyahut, berlalu dengan wajah pucat. Bahkan terhuyung hampir terjatuh dengan tubuh lemas kalau saja Keanu tidak sigap menangkapnya.
__ADS_1
Keanu langsung menggendongnya ke ranjang, sepertinya ia butuh membawa istrinya ke rumah sakit kalau belum juga merasa lebih baik.
"Apa yang kamu rasakan? Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang," ujar Keanu beranjak.
"Nggak, aku nggak mau," lirih Sharen dengan netra terpejam.
Pria itu turun dari ranjang, membiarkan istrinya terlelap setelah merasa lebih baik. Keanu memang sedikit kesal, tetapi kenapa juga ia peduli dan bahkan takut sesuatu terjadi padanya. Perasaan macam apa ini?
"Mbok, tolong buatkan teh hangat untuk Sharen, dia sedang tidak enak badan," titah Keanu pada artnya yang baru saja pulang dari pasar.
"Siap Tuan, sedari pagi Non Sharen memang sudah mengeluh, bahkan minta yang seger-seger seperti nanas ini, Tuan, jadi mbok tadi ke pasar nyari," sahut art itu sesuai kronologi paginya.
"Minta nanas? Owh ... ya sudah, tinggal dikupasin aja, siapa tahu bikin moodnya lebih baik," ujar Keanu santai.
Ia kembali ke ruang kerjanya, duduk dengan tenang sembari menyesap kopi yang hampir dingin. Menghembuskan napas lelah, sedikit merasa bersalah karena telah bersikap kasar padanya.
Pria itu menempati sofa, sibuk sendiri dengan pekerjaannya.
"Permisi Tuan, ini pesanan tehnya." Seorang art masuk membawa nampan yang berisikan teh dan buah segar pesanan Sharen yang telah dikupas.
Pria itu mengiyakan seraya mengambil alih nampan di tangannya, lalu membawa mendekati istrinya.
"Ini pesanan kamu," ujar Kean menaruh di nakas.
__ADS_1
Perempuan itu diam tanpa kata, tertarik mengambil teh hangat lalu menyesapnya perlahan. Sedikit terasa nyaman, setelah merasa eneg, mual dan sedikit pusing. Keanu sendiri kembali menyibukkan diri di dekatnya. Sementara Sharen sibuk nyemil nanas yang terasa begitu menggiurkan lidah.
Perempuan itu bahkan menghabiskannya dalam wadah. Keanu yang melihat pun sampai menelan ludah seakan ikut merasai buah bermahkota itu.
Perempuan itu mengembalikan wadah kosong ke nakas, lalu turun dari ranjang. Membuat atensi Keanu teralihkan dengan gerakan istrinya.
"Mau ke mana?" tanya Keanu ikut berdiri.
"Mau minta lagi, mulutku nggak enak makan yang lain," kata perempuan itu beranjak.
"Tetap di sini, biar aku yang ambil," ujar pria itu tidak mengizinkan istrinya keluar.
Cukup aneh dan tumben sekali, tetapi pada akhirnya ia pun menurut kembali duduk. Sikap pedulinya yang dadakan itu selalu membuat jantungnya tidak aman. Lebih baik mengiyakan, toh dirinya juga sedang tidak enak badan.
Pria itu meninggalkan pekerjaannya sejenak, lalu keluar menuju dapur. Meminta asisten rumah tangganya untuk mengupas lagi.
Keanu kembali ke kamar menemukan istrinya tengah tertidur. Sharen terlihat memejamkan matanya, jadi pria itu membiarkan saja tanpa berniat membangunkannya.
Keanu sendiri kembali berkutat dengan laptopnya. Ada banyak laporan yang belum diteliti. Sesekali pria itu menatap ranjang, istrinya nampak tenang terlelap. Pria itu baru mau beranjak, tetiba Sharen terbangun dan langsung turun dari ranjang, sedikit berlari menuju kamar mandi. Membuatnya sedikit kaget, apalagi tak kunjung keluar dan terasa begitu lama.
Sementara Sharen sendiri merasa perutnya tidak nyaman, nyeri dan melilit menjadi satu, membuatnya meringis kesakitan.
"Sha!" panggil pria itu merasa aneh, saat perempuan itu tak kunjung keluar.
__ADS_1
"Sha, buka pintunya!" pekik Keanu menggedor pintunya. Perempuan itu keluar dengan wajah pucat sembari memegangi perutnya. Mendesis perlahan seakan menahan sakit yang teramat.
"Sakit perut?" tanya Keanu belum sempat dijawab mendadak semuanya gelap. Sharen tak sadarkan diri, seketika Kean membawanya ke ranjang. Karena terlihat pucat dan tidak lekas sadar, pria itu langsung melarikan ke rumah sakit.