
Pagi itu suasana rumah terasa berbeda, bahkan Sharen tidak ingat semalam Keen pulang jam berapa. Ketika perempuan itu membuka mata, hari sudah pagi dan Keen sudah tidak ada di ranjangnya.
"Siap-siap, kamu juga ikut," kata Keanu mendapati istrinya masih berpakaian santai.
"Apakah acaranya pagi ini?" tanya Sharen memastikan. Keen mengangguk, dari tadi ia terlihat banyak diam. Hanya berbicara seperlunya saja dan bahkan melewati sarapan, hanya segelas kopi yang sempat menjadi pengganjal perutnya.
Perempuan itu hendak mengingatkan, tetapi kembali ke hatinya, Keanu sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Banyak melamun dan kurang semangat. Apa karena mengingat Fio lagi jadi galau begini.
Keen berangkat dari rumah langsung menuju pemakaman. Nampak di lokasi sudah datang beberapa orang tim medis dan juga anggota polisi yang siap mengamankan.
Keen turun dari mobil dengan napas panjang, masih berdiri terdiam menatap sekitar dengan kaca mata hitam mengurung netranya. Disusul Sharen yang keluar dari mobil, sama, belum beranjak sama sekali. Menunggu pria itu lebih dulu.
Pria itu menghampiri Sharen, lalu meraih tangannya. Baru kemudian melangkah bersama mendekati kerabat yang nampak sudah berkumpul. Keduanya memberi salam bersama dengan membungkukkan setengah badannya, lalu mengambil kursi yang tersedia. Lebih dulu mempersilahkan istrinya duduk, sementara pria itu berdiri di belakangnya.
Kurang lebih dua jam setengah prosedur itu dilakukan, hasilnya baru akan keluar sekitar empat sampai lima minggu.
Semua berjalan lancar, nampak kesedihan masih begitu membelenggu keluarga Abraham. Begitu pula dengan Keen yang tak sengaja terlihat Sharen dengan netra berkaca-kaca. Melepas kaca matanya lalu menyusutnya sendu.
Andai Keen tahu, Sharen juga merasakan kesedihan yang sama. Apalagi keduanya merupakan teman akrab. Sehari sebelum kematiannya, juga mereka bersama. Tidak pernah menyangka itu akan menjadi pertemuan terakhir yang menyebabkan dirinya tersesat bersama Keen saat ini.
"Masuk ke mobil dulu, tunggu sebentar," ucap Keanu datar. Sharen menurut, meninggalkan Keen dan orang-orang yang masih nampak berkumpul.
__ADS_1
Perempuan itu tidak langsung masuk, menunggu di dekat mobil lebih tepatnya.
"Apa kabar? Bagaimana perasaan kamu berada di sini sekarang?" sapa seseorang menghampiri.
Melihat Daniel yang datang, Sharen berusaha menghindar dengan ingin segera masuk ke mobil suaminya. Namun, pria itu lebih dulu menahan pintunya.
"Aku tidak akan menyakitimu, beri aku kesempatan beberapa menit, aku minta maaf. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Daniel lembut.
"Ya, seperti yang kamu lihat, kamu datang juga, aku berharap dengan adanya otopsi ulang, kematian Fio menjadi jelas dan almarhum bisa tenang."
"Tapi aku melihat, kamu masih tidak terlihat bahagia, apa Keen menyakitimu? Aku minta maaf atas sikapku kemarin, seharusnya aku tidak melakukan itu. Aku ingin memperbaiki semuanya," kata Daniel dengan penyesalannya.
"Tidak sepenuhnya benar, Keanu banyak berubah," jawab Sharen tidak sepenuhnya jujur.
"Hubungi aku, setidaknya aku tidak akan melakukan kebodohan aku yang sama. Aku mencintaimu, Sha, mungkin caraku kemarin salah, setelah semuanya jelas, aku mohon tinggalkan Keanu. Mari kita mulai dari awal."
Pria itu menyodorkan sebuah kotak kecil persegi panjang. Sharen hanya menatapnya ragu tanpa mengambil dari tangan Daniel.
"Ambillah ... kamu bisa menghubungi aku, di dalam sudah ada nomor ponselku, jangan ragu untuk melakukan apa pun, apa kamu tidak kangen dengan kegiatan yang dulu."
"Keadaannya beda, Daniel. Maaf, aku tidak bisa," tolak Sharen jelas tidak mau menerima apa pun dari Daniel. Walaupun pria itu terlihat tulus, ia masih merasa harus banyak waspada di dekatnya. Bukan tidak mungkin pria itu akan berubah, tetapi mengingat kejadian kemarin, sungguh Sharen masih menyimpan trauma.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan diriku. Beri aku petunjuk, aku benar-benar tersesat saat jauh darimu."
"Sha!" panggil Keanu melangkah cepat. Melihat beberapa meter dari kejauhan bersama Daniel, Keanu langsung tidak tenang.
"Masuk!" titahnya dingin, seakan mengabaikan satu manusia yang tak penting itu.
Sharen langsung masuk ke mobil tanpa kata. Keanu sendiri tidak berbicara apa pun, langsung menyalakan mobilnya.
"Pakai sabuk pengamannya!" titah Keen melirik istrinya dingin.
Sharen menariknya, tetapi pria itu juga pada akhirnya kembali menepikan mobilnya. Menarik seatbelt itu hingga mengunci sempurna.
"Apa yang kalian obrolin? Tidak bisa menghindar saja, atau sekarang sudah akrab lagi?" tanya Keen mengikis jarak.
"Dia hanya meminta maaf, kamu marah?" tanya Sharen terkadang bingung dengan sikap Keanu.
"Iya, dia terlalu berbahaya untukmu, bisakah tidak membuat aku khawatir?" tekan Keanu makin mendekatkan wajahnya.
"Aku bisa jaga diri, lagian di situ ramai," jawab Sharen mengalihkan pandangan. Ditatap sedemikian intens membuatnya sedikit gugup.
"Esshh ... kamu menindihku," keluh Sharen membuat seketika Keen memberi jarak.
__ADS_1
"Apanya yang sakit? Aku tidak sengaja," ucap pria itu langsung mengusap perut istrinya.
Gerakan spontan Keen membuat Sharen terpaku dalam diam, pun dengan Keen yang kembali menatapnya tanpa jeda.